Laura gadis berparas cantik, manis dan polos namun sayangnya dia sangat tak percaya diri dengan wajah nya itu. karena memiliki mata biru laut yang indah.
selama ini laura selalu berpikir hidupnya sangat kosong dan hampa meski ayah nya selalu memberikan cinta padanya, namun yang dia inginkan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama dia tak merasakan.
tiba-tiba hidupnya berubah seperti tersambar petir setelah bertemu dengan laki-laki tampan. namun sifatnya yang membuat laura sangat kesal.
"ck, dasar jelek! minggir lo" ucapnya dengan mendorong tubuh laura yang mungil.
"yang seharusnya minggir itu lo, gak punya mata emangnya? padahal lo sendiri berdiri ditengah jalan dasar bigfoot!" sahut laura yang sedang membawa tumpukan penuh buku ditangannya.
kayden merigoh ponselnya disaku ia menekan aplikasi browser dan mencari nama bigfoot yang disebutkan laura.
telinga kayden memerah dia menatap tajam kearah laura. "hahaha, lo bilang gue apa tadi?"
"gue bilang bigfoot, lo tuli emang!" cetus laura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon love_chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan pagi hari
Diruang makan yang megah satu keluarga tengah menikmati sarapan pagi, terlihat suasana disana begitu sangat dingin namun satu orang tak memperdulikan nya.
"Kita sedang sarapan atau lagi siap-siap buat perang?." Celetuk kayden.
Semua orang menoleh kearah nya, memang dari dulu suasana makan bersama dengan keluarganya selalu seperti itu. Meski kayden anak bungsu selalu dimanjakan ada kalanya dalam satu meja makan merasakan kehangatan.
"Habiskan sarapan kamu, hari ini kamu berangkat sekolah sama papi." Ucap william.
Kayden memasang wajah menjengkelkan, william ingin sekali memukul kepala putra bungsunya itu. William melirik ke anak perempuan nya yang hanya diam seribu bahasa.
"Kamu gak apa-apa sayang?" Tanya agatha.
Bianca menggelengkan kepala. "Gak mi, bian baik-baik aja kok." Jawabnya.
Agatha sebagai seorang ibu sangat tahu betul semua sifat anak-anak nya jika sedang tak baik-baik saja.
"Kamu hari ini ada kelas?" Ucap william dingin.
Agatha menoleh. "Iya." Sahutnya yang masih kesal dengan sang ayah, apa lagi allen dari pagi buta sudah pergi kekantor. Bianca hanya menatap tempat duduk allen yang kosong matanya memancarkan kesedihan, agatha yang melihat itu mengelus punggung bianca dengan lembut.
Bianca tiba-tiba bangun dari duduknya. "Aku sudah selesai makan." Bianca langsung pergi dari sana yang membuat agatha semakin khawatir.
Agatha menatap tajam william dan putra bungsu nya yang lahap menyantap sarapan mereka. Agatha dengan kesal menaruh sendok diatas piring dengan keras.
"Kalian berdua itu cuma asyik makan sama sekali gak peka!" Kesal agatha.
William dan kayden saling tukar pandang mereka sama sekali tak mengerti mengapa agatha begitu kesal.
"Maksud mami apa sih? Dari tadi kayden diem loh gak buat masalah, ish..." protes kayden.
Agatha melirik tajam william yang santai minum kopi hitam nya. "Kenapa mi?"
Agatha dibuat kesal dengan kedua pria dirumah nya, ia beranjak bangun melirik keduanya dan langsung pergi dari dengan kesal.
"Papi gak kasih uang bulanan mami ya?" Cetus kayden.
William menaiki sebelah alisnya, ia berpikir sudah mentransfer uang bulanan sang istri dan memberi uang lebih juga. "Papi sudah kasih, mungkin sedang datang bulan mami kamu."
Kayden memicingkan matanya seolah tak percaya. "Oh ya. Apa papi gak kasih jatah malam indah diatas ranjang?" Celetuk kayden.
William yang sedang minum tersedak mendengar celetukan kayden. "Huhuhu.."
Kayden dengan polos berdiri memberikan sapu tangan pada william, dengan kesal william menerima sapu tangan kayden dan menatap tajam pada putranya itu.
"Kamu tau itu darimana hah!"
Kayden bingung mengapa papi nya terlihat marah. "Apa sih pi, kayden cuma tanya kenapa harus marah gitu sih." Cibir kayden.
William memijat keningnya yang terasa pening. "Kamu tau itu dari mana? Segala bilang malam indah diatas ranjang, kamy tau artinya apa?"
Kayden dengan polos menganggukan kepala, mata william melotot dengan sempurna bisa-bisanya kayden tahu hal seperti itu.
"Jangan bilang kamu selama ini main cewe kayden axel alexander!" Ucap tegas william dengan wajah marah.
