NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kunjungan Bima,musibah untuknya...

Heningnya malam hanya dipecahkan oleh suara tegukan Arjuna yang konstan. Indira menyandarkan kepalanya ke dasbor ranjang, matanya terpejam rapat. Rasa nyeri yang tadi menghimpit dadanya perlahan memudar, berganti dengan sensasi aneh yang selalu membuatnya merasa seperti tawanan dalam sangkar emas.

​Tangan Indira yang kurus tanpa sadar meremas sprei. Ia menatap puncak kepala Arjuna yang hitam legam. Pria ini bisa sangat menakutkan, namun di saat yang sama, dialah yang tadi memenuhi keinginan ngidamnya—meskipun dengan cara yang otoriter.

​"Sudah... cukup mas," bisik Indira pelan ketika merasa sesak di dadanya sudah berkurang.

​Arjuna melepaskan pagutannya. Ia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, menatap Indira dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit gurat kepuasan di matanya, namun suaranya tetap terdengar mutlak.

​"Nutrisi untuknya sudah, untukku sudah. Sekarang giliranmu untuk tidur," ucap Arjuna sembari membantu merapikan kembali pakaian Indira.

​"Aku masih haus," gumam Indira lemas. Efek mual di siang hari dan aktivitas barusan membuatnya merasa dehidrasi.

​Arjuna bangkit tanpa suara, mengambil gelas di nakas dan mengisinya kembali dengan air hangat. Ia membantu Indira minum, menyangga tengkuk gadis itu dengan telapak tangannya yang besar.

​"Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Arjuna tiba-tiba, jempolnya mengusap area gelap di bawah mata Indira yang tampak cekung. "Apa kamu tidak makan vitamin yang kuberikan?"

​Indira memalingkan wajah. "Bagaimana bisa masuk vitamin kalau air putih saja terkadang membuatku mual? Mas tidak tahu rasanya jadi aku."

​Arjuna terdiam. Ia menatap perut Indira yang masih tampak rata, namun di dalamnya ada kehidupan yang baru berusia tiga bulan. Sebuah janin yang belum bisa menendang, namun sudah mampu menguras habis energi sang ibu.

​"Besok, aku akan panggil dokter spesialis ke rumah. Kamu harus diperiksa lebih detail. Aku tidak mau anakku kekurangan gizi karena ibunya tidak becus menjaga badan," ketus Arjuna, menyembunyikan rasa khawatirnya di balik kata-kata tajam.

​"Aku bukan tidak becus, Mas... aku cuma lelah," sahut Indira pelan. Ia merebahkan tubuhnya, membelakangi Arjuna dengan perasaan sesak di dada—bukan karena air susu, tapi karena sakit hati.

​Tiba-tiba, ia merasakan kasur di belakangnya amblas. Sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya. Arjuna menarik tubuh Indira hingga punggung gadis itu menempel di dadanya yang bidang.

​"Mas... jangan sekarang, aku lelah sekali," protes Indira takut jika Arjuna menuntut lebih.

​"Diamlah. Aku hanya ingin memelukmu. Tidurlah," bisik Arjuna tepat di telinga Indira.

​Tangannya yang besar bergerak turun, mengusap lembut perut Indira yang masih datar dengan gerakan melingkar. Meskipun janin di dalam sana belum bisa memberikan respon fisik, namun sentuhan Arjuna entah mengapa membuat rasa mual Indira sedikit mereda.

​Dalam dekapan pria yang sering ia sumpah serapahi itu, Indira akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan. Ia tidak sadar bahwa Arjuna terus terjaga, menatap punggung kecil istrinya dengan perasaan yang semakin rumit antara rasa memiliki dan ambisi.

***

Matahari belum sepenuhnya terbenam saat sebuah sedan mewah meluncur masuk ke halaman paviliun dengan kecepatan tinggi. Decit ban yang bergesekan dengan aspal menandakan sang pemilik sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil.

​Arjuna keluar dari mobil dengan wajah mengeras. Laporan dari pengawal tadi lewat telepon sudah cukup membakar dadanya: Seorang pria muda sedang bersama Nona Indira di taman belakang.

​Langkah kakinya yang lebar membawanya menuju taman. Di sana, di bawah pohon kamboja, Indira sedang duduk berbincang dengan Bima. Terlihat raut lega dan tawa tipis di wajah Indira yang biasanya murung—pemandangan yang seketika membuat tangan Arjuna terkepal kuat.

