NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Cerai / Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.

Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.

Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.

Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.

Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.

Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?

Ikuti Kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Bentar lagi jadi suami mama kamu

"Om, hujannya udah reda," kata Aeris sambil melihat ke luar jendela. Suasana mulai meremang karena hari sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Leon tersenyum. Bocah itu sudah selesai makan dan berganti pakaian.

"Malam ini mau ikut nggak ke pesta?"

"Pesta apa? Pesta ulang tahun lagi ya?"

"Kamu ada ke pesta ulang tahun dalam waktu dekat ini?"

"Ada dong! Aeris ikut Nenek ke pesta orang, nggak tahu juga siapa namanya. Tapi asal Om tahu, ternyata pemilik pestanya itu kenal sama Nenek. Dia maksa-maksa buat nanya Aeris ini anak siapa, terus Aeris jawab deh kalau Aeris anaknya Mama Alina," jelas bocah itu panjang lebar.

Leon mengernyitkan alisnya.

"Waktu itu kami kejar-kejaran deh. Oh ya, ternyata Om Toilet itu juga ada di sana," kata Aeris lagi.

Seketika Leon menegakkan tubuhnya.

"Sebentar," katanya sambil membuka ponsel, tampak mencari sesuatu.

"Apa ini orangnya?" tanyanya sambil menyodorkan foto Felix dan Jesika.

"Iya, ini. Tadi pagi juga Aeris lihat wanita ini di TK Aeris," tunjuknya pada Jesika.

"Berarti putrinya satu sekolah dengan Aeris," gumam Leon, pikirannya mulai menghubungkan berbagai hal.

"Om Leon kan pernah bilang kalau Om Toilet itu jahat. Tapi ya menurut Aeris dia nggak jahat kok, tampangnya aja ganteng-ganteng gitu," komentar Aeris.

Leon menghela napas kasar. Sepertinya kebenaran soal Aeris akan segera terungkap. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau Revan akan tetap percaya perkataannya waktu itu di mall.

"Mereka itu orang-orang nggak baik. Om bilang begini karena Om punya bukti. Pokoknya kamu harus menghindari dua orang ini—Om Toilet dan pacarnya itu," kata Leon dengan nada serius.

Aeris hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi mulutnya langsung tertutup.

"Apa?" tanya Leon.

"Nggak jadi deh... Tapi Aeris tetap nggak percaya kalau belum ada bukti mereka jahat. Kalau dibandingin sama Mamanya Om, jauh lebih jahat Nenek peot itu," kata Aeris sambil manyun.

Leon mengulum senyum saat Aeris menyebut ibunya dengan sebutan “Nenek peot”.

"Oh ya, Om... Apa Mama Om nggak marah Aeris mampir ke sini? Nanti kalau dia tahu bisa-bisa marah-marah lagi, terus ngehina Aeris sama Mama," kata Aeris.

"Kamu jangan dengerin. Intinya, Om sayang Mama dan kamu," ucap Leon.

"Seberapa sayang Om sama Aeris?"

"Segini!" kata Leon sambil menunjukkan kesepuluh jarinya lebar-lebar.

"Kalau begitu... bantu Aeris buat nemuin siapa mantan suami Mama."

Leon terdiam seketika. Wajahnya langsung berubah.

"Kalau itu, Om nggak bisa bantu. Karena itu bukan ranah Om," kata Leon pelan namun tegas.

"Lagi pula, kenapa sih kamu mau nyari tahu mantan suami Mama? Kan sekarang udah ada Om. Bentar lagi juga Om yang bakal jadi suami Mama kamu," lanjut Leon.

Aeris memasang wajah pongah. Dalam hatinya, ia sebenarnya tidak terlalu menyetujui hubungan Leon dan Alina. Bukan karena dia benci Leon, tapi karena dia tahu Leni, ibunya Leon, tidak akan pernah bisa menerima kehadiran mereka—baik dirinya maupun Alina.

••••••

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan keras terdengar di pintu rumah. Seorang wanita berdiri dengan seorang anak kecil tertidur dalam gendongannya.

Fitri yang sedang menutup jendela menoleh ke arah pintu dengan dahi berkerut.

"Apa Davi udah pulang?" gumamnya sambil berjalan menghampiri.

