NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Lapangan perkemahan mulai riuh dengan suara dentuman pasak yang dipukul dan teriakan instruksi dari masing-masing kelompok. Di sudut area yang cukup strategis, Naura, Nadira, dan Raisa berdiri memandangi tumpukan kain tenda dan tiang penyangga yang masih tergeletak tak berdaya di tanah.

Naura melirik jam tangannya, lalu menoleh ke arah Raisa yang berdiri dengan wajah sedatar tembok. Ia tahu ini saatnya beraksi agar tidak menarik kecurigaan sebagai agen yang ahli di lapangan.

"Duh, ini gimana sih cara pasangnya? Kok tiangnya banyak banget, kayak teka-teki silang," keluh Naura dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil membolak-balik selembar kain tenda dengan bingung.

Raisa, yang biasanya sangat cekatan membongkar senjata atau perangkat keras, kali ini hanya memegang satu tiang penyangga dengan ujung jari, seolah benda itu adalah artefak kuno yang aneh. "Gue nggak paham. Manualnya nggak ada di Google," ucap Raisa pendek, ikut berakting dalam skenario "gadis SMA biasa" yang kikuk.

Nadira, yang memang benar-benar tidak pernah menyentuh tenda seumur hidupnya karena terbiasa dengan fasilitas mewah, menghela napas frustrasi. "Aduh, kuku gue bisa patah kalau harus narik tambang ini! Ra, Raisa, kita beneran harus tidur di bawah kain ini? Enggak ada pilihan glamping gitu?"

Naura menahan tawa melihat ekspresi tulus Nadira, lalu matanya menangkap sosok Bimo dan Rio yang sedang asyik memalu pasak di tenda sebelah mereka.

"Bim! Rio! Tolongin dong!" seru Naura sambil melambaikan tangan, memasang wajah memelas paling meyakinkan. "Kita bertiga beneran buta soal arsitektur tenda nih. Bisa-bisa kita tidur beratapkan langit kalau nggak dibantuin."

Bimo yang memang dasarnya haus akan perhatian lawan jenis, langsung melempar palunya. "Tenang, Tuan Putri! Pasukan bantuan segera datang!"

Rio menyusul di belakangnya sambil menyugar rambut, mencoba terlihat keren di depan Raisa. "Santai, Ra. Membangun tenda itu butuh skill dan intuisi, bukan cuma baca buku tebal. Sini, biar para pria tangguh ini yang selesaikan."

"Nah, gitu dong. Ini baru namanya teman sekelas yang solider," goda Naura sambil menepi, memberi ruang bagi Bimo dan Rio untuk mulai bekerja.

Tanpa mereka sadari, Naura perlahan mundur ke belakang tenda, berpura-pura sedang mencari sesuatu di dalam tas gunungnya. Padahal, tangannya dengan cepat merogoh saku kecil untuk mengaktifkan pemindai sinyal.

"Bagus, Bimo. Fokus aja pasang pasaknya," gumam Naura dalam hati sambil melirik layar kecil yang tersembunyi di balik telapak tangannya. Titik merah di koordinat utara mulai berkedip tanda bahwa perangkat yang ia cari memang ada di sekitar sini.

Raisa, yang menyadari pergerakan Naura, tetap berdiri diam sebagai 'penjaga'. Ia sengaja mengalihkan perhatian Rio dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting soal cara mengikat simpul, agar Rio tidak menoleh ke arah Naura.

"Terus, kalau talinya ditarik ke sini, tendanya nggak bakal terbang kan?" tanya Raisa dengan nada datar, memaksa Rio untuk menjelaskan panjang lebar dengan penuh semangat.

Arkan, yang sedang mengawasi dari kejauhan sambil membantu Pak Danu, hanya bisa memutar bola mata melihat pemandangan itu. Ia tahu persis dua rekannya itu sedang "memperkerjakan" teman teman nya.

Naura berjongkok di balik bayangan tenda yang setengah berdiri, terlindung oleh kesibukan Bimo dan Rio yang sedang pamer kekuatan di depan Nadira. Dengan gerakan secepat kilat, ia merogoh kompartemen rahasia di tas gunungnya dan mengeluarkan sebuah perangkat tipis seukuran telapak tangan.

Ia menekan tombol aktivasi di pinggir perangkat tersebut. Layar kecilnya berkedip sekali, lalu... statis.

"Lho?" Naura mengerutkan kening. Ia menekan tombol itu berulang kali, namun layar tetap gelap. Hanya ada satu garis merah tipis yang muncul sebentar sebelum menghilang kembali.

Naura mencoba menggoyang-goyangkan alat itu pelan, lalu mengecek baterainya.

Semuanya penuh. Namun, sensor pemindai frekuensinya benar-benar mati total, seolah-olah ada sesuatu yang mengunci sistemnya dari luar.

"Sial," umpat Naura lirih dengan nada kesal. Giginya beradu, menahan geram.

