Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 KEMBAR YANG TAK TERPISAHKAN
Azka memandang Alana dengan mata yang sedikit terkejut, tapi juga sedikit tersentuh oleh keinginan Alana untuk menemaninya. "Benar kamu mau pergi bersamaku?" tanya Azka dengan suara yang sedikit lebih lembut.
Alana mengangguk dengan semangat. "Ya, aku benar-benar mau! Kita bisa membuat hari ini lebih menyenangkan," kata Alana dengan suara yang ceria.
Azka tersenyum sedikit, dan untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa sedikit lebih bersemangat. "Baiklah, aku akan pergi ke sekolah dengan kamu," kata Azka dengan suara yang sedikit lebih ceria.
Alana berteriak dengan gembira dan memeluk Azka. "Yay! Aku senang sekali! Kita akan memiliki hari yang menyenangkan, Kak Azka!" kata Alana dengan suara yang penuh semangat.
Dengan semangat baru, Azka dan Alana bersiap-siap untuk pergi ke sekolah bersama. Azka merasa sedikit lebih baik dengan adanya Alana di sisinya, dan dia tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi hari itu.
Azka dan Alana sedang bersenda gurau di depan rumah mereka ketika Azka tidak sengaja mendorong Alana ke arah kolam air. Alana tidak bisa menghindar dan terjatuh ke dalam kolam dengan percikan air yang besar.
"Alana! Alana!" Azka berteriak dengan suara yang penuh kekhawatiran ketika dia melihat Alana terjatuh ke dalam kolam. Azka langsung berlari ke arah kolam dan melompat ke dalam air untuk menyelamatkan Alana.
Azka berhasil meraih tangan Alana dan menariknya ke permukaan air. "Alana, pegang tanganku!" kata Azka dengan suara yang kuat.
Alana batuk-batuk dan mengeluarkan air dari mulutnya, tapi dia berhasil memegang tangan Azka. Azka menarik Alana ke tepi kolam dan membantu Alana keluar dari air.
"Alana, maafkan aku! Aku tidak sengaja," kata Azka dengan suara yang penuh penyesalan.
Alana batuk-batuk lagi dan mengeluarkan air dari mulutnya, tapi dia tidak marah. "Kak Azka... aku baik-baik saja," kata Alana dengan suara yang lembut.
Azka memeluk Alana dengan erat, merasa lega bahwa adiknya itu selamat. "Aku senang kamu baik-baik saja, Alana. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kamu tidak selamat," kata Azka dengan suara yang penuh emosi.
Anita Tumbler sedang berada di dalam rumah, sedang menyiapkan sarapan untuk dia sendiri. Ketika dia mendengar percikan air dari luar, dia langsung curiga dan berlari ke arah kolam.
Ketika dia melihat Azka dan Alana berada di tepi kolam, dengan Alana yang basah kuyup dan Azka yang memeluknya, Anita Tumbler langsung tahu apa yang terjadi. "Apa yang terjadi?" tanya Anita Tumbler dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Azka dan Alana saling menatap, lalu Azka menjawab, "Aku tidak sengaja mendorong Alana ke dalam kolam, Anita..."
Anita Tumbler menghela napas dan berjalan mendekati mereka. "Baiklah, kita harus segera mengganti pakaian Alana. Kita tidak ingin Alana sakit," kata Anita Tumbler dengan suara yang lembut.
Azka mengangguk dan membantu Alana mengganti pakaian. Anita Tumbler membantu mereka berdua dan memastikan bahwa Alana baik-baik saja.
"Kita harus berangkat ke sekolah sekarang juga, atau kita akan terlambat," kata Anita Tumbler dengan suara yang tegas.
Azka dan Alana saling menatap, lalu mengangguk.
Anita Tumbler memastikan bahwa mereka berdua sudah siap sebelum berangkat.
"Kalian berdua harus berhati-hati di sekolah, ya. Dan Azka, kamu harus menjaga Alana baik-baik," kata Anita Tumbler dengan suara yang lembut.
Azka mengangguk dan memandang Alana dengan serius. "Aku akan menjaga Alana, Bu. Jangan khawatir," kata Azka dengan suara yang tegas.
