NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku

Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rezqhi Amalia

Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.

Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.

Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.

Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.

Kontrak pernikahan selama satu tahun.

Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…

Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?


Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.



Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.

Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan ke enam belas

Seorang gadis melangkah dengan sangat hati-hati seakan setiap langkahnya terdapat beban yang cukup kuat. Wajahnya gelisah, tumpukan kertas-kertas ditangannya ia pegang erat.

Dia adalah Shaqila Ardhani Vriskha, seorang mahasiswa jurusan manajemen semester akhir yang sedang memegang skripsi yang sudah ke lima belas kalinya ia revisi.

Langkah demi langkah ia lakukan seraya berdoa dalam hati agar skripsinya kali ini lulus.

Gadis itu merasa sial karena mendapat dosen pembimbing yang killer. Namun apa boleh buat, ia tidak dapat memilih. Semua sudah ditentukan oleh pihak kampus.

"Pengajuan lagi?" tanya Siska, sahabat Shaqila yang datang menghampirinya.

Shaqila mengangguk lesu, "doain gue ya semoga kali ini pak Reyhan berbaik hati untuk meng acc skripsi gue. Otak gue hampir meledak ngerevisi lima belas kali," ucapnya dengan wajah menunduk.

Siska tertawa mendengar ucapan sahabatnya, "ya nikmati aja Qil, kapan lagi bisa berurusan dengan dosen tampan itu. Kalau gue itu lo ya, gue sengaja membuat skripsi salah biar biar bisa cuci mata mulu,"

Shaqila mendecik kesal, "ya itu lo, bukan gue. Lagian dia itu udah tua, lo mau jadi sugarbaby gitu?" ucapnya seraya melangkah lebih cepat agar tidak mendengar ocehan tidak penting dari sahabatnya yang selalu memuji-muji ketampanan dari dosen pembimbingnya.

Sampai pada akhirnya ia sampai di depan pintu yang menurutnya ruang keramat. Gadis itu mengatur pernafasannya, dan dengan sangat hati-hati ia membuka pintu ruang tersebut.

Ruang itu selalu terasa seperti ruang interogasi yang mematikan bagi Shaqila. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detaknya seperti menghitung sisa hidupnya.

Shaqila berdiri kaku di depan meja kerja kayu gelap yang ditata terlalu rapi untuk ukuran seorang dosen. Tidak ada satu pun barang yang berantakan. Bahkan pulpen di tempatnya tersusun lurus seperti barisan tentara.

Dan di balik meja itu, duduk lelaki yang selalu membuat jantungnya terasa mau copot karena setiap bibir lelaki itu bersuara pasti keluar kata demi kata yang membuatnya ingin mati saja.

Dr. Reyhan Adiyasa, M.M.

Dosen manajemen paling dihindari se-fakultas. Bahkan sekampus karena killernya yang luar biasa.

Dingin, tegas, nyaris tak punya ekspresi.

Dan sialnya dosen itu menjadi pembimbing skripsinya.

Shaqila ingin menyerah, namun ia mengingat orang tuanya yang menuntut agar bisa lulus tahun ini.

"Ada apa?" tanya Reyhan dengan aura dingin.

Shaqila rasanya sulit membuka suara, skripsi yang dipegang erat-erat tadi kini diserahkan dengan perasaan penuh harap.

'Bukalah pintu hatinya sedikit agar kasihan kepadaku,' batin Shaqila dengan wajah gelisah.

Reyhan mengambil skripsi itu dan menatap wajah gelisah Shaqila. "Apa kau sudah merivisi sesuai yang ku ajarkan?" tanya dosen itu.

"Sudah pak?" jawab Shaqila. Perasaannya saat ini sangat was was.

Seakan tumpukan kertas-kertas itu adalah hidup matinya.

 Reyhan membuka lembaran kertas itu menggunakan dua jari seperti memegang sesuatu yang sangat rapuh, atau sangat tidak penting.

Kacamata bertengger di wajah tegasnya, matanya menyipit membaca dan memeriksa seluruh kertas itu.

"Masih banyak hal yang perlu diperbaiki lagi." Suara itu datar, tenang, tapi memotong napas Shaqila lebih efektif daripada pisau.

"Tidak layak," ucapnya pendek.

Shaqila terpaku. "B-Pak?"

"Tidak layak. Bab satunya masih lemah. Rumusan masalah tidak tajam. Variabel tidak relevan, metodologi berantakan." Reyhan menatapnya datar, tatapan gelap di balik kacamata tipis itu menusuk telak.

"Saya sudah bilang, kalau mau lulus tahun ini, Anda harus serius dan teliti," lanjutnya lagi seraya bersandar di kursi kebesarannya.

