NovelToon NovelToon
Jangan Panggil Ibukku Wanita Gila

Jangan Panggil Ibukku Wanita Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Selingkuh
Popularitas:39.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Ardina Larasati, sosok gadis cantik yang menjadi kembang desa di kampung Pesisir. Kecantikannya membuat seorang Regi Sunandar yang merupakan anak pengepul ikan di kampung itu jatuh hati dengannya.

Pada suatu hari mereka berdua menjalin cinta hingga kebablasan, Ardina hamil, namun bukannya tanggung jawab Regi malah kabur ke kota.

Hingga pada akhirnya sahabat kecil Ardina yang bernama Hakim menawarkan diri untuk menikahi dan menerima Ardina apa adanya.

Pernikahan mereka berlangsung hingga 9 tahun, namun di usia yang terbilang cukup lama Hakim berkhianat, dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan Ardina, dan hal itu benar-benar membuat Ardina mengalami gangguan mental, hingga membuat sang anak yang waktu itu berusia 12 tahun harus merawat dirinya yang setiap hari nyaris bertindak di luar kendali.

Mampukah anak sekecil Dona menjaga dan merawat ibunya?

Nantikan kelanjutan kisahnya hanya di Manga Toon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Hari sidang banding pun tiba, pagi ini Regi sudah memantapkan diri untuk mendatangi persidangan, dengan tekad dan sebuah bukti, yang ia sendiri tidak tahu, akan menolongnya atau tidak.

Masih di kamar motel yang sama, pria itu berpamitan pada anak semata wayangnya untuk pergi sebentar dan meminta restu.

"Nak, doakan Papa ya, supaya urusan kita cepat selesai," ucap Regi sambil mengelus rambut Dona.

"Iya Pa, Dona akan doain Papa, semoga setelah ini kita bisa hidup bersama, dengan Ibu," sahut anak itu penuh dengan harap.

"Itu pasti Nak, Papa akan memperjuangkan hak kalian," ujar Regi.

Staf motel pun tiba, dengan senyum yang ramah, petugas itu sudah siap dengan tugasnya untuk menjaga Dona seharian ini.

"Mbak titip anakku, jika ada apa-apa segera hubungi aku ya," ujar Regi.

Staf itu mengangguk dengan mantap. "Pasti Pak," sahutnya sopan.

Setelah memastikan semuanya aman, Regi pun mulai melangkah ke luar, setibanya di parkiran motel, pria itu langsung masuk ke dalam mobil dengan hati yang berdebar, antara nervous dan was-was, namun ia percaya jika bukti yang ia kumpulkan beberapa hari ini cukup untuk menguatkan dirinya.

"Bismillah ... dengan ijin Allah aku yakin bisa melewati sidang nanti," ucapnya lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan mobil pun melesat menuju jalannya persidangan.

☘️☘️☘️☘️

Ruang persidangan pagi itu dipenuhi bisik-bisik rendah dan sorot kamera yang tak henti berkelip. Bangku pengunjung hampir penuh. Nama besar Halik selalu berhasil menarik perhatian, pengusaha ikan berpengaruh, dari Kampung Pesisir, ayah dari pria yang selama ini dipandang bermasalah secara moral dan finansial.

Halik melangkah masuk dengan setelan gelap rapi. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, senyum orang yang sudah tahu hasil akhirnya. Di belakangnya, Nindi berjalan anggun, wajahnya datar namun mata itu penuh keyakinan yang sama.

Manajer RSJ duduk di kursi saksi ahli. Wajahnya tenang, berkas-berkas tersusun rapi di hadapannya. Semua telah disiapkan. Semua sudah diatur dengan rapi, tinggal menunggu sidang di buka.

Dan tidak lama kemudian, Regi datang dengan setelan jas yang rapi, dengan raut wajah yang penuh keyakinan, meskipun ia belum tahu hasil keputusan seperti apa, namun ia tetap menegakkan wajah dengan pandangan lurus ke depan, meskipun tidak banyak orang-orang dibelakang yang mendampingi, hanya ada satu orang Pak Rano pengacara yang setia mendampingi.

Setelah semuanya duduk di kursi persidangan. Sidang dibuka, oleh pengacara Halik yang berbicara panjang lebar, mengulang narasi yang terdengar meyakinkan, seperti kondisi kejiwaan Ardina yang dianggap belum stabil, ketidakpastian lingkungan tumbuh kembang anak, serta rekam jejak Regi yang dinilai tidak mapan setelah pemecatan.

