NovelToon NovelToon
Godaan Pelakor

Godaan Pelakor

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bollyn

Aini adalah seorang istri setia yang harus menerima kenyataan pahit: suaminya, Varo, berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri, Cilla. Puncaknya, Aini memergoki Varo dan Cilla sedang menjalin hubungan terlarang di dalam rumahnya.

Rasa sakit Aini semakin dalam ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan ini ternyata diketahui dan direstui oleh ibunya, Ibu Dewi.

Dikhianati oleh tiga orang terdekatnya sekaligus, Aini menolak hancur. Ia bertekad bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Saksikan bagaimana Aini membalaskan dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bollyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Strategi di Balik Layar

Setelah penundaan sidang selama satu minggu diumumkan oleh majelis hakim, suasana di dalam kediaman Aini berubah menjadi sangat menyesakkan dan penuh dengan ketegangan yang tidak kasat mata. Bagi Aini, setiap embusan napas yang ia hirup di dalam rumah itu terasa seperti menghirup racun yang sangat mematikan bagi jiwanya. Keberadaan Varo, Ibu Laras, dan Cilla yang seolah-olah sudah merasa menjadi pemilik sah dan penguasa rumah tersebut, membuat ketenangan jiwa Aini benar-benar terancam di titik terendah.

Malam itu, setelah menunaikan sholat isya dan memohon petunjuk pada Sang Pencipta, Aini memutuskan bahwa untuk sementara, ia sudah tidak sudi lagi berlama-lama di sana. Ia menarik sebuah koper berukuran sedang dari atas lemari dengan gerakan yang pasti. Satu per satu, ia mulai memasukkan pakaian-pakaian penting, perlengkapan pribadi, serta dokumen-dokumen berharga yang selama ini ia simpan rapat-rapat dalam brankas kecilnya.

"Mau ke mana kamu malam-malam begini bawa koper segala? Sudah mulai angkut barang karena takut kalah telak di sidang pembuktian minggu depan, ya?" tanya Varo yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar. Ia bersedekap dada, menghadang jalan Aini dengan senyum sinis yang sangat meremehkan, seolah-olah ia telah memenangkan peperangan ini.

Aini berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menahan gejolak amarah yang hampir meledak di dadanya. Ia menatap Varo dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan penuh penghinaan yang sangat dalam.

"Kabur? Kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri dan keluarga parasitmu itu, Varo. Aku pergi sementara karena aku butuh udara yang bersih untuk bernapas. Berada di dalam rumah ini bersama kalian hanya membuatku merasa kotor, mual, dan sangat muak."

"Alah, bilang saja kamu sudah malu karena status jandamu sebentar lagi bakal resmi di depan orang banyak! Takut ya aset-aset harammu itu disita negara dan dibagi dua denganku?" timpal Ibu Sarah yang tiba-tiba muncul di belakang Varo. Wanita tua itu bersandar pada tembok sambil memegang pinggangnya dengan lagak yang sangat sombong, seolah ia adalah ratu yang baru saja menaklukkan sebuah wilayah.

"Baguslah kalau kamu sadar diri sekarang. Keluar dari rumah ini secepatnya jauh lebih baik daripada nanti kamu harus menanggung malu diseret paksa oleh petugas keamanan karena keras kepala mencoba mempertahankan yang bukan milikmu."

Aini sama sekali tidak meladeni ocehan tak bermutu mereka. Ia menutup ritsleting kopernya dengan satu sentakan keras yang menimbulkan bunyi nyaring di ruangan yang sunyi itu, lalu berjalan melewati mereka begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.

"Nikmati saja sisa waktu kalian di sini. Anggap saja ini adalah sedekah terakhirku untuk orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, tidak punya urat malu, dan sudah buta karena ketamakan seperti kalian."

Aini akhirnya sampai di sebuah perumahan minimalis yang lingkungannya sangat tenang dan asri. Di depan sebuah rumah bernuansa putih bersih dengan taman kecil yang tertata rapi, Siska sudah menunggu dengan raut wajah yang tampak sangat khawatir. Begitu melihat mobil Aini masuk ke halaman, Siska langsung berlari menghampiri sebelum Aini sempat turun.

"Syukurlah lo benar-benar memutuskan untuk keluar dari neraka itu, Ai. Gue sudah cemas sekali menunggu lo sejak tadi sore. Gue takut mereka melakukan sesuatu yang membahayakan lo," ujar Siska sambil memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat, mencoba menyalurkan kekuatan dan dukungan moral yang ia miliki.

"Terima kasih banyak ya, Sis. Maaf sekali kalau gue harus merepotkan lo dan dengan menginap di sini sementara waktu. Gue benar-benar sudah tidak sanggup lagi jika harus satu atap dengan mereka. Melihat tingkah laku mereka yang makin hari makin tidak tahu diri dan menjijikkan itu benar-benar menguras energi gue," keluh Aini saat mereka mulai melangkah masuk ke dalam rumah Siska yang terasa sangat hangat dan damai.

