NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memorable 33

Maria menatap marah dan penuh kekesalan pada Harisa. Sementara itu Harisa terlihat sudah lemas, karena efek benturan di kepalanya. Telinganya pun sedikit berdengung. Harisa berusaha untuk tetap sadar. 

"Di mana uangnya?" tanya Maria, suaranya keras dan menakutkan.

Dengan gerakan pelan, Harisa mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya, tangan-tangannya bergetar. "Maaf, mama. Aku terlambat sedikit, karena aku harus membujuk Stendy.” 

Maria mengambil dompet  itu dan memeriksa isinya. Wajahnya semakin merah dengan kemarahan ketika dia melihat bahwa uangnya tidak lengkap. Namun, matanya memicing melihat kartu ATM. 

"Kamu terlambat lagi! Kamu tahu aku butuh uang ini sekarang juga!" Maria mengangkat tangan dan memukul Harisa dengan keras.

Harisa jatuh ke lantai, wajahnya terluka dan berdarah. Maria terus memukulnya, tidak peduli dengan jeritannya. Harisa mencoba melindungi dirinya, tapi Maria terlalu kuat dan terlalu marah.

"Dasar anak tidak berguna! Kamu tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar!" Maria memukul Harisa lagi dan lagi, sampai Harisa tidak bisa menahan lagi dan pingsan.

Maria berhenti memukul, lalu mengambil napas dalam. Dia melihat Harisa yang terbaring di lantai, wajahnya rusak dan berdarah. Untuk sejenak, Maria merasa sedikit penyesalan, tapi kemudian dia menghardik dirinya sendiri.

"Kamu tidak bisa lemah sekarang," kata Maria kepada dirinya sendiri. "Kamu harus kuat untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan."

Maria kemudian mengambil Harisa dan membawanya ke rumah sakit. Dia membawa tubuh Harisa dengan tertatih-tatih, tanpa bantuan seseorang. 

Beberapa menit berlalu, akhirnya Maria dan Harisa tiba di rumah sakit. Di rumah sakit, Maria berpura-pura sedih dan khawatir.

"Oh, Harisa! Apa yang terjadi padamu?" tanya Maria, suaranya seperti menangis.

Perawat dan dokter memeriksa Harisa, lalu menatap Maria dengan curiga. "Ibu, anak Anda terluka parah. Apa yang terjadi?"

Maria berpura-pura menangis. "Aku tidak tahu, Dok. Dia jatuh di kamar mandi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya meninggalkan dia sejenak untuk mengambil handuk, dan ketika aku kembali, dia sudah seperti ini."

Dokter dan perawat menatap Maria dengan tidak percaya, tapi mereka tidak bisa membuktikan bahwa Maria berbohong. Mereka hanya bisa merawat Harisa dan membiarkan Maria menunggunya.

Maria duduk di samping tempat tidur Harisa, wajahnya berpura-pura sedih. Tapi di dalam hatinya, dia hanya merasa marah dan frustasi. Dia tidak bisa membiarkan Harisa mengacau rencananya.

Maria mengambil sesuatu di dalam tasnya. Dia tersenyum menyeringai, sambil memegang kartu ATM milik Harisa. Maria kembali menatap sinis pada Harisa yang sedang terbaring lemah. Luka lebam di kening dan wajahnya masih terlihat. 

Maria memiringkan kepalanya, sambil  menatap Harisa  dingin dan senyum menyeringai. “ “Aku yakin ATM ini ada uangnya,” kata Maria. 

“Hei, cepatlah bangun!” kata Maria, sambil mendorong lengan Harisa. 

“Dasar anak tak berguna!” maki Maria. “Baru dipukul begitu saja sudah pingsan. Dasar lemah!” sambung Maria, dengan sinis.

Keesokan paginya, di perusahaan milik Stendy. Rodez datang menemui Stendy di ruangannya. 

“Dimana sekretaris kamu, Stendy?” tanya Rodez. 

Stendy mengerutkan alisnya. “Memangnya dia belum datang?” Stendy malah bertanya balik. 

Rodez menghela nafasnya kasar. “Ini sudah jam 9, tapi sejak tadi aku tidak melihat batang hidungnya,” kata Rodez. 

Stendy terdiam, kemudian dia berpikir sejenak. Apakah Harisa tidak masuk karena sangat ingin berbelanja dengan uang yang semalam aku kirim? Stendy berbicara dalam hatinya. 

“Kau sudah coba menghubunginya?” tanya Stendy. 

“Sudah,” jawab Rodez cepat. “Tapi dia tidak mengangkatnya,” sambungnya lagi. 

Kini giliran Stendy yang menghela nafas. “Kemana dia?” monolog Stendy. 

Melihat sahabat sekaligus bosnya itu, Rodez menatap malas dan langsung berkata ketus pada Stendy. 