Shaqila kesal dengan perkataan itu.

Serius?

Ia sudah tidak tidur dua hari,

Ia bahkan sampai lupa kapan terakhir makan.

Shaqila menggigit bibir, merasakan rasa asam naik ke tenggorokan. "Tapi saya sudah revisi sesuai catatan Bapak-"

"Kalau begitu kamu tidak benar-benar membaca catatan saya." Reyhan menyela tanpa emosi. "Perbaiki lagi, sebelum datang ke saya usahakan baca berulang kali dan teliti lagi," ucapnya lagi.

Shaqila membeku.

Ini berarti ini penolakan yang ke enam belas kalinya.

Reyhan melihat wajahnya, lalu menghela napas sangat pelan, seolah lelah menghadapi seorang mahasiswa yang tidak becus.

"Ini penolakan ke enam belas, bukan?"

Tubuh Shaqila panas dingin.

Gadis itu mengangguk karena entah mengapa lidahnya terasa sulit di gerakkan.

Diam, senyap, detak jam terdengar lebih keras daripada napasnya.

Lalu Reyhan berdiri.

Postur tinggi itu membuat Shaqila langsung menunduk refleks. Reyhan berjalan mengitari mejanya, berhenti di depan Shaqila, membuat jarak mereka hanya dua langkah.

"Kalau Anda tidak sanggup..." ucapnya pelan namun tegas, "katakan saja. Saya akan minta fakultas mengganti saya. Tapi saya sangat yakin dengan kemampuan anda yang hanya segini, dosen manapun akan tidak sanggup membimbing anda!"

Shaqila mendongak kaget.

Air bening tidak sengaja menggenang di pelupuknya.

Bukan karena marah.

Tapi karena putus asa.

"Tolong bantu saya pak, orang tua saya sudah menunggu saya lulus tahun ini." ucapnya dengan nada bergetar.

Reyhan terdiam agak lama. Tatapannya turun ke mata Shaqila, tanpa emosi, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ia definisikan. Belas kasihan? Tidak. Itu pasti bukan milik seorang Reyhan.

Akhirnya ia bicara.

"Bukan saya yang seharusnya membantumu, tapi dirimu sendiri. Jangan menangis di depan saya?" ucapannya tegas, namun tidak setajam biasanya.

"Saya tidak akan meng acc skripsi kamu karena air mata. Saya hanya meng acc jika skripsi kamu memang sudah layak untuk di acc!" ucapnya lagi.

Shaqila buru-buru menghapus sudut matanya. "Maaf, Pak…"

Reyhan merapikan bajunya, bersiap memulai kelas. Tapi sebelum ia melangkah keluar ruangan, ia menatap Shaqila sekali lagi.

"Kembali dengan sesuatu yang pantas untuk saya baca!"

Pintu tertutup.

Gadis itu berdiri sendiri, lututnya hampir goyah.

Ia menghembuskan napas panjang dan jatuh terduduk di kursi ruang dosen.

"Enam belas kali ditolak…" gumamnya putus asa.

"Tuh dosen tidak berperikemanusiaan banget. Bagaimana bisa orang kejam seperti dia bisa menjadi dosen," gerutu Shaqila.

"Gue rasanya pengen bunuh diri aja deh," gerutunya lagi dan berdiri untuk keluar dari ruangan yang menurutnya keramat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tangga sisi gedung Fakultas Ekonomi itu sepi seperti biasa. Hanya suara angin yang menyelinap dari sela tembok dan gemerisik daun palem kecil di bawahnya yang menemani. Tempat itu tidak pernah ramai dan itulah alasan Shaqila sering ke sana.

 Tangga itu menjadi semacam ruang pelarian, sekaligus tempat penenangnya. Jauh dari tatapan mahasiswa yang sibuk dengan tugas masing-masing dan jauh dari hiruk-pikuk dunia kampus yang tak pernah mau mengerti betapa lelahnya ia.

Hari ini, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Map ungu berisi skripsi di tangannya tampak lusuh, seperti baru saja ikut dihukum oleh dunia bersama pemiliknya.

 Shaqila turun ke tiga anak tangga, lalu duduk di salah satu sudut yang tertutup bayangan tembok. Kakinya terasa lemas, nafasnya tersengal. Bukan karena lelah berjalan, tapi karena dada yang sejak tadi menahan ledakan emosi.

Ia menatap map di genggamannya. Di halaman depan, terlihat cap merah bertuliskan "REVISI" seperti tamparan keras yang ke sekian kalinya. Sebenarnya ia sudah tidak sanggup menghitung berapa kali ia melakukan revisi. Tapi otaknya tetap menyebutkan fakta pahit itu seperti mantra kutukan.

