Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Aksi Jahil
...Selamat membaca semuanya.....
Boris berdiri dengan raut wajah malasnya, kedua adeknya tersenyum mantap menatapnya dari atas ke bawah.
"Mau apa kalian?" bertanya dengan nada curiga, gelagat keduanya semakin membuat Boris bergidik ngeri.
Jessy menatap Jackson sambil mengode sesuatu menunjuk Boris menggunakan dagunya. Saudaranya membalas dengan anggukkan mantap.
Dengan cepat Jackson memegang kedua tangan Boris, menahannya kebelakang. Boris yang merasa seperti akan dirampok, menatap kedua saudara kembar itu kesal.
"Lepasin Kakak! Jackson!" sentaknya berusaha berontak, berakhir dia hanya pasrah karena dia tidak akan lolos dari kejahilan mereka.
Jessy langsung merogoh saku jas yang dikenakan Boris, mengambil ponsel Boris dan mengotak ngatik sesuatu di sana. Karena merasa curiga dia melirik apa yang dilakukan oleh Jessy, saat matanya melihat kontak nama 'My Boss' , dia berubah panik.
"Astaga Jessy! Kamu ngapain? Kembalikan ponsel Kakak!" teriak Boris sangat panik.
Jessy tersenyum meledek seraya masih mengotak-ngatik handphone Kakaknya. "Nah, sudah! Lepasin saja Kak Boris, Jack." Intruksi Jessy akhirnya Jackson melepaskan tangannya yang menahan tangan Boris.
Boris langsung merebut ponselnya dari tangan Jessy, matanya membulat saat melihat gadis itu mengirim pesan ke Rania.
Dia menatap sengit ke Jessy, "jelaskan ke Kakak apa yang baru saja kamu lakukan, Jessy!" nada yang terdengar tegas dan tatapan tidak suka Kakaknya membuat dia langsung menciut. Dia memilih bersembunyi di balik tubuh saudara kembarnya.
"Kami hanya membantu Kakak," jawabnya lirih mendapat anggukkan validasi dari Jackson.
Helaan napas pasrah Boris menandakan dirinya sudah lelah menghadapi kejahilan adek kembarnya. Tapi, ini menyangkut dirinya dengan Rania.
Matanya melihat kembali pesan yang diketik Jessy dan dikirim untuk Rania di ponselnya. [ Ayo berkencan denganku hari ini! ]
Ting.. Ponselnya berbunyi, notifikasi balasan masuk terlihat, perlahan dia baca. [ My Boss: Ayo! Aku ingin jalan-jalan denganmu, Boris. Aku ingin melakukan semuanya denganmu. Aku bersiap-siap lebih dulu. Tunggu ya, sayang! ] Senyumnya terbit dibibirnya, Jessy dan Jackson ikut melirik dan bertos ria karena berhasil dengan rencana mereka.
Kemudian Boris menatap ke arah kedua adeknya dengan ekspresi datar, "apa rencana kalian selanjutnya? Kalian yang mulai," raut wajah keduanya sama-sama mengulum senyum dan mengangguk mantap.
"Kakak percayakan saja pada kita, tapi harus nurut okey? Dilarang protes," decakan dan dengusan kesal Boris menandakan bahwa dia sudah kalah.
"Sudah terlanjur masuk lubang, mau bagaimana lagi," tepukan pada bahunya dari Jackson memberinya semangat dengan bahasa tubuh.
"Lubang cinta, mantap pasti,"
"Jangan sembarangan kalau bicara, Jackson!" peringat Boris mendapat cengiran lebar dari Jackson.
Akhirnya, Boris harus mengikuti rencana kedua saudara kembar itu. Mau tidak mau, dia hanya bisa berdoa agar tidak mendapat kejahilan mereka lebih parah.
Mereka menuntun Kakaknya ke dalam kamar Boris, membuka lemari pria itu. Raut terkejut kedua adeknya terlihat jelas di wajah mereka.
