Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Keputusan
Disarankan Membaca Pengganti Pengganti terlebih dahulu Agar sedikit nyambung 🙏 Ini kisah anak nya Adinda dan Farel yah.
*********
Suara Deru mobil menggema kota Jakarta sore itu, sepasang kekasih yang berada di dalam mobil kini tampak terlihat sangat begitu bahagia dan saling menggenggam tangan satu sama lain.
Dia adalah Amira Argadinata dan kekasihnya bernama Glen Jonson.
Mereka sudah menjalin hubungan selama 1 tahun dan kini akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Sore hari itu mereka habis menjalani foto prewedding karena acara pernikahan akan di adakan 5 hari lagi. Berbagai acara sudah di susun sangat begitu meriah dan begitu mewah, karena keduanya dari keluarga yang cukup berada.
Glen sengaja pulang menyetir sendiri karena merasa ingin menikmati waktu berdua, tanpa di ganggu supir, setelah beberapa hari tidak bertemu dengan kekasih nya itu karena saling sibuk masing-masing.
"Sayang, Aku sudah tidak sabar ingin segera menikah dengan mu." kata Amira, merangkul mesra kekasih nya itu yang sedang menyetir.
"Iya Mira, Aku juga sudah tidak sabar ingin hidup bersama mu, tinggal bersama, setiap pagi saat Aku bangun, wajah cantik mu yang selalu Aku pandang." Jawab Glen sambil tersenyum menggoda.
Mendapat jawaban seperti itu tentu membuat gadis cantik itu merasa sangat begitu bahagia wajahnya nya menjadi memerah.
"Sayang, kenapa diam?" tanya Glen saat melihat kekasihnya itu diam saja.
"Habis kamu terlalu menggoda sih, bikin Aku sudah tidak sabaran ingin menjadi ratu di kehidupan mu." Jawab Amira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oya, kau ingin anak berapa dari ku?" lanjutnya lagi menatap kekasih nya dengan begitu lekat .
"10 juga boleh, biar kita rame-rame, keluarga kita jadi keluarga besar deh." jawab Glen dengan tersenyum menggoda.
"Ah masa 10 sih? Aku tidak sanggup mau seperti apa Istri cantik mu ini." jawab Amira sambil memanyunkan bibirnya.
Melihat kekasih nya manyun membuat Glen mengacak rambutnya dengan gemas.
"Ah, kamu suka sekali membuat rambut ku berantakan," desis gadis itu semakin cemberut.
"Jangan merajuk, nanti Aku gak bisa tahan loh," balas Glen dengan tersenyum menggoda, membuat Amira memalingkan wajahnya malu.
Pria di samping nya itu selalu saja membuat dirinya tidak bisa berkutik atau marah, justru gadis itu selalu kecintaan .
"Hay, jangan bertingkah kaya bocil gitu," goda Glen lagi semakin iseng menjahili kekasihnya itu, membuat Amira menutup wajahnya dengan tas.
"Berhenti menggoda, Aku malu," ujarnya membuat Glen terkekeh sendiri.
Baru sempat Glen menatap ke arah depan tiba-tiba ada sebuah truk melaju dengan kencang, membuat Glen berusaha untuk menghindar dan menginjak rem namun sayangnya mobil nya kehilangan kendali.
"Sayang ada apa?" tanya Amira yang melihat ekspresi wajah kekasihnya tampak berubah panik.
"Remnya blong," jawab Glen dengan frustasi.
"Sayang, Aku takut." Mendengar itu Amira langsung duduk di pangkuan Glen dan memeluk Glen dengan erat.
Hingga yang terjadi truk itu berhasil menghantam mobil itu hingga menyebabkan mobil itu terbalik.
Kecelakaan itu terjadi, suasana kota yang tidak terlalu padat kendaraan menjadi rame karena terjadi macet.
Darah segar mengalir di ujung kepala dan pelipis kedua orang tersebut, bahkan pakai yang di pakainya sudah berlumuran darah.
Sebisa mungkin Glen berusaha untuk meminta tolong, sementara Amira terlihat sudah tidak sadarkan diri, terlebih kaca dan benturan mobil itu pasti menghantam tubuh gadis itu karena posisi nya sekarang Amira lah yang berada di bawah tubuh Glen.
"Sayang bangun, kita berjanji akan segera menikah dan hidup bahagia" ucap Glen dengan sangat begitu lemah berusaha untuk keluar dari mobil itu, namun sayangnya kekasih nya itu benar-benar parah kondisinya.
Dengan kekuatan penuh, Glen berusaha untuk keluar dari mobil itu dan melepaskan pelukan kekasih nya sebelum mobil itu benar-benar meledak.
