NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah menghabiskan setengah mangkuk bubur, Yudiz meletakkan sendoknya dan menatap Rani dengan binar mata yang berbeda lebih cerah dan penuh rencana.

Ia menggenggam tangan Rani, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan istrinya itu.

"Sayang, setelah kamu benar-benar pulih dan dokter kasih izin untuk terbang, Abi mau ajak kamu pergi jauh dari sini," bisik Yudiz.

Rani menoleh sedikit, dahinya berkerut kecil.

"Jauh? Ke mana, Bi? Mau balap motor lagi?"

"Bukan. Kita bulan madu ke Bali. Berdua saja. Abi sudah pesan villa di pinggir pantai di daerah Uluwatu. Kamu bisa lihat matahari terbenam dari tempat tidur tanpa harus mendengar suara motor, tanpa harus memikirkan pondok, dan yang pasti tanpa ada gangguan dari siapa pun."

Rani tertegun sejenak. "Bulan madu? Tapi kondisiku masih begini, Bi. Tanganku masih gips."

"Justru itu," Yudiz mencium telapak tangan Rani.

"Di sana kamu nggak perlu melakukan apa-apa. Biar Abi yang jadi pelayan kamu selama 24 jam. Kita cari udara segar, kita buat ingatan baru yang indah di sana untuk menghapus kejadian hari ini. Kamu mau kan?"

Rani menatap mata Yudiz yang penuh harapan.

Bayangan pantai Bali yang tenang dan deburan ombak seolah menjadi obat yang sangat ia butuhkan saat ini.

Setelah semua badai yang menghantam dalam waktu kurang dari 24 jam, tawaran Yudiz terasa seperti pelangi.

Rani tersenyum manis, senyum paling tulus yang ia berikan sejak kecelakaan itu.

"Mau, Abi. Tapi janji ya, selama di sana Abi nggak boleh bahas soal Laila atau siapa pun lagi."

"Janji. Hanya ada Abi, Rani, dan masa depan kita," jawab Yudiz mantap.

Ia lalu memeluk kepala Rani dengan sangat hati-hati, merasa bahwa ini adalah awal yang baru bagi perjalanan cinta mereka yang sesungguhnya.

Rani menatap Yudiz dengan rasa penasaran yang besar.

Meskipun fisiknya masih lemah, rasa ingin tahunya tentang keberanian suaminya menghadapi Umi Salmah dan keluarga besar demi dirinya membuat ia ingin mendengar detailnya langsung.

Yudiz menghela napas panjang, ia membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman sambil tetap menggenggam tangan Rani.

"Tadi saat kamu sudah dibawa masuk ke IGD, Abi tidak bisa lagi menahan amarah," cerita Yudiz dengan suara rendah.

"Abi langsung telepon Kyai Abdullah dan Kyai Mansyur. Abi minta mereka datang ke rumah detik itu juga."

Yudiz menceritakan bagaimana suasana di ruang tamu tadi sangat mencekam.

Laila bersimpuh di kaki semua orang, menangis sejadi-jadinya, sementara Umi Salmah terus saja membela Laila dan menyalahkan Rani.

"Umi bilang kamu cuma akting, Rani. Umi bilang kamu manja dan mungkin sengaja minum obat itu supaya Laila disalahkan," lanjut Yudiz dengan rahang yang mengeras.

Rani terdiam, hatinya sedikit perih mendengar mertuanya sendiri setega itu padanya.

"Tapi Abi nggak diam saja. Abi lemparkan hasil laboratorium dari dokter ke atas meja. Abi tunjukkan bahwa itu adalah bukti nyata upaya pembunuhan berencana karena obatnya dosis tinggi dan sudah kedaluwarsa. Di depan Kyai Mansyur, Abi bilang bahwa Laila sudah melanggar peraturan yang dia tanda tangani sendiri."

Yudiz menatap mata Rani dengan dalam. "Abi bilang ke Kyai Mansyur, 'Sahabat Abi, maafkan saya, tapi anak ini bukan istri yang saya inginkan. Dia berbahaya bagi keselamatan istri saya.' Lalu, Abi menjatuhkan talak satu padanya saat itu juga. Abi kembalikan dia kepada ayahnya."

"Lalu Umi?" tanya Rani lirih.

"Umi marah besar, tapi Abi tidak peduli. Abi bilang ke Umi kalau Umi lebih memilih membela orang yang mencoba meracuni menantunya sendiri, maka Abi lebih memilih menjauh untuk melindungi istri Abi. Setelah itu, Abi langsung lari ke sini untuk menemani kamu."

Yudiz mengecup kening Rani. "Itu keputusan paling lega yang pernah Abi ambil, Rani. Abi nggak menyesal sama sekali kehilangan status pernikahan itu, asalkan Abi nggak kehilangan kamu."

Rani tersenyum haru, ia baru menyadari betapa besarnya pengorbanan Yudiz untuk melindunginya dari keluarganya sendiri.

