NovelToon NovelToon
My Fake Bride

My Fake Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:7.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NadiraBee

Follow ig author @tulisan_bee 😚

Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.

Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.

My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?

Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 - Hadiah Pertamaku

"Ini adalah hal pertama yang aku berikan padamu. Semoga kau berbahagia, dan aku memiliki kesempatan untuk memberikan hadiah-hadiahku selanjutnya." ~Rey Lueic.

.

.

.

Waktu tempuh yang membentang dari Dresden ke Leipzig seharusnya membutuhkan hampir lima puluh menit perjalanan. Tetapi dalam kemudi Rey, jarak itu dapat dibabatnya habis hanya dalam setengah jam saja.

Setelah percakapannya dengan Luana tadi berakhir, keduanya memutuskan untuk tidak lagi saling bercengkrama. Rey fokus menghadap ke arah depan, sedangkan Luana lebih memilih untuk melemparkan pandangan ke luar.

Hening menyelimuti, hingga akhirnya Rey berinisiatif untuk menghidupkan radio dan membiarkan suara merdu si penyiar menjadi penengah di antara mereka.

Hingga kini sampailah mobil itu tepat di depan rumah megah keluarga Lueic, seiring dengan pijakan Rey pada remnya di bawah sana.

Dua pemuda tampak berlari kecil untuk membuka pagar tinggi yang menjulang itu, memberi akses untuk mobil Rey kini masuk ke dalam mansion.

Jika Luana berpikir kediaman Rey adalah mansion terbesar yang pernah ia lihat, maka perempuan itu harus kembali terkejut dengan betapa mewahnya kediaman milik keluarga besar Lueic yang kini tepat berada di hadapan.

Mengira-ngira dalam hati, Luana menebak luas kediaman rumah ini mungkin hampir tiga kali lipat dari mansion milik Rey. Dengan sebuah kolam air pancur yang terletak tepat di tengah-tengah area depan, rumah itu tampak begitu mewah dan artificial dengan warna salem dan abu muda yang dikombinasikan sedemikian rupa.

Rey langsung menuju area carport, lantas mematikan mesin mobil seraya menoleh ke arah samping.

"Kita sudah sampai, turunlah," ujar lelaki itu dengan tangan yang bergerak cepat untuk melepas sabuk pengaman.

Luana tidak menjawab, tetapi perempuan itu mengikuti gerakan Rey melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil.

Udara di Leipzig berembus segar sekali, meski matahari masih tampak di atas sana. Tidak menyengat, Leipzig memang terkenal dengan udaranya yang cukup dingin.

Menghampiri Luana, begitu saja Rey menarik tangan perempuan itu untuk ia genggam kemudian.

Luana sempat tersentak kecil, merasa ada aliran listrik statis yang begitu saja menyengat tubuhnya. Ini bukan kali pertama Rey menyentuhnya seperti ini, hanya saja entah mengapa perempuan itu seakan memberikan respon refleks atas sentuhan Rey di permukaan kulitnya.

Dua pasang bola mata itu bertemu, disusul Rey yang menaikkan sudut bibir untuk melengkungkan senyuman.

"Bersikaplah senatural mungkin," bisik lelaki itu. "Ibuku mungkin akan bertanya banyak hal, tetapi jawab saja sebisamu. Aku akan di sana nanti untuk menbantumu menjawab, jika saja kau tidak tahu harus mengatakan apa."

Rey seperti sedang memberikan wanti-wanti, dan Luana masih mengatupkan bibir rapat-rapat.

"Baiklah," jawab perempuan muda itu setelah selang beberapa detik.

Rey mengembuskan napas, sudah melangkah lebih dulu untuk menggiring Luana menuju pintu utama kediaman mereka.

Dua orang pelayan yang mengenakan seragam serupa sudah menanti di depan pintu, menundukkan kepala untuk menyambut kedatangan tuan dan nyonya muda itu.

"Bawa koper Luana ke kamar," perintah Rey ketika ia melewati dua pelayan tadi, diikuti dengan anggukan cepat dari keduanya.

Menyusuri ruang utama kediaman Lueic, Luana tidak hentinya berdecak kagum dalam hati atas segala interior yang dimiliki keluarga ini. Ternyata desas-desus mengenai kekayaan dan kemasyuran keluarga mereka memang benar adanya, dan kini Luana membuktikan itu dengan mata kepalanya sendiri.

Ketukan sepatu Rey terdengar nyaring, saat kini seorang wanita paruh baya tampak menuruni tangga dari lantai dua.

"Kau membawa menantuku, Rey?"

Suara Patricia Lueic menggema, mencuri atensi sepasang suami istri yang masih bergandengan tangan di bawah sana.

