NovelToon NovelToon
Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duda
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Naim Nurbanah

Kakak dan adik yang sudah yatim piatu, terpaksa harus menjual dirinya demi bertahan hidup di kota besar. Mereka rela menjadi wanita simpanan dari pria kaya demi tuntutan gaya hidup di kota besar. Ikuti cerita lengkapnya dalam novel berjudul

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naim Nurbanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Wajah Kino menegang saat keluar kata-katanya, "Jangan-jangan kamu hamil. Tuan Marcos tahu belum soal ini?"

Suaranya nyaris berbisik, tapi penuh tekanan, mencoba menyentuh titik lemah Wanda. Wanda mengerutkan kening, jari-jarinya menegang saat pria itu tiba-tiba menepuk lengan Kino, seolah mengingatkan batas.

"Aku nggak hamil, Kino," Wanda buru-buru membela diri, napasnya agak berat.

"Datang bulanku masih lancar kok." Ia melangkah lebih dekat, suaranya mengecil saat berbisik ke pria di sebelahnya,

"Aku selalu minum pil KB tiap hari, kan, biar gak kecolongan. Lagipula, aku belum siap hamil. Kalau pun sampai, Om Marcos pasti maksa aku gugurin." Kino mengangguk pelan, matanya tajam seperti menelan tiap kata Wanda.

 "Kamu benar," ucapnya lirih tapi menyakitkan.

"Tuan Marcos cuma cinta almarhum istrinya. Sekarang dia serius sama Lina, bukan kamu. Kamu jangan terlalu yakin kalau cuma dipakai dia buat mengusir sepi tiap malam."

Kata-kata itu menghantam seperti pisau, meninggalkan keheningan yang tegang di antara mereka.

Mendengar kata-kata itu, dada Wanda seperti ditekan batu besar. Wajahnya mendadak dingin, seolah ombak kering gurun melumat harapan yang tadi baru saja tumbuh. Matanya melirik ke sekeliling, mencari-cari alasan di balik sikap Marcos yang dulu begitu dekat. Apakah semua itu cuma pelepas sepi? Tanya itu terus berputar dalam pikirannya, membuat hati jadi tak tenang.

Di saat yang sama, matanya tak sengaja menangkap Kino yang terlihat lebih hangat pada Lina, senyuman yang kubur di sudut bibirnya terasa getir. Wanda menelan ludah, menyesakkan.

 "Harusnya aku lebih waspada sama Kino," gumamnya pelan sambil menundukkan kepala.

"Mungkin mereka punya alasan yang nggak aku tahu."

Rasa kecewa menggumpal jadi satu, tapi Wanda tahu ia harus tetap tenang. Ia menarik napas panjang, meneguhkan hati untuk terus berhati-hati, melangkah pelan demi melindungi diri di tengah kerumitan rumah tangga yang makin menyesakkan.

Wanda menepis dengan cepat, “Aku nggak tertarik nikah sama om Marcos yang sudah tua itu. Jauh banget usia kita.”

Kata-katanya terucap lancar, tapi di dalam hati dia sudah lama menyimpan rasa pada pria matang itu. Namun, dia tahu diri, merasa jarak mereka terlalu lebar untuk dijembatani. Kino menyeringai sinis, matanya tajam seperti menembus rahasia.

“Bagus kalau begitu. Jangan sampai kamu patah hati. Tuan Marcos itu nggak pernah pakai hati waktu bersama kamu di ranjang. Buat dia, itu cuma cara memenuhi hasrat biologis saja, bukan hubungan serius.”

Suaranya berat, seperti mengancam sekaligus memperingatkan Wanda agar jangan terlalu berharap. Wanda menyipitkan mata, napasnya sedikit memburu. Keberanian Kino ikut campur dalam urusannya membuat darahnya mendidih.

“Mulut kamu, kok kayak cewek sih? Apa bibir kamu nggak pernah dibungkam sama perempuan manis?” gumamnya sinis dalam hati, merasa kesal sekaligus geli dengan cara Kino mencampuri urusan pribadinya.

"Lama-lama mulut kami kok semakin tajam dan pedas, ya? Seperti bibir mertua yang tak henti mengkritik." Wanda membalas dengan sebal pada Kino, pria yang baru diangkat Tuan Marcos jadi asisten pribadi. Matanya menyipit, suaranya melecut,

"Aku cuma menasihati, kok. Terserah kamu. Itu hidupmu, kamu yang jalanin." Kino tak kalah tajam, tapi buru-buru mengulurkan sebuah botol kecil,

"Ini obat penghilang mual. Jangan lupa minum biar kamu bisa balik kerja, bukan sibuk minta izin pulang terus." Wanda menatap botol itu, lalu menatap Kino dengan campuran kesal dan ragu.

"Aku akan minum. Terima kasih," katanya pelan.

Meski mulut Kino sering nyinyir, sikapnya tetap menunjukkan perhatian. Setelah itu, Kino buru-buru beranjak, melangkah ke ruangan CEO untuk menyampaikan jadwal harian sang pria karismatik, Tuan Marcos, meninggalkan Wanda sendirian dalam ruangan itu.

Wanda menatap layar ponselnya, jari-jarinya menggenggam erat tanpa sadar. Di satu sisi, dia tahu Kino, pria itu sebenarnya baik, selalu menunjukkan perhatian tulus yang membuat hatinya sedikit hangat. Namun, setiap kali Kino berada di dekatnya, terutama saat di kantor, wajahnya berubah tegang, mata itu menghindar seperti menyembunyikan sesuatu.

"Apa dia takut sama Lina?" gumam Wanda dalam hati, napasnya memburu.

 Lina memang sering berkata keras dan dingin, bahkan berbisik soal masa lalu Kino yang suram, bagaimana pria itu pernah berusaha menggoda dan melecehkan anak magang di perusahaan. Wanda merasakan dadanya sesak.