​"Indira!" suara bariton Arjuna menggelegar, memutus tawa di antara mereka.

​Bima tersentak kaget dan langsung berdiri.

Ya,Bima lah yang mengunjungi Indira.

​"Mas Arjuna?" Indira bangkit dengan sedikit gemetar, merasa suasana seketika mencekam.

​Arjuna tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, seolah Bima hanyalah udara kosong. Matanya menatap tajam pada Bima yang tampak canggung.

​"Siapa dia, Indira?" tanya Arjuna dingin, meski ia sebenarnya sudah tahu.

​"Ini Bima, Mas... teman sekolahku dulu. Dia hanya ingin menjenguk karena mendengar aku kurang sehat," jelas Indira terbata.

​Bima mencoba bersikap sopan. "Sore Pak Arjuna, saya Bima, teman—"

​Belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, Arjuna justru menarik pinggang Indira dengan posesif hingga tubuh mungil gadis itu menempel di dadanya. Indira terpekik pelan karena terkejut.

​"Tugasmu hanya menjenguk, kan? Sekarang kamu sudah lihat dia baik-baik saja," ucap Arjuna tajam.

​Tiba-tiba, tanpa mempedulikan tatapan syok dari Bima, Arjuna menunduk dan mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh penekanan di bibir Indira. Indira mematung, matanya terbelalak karena Arjuna melakukan itu dengan sengaja di depan orang lain.

​Bima tertegun, wajahnya memucat melihat kemesraan yang dipaksakan namun terlihat sangat intim itu.

Waktu itu Arjuna memang sudah mengaku kalau dia adalah suaminya Indira,namun dia tidak percaya sama sekali.

kedatangannya kemari pun tak lain ingin menanyakan hal itu tapi belum sempat bertanya kearah itu,mendadak Arjuna sudah pulang duluan.

​Setelah melepaskan pagutannya, Arjuna tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Indira. Ia mengusap sudut bibir Indira dengan ibu jarinya sambil menatap Bima dengan sorot mata kemenangan.

​"Lain kali, jangan bertamu terlalu lama," kata Arjuna pada Bima, lalu beralih menatap Indira dengan nada yang berpura-pura lembut namun penuh ancaman. "Dan kau, masuklah ke dalam. Jangan terlalu lelah mengobrol, sayang... ingat kandunganmu masih sangat muda. Aku tidak mau sesuatu terjadi pada calon anak kita hanya karena kau terlalu asyik dengan 'teman' lama."

​Bagai disambar petir, Bima melangkah mundur. "Kan-kandungan? Indira, kamu...?"

​Indira hanya bisa menunduk dalam, air mata mulai menggenang karena rasa malu yang luar biasa. Rahasia yang selama ini ia tutup rapat, kini dibongkar Arjuna dengan cara yang paling menyakitkan hanya demi sebuah ego dan rasa cemburu.

​"Pergilah. Istriku butuh istirahat," usir Arjuna telak.

​Bima pergi dengan langkah gontai dan hati yang hancur, sementara Arjuna menyeret Indira masuk ke dalam rumah dengan cengkeraman yang semakin erat.

Begitu punggung Bima menghilang di balik gerbang, Arjuna langsung menyentak lengan Indira, menyeretnya masuk ke dalam paviliun dengan langkah kasar. Darsih yang melihat itu dari kejauhan hanya bisa mematung di sudut dapur, tak berani ikut campur melihat amarah yang berkilat di mata majikannya.

​BRAKK!

​Arjuna membanting pintu kamar dan menguncinya rapat. Ia berbalik, menatap Indira yang sudah menggigil ketakutan di sudut ruangan.

​"Berani-beraninya kamu membawa jantan lain ke sini saat aku tidak ada, hah?!" bentak Arjuna. Suaranya menggelegar, memenuhi setiap sudut kamar.

​"Dia cuma teman, Mas! Bima cuma mau berkunjung karena kami sudah seminggu tidak bertemu sejak lulus sekolah!" tangis Indira pecah. "Lagipula sebelumnya pun Bima dan temanku yg lainnya sudah pernah berkunjung kemari sebelumnya." tambah gadis hamil itu terisak.

"Mas juga kenapa musti mengatakan kalau aku sedang hamil?"

