NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Konglomerat

Suamiku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indriani_LeeJeeAe

Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidup Serene Avila. Terbangun di samping pria asing, ia memilih kabur tanpa menoleh—tak tahu bahwa pria itu adalah Raiden Varendra, konglomerat muda yang bisa mengguncang seluruh kota hanya dengan satu perintah. Dua bulan kemudian, Serene hamil… kembar. Di tengah panik dan putus asa, ia memutuskan mengakhiri kehamilan itu. Hingga pintu rumah sakit terbuka, dan pria yang pernah ia tinggalkan muncul dengan tatapan membelenggu.

“Kau tidak akan menyentuh anak-anakku. Mulai sekarang, kau ikut aku!”

Sejak saat itu, hidup Serene tak lagi sama.
Dan ia sadar, kabur dari seorang konglomerat adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani_LeeJeeAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 > Dua Detak Jantung Dan Satu Ancaman

Suara monitor berdetak pelan.

Bip… bip… bip…

Setiap bunyi itu seperti palu yang menghantam dada Raiden Varendra. Ia berdiri di balik kaca ruang NICU, menatap inkubator transparan di hadapannya. Tubuh kecil itu, terlalu kecil dengan posisi terbaring diam dengan selang-selang halus menempel di kulitnya yang kemerahan. Dada mungilnya naik turun dengan susah payah, dibantu mesin.

Salah satu dari anaknya. Darah Varendra. Raiden yang dikenal dunia sebagai pria paling ditakuti di bursa kekuasaan global kini tak mampu menggerakkan satu jarinya pun. “Ayahmu kuat,” bisiknya pelan, seolah bayi itu bisa mendengarnya. “Dan kau juga.”

Seorang Dokter spesialis neonatologi berdiri di sampingnya. “Paru-parunya belum berkembang sempurna. Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan Varendra, tapi... dua puluh empat jam ke depan sangat krusial.”

Raiden mengangguk tanpa menoleh.

“Kami sudah menstabilkan denyut jantungnya,” lanjut dokter itu, lebih lembut. “Tapi kondisinya bisa berubah kapan saja.”

Berubah? Kata itu menakutkan. Raiden mengepalkan tangan di balik jasnya. “Apa pun yang Anda butuhkan-”

“Ini bukan soal fasilitas atau biaya,” potong dokter dengan hati-hati. “Kadang… ini soal keajaiban.”

Raiden terdiam. Ia tidak percaya keajaiban. Ia percaya perhitungan, kekuatan, dominasi. Namun di hadapan makhluk kecil itu, semua keyakinannya runtuh.

Sementara itu, Serene terbangun perlahan. Kesadarannya kembali seperti air pasang yang ragu-ragu. Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya lemah seolah baru saja melewati badai panjang. “Raiden…” panggilnya dengan suara serak, hampir tak terdengar.

Namun Raiden yang duduk di samping ranjangnya langsung bangkit. “Aku di sini.”

Serene membuka mata, menatap wajah suaminya yang tampak lebih lelah dari yang pernah ia lihat. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Rahangnya kaku. Tapi tatapannya… penuh emosi yang tak bisa ia sembunyikan.

“Bayi kita…” Serene menelan ludah. “Bagaimana… mereka?”

Raiden menggenggam tangan Serene dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya. “Satu stabil,” katanya jujur. “Yang satu lagi… masih berjuang.”

Air mata Serene langsung mengalir. “Tidak…” desahnya. “Tolong… Raiden…”

Raiden membungkuk, menempelkan keningnya ke kening Serene. “Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada mereka,” katanya dengan suara bergetar. “Aku bersumpah.”

Serene terisak. “Ini salahku…”

Raiden mengangkat wajahnya cepat. “Jangan pernah mengatakan itu.”

Kemudian ia mengusap pipi Serene dengan ibu jarinya. “Kau berjuang sendirian terlalu lama. Sekarang… biarkan aku yang menjaga kalian.”

Serene menatapnya lama. “Aku takut.”

“Aku juga,” jawab Raiden jujur.

Kata itu membuat Serene terdiam. Pria ini, pria yang ditakuti dunia, kini mengaku takut padanya. “Pegang aku,” bisik Serene.

Raiden meraih Serene ke dalam pelukan, berhati-hati dengan luka dan selang medis. Ia memeluknya seolah jika ia melepaskan, segalanya akan lenyap. Sedangkan di luar kamar, Leonard Varendra berdiri diam, menyaksikan dari balik kaca. Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum tipis.

