NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khawatirnya Radit

"T-tunggu, Ayah Aira?" ulang Rania, setengah tak percaya.

"Iya, mbak. Aku bilang aja kalau Mbak lagi gak ada di rumah dan–"

"Kamu gak bilang tempat kerjaku, 'kan?"

"Sebenarnya..."

Hening menggantung diantara keduanya.

Lalu, Yani kembali melanjutkan ceritanya. "Sebenarnya saya sempat mau ngucapin itu, tapi saya urung. Saya bilang mbak lagi keluar, tapi saya gak bilang mau kemana."

Rania bernapas lega. Syukurlah. Setidaknya Yani tak menjawab sesukanya.

"Apa kamu yakin, kalau itu Ayah Aira?" tanya Rania kembali memastikan.

"Saya enggak tahu, Mbak. Tapi, dari tampilannya sepertinya iya. Dia tampan, dan bersih."

"Bisa aja itu orang lain yang punya niat jahat. Hati hati, jangan terima tamu sembarangan." Kata Rania, memberi peringatan.

Yani mengangguk. Sedikit tersenyum. Lalu tanpa berlama lama, ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Sementara itu, Rania masih belum tertidur. Ia berpikir, mengenai langkah selanjutnya. Apa yang harus ia lakukan? Mengingat, ia sudah menampilkan diri sebagai Soraya, sosok yang diterima keluarga Mahendra.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk segera berpindah dari kostan itu. Ia akan mencari tempat baru, yang lebih baik. Selain bagus untuknya, ia juga harus berhati-hati dengan ayah Aira, yang kembali mengejarnya.

Dan malam itupun menjadi malam terakhir Rania dan Aira di kostan kecil yang selama ini menjadi saksi perjuangannya.

---

Pagi harinya, saat matahari belum sepenuhnya naik, sebuah mobil sewaan berhenti di depan kostan. Yani membantu mengangkat koper, sementara Rania menggendong Aira yang masih terlelap.

Mereka bertiga meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.

Tujuan mereka adalah sebuah tempat kecil, namun nyaman, yang terletak di kompleks perumahan minimalis di pinggiran kota.

Ia sudah membayar sewa untuk satu tahun penuh. Uang yang didapatnya dari proyek di kantor Radit cukup untuk itu. Setidaknya, selama satu tahun ke depan, ia tidak perlu khawatir soal tempat tinggal.

Setelah Aira ditidurkan kembali di kamar yang baru, Rania memanggil Yani ke ruang tengah.

"Yani, aku mau ngomong serius."

Yani yang sedang membereskan koper langsung menoleh. "Iya, Mbak?"

Rania duduk di sofa, lalu menatapnya lekat-lekat. Wajahnya tenang tapi tegas.

"Mulai hari ini, kamu nggak boleh kasih tahu siapa pun tentang tempat ini. Bahkan kalau ada orang ngaku-ngaku ayah Aira… jangan pernah kasih tahu."

Yani tampak bingung. "Kenapa, Mbak?"

Rania mengangguk pelan. "Kalaupun itu Ayah Aira, aku tetap tak sudi mempertemukannya. Sekarang dia sudah punya keluarga baru. Aku nggak mau Aira jadi alasan dia kembali datang seenaknya. Aku sudah cukup hidup dalam bayangan orang yang hanya datang saat butuh."

Yani mengangguk, mencoba memahami. "Insyaallah saya ngerti, Mbak."

Rania melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

"Dan satu lagi. Mulai sekarang… kamu nggak boleh upload apapun tentang Aira. Atau aku. Atau tempat ini. Kalau mau posting ya posting aja yang tentang kamu. Jangan sekalipun ada aku atau anakku di situ."

Yani sedikit terkejut, tapi cepat-cepat mengangguk. "Baik, Mbak. Saya ngerti kok. Nggak akan sembarangan."

Rania tersenyum tipis. "Ini bukan cuma soal hati-hati, Yani. Tapi soal keselamatan. Aku nggak bisa ambil risiko apa pun."

"Saya ngerti, Mbak. Saya akan jaga semuanya."

Rania menghela napas lega. Di tempat baru ini, ia ingin membangun kehidupan yang lebih tenang.

Dan siapa pun yang mencoba datang, entah itu masa lalu, atau ancaman yang menyamar jadi kesempatan akan ia hadapi dengan kekuatan yang kini mulai tumbuh dalam dirinya.

Sementara di tempat lain.

Pagi itu, Radit tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Langkahnya mantap, namun wajahnya tak setegas biasanya.

Ia sempat berdiri cukup lama di depan kaca lift lantai atas, menatap pantulan dirinya dengan raut tidak puas.

Setibanya di ruangannya, ia menyalakan laptop, membuka berkas kerja. Namun pikirannya tidak tenang. Pandangannya kosong. Matanya bahkan secara refleks mengarah ke jam dinding.

08.30.

09.45.

11.10.

Rania belum muncul.