"Enam belas…" bisiknya hampir tak terdengar.

"Enam belas kali ditolak…"

Suaranya pecah, matanya panas,pandangan kabur.

Gadis itu menundukkan kepala, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajah. Tangannya mencengkeram map itu erat, seakan kalau ia melepasnya, dirinya sendiri akan runtuh bersama semua harapan yang ia pikul.

Ia menggigit bibir, menahan suara yang ingin pecah jadi tangis keras.

Tidak boleh terdengar, ia tidak ingin orang-orang melihatnya menangis. Gadis itu malu jika ketahuan menangis karena skripsi.

Ia sudah terlalu sering terlihat lemah. Terlalu sering dianggap dramatis. Terlalu sering dicibir teman seangkatannya yang sudah lolos.

Dan sekarang dia ditolak lagi.

Revisi beberapa hari yang membuat waktunya tersita banyak, kurang tidur, bahkan jarang makan menjadi sia-sia.

Mata yang perih karena tidak tidur, sia-sia.

Doa yang dipanjatkan sambil berharap dosen itu sedikit saja berbaik hati nyatanya sia-sia.

"Tuhan...kenapa dosennya harus dia?" bisiknya dengan suara yang mulai serak.

"Lama-lama gue bisa gila benaran kalau begini," lirihnya lagi.

Air bening menetes jatuh ke map ungu itu. Satu, dua, tiga lalu menjadi tetesan yang banyak.

Bahu Shaqila bergetar kecil. Dadanya naik turun cepat. Ia menutup mulut dengan telapak tangan agar suara sesenggukannya tidak menggema di lorong itu.

Sejenak, dunia terasa seperti tempat paling kejam.

Ia ingin lari.

Ingin menyerah.

Ingin beristirahat tanpa memikirkan skripsi, revisi, sidang, atau apapun yang berhubungan dengan apa yang membuatnya lelah saat ini.

Gadis itu bukan cuma lelah fisik, tetapi juga lelah batin.

Sampai sebuah suara membuyarkan isak tertahannya.

"Qila?"

Shaqila tersentak. Ia langsung mengusap kasar pipinya dan mendongak sedikit. Seorang gadis berambut pendek sepundak berdiri di atas anak tangga, wajahnya penuh kekhawatiran.

Siska, sahabat sekaligus orang yang paling mengerti betapa beratnya perjuangan skripsinya. Gadis itu menuruni tangga cepat-cepat. Ia duduk tepat di samping Shaqila tanpa banyak bicara, hanya menatap wajah sahabatnya itu dengan pandangan yang begitu lembut.

"Lo dari ruangan pak Reyhan, ya?" tanya Siska pelan.

Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya.

Shaqila memejamkan mata. Air matanya kembali mengalir pelan. Ia tidak menjawab, tapi tangis itu sudah cukup membuat Siska mengerti semuanya tanpa kata.

Siska mengembuskan napas panjang, lalu merangkul bahu Shaqila dengan hati-hati. "Sini, kalau mau nangis, nangis aja. Gue paham kok perasaan lo."

Ucapan itu membuat bibir Shaqila melengkung sedikit, meski dengan sedih. Sisca memang tipe yang tahu cara membuat seseorang merasa tidak sendirian.

"Enam belas kali, Sis…" suara Shaqila bergetar. "Enam belas! ada nggak sih mahasiswa lain yang lebih oon dari gue?”

Sisca mengusap punggungnya. "Bukan begitu, Qil. Pak Reyhan itu… ya begitu. Dosen super perfeksionis. Semuanya harus perfect, termasuk skripsi lo,"

"Lo tahu nggak? dia mengatakan skripsi gue ‘tidak layak’. Gitu doang tanpa jelasin panjang lebar. Cuma corat coret doang tanpa ngasih gue contoh harusnya di apain kayak…" Shaqila menahan napas, dadanya semakin sesak. "kayak gue ini nggak ada usaha sama sekali."

Siska mengernyit, jelas ikut kesal. "Dia emang sering gitu. Hampir seluruh mahasiswa yang dikasih tugas sama dia tu frustasi. Karena semuanya tu harus perfect. Tapi Shaqila yang gue kenal bukan tipe menyerah cuma gara-gara dosen perfeksionis satu itu."

Shaqila mendengus kecil, lemah. "Sis, ini bukan tentang ‘dosen perfeksionis’ ini tentang nasib masa depan gue! kalau tu dosen nggak mau lulusin gue, habislah gue. Orang tua gue nunggu gue wisuda tahun ini. Lo tahu kan seberapa gengsinya ay-"

Siska memegang tangan Shaqila, menghentikannya.