***

Malam turun perlahan. Di ruang interogasi bawah tanah milik Varendra Group, suasana jauh berbeda.

Ezra Kael terikat di kursi baja. Wajahnya pucat, bahunya diperban seadanya. Namun matanya masih menyimpan bara kebencian.

Pintu terbuka. Raiden pun masuk. Langkahnya tenang. Bahkan terlalu tenang.

“Aku harap kau menikmati perawatan kami,” kata Raiden datar.

Ezra tertawa pendek. “Kau terlihat… rapuh.”

Raiden mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. “Kau menyerang istriku.”

Ezra menyeringai. “Dan kau menyerang kerajaanku.”

Raiden mengangguk pelan. “Kau ingin perang.” Ia berdiri tegak. “Kau akan mendapatkannya.”

Ia memberi isyarat kecil. Layar besar di dinding menyala. Satu per satu, wajah-wajah muncul. Nama perusahaan runtuh, rekening dibekukan, aset disita. Sekutu Ezra ditangkap di berbagai negara.

Ezra membelalak ketika melihat tampilan layar tersebut.

“Dalam enam jam,” kata Raiden dingin, “kau kehilangan segalanya.”

Ezra tertawa terengah. “Kau pikir ini selesai? Kau pikir aku satu-satunya?”

Raiden menatapnya tanpa ekspresi. “Aku tahu kau bukan dalang utama.”

Ezra membeku.

“Siapa?” tanya Raiden pelan.

Ezra menelan ludah. “Jika aku bicara… aku mati.”

Raiden mendekat lagi, suaranya hampir seperti bisikan. “Jika kau diam… kau mati lebih dulu.”

Keheningan mencekam. Akhirnya Ezra tertawa getir. “Kau tidak akan menyangka.” Ia menyebut satu nama.

Nama yang membuat udara di ruangan itu seolah membeku.

Raiden mundur selangkah. “Tidak mungkin,” katanya lirih.

Ezra tersenyum puas. “Dunia selalu lebih kejam dari yang kau kira, Varendra.”

Raiden berbalik tanpa berkata apa pun. Namun di balik punggungnya, tangan Raiden mengepal keras. Jika nama itu benar… Maka ancaman belum berakhir. Bahkan ini baru saja dimulai.

Kembali di rumah sakit, alarm di ruang NICU berbunyi lebih cepat.

Bip—bip—bip—BIP!

Perawat berlarian. “Detak jantung turun!”

“Dokter!”

Raiden berlari masuk, wajahnya pucat. “Apa yang terjadi?!”

Dokter menatap monitor dengan tegang. “Kami kehilangan stabilitas.”

Raiden berdiri di samping inkubator, tangannya bergetar saat menyentuh kaca. “Aku di sini,” bisiknya. “Ayahmu di sini.”

Sementara di lorong, Serene terbangun dengan napas tersengal, merasakan sesuatu yang salah. “Raiden…” panggilnya lirih.

Di antara detak mesin dan doa yang tak terucap, nasib satu kehidupan kecil kembali dipertaruhkan.

Dan jauh di luar sana, musuh yang baru saja terungkap… mulai bergerak.

***

Bersambung…

1
❤Follow IG aisyah_az124 ❤
semngat Kak Lee💪💪💪
❤Follow IG aisyah_az124 ❤: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Wayan Miniarti
luar biasa thor... lanjuttt
Li Pena: Siap, Akak.. maacih udah mampir ya 🙏🤭
total 1 replies
Sunarmi Narmi
Baca di sini aku Paham kenapa bnyak yg tdk Like...Di jaman skrng nikah kok berdasar Status apalagi sdh kaya....Bloon bnget kesenjangan sosial bikin gagal nikah apalagi seorang Raiden yg sdh jdi CEO dgn tabungan bnyak...Kkrga nolak ya bawa kbur tuh istri dn uang " mu....Cerdas dikit Pak Ceo..gertakan nenek tidak berpengaruh.masa nenek jdi lbih unggul kan body aja ringkih
Li Pena: Terimakasih sudah mampir dan juga menilai novel ini. maaf bila alur tidak sesuai yang diharapkan dan juga banyak salahnya, mohon dikoreksi agar author bisa belajar lebih banyak lagi 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!