Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Laut yang Memisahkan, Gunung yang Memberi Harapan"
Hari berikutnya, Dewi bangun sebelum matahari terbit. Dia memakai baju kaos dan celana pendek, lalu keluar rumah menuju pantai. Jalan menuju pantai hanya memakan waktu lima menit, melewati sawah yang masih basah dan pepohonan kelapa yang bergoyang. Ketika dia tiba, matahari baru mulai muncul dari balik bukit, menyinari permukaan laut dengan cahaya emas. Ombak berdesir lembut, menyentuh pasir putih yang lembut.
Dewi duduk di tepi pantai, mengendus bau garam dan udara laut. Dia mencoba untuk memusatkan perhatian pada pemandangan di depannya—pada burung yang terbang tinggi, pada ombak yang terus datang dan pergi, pada langit yang berubah warna dari hitam jadi jingga. Tapi tidak lama kemudian, pikirannya kembali ke Arif. Dia membayangkan dia sedang bangun sendirian, memasak kopi untuk dirinya sendiri, atau melihat ke arah jendela harapnya dia pulang.
“Tidak, aku tidak boleh memikirkan dia lagi,” bisik dia sendiri, berdiri dengan cepat. Dia mulai berlari di tepi pantai, kakinya menyentuh air yang dingin. Dia berlari sekuat tenaga, sampai napasnya terengah-engah dan kakinya terasa lelah. Begitu dia berhenti, dia merasa sedikit lega—kelelahan tubuh membuat pikirannya tidak bisa berputar lagi.
Sejak hari itu, Dewi selalu menyibukkan diri untuk menghibur dirinya sendiri. Pagi-pagi, dia bangun pagi untuk berjalan ke pantai atau membantu neneknya di kebun. Neneknya memiliki kebun kecil di belakang rumah, penuh dengan sayuran dan bunga. Dewi membantu menyiram tanaman, memetik sayuran yang matang, dan membersihkan rerumputan. Siang hari, dia membantu neneknya memasak di dapur terpisah, mempelajari cara membuat ikan bakar yang lezat dan sambal yang pedas seperti yang dia suka. Sore hari, dia sering jalan-jalan ke desa, menyapa tetangga, atau duduk di teras dapur bersama warga yang datang ngumpul.
Suatu sore, setelah membantu neneknya memasak, Dewi memutuskan untuk jalan-jalan lebih jauh. Dia berjalan melewati desa, melewati rumah-rumah sederhana dan perkebunan kelapa. Dia berjalan sampai tiba di sebuah bukit yang menawarkan pemandangan penuh ke desa dan laut. Di atas bukit itu, ada pohon beringin yang besar, dengan akar yang meluas dan tempat duduk yang dibuat dari kayu.
Dewi duduk di tempat duduk itu, memandang pemandangan yang indah. Langit mulai berwarna jingga dan merah, menandai datangnya matahari terbenam. Laut di kejauhan terlihat seperti cermin yang memantulkan cahaya matahari. Dia merasa sedikit tenang, meskipun pikirannya masih kadang terbang ke Arif.
“Kamu Dewi kan? Cucu dari Bu Siti?”
Suara itu membuat Dewi terkejut. Dia menoleh ke belakang dan melihat seorang pria muda yang berdiri di dekatnya. Pria itu memiliki rambut hitam yang sedikit bergelombang, wajah yang ceria, dan memakai baju kaos biru dan celana panjang. Dia terlihat sekitar usia Arif, tapi dengan aura yang lebih ceria dan rileks.
Dewi mengangguk, sedikit ragu. “Ya, aku Dewi. Kamu siapa ya?”
“Ah, aku Rafi! Sepupu jauhmu dari sisi ayah nenekmu. Kamu pasti lupa, kita pernah bertemu ketika kamu masih kecil—ketika nenekmu mengadakan syukuran.” Pria itu mendekat dan memanjat ke tempat duduk di pohon beringin, duduk berdampingan dengan Dewi. “Aku baru pulang dari kota kemarin sore. Ibuku bilang kalau cucu Bu Siti datang ke desa, jadi aku cari-cari.”
Dewi tersenyum. Dia memang tidak ingat pernah bertemu Rafi, tapi wajahnya terasa akrab. “Oh, gitu ya? Maaf ya, aku lupa.”
“Tidak apa-apa, lama banget kan? Sudah lebih dari sepuluh tahun. Kamu kok bisa datang ke desa sekarang? Sedang liburan?” tanya Rafi, memandang pemandangan di depannya.
Dewi terdiam sebentar. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tapi melihat wajah Rafi yang ramah dan tidak menuntut, dia merasa ingin menceritakan sedikit. “Ya, liburan sedikit. Butuh istirahat dari kota.”