"Terima kasih, sudah mau berjuang buat aku."

"Sama-sama, Sayang. Sekarang, sudah ya bahas Lailanya? Kita fokus ke liburan kita ke Bali saja," tutup Yudiz dengan senyum manis.

Yudiz menatap ranjang rumah sakit yang sempit itu dengan ragu, lalu beralih menatap wajah Rani yang kini dihiasi senyum nakal senyum yang sangat ia rindukan.

"Sayang, ini ranjang pasien, bukan ranjang di rumah kita. Nggak muat, nanti kamu malah makin sakit karena Abi dempet," ujar Yudiz sambil tertawa kecil, mencoba bersikap logis.

"Muat, Abi. Sini..." Rani menggeser tubuhnya yang mungil ke tepian, menyisakan ruang sempit di sisi lain.

Ia menepuk-nepuk kasur itu dengan tangan kirinya yang sehat.

"Aku butuh peluk biar cepat sembuh. Obat paling ampuh itu kan Abi."

Yudiz tidak bisa menolak permintaan itu. Dengan sangat hati-hati, ia melepas alas kakinya dan naik ke atas tempat tidur.

Ia memposisikan dirinya miring agar tidak menghimpit kaki Rani yang cedera atau menyenggol gips di tangannya.

Begitu Yudiz berbaring, Rani langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

Yudiz melingkarkan lengannya, memeluk Rani dengan protektif namun sangat lembut, seolah-olah Rani adalah porselen yang bisa retak kapan saja.

"Tuh kan, muat," gumam Rani puas.

Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum bercampur wangi khas tubuh Yudiz yang selalu menenangkannya.

Yudiz mengecup puncak kepala Rani berkali-kali.

"Maaf ya, tempatnya sempit. Nanti kalau sudah di Bali, Abi kasih kasur yang paling luas biar kamu bisa guling-guling."

Rani terkekeh pelan di pelukan Yudiz. "Nggak butuh kasur luas, Abi. Yang penting ada Abi di sebelahku. Tadi aku beneran takut, Bi. Aku pikir aku bakal mati karena perutku sakit banget."

Pelukan Yudiz mengerat. "Jangan ngomong gitu. Abi nggak akan biarkan hal buruk terjadi lagi. Tidurlah, Abi akan jagain kamu di sini sampai pagi."

Dalam keheningan kamar rumah sakit itu, hanya terdengar suara detak jantung Yudiz yang tenang dan deru napas Rani yang mulai teratur.

Beban berat yang mereka pikul sepanjang hari seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan cinta yang sempat teruji oleh badai pengkhianatan.

Yudiz tertawa lebih lebar kali ini, suara tawanya yang renyah memenuhi kamar rawat yang sunyi itu.

Ia mengeratkan pelukannya, seolah memori itu kembali terputar jelas di kepalanya.

"Mana mungkin Abi lupa, Sayang," bisik Yudiz sambil mengelus bahu Rani.

"Waktu itu Abi kaget setengah mati. Kamu datang dengan jaket balap, gaya cuek, tapi tiba-tiba keadaan memaksa kita untuk langsung akad saat itu juga."

Rani ikut tersenyum, mengingat betapa kacaunya perasaan mereka saat itu.

"Aku juga kaget, Abi. Niatnya cuma mau bertamu atau ada urusan lain, eh malah pulang-pulang sudah sah jadi istri Ustadz. Padahal waktu itu kita belum ada persiapan apa-apa, kan?"

"Iya, benar-benar pernikahan 'instan' yang paling luar biasa dalam hidup Abi," sahut Yudiz.

"Mungkin itu cara Allah mengikat kita. Kalau kita pakai proses lama, mungkin kamu sudah kabur lagi ke lintasan balap dan Abi masih sibuk mengurus pondok."

Rani menyamankan posisinya di dada Yudiz.

"Dulu aku sempat mikir, 'Ini orang serius nggak sih?'. Tapi ternyata, Abi memang jawaban dari doa-doa yang bahkan aku sendiri lupa pernah aku minta."

Yudiz mencium kening Rani dengan lembut.

"Meskipun awalnya serba mendadak, Abi nggak pernah menyesal. Justru karena dimulai dengan cara yang unik seperti itu, setiap tantangan yang kita hadapi, termasuk badai tadi sore rasanya nggak akan sanggup buat kita menyerah."

"Tapi Abi jangan pernah ajak aku nikah dadakan lagi ya kalau ada istri ketiga," canda Rani pelan, meski suaranya masih agak serak.

"Hus! Jangan ngawur," Yudiz mencubit hidung Rani gemas.

"Cukup satu kali drama pernikahan hari ini saja. Nggak akan ada istri ketiga, keempat, atau siapa pun. Kamu yang pertama datang mendadak, dan kamu juga yang terakhir yang menetap di hati Abi."

1
lin
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!