"Gue tahu, tapi lo nggak sendirian, Qil. Gue bakal bantu, sampai lo bisa sidang dengan nilai A sekalian."

Shaqila menunduk. Air matanya kembali jatuh pelan-pelan, membasahi kaos Siska.

"Kenapa sih hidup gue susah banget, Sis? Kenapa harus dia? Kenapa pembimbing gue harus dosen itu, kenapa bukan dosen lain aja?"

Siska menatap langit-langit tangga. "Mungkin… karena itu ujian yang harus lo hadapi sebelum wisuda,"

"Ujian?" Shaqila mengelap air mata lagi.

Siska terkekeh. "Untuk apapun itu semoga ujian ini berhasil lo hadapi."

Shaqila menghela napas kasar.

Ia benar-benar tidak melihat ujung dari semua ini.

Siska menepuk pipinya pelan. "Denger, Qil. Lo sudah kuat sampai sejauh ini. Lo berhasil revisi Enam belas kali tanpa memilih untuk membayar seseorang untuk membuatkan mu skripsi atau berhenti kuliah. Itu hebat."

"Hebat dari mana?"

''Dari segala sisi," jawab Siska cepat. "Kalau gue jadi lo, mungkin gue sudah lempar laptop ke kepala dosen itu."

Shaqila hampir tertawa. "Sis…"

"Beneran! lo bayangin, pas dia ngomel, ‘Metodologinya salah’, terus BRAK! laptop melayang. Pasti viral satu fakultas."

Shaqila menutup wajah dengan tangan, antara ingin tertawa dan menangis. "Lo tuh…"

Siska tersenyum kecil. "Tuh kan, mulai senyum. Gitu donk, baru kelihatan cantiknya kalau gitu. Walau masih cantikan gue sih,"

Suasana kembali hening sejenak, angin sore menyapu lembut tangga itu, membuat suasana sedikit lebih tenang.

Sampai akhirnya Siska bertanya dengan nada lebih serius.

"Jadi lo mau nyerah?"

Shaqila terdiam.

Pertanyaan itu menyerang tepat di titik lemah hatinya.

"Gue nggak tahu," jawabnya jujur. "Gue capek! Capek banget, Sis."

Shaqila menggigit bibir, matanya kembali berkaca-kaca.

Ia membiarkan kepalanya bersandar di bahu Siska.

"Sis… kalau gue gagal lagi, gue harus bagaimana?"

Siska tersenyum kecil, menepuk rambut Shaqila.

"Ya kita coba lagi. Dan kalau gagal lagi, kita coba lagi. Sampai si perfeksionis itu bosen nolak kamu, dan terpaksa lulusin."

Shaqila tertawa kecil di tengah tangisnya. "Kok lo yakin banget sih?"

''Ya harus yakin lah," jawab Siska dengan tegas.

1
Mira
Jiji banget ihhh main sama om om
Mira
Semuanyaa makin terasa sangat rumit😭
Icha sun
ya Ampun Shaq, kamu sampe sakit fisik gara" si Arga. rugi Shaq mikirin cowok redflag gitu 😢
Icha sun
ini adalah definisi sakit tapi gak berdarah ya Shaq... udhlah lupain aja si Arga
🇦 🇵 🇷 🇾👎
hny rs kcw kok jd jht
Aruna02
semakin seru aja ini 😩😩😩 Shakila kasihan ya tuhan kenapa jadi gila kamu nak.
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih
NyonyaGala
tasyaaaaaaaaaaa ku tandain pala kamu yaaa
NyonyaGala
yup rayhan si biang keladi ada di deket kalian ituuu licik emang, kasian ama Qila semoga ga kenapa kenapa
Aruna02
si tasya hmmm gimana ya ngomong nya 🙄🙄p****k
Lisa Halik
double up thor...kesian reyhan
Rezqhi Amalia: besok aja ya kak hehehe 😅 Bru mau nulis lgi
total 1 replies
GreenForest
asyik honeymoon sebentar lagi
GreenForest
akhirnya kena juga Lo tasya
Aruna02
sok polos lagi 🤮🤮
Aruna02
si tasya nyebelin ya 🙄
Aruna02
usul bu typo😄
Mira
Si tasya nyebelin juga yakkk
Lisa Halik
yaa ketauan reyhan...huhuh kesian syaqila...bagaimana nasibnya
Mira
Ayoo Rayhannn bergerak cepat untuk memperbaiki semuanya
NyonyaGala
tasya gatellll caper jelekkk ihhhh sama main ama arga sanaaaaah
NyonyaGala
ini lebih ruwet perkaranya dibanding revisian Qila 😭😭 moga pak rayhan bisa cepet dapet solusi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!