Begitu pintu terbuka, matanya melebar kaget.

"Widya?"

"Kakak..." lirih suara itu pelan.

"A..ayo, masuk," kata Fitri cepat, membuka pintu lebih lebar.

Widya masuk dengan langkah lelah.

"Kamu kenapa? Terus... pakaian kamu juga lembap begini," tanya Fitri khawatir, matanya menyapu tubuh adik iparnya dari atas ke bawah.

Ia bisa menebak ada sesuatu yang terjadi, dan sepertinya masalah itu berkaitan dengan adiknya, Yuda.

"Biar Kakak bawa Rio ke kamar dulu, kamu ganti baju. Nanti kamu sakit," ucap Fitri lembut, mengambil alih Rio dari gendongan Widya.

Widya hanya mengangguk pelan. Setelah meminjam pakaian Devi dan berganti baju, ia keluar dan duduk di sofa. Fitri sudah menunggunya di sana dengan segelas air teh di meja.

"Kenapa lagi? Kamu bertengkar sama Yuda?" tanya Fitri hati-hati.

Widya mengangguk pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kakak tahu nggak? tiba-tiba dia punya foto aku sama mantanku. Padahal waktu itu di restoran, dia yang duluan nyamperin. Kami putus baik-baik, nggak ada drama. Jadi salahnya di mana kalau kami masih berteman?" ucap Widya, suaranya bergetar.

"Mas Yuda cemburu dan marahin aku habis-habisan. Dan lagi kak, di sekolah Rio dibully sampai dilempar batu. Aku bela putraku, aku minta orang yang merundung Rio dikeluarkan. Tapi malah Mas Yuda marah-marah ke aku. Belum lagi... dia ungkit-ungkit soal aku lahir dari rahim siapa."

Fitri menghela napas panjang. Tatapannya sendu. Tangannya terulur, mengusap pelan bahu wanita itu.

"Jadi... daripada aku terus sakit hati, mending aku kabur dari rumah itu. Sampai dia sadar dan minta maaf," ujar Widya.

Fitri mengangguk pelan. Ia tak ingin langsung menyalahkan atau membela adiknya.

"Untuk sementara, kamu di sini aja dulu. Nanti Kakak coba omongin baik-baik sama Yuda," ucapnya tenang.

"Nggak usah, Kak. Biarin aja dia dengan inisiatifnya sendiri. Kalau pun dia benar-benar nyari aku, pasti dia bakal datang," kata Widya pelan.

"Nggak apa-apa kan aku ke sini, Kak? Aku bener-bener nggak tahu harus ke mana lagi," tambahnya, menatap Fitri dengan mata sembab.

Fitri mengangguk, lalu menepuk tangan Widya pelan.

"Ya nggak apa-apa lah. Kita ini saudara, Wid," jawab Fitri tulus.

"Terima kasih banyak, Kak,"

••••••

"Kenapa kamu nggak cerita ke aku?" tanya Leon, menatap Alina yang sedang duduk di ujung sofa.

Wanita itu baru saja datang dan Leon langsung memberondongnya dengan pertanyaan.

Alina menunduk, meremas jari-jarinya sendiri.

"Aku pikir itu bukan hal yang penting, Leon," jawabnya pelan.

"Tapi kamu harus tahu, sekarang kamu malah secara nggak langsung mendekatkan Aeris ke keluarga itu."

Alina mengernyit, bingung. "Maksud kamu?"

"Aeris satu sekolah sama Rania," jawab Leon.

"Rania?"

"Ya, putri angkat nyonya Jesika,"

"Apa!?" seru Alina kaget. Wajahnya langsung berubah tegang.

"Aku tahu putri Nyonya Jesika sekolah di situ juga. Makanya aku agak kaget pas Aeris bilang tadi pagi dia ketemu sama Nyonya Jesika."

Alina refleks menggigit bibir bawahnya.

"A-Apa... dia lihat putraku?"

"Nggak, nyonya Jesika nggak lihat dia."

Alina menghela napas panjang. Ia merasa semuanya mulai rumit.

"Leon... terus aku harus gimana dong? Masa iya aku cari sekolah lain? Padahal aku udah bayar mahal banget buat sekolah itu,"

Leon menatapnya serius.