Rey menghentikan langkah, diikuti dengan Luana yang kini berdiri tepat di sampingnya. Tetapi lelaki itu sama sekali tidak melonggarkan genggaman tangan mereka, saat ia mendapati bagaimana Patricia melirik dengan satu senyum ke arah tangan keduanya.

"Kami sudah tiba, Ibu," ujar Rey bernada sopan.

Patricia melemparkan senyum, melanjutkan langkah hingga menapak di anak tangga paling bawah.

Mendekati Luana, ibunda Rey itu langsung menghadap pada menantu mudanya.

"Selamat datang di rumahmu, Luana Lueic," sambut Patricia hangat sekali, dengan gerakan cepat untuk memeluk Luana yang masih mematung.

"Senang bertemu denganmu," kata Patricia lagi, melepaskan pelukan itu perlahan-lahan. "Maaf karena membuatmu menempuh perjalanan jauh, dan mengganggu bulan madu kalian."

Senyum Patricia tampak begitu tulus, saat kini Luana refleks membalas senyuman wanita paruh baya itu.

"Terima kasih, Nyonya Lueic," balas Luana terbata.

Patricia tertawa kecil dengan bola mata yang melebar, seakan-akan dia terkejut atas apa yang didengarnya baru saja.

"Ibu," kata Patricia mengoreksi. "Untuk orang lain, aku memang Nyonya Lueic--sama sepertimu. Tetapi bagi anak-anakku, aku adalah ibu kalian, Luana."

Berdesir hati Luana di dalam sana, dengan senyum yang tidak bisa dia tahan di wajahnya. Bagaimana pancaran sinar yang didapatinya dari Patricia, benar-benar meluluhkan hati perempuan itu yang memang selama ini tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu.

Bagi Luana, Madam Collins adalah satu-satunya ibu untuknya. Tetapi perempuan yang masih tampak cantik di depannya ini sungguh mencuri perhatian, dan Luana begitu saja merasa mendapati aliran kasih sayang.

"Beristirahatlah," kata Patricia memecah keheningan. "Kau pasti lelah, Luana Sayang. Beristirahatlah untuk sekarang, dan kita bisa mengobrol banyak nanti."

Rey memperhatikan lewat sudut matanya, mendapati bagaimana Luana masih menatap lekat ke arah Patricia.

"Baiklah, I...-Ibu," balas Luana kikuk.

Patricia tidak bisa menyembunyikan rona bahagia, saat kini ia menepuk dada anak lelakinya.

"Apa yang kau tunggu, Rey?" kata perempuan itu. "Pergi dan bawa istrimu ke atas, lalu beristirahatlah."

Rey mengangguk samar, menoleh sekilas ke arah Luana.

"Ayo, Luana."

Luana sempat menundukkan kepala, memberi hormat pada Patricia sebelum kakinya melangkah mengikuti Rey.

Menaiki anak tangga satu per satu, Rey sama sekali tidak melepaskan tangan Luana yang masih dia genggam. Hingga mereka mencapai anak tangga teratas, lantas berbelok dan menyusuri lorong.

Berhenti di pintu paling ujung, Rey begitu saja menarik gagang dan membawa Luana untuk masuk ke dalam sana.

"Ini adalah kamarku," kata lelaki itu.

Luana mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mengamati bagaimana kamar yang juga luas itu dipenuhi oleh nuansa kecokelatan.

Perlahan-lahan melepaskan gandengan tangan mereka, Rey mengusap tengkuknya untuk menghilangkan kecanggungan.

"Aku akan meninggalkanmu di sini," kata Rey. "Kau bisa beristirahat, hingga nanti kita akan berkumpul di ruang makan pada pukul enam."

Luana menaikkan kepala, menoleh untuk membalas tatapan Rey yang sedari tadi terarah padanya.

Perempuan itu tampak menarik napas dengan pelan, sebelum kemudian membuka bibir untuk bersuara.

"Apa yang ibumu sukai, Tuan Rey?"

Rey tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan Luana, tetapi kemudian lelaki itu berpikir beberapa detik sebelum memberi jawaban.

"Ibuku?" ulang Rey. "Apa ya? Dia suka menanam bunga, dan dia suka berada di taman miliknya yang terletak di belakang mansion."

Luana melempar senyum, disusul dengan anggukan kepala kemudian.

"Ah, begitu."

Rey memperhatikan Luana dengan tatapan menyelidik.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa," balas Luana. "Ibumu tampak begitu baik, dan senyumnya sungguh tulus sekali."

Berjalan pelan menuju arah jendela, istri Rey itu menyingkap tirai yang menutupi jendela hingga membuat sinar matahari menelusup ke dalam kamar.

"Kau menyukai ibuku?" tanya Rey di belakang sana.

Luana berbalik badan. Jarak yang terbentang antara keduanya cukup jauh, tetapi mereka masih saling menatap.