Biasanya, wanita itu datang lebih awal. Duduk dengan ekspresi tenang, membuka laptopnya, lalu menyapa singkat dengan nada sopan.

Radit bangkit. Ia berjalan ke luar ruangannya dan langsung menghampiri salah satu staf perempuan di divisi kreatif.

“Hei! kamu lihat Rania enggak?” tanyanya cepat.

Staf itu mengerutkan dahi. “Rania? Belum kelihatan, Pak. Saya kira sudah masuk ke ruang Bapak.”

“Belum,” jawab Radit singkat.

Ia mencoba tersenyum tipis, lalu mundur perlahan. Tapi dalam hatinya, keresahan mulai bertumpuk.

Ia kembali ke ruangannya, membuka ponsel, dan mencoba menelepon Rania.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan—”

Radit mendesah, melempar ponselnya ke meja dengan frustrasi.

“Kenapa nggak bisa dihubungi sih?” gumamnya.

Radit mendadak berdiri, meraih jaketnya dan keluar dari kantor tanpa menjelaskan ke mana ia pergi. Ia sudah tak bisa tenang.

Langkah pertamanya adalah kostan lama Rania.

Mobilnya melaju cepat menembus jalanan kota, dan hanya butuh waktu empat puluh menit sampai akhirnya ia berhenti di depan gang sempit menuju kostan tua yang sering datangi secara diam-diam.

Ia turun tergesa. Mengetuk pintu utama kostan.

Beberapa detik kemudian, pemilik kostan muncul.

“Maaf, Bu. Saya mau tanya, apa Rania ada di kostan? Hari ini dia nggak masuk kantor,” ucap Radit cepat.

Wanita paruh baya itu menggeleng pelan. “Rania? Oh… dia udah pindah.”

“Pindah?” dahi Radit berkerut tajam.

“Iya. Baru tadi pagi. Katanya mau pindah ke tempat yang lebih baik. Tapi dia nggak bilang pindah ke mana. Cuma nitip kunci aja. Udah beres semua bayarannya.”

Radit membeku. "Dia nggak ninggalin pesan? Surat? Apa pun?"

"Enggak ada. Cuma bilang, terima kasih. Terus pergi."

Radit mencoba menahan kekecewaannya. Tapi matanya sudah menunjukkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.

“Terima kasih, Bu…” gumamnya lirih.

Ia kembali ke mobil dengan langkah lunglai. Tangan kanannya memukul setir dengan pelan, lalu duduk di balik kemudi dengan kepala tertunduk.

“Apa aku keterlaluan semalam? Apa dia marah? Atau memang… sudah bosan berurusan denganku?”

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kembali detik demi detik yang mungkin membuat Rania memutuskan untuk menghilang.

Hari itu, Radit menghabiskan waktu dengan menyusuri tempat-tempat yang biasa dikunjungi Rania. Kedai kopi dekat kantor, taman kecil tempat mereka pernah syuting iklan, bahkan perpustakaan tempat Rania pernah mengerjakan konsep desain.

Semuanya nihil.

Rania benar-benar menghilang. Seperti tak pernah ada.

Dan ponsel gadis itu… tetap tak bisa dihubungi.

Hingga, malam pun turun. Langit di atas gedung perusahaan milik Radit diselimuti awan pekat, menyisakan bias cahaya kota yang tak pernah tidur.

Di lantai tertinggi kantor itu, Radit masih duduk di ruangannya. Jas sudah ia lepas, dasi melonggar, rambutnya sedikit berantakan karena terlalu sering digaruk kesal.

Ia frustrasi. Letih. Dan yang paling menyiksa: cemas.

Sudah berjam-jam sejak pagi. Sejak ia menelusuri jejak Rania dan tak menemukan apa-apa.

Kepalanya tertunduk. Bahunya turun. Ia tidak tahu lagi harus ke mana mencari.

Namun tiba-tiba…

Tok tok.

Suara ketukan pelan di pintu kaca ruangannya.

Radit sontak menoleh. Pikirannya mengira itu hanya pantulan suara khayalannya sendiri. Tapi detik berikutnya, pintu terbuka perlahan.

Seorang wanita melongokkan kepala ke dalam.

“Pak Radit?”

Napas Radit tercekat. Suaranya...

Matanya membulat ketika benar-benar menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu.

“Ra—Rania?”

Gadis itu masuk pelan-pelan, berdiri di hadapannya dengan ekspresi bersalah namun tenang.

Tak tunggu lama, Radit langsung bangkit, langkahnya besar dan terburu-buru, tanpa memberi kesempatan Rania bicara.

“Kamu tuh ya! Gila! Tau enggak aku cari kamu seharian? Ke kostan kamu, ke tempat shhoting, bahkan ke taman tempat biasa kamu duduk, ke kedai kopi tempat kamu beli latte, semua tempat! Semua!”

Rania mengangkat kedua tangannya, mencoba memotong, “Radit, aku—”

“Nggak! Denger dulu! Aku sempat mikir kamu marah banget sampai mutusin buat kabur! Aku kira kamu kenapa-kenapa! Aku kira kamu… ya Tuhan, kamu pikir ini mainan, hah?!”