Rafi mengangguk, seolah-olah memahami. “Kota memang sering membuat capek ya. Di desa ini lebih tenang—hanya udara segar, makanan sehat, dan tidak ada kesibukan yang terlalu banyak.” Dia melihat Dewi dengan mata yang ramah. “Kalau mau jalan-jalan atau ada yang butuh, bilang aja ke aku ya. Aku tahu semua tempat menarik di desa ini—mulai dari pantai yang paling indah sampai gunung yang bisa dinaiki untuk melihat matahari terbit.”
Dewi tersenyum dengan lebih lebar. Dia merasa senang bertemu Rafi. “Baiklah, terima kasih ya, Rafi.”
Sejak hari itu, Rafi sering datang menemui Dewi. Mereka jalan-jalan bersama ke berbagai tempat di desa: ke pantai yang lebih jauh yang jarang dikunjungi warga, ke kebun kelapa yang besar, ke air terjun yang tersembunyi di balik bukit. Rafi menceritakan banyak hal tentang desa, tentang kehidupannya di kota sebelum pulang, dan tentang teman-temannya. Dia memiliki kebiasaan bercanda yang lucu, membuat Dewi sering tertawa—tertawa yang tulus, yang dia belum rasakan sudah lama.
Suatu pagi, Rafi mengajak Dewi naik gunung untuk melihat matahari terbit. Mereka bangun jam empat pagi, memakan makanan ringan yang dibuat neneknya, lalu memulai perjalanan. Jalan menuju puncak gunung agak curam, tapi Rafi selalu menunggu dia, membantu dia ketika dia kesulitan menaiki tangga yang terbuat dari batu. Ketika mereka tiba di puncak, matahari baru mulai muncul dari balik bukit. Pemandangan yang terbuka di depannya sungguh luar biasa: seluruh desa terlihat seperti mainan kecil, laut terlihat seperti biru yang luas, dan langit berwarna jingga dan emas.
“Indah banget ya?” tanya Rafi, berdiri berdampingan dengan Dewi.
“Ya, sungguh indah,” jawab Dewi, matanya tidak meninggalkan pemandangan. Dia merasa seperti semua kesedihan dan kekhawatiran yang dia rasakan hilang sebentar. Dia melihat Rafi, yang sedang memandangnya dengan mata yang lembut. “Terima kasih ya, Rafi, sudah mau ajak aku naik gunung ini. Aku sangat senang.”
Rafi tersenyum. “Sama-sama, Dewi. Aku senang bisa melihatmu tersenyum. Kamu terlihat lebih segar dan ceria sekarang, tidak seperti ketika kita pertama bertemu.”
Dewi terdiam. Dia menyadari bahwa apa yang dikatakan Rafi benar. Selama beberapa minggu yang dia habiskan di desa, dengan menyibukkan diri dan jalan-jalan bersama Rafi, dia merasa lebih baik. Pikiran tentang Arif masih kadang muncul, tapi tidak lagi sekuat sebelumnya. Dia mulai bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan lagi, meskipun hanya sedikit.
“Kamu tahu apa, Dewi?” kata Rafi, memecah keheningan. “Aku pernah mengalami hal yang sama denganmu. Beberapa tahun yang lalu, aku putus dengan pacarku yang selalu menyakitiku. Aku merasa sedih dan putus asa, sampai aku memutuskan untuk pulang ke desa dan istirahat. Di sini, dengan bantuan keluarga dan teman-teman, aku bisa melupakan dia dan mulai hidup lagi.” Dia melihat Dewi dengan mata yang serius. “Jadi aku tahu bagaimana rasanya. Dan aku mau memberitahumu: kamu tidak sendirian. Ada banyak orang yang peduli padamu, dan kamu pasti bisa menemukan kebahagiaan lagi.”
Kata-kata Rafi membuat Dewi mata berkaca-kaca. Dia merasa terharu memiliki seseorang yang memahami perasaannya. Dia memegang tangan Rafi dengan lemah. “Terima kasih, Rafi. Kamu benar-benar baik padaku.”
Rafi memeluknya dengan lemah. “Sama-sama, Dewi. Selalu ada untukmu.”
Pada saat itu, Dewi merasa ada harapan baru yang muncul di hatinya. Dia masih tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, apakah dia akan benar-benar bisa melupakan Arif atau tidak. Tapi dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Dengan bantuan neneknya, ibunya, dan Rafi, dia yakin bisa menjalani hidupnya dengan damai dan menemukan kebahagiaan yang dia cari selama ini. Matahari sudah terbit sepenuhnya, menyinari puncak gunung dengan cahaya yang terang. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Dewi merasa siap untuk menghadapi masa depan—dengan hati yang lebih tenang dan penuh harapan.