Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Begitu mereka bertiga keluar rumah dan mendekati mobil itu, pintu belakang terbuka secara otomatis. Namun, bagi mata Jelita yang mengenakan cincin, ia tidak melihat jok kulit mobil, melainkan kursi beludru merah sutra dengan ukiran kayu cendana yang wangi.
"Cepat masuk," perintah sebuah suara yang sangat mereka kenal.
Ternyata, di kursi kemudi, duduklah Gama. Namun, ia tidak memakai zirah peraknya. Ia mengenakan setelan jas hitam slim-fit yang sangat rapi, rambutnya tertata klimis, membuatnya tampak seperti bodyguard kelas atas atau aktor papan atas.
"OH MY GOD!" Dinda hampir terjatuh kalau tidak segera ditarik oleh Ira. "Mas Gama... kalau jadi manusia beneran... gantengnya nggak ada obat!"
Ira hanya bisa menelan ludah, wajahnya kembali memanas melihat Gama dalam balutan jas. Sementara itu, di kursi belakang, Arjuna sudah duduk dengan tenang, mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memancarkan aura pemimpin yang dominan.
Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil berubah total. Suara bising jalanan menghilang, digantikan oleh keheningan yang magis. Meski dari luar mobil itu terlihat melaju di aspal, di dalam, mereka merasa seperti terbang di atas awan hitam.
"Kita tidak lewat jalan biasa," ucap Arjuna sambil menarik Jelita agar duduk di sampingnya. "Mahesa sudah memasang jebakan di setiap persimpangan menuju kampusmu. Kita akan lewat jalur bayang-bayang."
Gama melirik dari spion tengah, tatapannya tak sengaja bertemu dengan mata Ira yang sedang memperhatikannya. "Irawati, pegangan yang kuat. Jalur ini sedikit... berguncang."
Wuuushhh!
Mobil itu melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di luar jendela, pemandangan kota berubah menjadi pusaran warna ungu dan hitam. Dinda saking senangnya malah sibuk ber-swafoto. "Gila! Kapan lagi bisa pamer di sosmed naik mobil hantu tapi rasa sultan!"
"Dinda, kalau fotonya nanti cuma kelihatan asap hitam, jangan nangis ya," sindir Ira, meski ia sendiri merasa sangat aman berada di dekat Gama yang sedang menyetir.
Hanya dalam hitungan detik, mobil itu sudah berhenti tepat di depan gerbang gedung fakultas yang kemarin hancur. Hebatnya, gedung itu kini tampak utuh kembali, seolah tidak pernah ada ledakan atau "gempa".
Cup!
"Turunlah. Aku dan Gama akan tetap berada di sekitar sini, tak kasat mata," ucap Arjuna sambil mengecup kening Jelita. "Jangan lepaskan cincinmu, dan jangan biarkan teman-temanmu menjauh."
Begitu mereka turun, seluruh mahasiswa yang ada di sana langsung menoleh. Sebuah mobil mewah yang harganya milyaran rupiah menurunkan tiga mahasiswi di pagi hari yang cerah—sebuah pemandangan yang akan menjadi gosip hangat dalam hitungan menit.
"Jel... kita bakal jadi pusat perhatian se-kampus," bisik Ira cemas.
"Biarkan saja, Ra! Yang penting kita aman, dan yang paling penting... Bisa lihat mas Gama pake jas itu benar-benar merusak iman!" seru Dinda penuh semangat.
Sementara Jelita hanya mampu menggelengkan kepala melihat Dinda.
Langkah kaki mereka bertiga memasuki area kampus terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena beban buku, melainkan karena ratusan pasang mata yang menatap mereka dengan berbagai macam ekspresi: iri, bingung, hingga penuh selidik.
Ira berhenti sejenak di depan lobi fakultas, menatap pilar-pilar beton yang kemarin ia lihat hancur berkeping-keping saat pertarungan Gama dan Mahesa.
"Jel, lihat... tidak ada bekas retakan sama sekali," bisik Ira takjub sekaligus ngeri. "Bahkan bau semen basah pun tidak ada. Arjuna benar-benar mengembalikan semuanya seperti semula."