Kayden menelan salivanya karena baru pertama kali melihat sang ayah marah, meski dia tak tahu mengapa william marah padanya.
"Ka-kayden gak pernah main cewe pi, selama ini kayden main sama cowo." Beo kayden bicara tanpa berpikir.
William mendengar itu semakin naik pitam bisa-bisanya putra bungsu keluarga alexander menyukai sesama jenis. William meminta nugroho untuk mengambilkan cambuk diruang kerjanya.
Kayden yang mendengar itu segera lari dari william. "Orang tua gila!" Teriak kayden yang dikejar beberapa bodyguard disana atas perintah william.
Suara dimansion begitu berisik hingga terdengar seluruh ruang mendengar suara teriakan kayden. Bianca dan agatha yang sedang dikamar mereka masing-masih keluar mendengar keributan.
"Kalau papi cambuk kayden lihat aja, kayden bakal aduin kekakek!" Teriaknya.
William tak perduli dengan ancaman putra bungsunya yang ia inginkan hanya menghukum putranya, agar bisa sadar jika menyukai sesama jenis itu adalah kesalahan besar.
Kayden terus berlari dan pada akhirnya tertangkap, william menyuruh bodyguard untuk kayden berlutut dihadapan nya.
Agatha yang melihat sang suami hendak ingin mencambuk kayden segera berlari kearah william.
"Kamu gila william!" Sentak agatha.
William terkejut agatha menahan tangan nya dengan wajah marah, kayden yang melihat sang ibu merasa senang bisa terbebas dari hukuman yang tak tahu salahnya dimana.
"Lepas mi, papi harus buat anak nakal ini sadar!" Ucap william berat.
Agatha masih menahan tangan william, ia tak bisa melihat anak-anak nya terluka. "Kalau kamu berani cambuk putra ku, aku akan pergi dari mansion ini william!" Ancam agatha.
William menurunkan tangan nya dan memberikan cambuknya pada nugroho yang berada disamping nya, bianca yang melihat diatas hanya menggelengkan kepala.
"Masalah lagi yang dibuat sama anak idiot itu." Celetuk bianca.
Agatha mendekati kayden dan memeluk putra bungsu nya dengan lembut. "Kamu gak apa-apa sayang? Ada yang luka mana sini mami lihat."
Kayden menggelengkan kepala dengan raut wajah seperti anak kecil. "Papi masa mau cambuk kayden coba mi, tega banget sama anak sendiri ini namanya KDRT." Adu kayden.
Agatha menatap tajam william yang kebingungan dan takut pada istrinya itu. "Papi hukum ini anak karena ada alasan bukan semata-mata karena kekerasan dalam rumah tangga."
Kayden yang tak ingin kalah dari william dengan manja mendusel ke agatha, william yang merasa kesal melihat kayden mendusel ke istrinya. Dengan cepat william menarik kayden agar menjauh dari agatha.
"Tuh mi lihat, apa ini yang di namakan keluarga?" Keluh kayden dengan wajah sedih.
William mengepalkan tangan ingin sekali memukul kepala putranya ini, tak habis pikir dengan kayden yang selalu mencari pembelaan dari ibunya itu.
"William!!!" Ucap tegas agatha.
William menghela nafas berat. "Dengar aku sayang, aku mau hukum kayden karena dia menyukai sesama jenis bagaimana mungkin aku sebagai kepala keluarga membiarkan putra bungsu ku seperti itu." William menjelaskan pada agatha agar tak salah paham.
Agatha yang tadi membela kayden langsung menatap tajam pada putra bungsunya itu, kayden menelan salivanya melihat mami nya menatap tajam tandanya dia akan kena masalah.
"Mami tunggu jangan dengarkan papi, kayden sama sekali gak suka sama sesama jenis kok. Sumpah!" Kayden membuat huruf V.
~o0o~
Laura sudah berada dikelas, ia membaca ulang pelajaran yang kemarin sudah dipelajari. Tak lama kaila datang mendekatinya dengan sangat ramah.
"Hai ra.." sapanya.
Laura menoleh lalu memberi senyuman pada kaila, dan ia kembali fokus pada bukunya lagi. Kaila yang merasa aneh dengan sikap laura dengan sengaja menutup buku yang sedang dibaca laura.
Laura menghela nafas dan menatap kaila dengan lembut. "Ada apa la?"
Kaila melipat kedua tangan nya didada. "Lo yang kenapa laura, sikap lo aneh banget." Sahut kaila kesal.
Laura menggelengkan kepala. "Gue gak apa-apa, cuma lagi baca buku aja tapi lo malah sengaja tutup bukunya."
Apa tak lebih kurangnya sakit mental ya begitu? 🤷🏻♀️🤷🏻♀️🤷🏻♀️🤷🏻♀️🤷🏻♀️