“Inilah yang membuatku ragu saat kau menerima Harisa menjadi sekt retaris diperusahaan ini. Walaupun dia adalah kekasihmu, tapi tidak bisakah dia bekerja secara profesional!” kata Rodez, begitu tegas. 

“Kau tidak bisa selamanya mempekerjakan orang seperti Harisa, Stendy. Lama-lama perusahaan yang kau bangjn dengan susah payah ini akan hancur perlahan.” 

Stendy terhenyak mendengar ucapan Rodez. Kemudian dia menggebrak meja dengan cukup keras. Dia menatap Rodez dengan tatapan kesal, namun tidak dengan Rodez yang terlihat tenang. 

“Jangan sembarangan kamu bicara, Rodez! Harisa tidak ada hubungannya dengan perusahaanku. Sebaiknya kamu kembali ke ruangan kamu. Biar Harisa menjadi urusanku,” seru Stendy, hatinya masih terselip rasa kesal. 

Rodez menggelengkan kepalanya. “Baiklah!” kata Rodez, sambil menaruh map di meja Stendy. 

“Barusan Owen mengirimkan undangan pernikahannya ke email-ku dan Yohan, sepertinya kau juga sudah dikirimkan. Kita semua diwajibkan datang. Aku akan memesan tiket dan hotel untuk semuanya,” ujar Rodez, sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan Stendy. 

Stendy mengangguk, tanpa mengeluarkan suara. Sepeninggalnya Rodez, Stendy mencoba menghubungi ponsel Harisa. Cukup lama wanita itu tidak mengangkatnya, kemudian terdengar suara wanita juga namun itu bukan Harisa. 

“Halo, Harisa! Dimana kamu?” tanya Stendy. 

“Ah, apakah ini Tuan Stendy?” 

Stendy mengerutkan dahinya. “Iya, ini siapa? Bagaimana bisa ponsel Harisa ada padamu?” 

“Tenang Tuan, saya adalah Mamanya Harisa. Saat ini dia sedang di rumah sakit,” 

Stendy tertegun mendengar ucapan Maria, bahkan pria itu mendengar tangisan di seberang sana. Ya, Maria menangis saat berbicara di sambungan telepon itu. 

“Dia dirawat dimana rumah sakit mana, Bibu? Aku akan kesana sekarang!” kata Stendy dengan perasaan sedikit panik. 

“Dia dirawat di rumah sakit Guangzhou,”  jawab Maria. 

“Baiklah, Bibi. Aku akan segera ke sana,” 

Stendy segera meninggalkan ruangannya dengan tergesa-gesa. Rodez yang melihat Stendy dari balik pintu kaca ruangannya pun, segera keluar. 

“Stendy kau mau kemana?” tanya Rodez. 

“Aku mau ke rumah sakit,” jawab Stendy. 

Rodez mengerutkan alisnya. “Siapa yang sakit?” 

“Harisa,” 

Rodez semakin mengerutkan dahinya, dan terdiam. Namun Stendy sudah berjalan menjauhinya. Rodez hanya menatap datar pada punggung Stendy. Kemudian dia mendesah kasar, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. 

“Drama apalagi yang kau buat, Harisa?” monolog Rodez. 

Stendy berjalan ke dalam kamar Harisa di rumah sakit, wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Ketika dia melihat Harisa yang terbaring di tempat tidur, wajahnya berubah menjadi terkejut.

"Apa yang terjadi padamu, Harisa?" tanya Stendy, suaranya lembut.

Harisa membuka matanya, tapi tidak menjawab. Stendy melihat kening Harisa yang berbalut kasa dan merasa semakin khawatir.

"Apa yang terjadi?" tanya Stendy kepada Maria yang duduk di samping tempat tidur.

Maria berpura-pura sedih, wajahnya yang biasanya keras dan tegas sekarang terlihat lembut dan rapuh. "Oh, Stendy... Harisa jatuh di kamar mandi. Dia tidak berhati-hati dan jatuh."

Stendy menatap Maria dengan serius, mencoba menangkap kebenaran di balik kata-katanya. Dia melihat Maria yang mengalihkan kontak mata, lalu menundukkan kepala. Stendy merasa ada yang tidak beres.

"Bibi, aku tidak percaya," kata Stendy, suaranya lembut tapi tegas. "Harisa tidak akan jatuh seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Maria menatap Stendy dengan mata yang sedikit melebar, lalu kembali menundukkan kepala. "Aku sudah bilang, Stendy. Harisa jatuh di kamar mandi. Kamu tidak perlu khawatir."

Stendy merasa semakin yakin bahwa Maria berbohong. Dia melihat cara Maria berbicara, cara dia meng-avoid kontak mata, dan cara dia menggeser-geser posisi duduknya. Semua itu adalah tanda-tanda bahwa Maria tidak jujur.

"Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Stendy dalam hatinya. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Harisa,” hatinya kembali berkata, padahal semalam dirinya merasakan hampa saat bersama Harisa. Namun, melihat wanita itu saat ini tak berdaya, entah mengapa hatinya begitu sesak. 

Maria menatap Stendy dengan mata yang sedikit menakutkan, tapi Stendy tidak mundur. Dia tahu bahwa dia harus melindungi Harisa, dan dia akan melakukan apa saja untuk itu.

Stendy kemudian duduk di samping tempat tidur Harisa, memegang tangannya dengan lembut. "Aku ada di sini, Harisa. Aku tidak akan pergi."

Harisa membuka matanya, menatap Stendy dengan mata yang lembut. Stendy bisa melihat rasa terima kasih di mata Harisa, dan itu membuatnya semakin yakin bahwa dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Harisa. 

Maria mengepalkan kedua tangannya, dia harus berhati-hati agar Stendy tidak mencurigainya. Maria kembali berpura-pura bersikap lembut pada Harisa. Dia mendekat dan mengusap kepala Harisa dengan lembut. 

“Nak, kamu sudah bangun?” kata Maria, tersenyum dengan mata berkaca-kaca. 

Harisa tahu senyuman dan tatapan sedih itu hanyalah kepalsuan Maria saja, karena ada Stendy di sini. Harisa hanya mengangguk pelan, dan tidak mengeluarkan kata sepatah pun. 

Harisa menatap Stendy dengan tatapan sedih. “Temani aku,” lirihnya. 

Stendy tersenyum dan mengangguk. “Iya, aku akan menjagamu.” 

Stendy dan Harisa saling memandang dengan senyum lembut. Maria tersenyum, sebab dia berpikir kalau Harisa akan segera menjadi nyonya di keluarga Canet. 

“Harisa, kamu harus sarapan. Lalu minum obatnya,” kata Maria dengan suara lembut. 

Harisa dan Stendy menoleh ke arah Maria. Stendy segera membantu Harisa untuk sarapan. Bahkan dia juga menyuapi wanita itu. 

Tiba-tiba saja ponsel Stendy berdering, dan menghentikan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulut Harisa. 

“Sebentar,” kata Stendy, sambil mengambil ponsel di saku jasnya. 

“Maaf, aku harus menerima telepon dari client!” ujar Stendy pada Harisa. 

Harisa tersenyum dan mengangguk. “Iya,” jawabnya dengan lirih. 

Stendy meninggalkan ruang inap tersebut, meninggalkan Harisa bersama Maria. Maria mendekati harisa ketika Stendy sudah keluar dari ruang rawat. 

Dengan tangan terlipat di depan dada, dia berjalan sambil tersenyum sinis. “Jika kau berani mengatakan hal yang sebenarnya pada Stendy. Maka aku tidak akan tinggal diam. Ingatlah! Aku masih menyimpan semua video saat kau sedang berhubungan badan dengan mantan suamimu yang telah mati itu,” ujar Maria, dengan penuh ancaman. 

Harisa meremas selimut yang dikenakannya. Ingin rasanya dia memberontak dan berteriak memaki Maria. Sungguh dirinya sudah sangat lelah dengan semua ancaman yang diberikan wanita itu. Andaikan Maria tidak menyimpan rekaman itu, mungkin saja dia sudah dapat terbebas dari ibunya itu. 

Maria melirik jemarinya, sambil memperhatikan kuku indahnya. “Kau sangat mencintai Stendy ‘kan?” tanya Maria, membuat Harisa langsung menatap Maria dengan tatapan nanar. 

Maria masih tersenyum menyeringai. “Bayangkan jika dia tahu tentang video itu. Dia pasti sangat terkejut, mengetahui wanitanya sudah pernah menikah.” Senyum Maria semakin lebar, namun terlihat mengerikan. 

Harisa lagi-lagi hanya bisa diam, dengan tangan terkepal. Dia menahan rasa kesal dan marahnya pada Maria. 

“Maaf menunggu lama,” 

Maria dan Harisa menoleh bersamaan, kemudian Maria pun tersenyum dan menyingkir. Wanita itu duduk di sofa, dan sibuk dengan ponselnya. Sementara itu Stendy kembali duduk di kursi dekat tempat tidur pasien. 

“Ayo, lanjutkan lagi makanmu!” kata Stendy. 

Harisa menggeleng dan tersenyum. “Aku sudah kenyang,” jawabnya dengan senyum tipis. 

Stendy menghela nafas pelan, “Baiklah.” Stendy merapikan bekas makan Harisa dan menaruhnya di atas meja nakas. 