Siska membawa Aini ke kamar tamu yang sudah disiapkan dengan sangat rapi, wangi aromaterapi, dan penuh dengan kenyamanan. "Jangan pernah bicara soal merepotkan, Ai. Lo itu sudah seperti saudara gue sendiri. Lo boleh tinggal di sini sampai kapan pun lo mau, sampai hati lo benar-benar pulih, atau setidaknya sampai sidang selesai dan parasit-parasit itu benar-benar ditendang keluar dari rumah lo secara hukum dan tidak terhormat."

Aini duduk di tepi ranjang, melepaskan penatnya dengan menarik napas panjang berkali-kali. Rasanya beban di pundaknya sedikit berkurang.

"Gue hanya butuh fokus untuk hari Selasa nanti, Sis. Pak Kodim bilang minggu depan adalah hari penentuan yang sangat krusial. Gue tidak mau seluruh energi gue habis hanya untuk meladeni drama gila, fitnah keji, dan perdebatan tidak bermutu mereka di rumah itu."

"Benar sekali itu, Ai. Lo harus simpan tenaga lo untuk di pengadilan nanti. Oh iya, Pak Kodim tadi sempat menelepon gue lagi. Beliau sudah memegang salinan bukti otentik mengenai bonus prestasi dan dana pensiun dini yang sangat besar yang kamu terima dari Artha Kencana Group. Itu adalah bukti telak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, termasuk pengacara paling hebat sekalipun, bahwa uang pembelian rumah dan modal awal usaha lo itu murni berasal dari keringat lo sendiri jauh sebelum ada bayang-bayang Varo dalam hidup lo," Siska menjelaskan dengan semangat yang meluap-luap, matanya berbinar penuh keyakinan.

Sementara itu, di kediaman Aini, suasana justru berubah menjadi seperti pesta perayaan kemenangan bagi Ibu Laras. Ia duduk di sofa ruang tamu yang empuk dengan gaya yang sangat jemawa, menyandarkan tubuhnya dengan angkuh seolah-olah ia adalah penguasa tunggal yang baru saja mewarisi sebuah istana.

"Varo! Cilla! Lihat itu si Aini, dia sudah menyerah kalah bahkan sebelum perang benar-benar usai!" seru Ibu Sarah dengan nada penuh kemenangan yang melengking, tawanya pecah saat melihat pintu kamar Aini sudah kosong melompong dan terbuka lebar.

Varo datang dari arah dapur sambil mengunyah camilan dengan dahi yang berkerut dalam. "Maksud Ibu apa menyerah? Dia kan cuma bilang pergi menginap di rumah temannya sebentar karena butuh ketenangan, kan? Varo takut dia cuma menyiapkan rencana lain."

"Halah, kamu itu jangan jadi laki-laki yang terlalu lugu, penakut, dan gampang dibohongi oleh perempuan licik seperti dia! Perempuan kalau sudah bawa koper besar malam-malam begitu, itu tandanya dia sudah angkat kaki untuk selamanya karena sudah tidak punya muka lagi untuk tinggal di sini! Dia itu akhirnya sadar kalau semua bukti bohong yang kita siapkan bakal bikin dia melarat tujuh turunan. Dia menyerah sebelum sidang selesai karena dia malu kalau nanti harus diusir paksa oleh polisi di depan tetangga-tetangga yang selama ini memujinya!" Ibu Sarah tertawa melengking lagi, wajahnya yang keriput tampak sangat mengerikan di bawah lampu ruang tamu.

Cilla yang sedang sibuk mengoleskan krim mahal di tangannya yang ia beli menggunakan sisa limit kartu kredit Varo pun ikut tersenyum lebar dan mendekat dengan manja.

"Berarti rumah mewah ini benar-benar bakal jadi milik kita sepenuhnya dong, Bu? Wah, Mas Varo hebat ya, bisa bikin Mbak Aini ketakutan setengah mati sampai lari terbirit-birit begitu."

"Tentu saja! Besok pagi-pagi sekali saat tukang kunci sudah buka, Varo, kamu harus langsung ganti semua kunci pintu depan, pintu belakang, bahkan gerbang. Jangan biarkan dia masuk lagi ke sini dengan alasan apa pun, meskipun dia memohon-mohon atau menangis darah di depan pintu. Barang-barangnya yang masih tertinggal dan tidak berharga itu nanti kita jual saja ke tukang loak atau langsung kita bakar di halaman belakang. Mulai besok pagi, Ibu yang akan memegang kendali penuh dan mengatur urusan rumah ini secara keseluruhan!" Ibu Sarah menepuk-nepuk lengan kursi sofa dengan perasaan bangga yang luar biasa, seolah ia baru saja memenangkan lotre miliaran rupiah.

Varo sempat terdiam sejenak, menatap ke arah kamar Aini yang kini gelap. Ada sedikit rasa ragu dan firasat buruk yang melintas di lubuk hatinya, namun ego yang besar, rasa iri yang mendalam, dan pengaruh buruk dari bisikan ibunya jauh lebih kuat menjerat logikanya. "Apa benar dia menyerah ya, Bu? Tapi tadi sorot matanya... sorot matanya sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang kalah atau ketakutan. Justru terlihat sangat tajam."