"Model yang sama semua?" tanya Jessy tidak menyangka Kakaknya itu sangat tidak mempedulikan fashionnya.
"Ck,ck,ck" decakan Jackson sambil menggelengkan kepala menatap Boris yang diam menatap bingung mereka.
"Kenapa? Kakak hanya sibuk di kantor, tidak salah bukan hanya itu pakaian yang Kakak punya," Boris membela dirinya tidak terima mendapat ejekan dari kedua adeknya.
Jessy berdecih mendengar pembelaan diri dari kakaknya, Jackson terdiam sebentar lalu menarik tangan Kakaknya dan berjalan menuju Kamar Jackson.
Saat mata Boris melihat isi lemari Jackson yang belum pernah dia intip sebelumnya, rasanya terlihat mencolok. Terlalu dipenuhi dengan berbagai warna. Tapi, dirinya juga tidak heran karena dia seorang penyanyi yang populer. Jadi, tentu Jackson akan sangat mempedulikan pakaiannya.
Jackson melirik Jessy, seakan meminta bantuan untuk memilih baju yang cocok untuk Boris. Keduanya memandang lekat Boris seakan mata mereka akan keluar pada tempatnya.
"Berhenti menatap Kakak seperti itu!" Jessy mengabaikan protesan Kakaknya, dia melihat isi pakaian Jackson, tangannya meraih kaos dan celana jeans longgar berwana putih, lalu menyodorkannya ke Kakaknya.
Boris yang sudah pasrah hanya menurut, dia menyuruh Jessy untuk berbalik badan. Setelah gadis itu menurut, dia mulai berganti pakaian yang dipilih oleh adeknya.
Baju kebesaran dan celana jeans longgar berwarna putih, Jessy melirik ke arah Jackson dan mendapat sebuah anggukkan. Jessy berbalik badan memperhatikan Kakaknya yang sedikit aneh mengenakan setelan tersebut.
"Ada ide lain tidak Jess?" Jackson meraih jam tangan merk cartier miliknya, dia sodorkan ke Kakaknya.
"Pakai ini Kak, jangan sampai hilang ya. Kalau hilang terpaksa aku beli lagi pakai kartu dari Kak Rania," ancamnya mendapat pelototan dari Boris.
Gadis itu meraih kemeja tebal berwarna biru, lalu memberikannya ke Boris. Kakaknya itu hanya bisa menurut dari tadi mengikuti saudara kembar itu.
Setelah Boris memakai kemeja itu, Jessy menatapnya sambil bertepuk tangan pelan dan menatap kagum Kakaknya. Jackson mengacungkan jempol pada saudaranya itu.
Boris menatap diri sendiri di depan cermin, merasa aneh dengan dirinya yang mengenakan setelan baju tersebut. Matanya menatap tidak yakin ke arah dua saudara kembar itu.
"Kalian yakin ini pantas?" anggukkan mantap dan acungan jempol dari mereka menjawab keraguannya.
Masih merasa tidak percaya diri, Boris menatap dirinya sedikit lama di depan cermin. Helaan napas terlepas seiring kegelisahannya.
Semua ini memang akibat dari kejahilan Jackson dan Jessy, tapi untuk Boris pun juga tidak merugi. Kapan lagi bisa berkencan dengan atasannya yang cantik itu.
Dia berjalan ke kamar dan mengambil kunci mobil untuk bergegas melaju menjemput Rania. Tapi sebelum keluar rumah, Jessy berteriak kencang.
"Semangat berkencan Kak Boris!" Jackson yang di sampingnya hanya mengacungkan jempol dan anggukkan mantap. Bibirnya tertarik untuk tersenyum lebar dengan gelengan kepala kecil melihat kelakuan mereka berdua.
...Bersambung.....
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan komen ya. Penting untuk aku, agar semangat melanjutkan cerita ini.