Alana tersenyum dan memeluk Azka. "Terima kasih, Kak Azka. Aku tahu kamu akan selalu menjagaku," kata Alana dengan suara yang manis.
Anita Tumbler tersenyum dan memandang kedua anaknya dengan bangga. "Aku percaya kalian berdua. Sekarang, berangkatlah! Jangan terlambat!" kata Anita Tumbler dengan suara yang ceria.
Azka dan Alana berlari ke arah mobil dan berangkat ke sekolah. Mereka berdua berdiskusi tentang pelajaran hari itu dan apa yang akan mereka lakukan selama jam istirahat.
Karena Azka dan Alana adalah kembar, maka mereka memiliki kelas yang sama dan tidak perlu berpisah. Mereka berdua berjalan bersama ke kelas mereka, dengan Alana yang masih sedikit basah rambutnya karena insiden di kolam.
Guru mereka memandang mereka berdua dengan sedikit terkejut ketika mereka memasuki kelas. "Apa yang terjadi pada kalian berdua? Alana, rambutmu basah sekali," kata guru mereka dengan suara yang penuh perhatian.
Alana tersenyum dan menjelaskan tentang insiden di kolam kepada guru mereka. Azka hanya tersenyum dan mengangguk, merasa sedikit bersalah karena telah mendorong Alana ke dalam kolam.
Guru mereka tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, kalian berdua harus berhati-hati. Sekarang, mari kita mulai pelajaran hari ini," kata guru mereka dengan suara yang ceria.
Azka dan Alana berdua duduk di tempat duduk mereka dan memulai pelajaran hari itu. Mereka berdua berdiskusi dan bekerja sama dengan baik, seperti biasanya.
Selama pelajaran, Azka dan Alana berdua sangat fokus dan memperhatikan guru mereka dengan baik. Mereka berdua sangat antusias dengan pelajaran hari itu dan sering berdiskusi dengan guru mereka.
Ketika jam istirahat tiba, Azka dan Alana berdua langsung berlari ke kantin sekolah untuk membeli makanan ringan. Mereka berdua sangat lapar setelah pelajaran yang panjang.
Di kantin, mereka berdua memesan makanan favorit mereka dan duduk di meja yang strategis. Azka memandang Alana dengan senyum dan mengangkat alisnya. "Kamu tidak marah lagi karena aku mendorongmu ke kolam?" tanya Azka dengan suara yang lembut.
Alana tersenyum dan menggoyangkan kepala. "Tidak, aku tidak marah. Aku tahu kamu tidak sengaja," kata Alana dengan suara yang manis.
Azka tersenyum dan memeluk Alana. "Aku senang kamu tidak marah. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu marah kepadaku," kata Azka dengan suara yang penuh perasaan.
Tiba-tiba, ada suara yang mengganggu mereka berdua. "Halo, Azka dan Alana. Apa yang kalian lakukan di sini?" kata suara itu dengan nada yang sedikit menggoda.
Azka dan Alana berdua memandang ke arah suara itu dan melihat seorang teman sekelas mereka, yang sedang tersenyum dan memandang mereka berdua dengan mata yang ceria.
Teman sekelas Azka dan Alana itu bernama Riko. Riko adalah seorang anak yang ceria dan suka bergaul dengan teman-temannya. Dia selalu memiliki senyum yang lebar dan mata yang ceria.
Riko duduk di sebelah Azka dan Alana, dan memandang mereka berdua dengan rasa ingin tahu. "Apa yang kalian lakukan di sini? Apakah kalian sedang merencanakan sesuatu?" tanya Riko dengan suara yang penuh rasa ingin tahu.
Azka dan Alana berdua tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak ada apa-apa, Riko. Kami hanya sedang makan siang," kata Azka dengan suara yang santai.
Riko mengangguk dan memandang Alana dengan mata yang berbinar. "Oh, Alana, rambutmu masih basah. Apa yang terjadi?" tanya Riko dengan suara yang penuh perhatian.
Alana tersenyum dan menjelaskan tentang insiden di kolam kepada Riko. Riko mendengarkan dengan mata yang lebar dan tertawa ketika Alana selesai bercerita. "Haha, Azka, kamu memang selalu membuat keonaran!" kata Riko dengan suara yang ceria.