Untungnya Orang-orang di sana bergegas membantu, sehingga keduanya berhasil keluar sebelum akhirnya terdengar suara.
Duaar..
Mobil itu meledak membuat Glen yang lemah langsung tidak sadarkan diri, karena terkejut.
******
Glen terbangun dari tidurnya pria itu berusaha menggerakkan tangan dan mulutnya, berusaha bersuara menyebut nama Amira, namun karena oksigen yang tertempel di hidung dan mulutnya membuat pria itu kesusahan.
Sedangkan Bibi pengurus rumah yang melihat itu langsung bergegas keluar memberitahu semua orang.
"Tuan Muda, sudah sadar," teriak nya membuat penghuni rumah itu bergegas ke kamar Glen, bersama dengan dokter yang sudah kusus menangani pria itu.
"Syukurlah kau sudah sadar, kondisi mu sudah membaik gak ada masalah," tutur dokter setelah memeriksa dan melepaskan selang oksigen membuat Glen kini tampak menatap sekeliling dengan heran.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga," ucap Melani ibu nya Glen di ikuti klaudia kakak Glen di belakangnya.
"Apa yang terjadi? Di mana Mira?" tanya Glen dengan suara lemah nya, berusaha untuk mengingat kembali apa yang terjadi, dan merasa heran mengapa dirinya ada di rumah bukan nya di rumah sakit sesuai kondisinya.
Melani menghela nafas panjang berusaha untuk tenang sebelum bercerita, lalu segera mengambil kursi untuk duduk di samping ranjang putra nya.
"Kamu sudah tidak sadarkan diri selama dua hari, dan alasan kamu di pindahkan ke rumah itu untuk menghindari kecurigaan dari keluarga ibu tiri mu, Mama menduga ini ada kaitannya dengan mereka," jelas Melani panjang lebar sambil mengepalkan tangannya geram.
Dulu Melani (ibunya Glen) dan Wira Jonson (Ayah Glen ) menikah tanpa restu orang tua dan kawin lari memulai rumah tangga sederhana, Wira bekerja di perusahaan Farel (Ayah Amira) dari situ memulai bisnis nya hingga perusahaan itu sukses besar walaupun dirinya hanya terlihat di belakang layar saja.
Namun setelah pernikahan berusia 3 tahun Wira dan Melani hanya memiliki satu orang anak perempuan, membuat Ayah nya Wira mengusik rumah tangga mereka dengan iming-iming kekuasaan dan ancaman karir, Wira di paksa menikah lagi untuk mendapatkan anak laki-laki yang menurut nya pewaris perusahaan, jika tidak ayahnya akan bunuh diri di hadapannya dan membuat karir Melani hancur, sebuah keputusan yang dia ambil dengan berat hati.
Sedangkan Melani hanya bisa menerima, karena dia tidak ingin usahanya hancur begitu saja, walaupun pada akhirnya dia merasa sakit di madu, ingin cerai tapi Melani gak ingin anaknya tumbuh tanpa Ayah maka dia tetep bertahan.
Dari pernikahan keduanya bersama Laura,Wira di karuniai seseorang anak laki-laki yang di beri nama Wisnu Jonson, namun setelah sebulan kelahiran Wisnu Melani di nyatakan hamil anak keduanya yaitu Glen.
Hal itu membuat Posisi Laura tidak aman, terlebih Wira lebih perhatian dengan Glen.
Bahkan hingga detik terakhirnya justru Wira malah menyerahkan posisi CEO untuk Glen, padahal seharusnya Wisnu lah yang mewarisi itu semua, hal itu membuat Laura sangat marah dan kesal. Sedangkan Klaudia kakak Glen lebih memilih menjadi dokter seperti ibunya. Wira sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Bahkan wasiat terakhirnya sebelum meninggal masih memikirkan Glen.
Isi wasiat itu berisi: Jika Glen tidak menikah dengan putri keluarga Argadinata di usianya yang ke 27, barulah Wisnu berhak menjadi CEO. itu sebagai bentuk bahwa Wisnu hanya di jadikan sebagai pilihan kedua, hal itu membuat kedua orang itu berambisi untuk melenyapkan Glen atau berusaha untuk mendekati putri keluarga Argadinata walaupun berakhir dengan kegagalan karena justru putri keluarga Argadinata malah menyukai Glen.
"Apa? mereka memang benar-benar gila," umpat Glen dengan kesal setelah mendengar penuturan ibunya, jika mengingat apa yang terjadi.
"Lalu bagaimana dengan Mira?" lanjut nya saat mengingat pertanyaan belum di jawab sedari tadi.
"Amira koma dan kondisi nya sangat tidak memungkinkan untuk sadar, dia juga di pindahkan ke rumah nya untuk keamanan bersama," jawab Melani panjang lebar dengan sedih.