Harisa memperhatikan raut wajah Stendy yang terlihat lusuh. Dia sangat ingin bertanya, namun diurungkan karena di sana ada Maria. 

Sementara itu di negara S, Owen sedang berada di ruang kerja Leo. Dua pria beda usia itu kini sedang duduk saling berhadapan. 

“Jadi, bagaimana menurutmu, Owen? Apakah Papa harus menerima tawaran Stendy?” tanya Leo. 

Owen terdiam, seraya berpikir apa sejenak. Dia membenarkan posisi kacamatanya. 

“Sebaiknya tolak saja. Banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan, Pa. Perusahaan yang dimiliki paman Fandy sangat bertolak belakang dengan bisnis keluarga kita. Tapi, kalau dia mau menjualnya tidak apa. Kita bisa membangun perusahaan cabang di sana,” jawab Owen. 

Dia teringat dengan cerita Leo, kalau Stendy datang menemuinya dan menawarkan untuk menanam modal tanpa menjual semua aset perusahaan milik Fandy. Inilah sebabnya mengapa Owen berkata demikian pada Leo. 

Leo tampak berpikir, dengan mengangguk-angguk paham. “Baiklah, kalau begitu Papa akan bicara lagi dengan Stendy.” 

Owen menatap Leo. “Hubungi dia sekarang saja, Pa.” 

Leo menaikkan satu alisnya. “Kau yakin?” tanya Leo. 

Owen mengangguk, membuat Leo menghela nafasnya. Tapi, jika dia mengambil perusahaan Fandy itu artinya dia akan disibukkan kembali untuk membangun perusahaan tersebut dari awal. 

“Apa kau akan tetap bekerja sebagai seorang dokter, Owen?” tanya Leo, membuat Owen menatap sang ayah. 

“Soal itu… aku akan memikirkannya lagi, Pa.” 

Leo menghela nafasnya. “Owen, usia papa ini sudah waktunya untuk pensiun. Tidak mungkin papa mengurus perusahaan di sini dan di negara P sendirian,” kata Leo. 

“Bukankah ada Ezra yang membantu papa,” 

Leo mendesah kasar. “Owen….” 

“Pa…!” Owen segera memotong ucapan Leo. “Aku masih nyaman dengan profesiku saat ini,” sambung Owen. 

“Atau begini saja. Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya. Saat ini aku sedang mengurus pernikahanku dengan Janice,” kata Owen. 

Leo terdiam, dia pun tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Owen. Sementara itu, Calvin sedang bertemu dengan seseorang di negara W. Mereka bertemu di tempat tidak jauh dari pemilik rumah yang sedang mereka pantau. 

“Selamat malam, Bos!” kata orang suruhan Calvin, sambil mengulurkan tangannya. 

Calvin mengangguk, dan membalas uluran tangan orang tersebut. “Malam. Amankah?” tanya Calvin. 

“Aman, Tuan. Saya terus memantau orang itu, dan hari ini saya mendapatkan satu bukti lagi.” 

“Apa itu?” tanya Calvin. 

“Ini, Tuan.” Orang itu menyerahkan sebuah amplop coklat pada Calvin. 

Calvin pun segera membuka amplop tersebut dan membukanya. Wajah Calvin terlihat begitu serius saat membaca laporan pada kertas tersebut. 

“Jadi benar mereka terlibat,” kata Calvin. 

“Benar, Tuan. Tapi untuk Nona Harisa, sepertinya dia tidak  terlibat,” kata orang suruhan Calvin. 

“Tapi kita tetap harus menyelidikinya, sampai benar-benar dia terbukti tidak bersalah.” 

1
kalea rizuky
g sbar liat sendy nangis darah
kalea rizuky
lama amat nikah nya Owen dan nunggu penyesalan suami durjana
Ryuken: 🥰

otw Kakak... 😁🙏
total 1 replies
kalea rizuky
lanjut donk nungguin nih Janice nikah ma Owen g sabar
kalea rizuky
cocok sendi sama herisa sama sama sampah
kalea rizuky
lama amat nikahnya biar Janice g mikir mantan yg goblok. trs
kalea rizuky
lupain laki goblok heran ya
kalea rizuky
uda ma jalang aja sana sini herisa g usa nyari Janice
kalea rizuky
laki serakah awas aja balik. ke laki tukang selingkuh. lu Janice masih banyak cwok lain
Ryuken: Sabar, Kak.... yg pnting dia g kayak si Bobby yg 1+1=2 🤣🙏
total 1 replies
kalea rizuky
pergi kok ngasih kode goblok lu
kalea rizuky
np g pergi ke. luar negri
kalea rizuky
jangan bertele tele thor lama amat perginya si cwek glblok ini
kalea rizuky
cwek goblok berkorban segitu nya demi cwok dih menjijikkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!