"Ini bukan sekadar perbaikan, Ra," jawab Jelita sambil menyentuh pilar itu. Melalui cincinnya, ia melihat pilar tersebut sebenarnya diselimuti oleh jalinan energi ungu halus. "Arjuna 'membekukan' waktu pada gedung ini agar manusia tidak curiga. Tapi di alam sana, tempat ini masih meninggalkan jejak pertempuran."
Dinda, yang sejak tadi sibuk mematut diri di layar ponselnya, tiba-tiba menyenggol lengan Jelita dengan siku. "Jel! Lihat arah jam dua! Rita dan komplotannya jalan ke sini. Mukanya kayak lagi ngerencanain mau minta sumbangan atau apa gitu."
Rita, mahasiswa fakultas Sejarah yang diam-diam membenci Jelita dan sahabatnya, mendekat dengan gaya sok asik. Matanya melirik ke arah gerbang tempat mobil mewah tadi baru saja menghilang.
"Wih, Jelita... gila ya. Ternyata seleramu tinggi juga. Mobil siapa itu tadi? Sugar daddy atau... sewa buat konten?" tanya Rita dengan nada meremehkan, diiringi tawa teman-temannya.
Jelita hanya menatap Rita dengan tenang. Sejak menjadi Ratu, nyalinya tidak lagi ciut oleh gertakan manusia biasa. "Bukan urusanmu, Rita. Lebih baik kamu urusi hidupmu sendiri daripada mengurusi jemputanku."
Rita tersentak, wajahnya memerah karena memalukan. "Sombong sekali kamu Jel! denger-denger hari ini ada dosen tamu baru buat mata kuliah Sejarah Kesenian Kuno. Katanya orangnya masih muda, tapi auranya ngeri. Jangan-jangan itu simpananmu juga?" Cemooh Rita.
"Jaga bicaramu, Rita!" sela Ira dengan tegas, berdiri di samping Jelita. "Jangan karena kamu tidak mampu memiliki kehidupan seperti Jelita, kamu jadi menyebar fitnah murahan seperti itu."
Rita mendengus, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Kita lihat saja nanti di kelas. Kalau dosen baru itu benar-benar 'dekat' dengan kalian, seisi fakultas akan tahu siapa kalian sebenarnya." Rita kemudian berlalu pergi bersama komplotannya, meninggalkan aroma parfum yang menyengat dan rasa jengkel di hati Dinda.
"Idih, sirik tanda tak mampu! Bilang saja dia iri karena nggak dijemput pakai mobil sultan," gumam Dinda sambil menjulurkan lidah ke arah punggung Rita.
Saat mereka bertiga masuk ke dalam ruang kelas besar, suasana terasa sangat berbeda. Udara di dalam ruangan begitu dingin, jauh lebih dingin dari AC kampus biasanya. Seluruh mahasiswa sudah duduk dengan rapi, namun mereka semua tampak diam membisu, seolah-olah ada energi yang menekan pita suara mereka.
Di depan meja dosen, seorang pria berdiri memunggungi kelas. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan, potongan tubuhnya tegap dan atletis. Begitu ia berbalik untuk menyambut kelas, jantung Jelita seolah berhenti berdetak.
Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan namun pucat, dengan tatapan mata tajam yang memancarkan aura kegelapan yang pekat. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang lebih mirip seringai predator yang telah menemukan mangsanya.
"Selamat pagi semuanya," ucapnya dengan suara bariton yang berat dan berwibawa, menggema ke seluruh ruangan. "Nama saya Mahesa Arya. Saya yang akan mengisi mata kuliah Sejarah Kesenian Kuno untuk beberapa waktu ke depan."
Ira langsung mencengkeram lengan Jelita. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan. "Jel... itu dia... itu suara yang aku dengar dalam mimpi burukku," bisik Ira dengan bibir gemetar.
Mahesa melirik ke arah mereka bertiga, tepatnya ke arah Ira, lalu memberikan anggukan kecil yang provokatif. "Permainan baru dimulai, Manusia Cantik," bisik suara Mahesa yang hanya bisa didengar di kepala Ira.
Plus Ira & si berisik Dinda. Kombinasi maaaauuut... 🤣🤣🤣
Tiba2 ke inget lagu ini... Kesian jg si Arjuna. Tapi ya itulah hdp. 2 alam tidak mungkin bersatu...
Semangat ya Thor. Tuyulku ngikut nih. 🤣