Kelahiran Senja Putri Baskara bukanlah awal, melainkan akhir.
Awalnya, ia adalah janin yang dikandung ibunya, janin yang membawa badai-badai kehadirannya merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Fajar Putra Baskara, menghancurkan bisnis keluarga, dan melenyapkan kebahagiaan sang ibu. Sejak hari pertama dirinya hadir, Senja adalah bayangan yang dicap sebagai pembawa sial.
Satu-satunya cahaya di hidupnya adalah sang ayah. Pria yang memanggilnya 'Putri' dan melindunginya dari tatapan tajam dunia. Namun, saat Senja beranjak dewasa, cahaya itu pun padam.
Ditinggalkan sendirian dengan beban masa lalu dan kebencian seorang ibu, Senja harus berjuang meyakinkan dunia (dan dirinya sendiri) bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.
Apakah hati yang terluka sedalam ini bisa menemukan pelabuhan terakhir, ataukah ia ditakdirkan untuk selamanya menjadi Anak pembawa sial? ataukah ia akan menemukan Pelabuhan Terakhir untuk menyembuhkan luka dan membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Malam semakin larut, namun suasana di depan gerbang kediaman Saputra masih mencekam. Senja masih mematung, menatap sosok Paramita yang pingsan dengan napas yang tersengal. Kebimbangan itu seperti jerat yang mencekik lehernya antara dendam yang belum tuntas dan naluri seorang anak.
Damar menyadari bahwa jika ia membiarkan Senja mengambil keputusan saat ini, istrinya akan hancur oleh beban emosionalnya sendiri. Ia melangkah maju, merangkul bahu Senja yang gemetar.
"Sayang, lihat aku" ujar Damar lembut namun tegas. Senja menoleh dengan mata yang sembap. "Kau tidak perlu memutuskan apa pun malam ini. Jangan biarkan masa lalumu memaksa tanganmu untuk melakukan sesuatu yang belum siap kau lakukan."
Damar memanggil Hadi dan tim medis pribadinya. "Bawa dia ke klinik pusat sekarang. Obati semua lukanya dengan fasilitas terbaik. Setelah kondisinya stabil, pindahkan dia ke Griya Kencana panti jompo terbaik di kota ini. Pastikan dia mendapatkan kamar privat dan pengawasan medis 24 jam."
Senja menatap Damar dengan tatapan penuh tanya. "Kenapa panti jompo, Damar? Apakah aku kejam jika tidak membawanya masuk ke rumah ini?"
Damar memegang kedua pipi Senja. "Tidak, Senja. Menempatkannya di sini hanya akan merusak kedamaian yang kita bangun. Anak-anak akan melihat trauma kita, dan kau akan terus teringat luka lama setiap kali berpapasan dengannya. Panti jompo adalah jalan tengah. Dia dirawat secara layak, tapi kau tetap memiliki jarak yang kau butuhkan untuk sembuh. Aku ingin kau memutuskan jalan terbaik tanpa ada tekanan dari siapa pun, bahkan dari dirimu sendiri."
Senja akhirnya mengangguk pelan, merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Ia setuju dengan keputusan Damar. Untuk saat ini, jarak adalah obat terbaik.
Tiga hari kemudian, Paramita terbangun di sebuah kamar yang mewah namun asing. Kamar itu memiliki jendela besar yang menghadap ke taman yang asri, jauh lebih baik daripada sel penjara atau ruang bawah tanah Marcus Valerio. Namun bagi Paramita, ini adalah penghinaan.
"Panti jompo?" desis Paramita saat seorang perawat berseragam rapi masuk untuk mengganti perbannya. "Anakku menempatkanku di tempat orang-orang buangan?"
Paramita merasa sangat kesal. Harga dirinya yang setinggi langit merasa tercabik-cabik. Ia berharap Senja akan datang menangis, memeluknya, dan membawanya kembali ke rumah mewah Saputra sebagai seorang "Ratu" yang baru kembali. Namun kenyataannya, ia hanya dikelilingi oleh suster dan dokter.
Namun, saat ia mencoba bergerak, rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat siksaan Marcus mengingatkannya pada kenyataan pahit. Ia sendirian. Ia miskin. Dan ia kini bergantung pada belas kasihan menantu yang dulu ia remehkan.
Di kesunyian kamarnya, Paramita mulai melihat bayangannya di cermin. Wajahnya yang dulu cantik kini penuh bekas luka. Ia mulai merenungkan perjalanan hidupnya. Kejahatan-kejahatannya, obsesinya pada Tiga Cahaya, dan pengkhianatannya pada Senja... semua itu berakhir di kamar panti jompo ini.
Ada rasa penyesalan yang mulai muncul, meski masih sangat tipis dan tertutup oleh rasa gengsi. Ia mencoba menerima keadaan ini dengan terpaksa, karena ia tahu, jika ia berulah sedikit saja, Damar tidak akan segan-segan membuangnya kembali ke jalanan.
"Kau menang, Damar Saputra," gumamnya pahit sambil menatap langit-langit.
Di rumah, Tiga Cahaya sedang berkumpul di perpustakaan. Mereka tahu tentang keberadaan nenek mereka.
"Berdasarkan analisis perilaku, Mama sedang mengalami fase avoidance," ujar Binar sambil mencatat sesuatu. "Dia menjauh untuk melindungi sistem sarafnya."
"Tapi Papa benar," sahut Cahaya Surya.
"Nenek butuh waktu untuk merenung. Kebahagiaan Mama adalah variabel paling penting dalam keluarga ini. Jika Nenek masuk ke sini sekarang, koefisien kebahagiaan kita akan turun drastis."
Fajar hanya menggambar sebuah gerbang yang tertutup namun memiliki celah kecil di bawahnya. "Celah ini adalah harapan. Tapi gerbangnya harus tetap tertutup sampai udaranya bersih."
Malam itu, Senja duduk di kursi goyang di teras, menatap bintang-bintang. Damar datang membawakan selimut.
"Terima kasih, Damar. Terima kasih karena tidak memaksaku untuk menjadi 'anak berbakti' di saat hatiku masih hancur," bisik Senja.
Damar mengecup kening istrinya. "Jadilah diri sendiri, Senja. Aku mencintaimu, bukan karena seberapa baik kau pada ibumu, tapi karena kekuatan jiwamu."
Senja memejamkan mata. Ia tahu perjalanan memaafkan akan sangat panjang, mungkin bertahun-tahun. Tapi setidaknya malam ini, ia bisa tidur tanpa takut bayangan ibunya akan muncul di balik pintu kamarnya.
Gak suka lah/Cry/