"Kalau Lina sampai tahu aku deket sama Kino, apa dia bakal marah? Atau lebih buruk lagi, mengancam Kino?" pikirnya, matanya berkaca-kaca tapi penuh rasa penasaran yang tak bisa dihalau. Dia ingin tahu, apakah benar di balik ketakutan Kino ada bayang-bayang Lina yang selama ini membayang.

Di tangannya masih tergenggam erat sebuah botol kecil berisi obat yang Kino berikan tadi. Wanda menatap kosong pada tutup botol itu, dadanya sesak oleh kebimbangan yang tak kunjung reda.

"Aku harus tahu, apa sebenarnya yang terjadi," bisiknya pelan, rahang mengeras.

Rasa was-was terus merayapi pikirannya, mengusik setiap detik kebersamaan mereka. Tanpa jawaban yang pasti, hubungan mereka seperti berdiri di ujung jurang, rapuh dan penuh tanda tanya.

*****

Kino berjalan mendekat dengan raut wajah agak cemas saat menemui Tuan Marcos.

"Pak, Wanda bilang tadi pagi perutnya mual, jadi mau pulang lebih awal," ujarnya ragu. Tuan Marcos memanggil Wanda masuk ke ruangannya, matanya yang dingin menatap tajam.

 "Kamu bilang sakit dan minta ijin pulang cepat, benar begitu?" suaranya berat, menyelidik. Wanda menghela napas ringan, mencoba tetap tenang.

"Pagi tadi memang terasa mual, Pak. Tapi setelah minum air hangat, rasa mual itu hilang. Jadi saya batalkan izin pulangnya," jawab Wanda dengan suara lembut. Tuan Marcos tersenyum tipis, sorot matanya berubah dingin menjadi kosong.

 "Baguslah kalau begitu. Kamu bisa pergi, dan kembali bekerja," katanya singkat, nada yang jauh berbeda dengan waktu mereka kencan, saat wajahnya selalu hangat dan penuh perhatian. Kini, hanya ada jarak yang membeku di antara mereka.

Wanda tersenyum tipis sambil mengangguk, lalu melangkah keluar dari ruang kerja Tuan Marcos dengan langkah yang terasa berat. Di balik senyumnya, hatinya bergejolak.

“Sikapnya benar-benar nyebelin. Kayak aku ini cuma karyawannya saja, padahal semalam dan pagi tadi dia manja banget sama aku,” gumam Wanda dalam hati, matanya menatap tajam ke arah pintu yang baru saja ditutupnya.

“Awas, kalau dia coba datang lagi besok, aku pasti bakal cuek dan nggak peduli sama sekali,” batinnya dengan dendam yang mendidih, seolah udara di sekitar berubah dingin. Di saat yang sama, Kino kembali masuk ke ruang Tuan Marcos. Wajahnya serius, langkahnya mantap saat menghampiri meja.

“Maaf mengganggu, Pak,” suaranya tenang tapi tegas saat Tuan Marcos menoleh.

 “Ada apa, Kino?” tanya Tuan Marcos, alisnya sedikit berkerut.

“Kalau saya tidak salah, satu jam lagi Bapak ada janji bertemu dengan Nyonya Teddy di hotel dekat pusat perbelanjaan kota,” Kino mengingatkan dengan jelas, matanya tak lepas dari layar jam dinding.

 “Masih ada waktu untuk berangkat sekarang.”

Tuan Marcos menyandarkan tubuh ke kursi, matanya menatap tajam ke arah Kino.

"Baiklah! Aku mengerti. Siapkan proposal kerjasama yang akan ditandatangani oleh nyonya Teddy. Jangan lupa bawa laptopku juga," ucapnya tegas, seolah menancapkan komando tanpa celah. Kino mengangguk cepat, tanpa jeda menjawab,

"Siap, Tuan Marcos!" Langkahnya sudah terburu-buru saat mereka berdua keluar dari ruangan, menuju hotel tempat nyonya Teddy menginap. Namun, sebelum melangkah keluar, suara Marcos kembali terdengar.

 "Oh iya, Kino! Pesankan kopi dingin sama bolu buat Wanda, ya. Aku perhatikan hari ini dia agak kurang semangat."

Wajah Marcos agak melunak, sesuatu yang jarang terlihat darinya. Sementara itu, Kino hanya tersenyum tipis, tak biasanya sang CEO memperhatikan karyawan sampai hal kecil seperti itu.

 "Siap, Tuan Marcos," jawabnya singkat, segera memesan kopi dan bolu lewat aplikasi.

Kino lalu menyerahkan pesanan itu kepada sekuriti yang berdiri tak jauh, supaya segera diberikan pada Wanda, sang sekretaris pribadi yang selama ini selalu sigap mendampingi Marcos. Ada sedikit kehangatan yang tersirat dari perhatian sederhana itu, membuat Wanda tak sekadar merasa dihargai, tapi juga diperhatikan.

1
neng ade
hadir thor .. ❤️
Celin Lin
lanjutkan Thor
Yuyun Yunita
terlalu bnyk kata kiasan... 🤔
Yuyun Yunita
knpby salsa selalu mendorong salwa untuk tidur dikamar ayahnya apakah salsa sengaja untk mengikat salwa dan ayahnya karena salsa tak pernah m3nyukai tunangan ayahnya
Sihna Tur
bagus. lanjutkan Thor
Ika Syarif
Luar biasa
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Momyyy ..
kau ini punya kekuatan super, yaaakk?!
keren, buku baru teroooss!!🤣💪
Xiao Li: beliau ini punya kuasa lima, sekali seeeetttt... langsung melesat. kagak kek kita yang lelet kek keong🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!