Ia melirik ke arah Arkan yang berdiri cukup jauh, sedang mengawasi sekitar. Naura ingin memberi kode, tapi ia tidak mau terlihat mencurigakan di depan teman-temannya. Ia mencoba melakukan hard reset pada alat itu, namun hasilnya nihil. Perangkat itu tetap tidak merespons.

"Woi, Ra! Ngapain bengong di situ? Cari harta karun di dalem tas ya?" seru Bimo yang baru saja berhasil menegakkan tiang utama tenda.

Naura tersentak, dengan sigap ia menyelipkan kembali alat itu ke dalam sakunya sebelum Bimo sempat melihat. Ia berdiri dengan senyum tengil yang dipaksakan. "Lagi cari powerbank, Bim! Ponsel gue mati, nggak bisa update status kalau udah sampai di sini."

"Elah, baru sampai juga udah mikirin medsos," sahut Rio sambil menyeka keringat di dahinya. "Nih, lihat! Tenda kalian udah berdiri kokoh. Dijamin nggak bakal rubuh meski diterjang badai."

"Makasih ya, Rio ganteng, Bimo keren!" puji Naura dengan nada yang dibuat-buat manis, meski dalam hatinya ia sedang mengabsen semua nama hewan karena alat pelacaknya rusak di saat yang paling krusial.

Ia melirik ke arah Raisa. Gadis itu menangkap sorot mata Naura yang gelisah. Raisa hanya memberikan satu anggukan kecil yang nyaris tak terlihat, sebuah tanda bahwa mereka harus segera berkoordinasi secara rahasia.

Naura menghela napas panjang, berusaha meredakan kekesalannya. Alat rusak berarti ia harus melakukan pemantauan secara manual sesuatu yang jauh lebih berisiko. Ia menatap ke arah hutan pinus yang mulai gelap di kaki Gunung Salak, menyadari bahwa misi ini baru saja menjadi sepuluh kali lebih sulit.

Naura memberikan isyarat mata yang sangat spesifik kepada Raisa, sebuah kode yang hanya dipahami oleh rekan satu tim. Sambil berpura-pura ingin mengambil air di dispenser pusat, keduanya melipir ke arah belakang tenda yang agak sepi, menjauh dari kerumunan siswa yang masih sibuk dengan barang bawaan mereka.

"Alat gue mati total," bisik Naura tajam begitu mereka merasa aman. Wajahnya tidak lagi terlihat tengil, melainkan serius dan penuh perhitungan. "Gue udah coba hard reset, tapi sistemnya kayak terkunci. Gue curiga ada jammer atau interferensi frekuensi di area ini."

Raisa mengernyit, tangannya bersedekap. "Nggak mungkin cuma gara-gara bus. Arsitektur perangkat itu militer, Naura. Kalau sampai mati total, berarti ada sesuatu yang sengaja menghambat sinyal kita dari radius dekat. Gue harus cek—"

"CEK APAAN?!"

"Ayam!" Naura nyaris melompat saking kagetnya.

Nadira tiba-tiba muncul dari balik pohon besar di dekat mereka dengan wajah penuh rasa ingin tahu dan sebuah botol parfum di tangan. "Kalian lagi cek apa? Wah, jangan-jangan kalian lagi ngerencanain sesuatu yang seru ya tanpa gue?"

Naura segera mengubah ekspresi wajahnya dalam hitungan detik. Ia tertawa kecil yang terdengar sangat alami. "Aduh, Nad! Lo hobi banget sih muncul kayak hantu. Ini lho, Raisa lagi pamer... eh, lagi bahas soal skincare yang katanya tahan air buat naik gunung. Iya kan, Sa?"

Raisa terdiam sejenak, menatap Nadira dengan tatapan datarnya yang legendaris. "Iya. Gue lagi bahas... algoritma kelembapan kulit."

Nadira mengerutkan kening, tampak tidak yakin namun tetap antusias. "Algoritma? Ya ampun Raisa, bahasa lo berat banget cuma buat bahas pelembap. Tapi beneran deh, daripada bahas itu, mending kalian bantuin gue pilih parfum yang nggak disukain nyamuk tapi tetep disukain cowok. Soalnya nanti malem kan ada api unggun, siapa tahu Kak Gibran lewat depan tenda kita."

Naura menghela napas lega, meski jantungnya masih berdegup kencang karena kaget. "Parfum lo itu udah wangi banget, Nad. Nyamuk juga minder mau deket-deket. Udah yuk balik, nanti dicariin Pak Danu."

Sambil merangkul Nadira untuk membawanya kembali ke keramaian, Naura melirik Raisa dengan tatapan penuh arti. Masalah alat yang rusak ini benar-benar gawat, dan kehadiran Nadira yang terlalu menempel membuat mereka sulit bergerak bebas.

Dalam hatinya, Naura membatin, "Gue harus nemuin Arkan. Sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!