"Glen pernikahan harus terjadi, kalo gagal keluarga kedua pasti akan menang begitu saja, usaha mu sia-sia, perusahaan bisa hancur berantakan karena Wisnu gak mungkin mengelola perusahaan dengan baik dan adil," lanjut Melani panjang lebar, membuat Glen berpikir keras, pria itu baru sadar, tapi harus memikirkan banyak hal rasanya kepala nya mau pecah.
"Ka Kla, bantuin mikir. Mira sedang koma, Aku bahkan belum melihat kondisi nya, tapi sudah di suruh mikir mencari solusi," keluh Glen pada kakanya yang sedari tadi diam saja.
"Kamu pikir Kakak juga gak banyak pikiran, beban sudah menumpuk nih malah di suruh mikir," balas wanita itu dengan galak.
"Jangan bertengkar kalian," hardik Melani menatap kedua anaknya dengan kesal, itu sudah sering terjadi, kedua kakak beradik itu memang sering kali berdebat.
Keduanya pun memutuskan untuk diam, dan Klaudia memutuskan untuk keluar dari kamar adiknya karena merasa tidak di butuhkan, setelah kepergian putrinya. Melani hanya menghela nafas panjang, berusaha untuk berpikir keras hingga akhirnya sebuah ide muncul di kepalanya.
"Keluarga Argadinata punya dua orang putri kembar, selama kamu bisa membujuk Farel untuk tau di mana keberadaan putri tertua nya, maka semuanya akan aman," ucap Melani setelah lama berpikir.
"Maksud nya? Aku harus banget gitu nikah dengan kembaran Amira?" tanya Glen berusaha mencerna ucapan ibunya.
"Hanya itu sih, gak ada yang lain," jawab Melani sambil mengangguk yakin.
"Yang bener saja, ini sama saja menyakiti Amira," tolak Glen sambil menggeleng cepat.
"Keputusan ada di kamu, nasib keluarga kita di tangan kamu, pikirkan baik-baik kamu cuma punya waktu 3 hari, kalo gak bergerak cepat keburu waktunya abis," jawab Melani sambil menunjukkan jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya jika Glen gak bergerak waktunya abis sia-sia.
"Mama juga gak bermaksud untuk itu, cuma Mama gak punya pilihan lain," lanjut Melani merasa bersalah.
Glen langsung melepaskan selang infus yang menancap di tangan nya, pria itu langsung bangkit dari ranjang nya walaupun tubuh nya masih terasa lemah.
"Mau kemana?" tanya Melani saat melihat putranya itu hendak pergi.
"Ke kediaman Argadinata, walaupun berakhir dengan diusir," jawab Glen langsung keluar dari kamarnya, pria itu masih mengenakan piyama, tapi dia tidak peduli dengan penampilan nya, yang iya pedulikan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan Amira.
Melani hanya bisa pasrah dengan apa yang putranya perbuat karena tidak bisa melakukan apapun.
Sedangkan Glen langsung keluar rumah dengan tergesa-gesa, membuat kakak nya heran dengan adiknya itu yang tampak terburu-buru, namun saat hendak bertanya Glen malah tidak mau menjawab membuat nya semakin kesal saja.
"Ke kediaman Argadinata, cepet sekarang juga," ucap Glen pada pak supir membuat pak supir itu langsung menuruti tanpa banyak bertanya.
*******
Setelah bergelut dengan pikiran nya, sepanjang perjalanan, kini Glen sudah berada di halaman rumah kediaman Argadinata, hati dan perasaan menjadi ragu untuk mengetuk pintu atau tidak.
Belum sempat mengetuk pintu ada yang menepuk pundaknya, ternyata ada Darel Kakak Amira yang baru pulang dari kantor.
"Sudah sadar Lo ?" tanya nya dengan terkejut, memperhatikan Glen yang tampak masih pucat dengan perban di kepalanya dan penampilan nya yang menurut nya aneh.
"Seperti yang Lo lihat," jawab Glen sambil tersenyum tipis, walaupun Darel akan menjadi kakak iparnya tapi Glen lebih tua setahun di atas nya, jadi mengaggap seperti teman saja menggunakan kata Lo Gue.
"Oke masuk lah, pasti mau ketemu Mira yah," ucap Darel langsung membuka pintu yang sudah di buka oleh pelayan. Glen pun hanya mengangguk mengikuti pria itu masuk ke dalam.
Setelah sampai di kamar Amira, Glen melihat kedua orang tua Amira sedang berada di sana.
Lalu pandangan mata Glen tertuju pada seorang gadis yang masih memejamkan mata dengan, alat-alat medis.
Sakit sedih hancur, terlebih Glen harus mengambil keputusan yang berat.
BERSAMBUNG