"Itu cuma akting belaka untuk menutupi rasa malunya, Varo! Dia itu cuma mau menjaga gengsinya yang setinggi langit itu agar tidak terlihat menyedihkan. Padahal di dalam hatinya, Ibu yakin dia sudah gemetar ketakutan setengah mati. Sudah, sekarang tidak usah dipikirkan lagi, kita rayakan saja kemenangan ini dengan makan-makan. Besok kita beli makanan yang enak-enak di restoran, pakai saja dulu sisa uang di dompetmu itu atau gesek saja kartu kreditmu lagi, nanti kan kalau rumah ini sudah kita jual atau kita kuasai, hasilnya bisa buat ganti uangmu berkali-kali lipat!" hasut Ibu Sarah dengan suara yang penuh kelicikan dan binar mata yang haus akan harta.

Keesokan harinya, di kantor hukum Pak Kodim yang suasananya sangat tenang, formal, dan dipenuhi dengan buku-buku hukum yang tebal, Aini kembali bertemu dengan pengacara senior itu. Pak Kodim menunjukkan sebuah map merah tua berisi laporan pajak tahunan Varo selama lima tahun terakhir dengan raut wajah yang penuh percaya diri dan senyum yang penuh arti.

"Ibu Aini, coba lihat ini baik-baik. Ini adalah senjata pamungkas kita. Saudara Varo ternyata tidak pernah sekalipun mencantumkan kepemilikan aset rumah ini di dalam laporan pajaknya selama lima tahun terakhir. Dia selalu melaporkan diri sebagai orang yang tidak memiliki aset tidak bergerak. Ini adalah kartu mati yang akan membungkam dia dan ibunya selamanya di depan hakim," jelas Pak Kodim dengan nada suara yang tenang namun terdengar sangat mematikan bagi pihak lawan.

Aini meneliti dokumen tersebut lembar demi lembar dengan saksama, memastikan setiap detailnya.

"Jadi, kalau dia berani mengaku-ngaku di depan hakim bahwa rumah itu adalah miliknya yang dibeli dari hasil keringatnya, dia akan langsung terjerat masalah hukum yang lain, Pak?"

"Tepat sekali, Bu. Itu namanya memberikan keterangan palsu di bawah sumpah dalam persidangan resmi. Hukumannya tidak main-main, bisa berupa pidana penjara yang cukup lama. Selain itu, saksi kunci dari bagian keuangan Artha Kencana Group juga sudah mengonfirmasi akan hadir secara langsung di persidangan untuk menjelaskan secara detail alur keluar masuknya dana pribadi Anda untuk pembelian rumah ini. Posisi kita sudah sangat kuat, tidak ada celah bagi mereka untuk berkelit. Kita sudah siap seratus persen untuk sidang hari Selasa depan, Bu Aini."

Aini tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang ia simpan rapat dalam hati. Ia bisa membayangkan betapa terkejut, pucat, dan hancurnya wajah Ibu Sarah serta Varo di persidangan nanti saat kebohongan mereka dipatahkan oleh data-data yang sah. Mereka dengan bodohnya mengira ia pergi karena kalah dan takut, padahal ia pergi untuk menghimpun seluruh kekuatannya, menyusun strategi yang paling mematikan guna menghancurkan keserakahan dan kelicikan mereka sampai benar-benar berkeping-keping tanpa sisa.

"Biarkan saja mereka berpesta pora dan merasa menang di rumahku untuk beberapa hari ini, Pak Kodim. Karena aku pastikan, setelah ketukan palu hakim minggu depan, mereka tidak akan punya tempat lagi untuk sekadar duduk santai, bahkan untuk menginjakkan kaki di halaman rumahku pun tidak akan aku izinkan lagi," ujar Aini dengan nada yang sangat tegas, dingin, dan penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

BERSAMBUNG...

1
aku
gk jd nonton layar tancep dah pengunjung nya... 🤧🤧
Anonymous
awokawok diem kan lu tua bangka
Dede Azwa
bagussss Aini dasar manusia serakah...kok ada manusia kaya mereka..bukan ny nyadar atas kesalahan..malah berlaku kaya orang terzolimi 😏😡
Anonymous
kalau istri yang mengajukan itu namanya cerai gugat, kalau cerai talak itu kalau suami yang memohon
Anonymous
yahh harus nunggu besok 🥹
Sasikarin Sasikarin
drama bgt
Dede Azwa
gereget.. padahal lapor kan ke sekuriti/polisi...usir manusia" tamak Gedeg baget lihat ny...
Ray
jangan lupa komen ya 🙏
rian Away
MAMPUS JALANG
Dede Azwa
kejutan Mulu thorrr..bosen denger ny,,,harus ny langsung ke inti ny....bikin darting liat ny😡
Dede Azwa: iya kak othor sama"🤭semoga kedepannya lebih gacorrr lagi...bagus ceritanya pemeran utama ny gak menye" pertahan kan KK..sukses selalu kak othorr buat novel ny👍💪🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!