"Kalau kamu memang mau Aeris pindah, biar aku bantu. Aku yang akan tanggung biayanya."

Alina langsung menggeleng cepat.

"Jangan, Leon. Kamu udah banyak banget bantu kami. Aku nggak mau terus-terusan berutang budi sama kamu."

"Terus gimana lagi?" tanya Leon.

Alina terdiam sejenak. Tatapannya kosong, berpikir keras.

"Atau... gini aja. Kamu bilang ke Aeris, kalau dia lihat salah satu dari keluarga itu—langsung pergi. Jangan sampai mereka lihat dia, apalagi kalau Aeris sampai ngobrol atau interaksi." Saran Leon.

Alina mengangguk pelan. Meskipun dia tahu kemungkinan bertemu tetap ada, tapi untuk saat ini—itulah satu-satunya pilihan terbaik.

1
Lili Inggrid
lanjut
Bunda Dzi'3
blm Up Thor...smngts thor
olyv
hancurkan revan
buat alina n leon bahagia thor
Syamsudin Oke
up thor
Sunaryati
Memangnya Alina menyerahkan anaknya ke Revan? PD sekali Devi. Bu Sitha orang tua itu biasanya mau berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, tapi yang ibu lakukan egois, hanya demi kebahagiaan anda sendiri.
Sunaryati
Kenapa Revan, seperti tak punya hati.
Bunda Dzi'3
up thor
Bunda Dzi'3
heammmm ketemu dahh
Bunda Dzi'3
hadehhh berat bngt alana...mertuanya nenek lampur
Bunda Dzi'3
thor jgn biarin itu mantan balik lagi aja
Bunda Dzi'3
alina jgn mau balik lgi sma pria plinplan
Alma Hyra
gak gregetan karena baper dengan peran karakter tokoh²nya, tapi lebih greget sama Thor yang bikin cerita alurnya.../Speechless/
Rieya Yanie
kpn revan nyesel thor
sdah tua jg msh ky abg
Rieya Yanie
kasian alina..
Sunaryati
Jika kalian berbuat jahat sama anak Alina, dipastikan pernikahan Revan dan Devi gagal. Ternyata keluarga Devi tabiatnya buruk, mungkin mengincar harta dan nebeng nama. Jika orang baik akan menerima anak sambung. Benar firasat mama Revan jika Devi jadi menantunya mungkin mereka ikut menikmati kekayaan Revan bukan sewajarnya.
rin ini siapa thor🤔
Amazing Grace
rasanya terlalu berlebihan kalo Alina masih cemburu dan nyimpen rasa padahal sudah 7 tahun, kesannya seolah olah dia murahan karena masih ngarep padahal tuh cowok udah rendahin dan punya pacar juga
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏
Adelio
Udah bab 33 kok masih gini2 aja ya, kayak kurang greget..
Alma Hyra
terus kenapa juga aeris karakternya jadi anak bandel, yang baca mau kasian ke aeris malah mamang enggak jadi, harusnya aeris itu jadi anak yang tertindas, bukan dijauhin teman karna karakternya tapi karna keadaanya enggak punya ayah ... gitu lebih wow
Alma Hyra
huhhj... alurnya malah gimana gitu, pindah ke novel sebelah dulu aja, nanti balik lagi kalau si revan udah menyesal menyia²kan Alina aja ... soalnya ceritanya kurang ngena banget di hati, masa si Revan masih makin cinta ke Devi, tapi semuanya udah mau ke bongkar engak dag dig dug derrr aja rasanya, kecuali revannya udah mulai punya rasa bersalah, rasa menyesal, atau mulai ada rasa ke Alina gitu baru semuanya terbongkar kan jadi wow gitu yang baca terharu... ini kenapa yang sakit hati Alina cintanya tidak terbalas, yang di sia²kan Alina, masih aja yang dibuat sewot ngelihat Revan sama Devi juga Alina, enggak adil sama sekali, trs kpn munculnya rasa Revan ke Alina, masa sama Leon aja juga enggak ngaruh perasaannya Revan ke Alina...
astr.id_est 🌻: gak jelas alur cerita nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!