Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Hari Peringatan
Gong besar bergema tiga kali, getarannya merambat melalui lantai batu pualam Alun-alun Kekaisaran Daxuan. Hari ini adalah Upacara Peringatan Kemenangan, sebuah perayaan yang bagi Lin Yue adalah peringatan duka atas jatuhnya Bangsa Tang. Namun, bagi seluruh penghuni istana, ini adalah hari untuk menertawakan permaisuri yang malang.
Ribuan pasang mata sudah berkumpul. Di panggung utama yang tinggi, Kaisar Long Wei duduk dengan angkuh, sementara Selir Ning mengenakan perhiasan paling mewah yang ia miliki, seolah-olah dialah ratu yang sebenarnya.
"Di mana Permaisuri?" Ibu Suri bertanya dengan nada tidak sabar, bibirnya mencibir. "Apakah dia perlu diseret dengan kereta kuda agar bisa sampai ke sini?"
Tawa pecah di antara para menteri. Namun, tawa itu tidak berlangsung lama.
Dari arah gerbang paviliun barat, sesosok wanita muncul. Ia tidak lagi diangkut dengan tandu besar yang diperkuat baja. Ia berjalan kaki.
Setiap langkahnya tegap. Lin Yue mengenakan hanfu sutra hitam dengan bordiran benang perak berbentuk naga yang melilit. Pakaian itu tidak lagi terlihat seperti tenda besar yang menutupi gundukan daging. Meski tubuhnya masih jauh dari kata kurus, lipatan-lipatan lemak yang menggelambir itu telah berubah menjadi siluet yang jauh lebih padat dan kokoh. Wajahnya yang dulu bengkak kini memperlihatkan tulang pipi yang tinggi dan garis rahang yang tegas.
Mata Lin Yue berkilat tajam di balik cadar sutra transparan yang menutupi sebagian wajahnya. Aura yang dipancarkannya begitu menekan, membuat kerumunan yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap.
"Dia... dia berjalan sendiri?" bisik seorang bangsawan, matanya melotot tidak percaya.
Selir Ning meremas pegangan kursinya hingga kuku panjangnya hampir patah.
"Mustahil... bagaimana bisa dalam waktu sesingkat itu dia berubah seperti ini?"
Lin Yue menaiki tangga panggung utama tanpa bantuan satu pun pelayan.
Sesampainya di depan Long Wei, ia memberikan penghormatan dengan gerakan yang begitu luwes dan elegan—sesuatu yang seharusnya mustahil dilakukan oleh wanita seberat dia dua minggu lalu.
"Permaisuri Lin Yue menghadap Yang Mulia," suaranya menggelegar, jernih tanpa sedikit pun nada sesak napas.
Long Wei tertegun. Ia menatap istrinya seolah-olah melihat orang asing. Ada sesuatu yang sangat menarik—sekaligus mengerikan—dari perubahan ini. "Lin Yue... kau..."
"Sesuai janji saya, Yang Mulia," potong Lin Yue sambil menegakkan tubuh. "Simbol kekalahan Anda datang untuk menunjukkan martabatnya."
Acara berlanjut ke sesi demonstrasi kekuatan dari para prajurit. Ini adalah bagian yang paling ditunggu, di mana para pangeran dan jenderal menunjukkan kebolehan mereka. Selir Ning, yang merasa posisinya terancam oleh perhatian kaisar pada Lin Yue, tiba-tiba berdiri.
"Yang Mulia," ucap Selir Ning dengan suara merdu yang dibuat-buat. "Bukankah Permaisuri berasal dari Bangsa Tang yang terkenal dengan keberaniannya? Mengapa kita tidak meminta Yang Mulia Permaisuri untuk memberikan sedikit 'hiburan' sebagai tanda syukur atas perdamaian ini?"
Ibu Suri tersenyum licik. "Ide yang bagus. Lin Yue, mengapa kau tidak mencoba memukul sansak kulit milik para prajurit itu? Biarkan kami melihat seberapa kuat tenaga dari tubuh besarmu."
Ini adalah jebakan. Mereka ingin melihat Lin Yue bergerak kikuk, terjatuh, atau kehabisan napas di depan semua orang agar dia kembali menjadi bahan tertawaan.
Lin Yue melirik ke arah sansak besar yang terbuat dari kulit kerbau tebal di tengah arena. Ia lalu menoleh ke arah Han Shuo yang berdiri di dekat tiang, pria itu memberikan isyarat mata yang sangat tipis—sebuah peringatan sekaligus tantangan.
"Jika itu yang diinginkan Ibu Suri," jawab Lin Yue tenang.
Ia melepas jubah luarnya yang berat, menyisakan pakaian dalaman yang lebih pas di tubuh. Ia berjalan menuju tengah arena. Bisik-bisik menghina kembali terdengar. "Paling-paling dia hanya akan menyentuh sansak itu dan jatuh pingsan."
Lin Yue berdiri di depan sansak yang tingginya hampir menyamai kepalanya. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat. Memori Tiara Mo, sang juara dunia, mengalir deras ke otot-ototnya.
Tarik napas... kunci pinggang... salurkan dari tumit...
BOOM!
Satu pukulan lurus mendarat telak di tengah sansak. Suara hantamannya seperti ledakan kecil. Sansak kulit kerbau yang sangat berat itu terpental jauh ke atas, hingga talinya nyaris putus. Belum selesai keterkejutan penonton, Lin Yue melakukan putaran tubuh dan mendaratkan tendangan samping yang menghantam sansak itu kembali ke posisi semula dengan dentuman yang lebih keras.
Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh alun-alun. Sansak itu sobek. Pasir di dalamnya tumpah ke lantai.
Lin Yue tidak terengah-engah. Ia berdiri tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menoleh ke arah panggung utama, menatap langsung ke arah Selir Ning yang wajahnya sudah sepucat kertas.
"Hanya itu?" tanya Lin Yue datar. "Atau Anda ingin saya menggunakan sansak yang lebih... hidup?"
Long Wei bangkit dari kursinya, matanya berkilat antara amarah dan kekaguman yang liar. Sementara itu, Han Shuo yang berada di balik pilar mengepalkan tangannya. Ia tahu, setelah hari ini, rencana besarnya tidak akan pernah sama lagi.
Lin Yue berjalan kembali menuju kursinya, melewati kerumunan menteri yang kini menunduk takut. Namun, saat ia melewati Han Shuo, pria itu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh telinga petinjunya.
"Kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri, atau surat takhta itu. Pilihannya ada di tanganmu saat bulan merah muncul nanti."
Lin Yue tidak menoleh. Ia hanya tersenyum tipis di balik cadarnya. Biarkan mereka datang, batinnya. Semakin banyak yang datang, semakin banyak yang bisa kupukul jatuh.
***
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih banyak❤️
🧐