“Radit, bisa—”

“Dan ponsel kamu! Mati! Gimana aku mau cari kamu kalau kamu nggak ninggalin jejak apa pun? Apa aku harus nyewa detektif buat nemuin kamu, hah?!”

Radit tampak benar-benar kehilangan kendali. Ia bahkan tak sadar betapa tubuhnya gemetar karena emosi bercampur panik yang belum lepas sepenuhnya.

Akhirnya, Rania mendekat pelan. Ia berdiri tepat di depan Radit, menatap mata pria itu dalam-dalam. Lalu…

“Sudah selesai ngomelnya?” ujarnya ringan, menahan tawa.

Radit membeku. Napasnya masih memburu.

Rania menaikkan satu alis. “Kamu tuh lucu banget. Aku kira kamu bos besar yang cool, eh ternyata gampang panik juga, ya?”

Radit berusaha menahan ekspresi. Tapi rona wajahnya sudah memerah sendiri. “Aku enggak panik…”

“Ya. Tentu.” Rania mengangguk dramatis. “Makanya kamu keliling kota kayak orang hilang, terus ngomel panjang lebar pas ketemu.”

Radit menoleh ke arah lain, pura-pura menyibukkan diri membereskan map kosong di mejanya. Tapi jelas, ia merasa malu.

“Aku cuma…” gumamnya, nyaris tak terdengar.

Rania tertawa pelan, lalu berjalan ke arahnya. “Kamu takut kehilangan aku, ya?”

Radit berhenti bergerak.

Lalu pelan-pelan menoleh padanya.

“Nggak. Aku takut kamu diculik alien,” balasnya cepat.

Rania tertawa makin keras, puas. “Yakin itu alasan satu-satunya?”

“Aku… khawatir aja,” sahutnya datar, tapi kali ini tak bisa menyembunyikan sorot lembut di matanya.

Rania mendekat lebih lagi, menatap Radit sambil menyandarkan tangan di meja.

“Jadi sekarang siapa yang mulai baper?” godanya dengan suara rendah.

Radit mundur selangkah, “Kamu nyindir aku?”

“Nggak kok.” Ia tersenyum. “Aku cuma nanya. Soalnya... kamu biasanya enggak pernah seribet ini.”

Radit mendesah, setengah pasrah. “Kamu bikin aku kayak orang bego hari ini.”

“Tapi orang bego yang manis.”

Tatapan mereka terkunci beberapa detik.

Dan untuk pertama kalinya hari itu… Radit tersenyum—karena lega.

Rania pun ikut tersenyum, lalu berkata pelan, “Aku enggak marah kok. Aku cuma... lagi pengen sendiri sebentar. Itu aja.”

“Jangan pergi lagi tanpa kabar,” kata Radit, nadanya turun.

Rania mengangguk pelan. “Iya. Maaf, ya.”

"Terus, kamu ke mana aja? Kenapa pindah tiba-tiba?" tanyanya akhirnya, nada suaranya kini lebih stabil.

Rania bersedekap pelan, menggeser tubuhnya agar duduk di sofa kerja Radit.

"Aku pindah karena udah nggak nyaman di tempat lama," jawabnya ringan.

Radit mengerutkan dahi. “Enggak nyaman kenapa?”

“Ya... karena bosan. Kostan kecil, sempit, tetangganya nyebelin, air kadang mati, lampu sering konslet. Hidup tuh udah ribet, masa tempat tinggal juga ribet?” Rania mengangkat bahu sekenanya.

Radit mengangguk pelan, mencoba menerima alasan itu.

Lalu, Rania menambahkan “Lagian... kan sekarang aku bakal jadi Nyonya Raditya Mahendra. Bohongan, sih. Tapi tetap aja, masa ‘nyonya’ tinggal di tempat sempit dan dindingnya tipis kayak kerupuk?”

Radit terdiam. Lalu... tertawa. Tawa kecil tapi tulus.

“Tipikal cewek matre,” sindirnya.

“Terserah,” sahut Rania enteng. “Tapi at least sekarang aku bisa bilang ke Aira, ‘Nak, hidup kita naik level karena mama pura-pura nikah sama CEO ngeselin’.”

“Bagus juga tuh,” Radit mengangguk, lalu menatap Rania penuh arti. “Kalau pura-puranya berhasil, bisa aja kamu dapet bonus di akhir episode.”

Rania mencibir sambil tersenyum. “Kalau bonusnya rumah dan mobil, aku ambil. Tapi kalau bonusnya kamu, aku pikir-pikir dulu.”

Radit menahan tawa, lalu berdiri dari kursinya, menatap Rania dari atas dengan tangan di saku.

“Hati-hati. Nanti pura-puranya kebablasan, kamu beneran jatuh cinta.”

Rania mendongak menatapnya, “Kalau kamu duluan yang jatuh, jangan bilang aku enggak peringatkan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!