Setiap kalimat seperti disusun untuk satu tujuan, meyakinkan bahwa Dona lebih aman berada jauh dari ayah kandungnya, apalagi ditambah, manajer RSJ mulai memberi keterangan. Suaranya mantap, nyaris tanpa cela.

“Pasien Ardina menunjukkan gejala fluktuatif,” ujarnya. “Stabil sesaat, lalu kembali regresif. Secara medis, belum layak dijadikan penopang keputusan besar terkait anak.”

Halik menyilangkan tangan di dada. Rahangnya mengeras puas. Ini berjalan persis seperti rencananya, ia sedikit melirik ke arah Regi, yang mencoba untuk tenang meskipun kilatan ketakutan begitu jelas terpancar di wajahnya.

"Kau jangan pura-pura kuat Regi, aku tahu kau sejatinya lemah tanpa kuasa ayahmu," gumam Halik dengan senyum ejekannya.

Hakim mengangguk-angguk kecil, mencatat sesuatu, yang keluar dari manajer RSJ itu.

Tapi setelah semuanya puas dengan ucapan sang manajer saat itu pula Regi berdiri, dengan tegap, gerakannya tenang, tidak tergesa. Namun langkah itu seolah membuat udara ruang sidang berubah berat.

“Yang Mulia,” ucap Regi dengan suara datar, terkendali, “sebelum saksi melanjutkan, saya mohon izin mengajukan bukti tambahan.”

Halik menoleh. Alisnya sedikit terangkat. Bukan cemas lebih kepada heran.

"Bukti apa lagi?" tanya Halik pada dirinya sendiri.

Hakim mengangguk. “Silakan.”

Regi memberi isyarat, kepada kuasa hukumnya, lalu kemudian rekaman di putar, semua matar tertuju pada layar laptop yang masih di lihat oleh hakim, dan rasa penasaran kian memuncak namun setelah mereka mendengarkan dari suara rekaman itu semuanya terdiam ruangan seolah hening terlalu lama.

Suara rekaman Halik terdengar jelas di ruang sidang terlalu jelas, di pendengaran. Jumlah dana. Instruksi singkat. Nama manajer RSJ disebut tanpa ragu.

Wajah manajer RSJ seketika berubah menjadi pucat, ketika mendengar namanya di sebut.

Pengacara Halik langsung berdiri memberikan pembenarannya sendiri. “Yang Mulia, rekaman ini ....”

Namun sebelum sempat melanjutkan hakim langsung menyela pembicaraannya. “Silakan duduk,” potong hakim tajam. “Biarkan kami mendengar.”

Rekaman berhenti, semuanya sudah terdengar dengan jelas, bukti-bukti kecurangan dari pihak lawan.

Regi melanjutkan, tangannya menyerahkan map kedua. “Ini salinan laporan medis Ardina sebelum dan sesudah dana tersebut masuk. Ditandatangani langsung oleh dokter penanggung jawab, Dokter Rendra.”

Hakim menerima berkas itu, tangannya mulai membuka dan membaca isi tulisan di dalam map tersebut, sontak saja wajahnya langsung mengeras.

“Dan ini,” lanjut Regi, suara masih sama tenangnya, “catatan perubahan dosis obat yang tidak tercantum dalam laporan resmi RSJ, namun tercatat di log internal farmasi.”

Ruang sidang mendadak riuh, suara bisik-bisik mulai terdengar menyudutkan pihak Halik. Manajer RSJ menunduk. Keringat dingin terlihat di mengucur di pelipisnya.

“Ini fitnah!” bentak Halik sambil berdiri. Untuk pertama kalinya, suaranya kehilangan kendali. “Semua ini rekayasa!”

Hakim mengangkat tangan. “Silakan duduk, Tuan Halik.” Nada itu seolah tidak memberi ruang bantahan.

Setelah itu Hakim kembali menoleh ke arah manajer RSJ dengan pertanyaan yang cukup tegas.

“Saudara saksi,” ujar hakim sambil menatap langsung ke arahnya, “apakah Anda mengakui menerima dana dari pihak Tuan Halik sebelum perubahan laporan medis ini dibuat?”

Semua orang yang ada di ruang sidang seolah menahan nafas menunggu jawaban dari pihak saksi.

Manajer RSJ menelan ludah. “Saya… saya hanya menerima donasi institusi, Yang Mulia. Tidak ada kaitannya dengan .....” suaranha menggantung.

“Cukup,” potong hakim. “Jawaban Anda akan diuji lebih lanjut.”