​Arjuna tertawa sinis, langkahnya mendekat, menghimpit Indira hingga gadis itu terdesak ke tembok. "Kenapa? Kamu malu? Kamu takut kehilangan penggemarmu itu setelah dia tahu kamu sudah jadi milikku dan sedang mengandung anakku? Kamu pikir aku tidak tahu alasan dia ke sini?"

​"Mas jahat! Mas egois!" raung Indira sambil memukul dada bidang Arjuna dengan tangan mungilnya yang gemetar.

​Arjuna menangkap kedua pergelangan tangan Indira dengan satu tangan besarnya, menguncinya di atas kepala Indira. Matanya menatap tajam, sedingin es yang mematikan.

​"Dengar, Indira. Jangan pikir karena aku memenuhi ngidammu tadi malam, kamu bisa berbuat seenaknya di belakangku," desisnya rendah namun penuh ancaman. "Kamu ingin melanjutkan kuliah, bukan? Kamu ingin masuk universitas yang kamu mimpikan itu?"

​Indira terdiam, nafasnya memburu dengan isak tangis yang tertahan. Sejak lulus sekolah, kuliah adalah satu-satunya harapan yang ia punya untuk memiliki masa depan di luar paviliun ini.

​"Kalau sekali lagi aku melihat pria itu, atau pria manapun mendekatimu... lupakan soal universitas. Aku tidak akan mengizinkanmu mendaftar, aku akan mematikan impianmu dan mengurungmu di sini sampai kamu melahirkan. Kamu tidak akan pernah menyentuh bangku kuliah seumur hidupmu. Aku tidak main-main, Indira!"

​Indira lemas. Kakinya seolah tak bertulang lagi mendengar ancaman itu. "Jangan, Mas... tolong jangan bawa-bawa kuliahku. Aku janji tidak akan bertemu dia lagi, tapi tolong jangan batalkan kuliahku..."

​"Maka jadilah peliharaan yang penurut!" Arjuna melepaskan cengkeramannya hingga Indira merosot jatuh ke lantai. "Sekarang diam di sini. Jangan keluar kamar sebelum aku yang menyuruh."

​Arjuna berbalik pergi dan membanting pintu sekali lagi, meninggalkan Indira yang bersimpuh di lantai, menangisi nasibnya yang semakin terjepit. Mimpinya untuk menjadi mahasiswi kini berada di ujung tanduk, digenggam erat oleh pria yang baru saja merenggut martabatnya.

1
Wiwik Daryanti
lanjut ka upnya critanya bikin penasaran lanjut dong
refinorman norman
iya kk💪 dong q slalu nungguin kelanjutannya,,cerita km bikin candu tau ga
Fitri Ani Silitonga
thor klau bisa up 2 bab dong
Las Manalu Rumaijuk Lily: baik kak,,tunggu ya kk
total 1 replies
Fitri Ani Silitonga
thor up lagi dong
Fitri Ani Silitonga
cerita novel ini sangat menarik, alur cerita nya bagus, tidak pernah bosan untuk baca novelnya karna alurn ceritanya menarik dapat di mengerti alur cerinta
Sila Lahi
lanjut thor ♥️♥️♥️
refinorman norman
up lagi Thor suka dgn cerita kamu ini
Sila Lahi
bakal seru ini ceritanya soalnya bakal kabur indiranya sama bi darsih mengawali hari baru tanpa tekanan♥️♥️♥️
Sila Lahi
semangat thor ♥️☺️
Las Manalu Rumaijuk Lily: terimakasih kk
total 1 replies
Fitri Ani Silitonga
thor kapan Arjuna menyatakan perasaannya pada Indira
semoga aja pernikahan Indira dan Arjuna di warnai cinta
mili
sampai kapan Indira d siksa thor
mili
aku berharap mereka akan saling jatuh cinta dan Arjuna gak egois lagi ke Indira
🇦 🇵 🇷 🇾👎
laki babi... jijik aq
🇦 🇵 🇷 🇾👎
mudh"n.... hd lh wnt yg keras kau
refinorman norman
next
🇦 🇵 🇷 🇾👎
lama jijik aq
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kok mkin yak babi kau... lki monyet... gk tau dr...

klo gt gn kn cr pnculik kn hamidh.... tutup semua jalur indi dr ank kau
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
mili
seru
ria rosiana dewi tyastuti
bawa minggat aja sdh yah.....👍 biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!