Pengacara Halik kembali berdiri, kali ini suaranya tidak setenang sebelumnya. “Yang Mulia, kami keberatan.”

“Keberatan dicatat,” jawab hakim singkat. “Namun dengan bukti-bukti ini, pengadilan perlu menunda sidang untuk pendalaman.”

Palu akhirnya diketukkan.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara itu terdengar seperti retakan pertama pada sesuatu yang selama ini dianggap berdiri kokoh.

Halik berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya duduk kembali. Senyum di wajahnya lenyap. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bisa mengendalikan ruangan sidang yang sudah ia rancang dengan harapan menang, namun dibalik semua itu ia belum sadar jika otak anaknya lebih encer.

Sidang akhirnya ditunda, banding yang seharusnya menekan Regi kini mulai berbalik arah kepada dirinya . Dan saat palu diketukkan, Halik tahu, bumi yang tadi ia pijak kini runtuh tanpa peringatan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Jauh dari ruang persidangan, di bangku dekat jendela RSJ, Ardina menatap, sudut kamar yang didominasi warna putih itu, entah kenapa meskipun raganya terkurung, namun hati kecilnya merasa lega.

Meskipun ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di pengadilan, bakal kalah atau menang? Yang ia tahu hanya satu hal. Ia tak lagi sendirian lagi, bahkan Regi seseorang yang menjadi titik awal dari kehancurannya sekarang datang untuk menebus bukan menjadi malaikat penolong sesaatnya saja.

"Tuhan ... aku tidak tahu dengan takdir apa yang sedang aku jalani, orang yang aku anggap jahat sekarang malah datang, meskipun hati ini tidak percaya sepenuhnya," gumam Ardina kali ini ia berucap lebih tenang meskipun hati belum sepenuhnya memaafkan.

Bersambung .....

Selamat sore semoga suka ya

1
kaylla salsabella
semoga misi mu berhasil dona
Sugiharti Rusli
sekarang Regi jadi paham ke arah mana bola sekarang si Hakim lontarkan dan sasaran yang empuk ke Ardina yang sekarang di bawah perlindungannya,,,
Sugiharti Rusli
padahal tanpa Dona ketahui sang papa sejatinya sudah nendapat tekanan dalam bentuk intinidasi terselubung di tempat kerjanya dari orang yang sama,,,
Sugiharti Rusli
Dona mendiskusikan segala sesuatu ke ayahnya terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu dan berterus-terang ke Regi tentang aktivitas mantan ayah sambungnya selama ini ke ibunya,,,
Sugiharti Rusli
Dona memang anak yang cerdas yah, dia ga gegabah membuat sang ibu khawatir dengan mengatakan kalo selama ini mereka diintai,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Hakim tahu kalo Dona tidak akan diam saja ketika sang ibu terancam yah,,,
Wanita Aries
lanjut thorrr penasarann
Susi Akbarini
waahhh..
raka yaaa
Kasih Bonda
next Thor semangat
Wien Daffa
Semangat.....Kakak
cepet ke bongkar hakimnya.
Dengan masa lalu Regi.
Semoga ada kebaikan.....ke depannya.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Dew666
🌹🍭
Wanita Aries
hadehh hakim nihhh dasar bebal
Sugiharti Rusli
padahal secara tidak langsung Dona juga membantu papanya membuat strategi agar si Hakim berhenti juga menerornya yang sekarang sengaja disasarkan kepada Dina calon istrinya,,,
Lisa: yup bener juga anak seusia Dona udh mengerti mslh org dewasa..ayo Regi cpt bertindak.
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kamu sangat beruntung Regi, karena Dona tahu apa yang harus dilakukan demi menolong sang ibu dari keterpurukan yang sama dari orang yang sama di masa lalu yah,,,
Sugiharti Rusli
dan setelah cukup mengumpulkan bukti, dia bicara kepada papanya agar bisa bertindak dan memberikan pengamanan terhadap ibu dan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
karena pengalaman masa lalu yang membuat Dona bertindak di luar usianya yang masih sangat muda sih,,,
Sugiharti Rusli
ternyata Dona memang sudah bersikap dewasa dalam menghadapi teror terhadap sang ibu yah,,,
Iccha Risa
bahwa Dona punya ingatan tentang luka dan punya bukti menghentikan perbuatan hakim yg merusak mental ibunya, kebahagian belum benar2 hinggap ke mereka
kaylla salsabella
alhamdulillah akhirnya dona jujur sama Regi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!