"Aku menyukainya," kata Luana senang. "Ibumu mengingatkanku pada Madam Collins, dan rasanya begitu nyaman berada di sekitar mereka. Aku tumbuh besar tanpa hadirnya seorang ibu, dan akhirnya aku bisa memanggil seseorang dengan panggilan 'ibu' sekarang."

Rey termenung beberapa detik, mendengarkan seksama pada Luana.

Perempuan muda itu mengusap tangan dan tangan yang lain, lantas menunduk untuk memperhatikan lantai marmer kamar mereka.

"Maaf," ujar perempuan itu tiba-tiba. "Aku tidak seharusnya sesenang ini."

Rey menarik napas, masih tidak bisa mengalihkan pandangan dari istrinya itu.

Luana sudah kembali berbalik badan, menatap kembali ke luar jendela yang menampilkan hamparan bunga di bawah sana.

"Jika kau menyukainya, kau boleh mengambilnya," ujar Rey memecah keheningan.

Luana sontak berbalik, menatap ke arah sang bangsawan dengan kerut di kening.

Rey mengangkat bahu.

"Aku sudah jadi anaknya lebih dari 30 tahun," kata lelaki itu kini. "Jika kau memang menyukai ibuku, maka anggaplah dia sebagai ibumu sendiri. Aku akan memberikannya secara cuma-cuma."

Luana hampir saja tertawa, tapi syukurlah dia bisa menahan dan hanya menerbitkan satu senyum tipis.

"Benarkah?"

Rey mengangguk tanpa ragu. Lagipula dia tidak merasa kehilangan apa pun.

"Ambillah untukmu," kata lelaki itu yakin. "Tetapi kau harus siap untuk mendengar omelannya, dan kau tidak bisa mengembalikannya lagi padaku."

Kali ini Luana benar-benar tidak bisa menahan tawa, dibuktikan dengan derai tawa perempuan itu yang memenuhi seisi ruangan.

Rey sempat terpaku di tempatnya, memandangi bagaimana perempuan muda itu tertawa hingga kedua matanya hampir tertutup rapat.

Dia... Memang menawan dengan caranya sendiri.

"Apakah kau serius, Tuan Rey?" tanya Luana setelah tawanya mereda, tetapi Rey jelas melihat bagaimana wajah perempuan itu berseri kini.

"Tentu," Rey berucap tanpa ragu. "Jika itu yang kau mau, aku akan memberikannya padamu."

Senyum masih terbit di wajah Luana, saat kini Rey tanpa sadar juga ikut melengkungkan senyuman. Tidak menyadari bahwa suasana di antara mereka sudah semakin membaik, ketika keduanya tampak sudah bisa menerima kehadiran satu sama lain di sana.

Memperhatikan bagaimana Luana tampak mulai berbeda di matanya, sang bangsawan menyadari bahwa ini adalah hal pertama yang dia berikan untuk Luana--tanpa bayang-bayang perempuan lain.

'Ibunya' adalah hadiah pertama, yang dia berikan untuk perempuan itu.

Perempuan yang berada di sampingnya saat janji suci pernikahan itu terucap, perempuan yang menyandang status sah sebagai istrinya.

.

.

.

~Bersambung~

Hii, terima kasih sudah bersama cerita ini terus, maafkan komentarnya gabisa dibalas satu per satu, ya. Semoga kita semua sehat selalu ❤️

1
Shifa Burhan
reader2 yang menyukai Pedro

sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu

pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
Shifa Burhan
seorang istri nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan pria lain kalian (author) anggap itu hal benar dan buka kesalahan

coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga

pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar
baca ulangggg/Drool/
Wulan TitAnica
The Best....
Arida Susida
Luar biasa
Anisa Marcella
Luar biasa
yella xarim
dah baca novel ini berkali2 ttp ga bosen.. keren Thor
Mifta Özil
ntah baca yg keberapa kali ga ngitung, slalu kgn sama novel ini huhu
Ray Aza
dih marah sm org yg salah, berkat gadis itu muka lo msh selamat..
Nafis
ahaa... stelah skian lama tak bca novel² kak bee krna takut kecanduan 🤭 coz 2th kebelakang kerempongan ngurus baby & toddler,luv kak bee 😘
shelome
baca lagi kangen sama tulisan kk bee
Wati Astuti
ku baca ulang ya thorr kangen sm Rey Luana.. Rey yg lama2 bucin tingkat dewa
N. Y
/CoolGuy/
syahira alifa
mantap bee
syahira alifa
salah dia sendiri kenapa lari di hari pernikahannya, sekarang menyesal pun percuma keadaan sudah tak lagi sama
syahira alifa
i love you bee tak kira bakal ada pertentangan antara orang tua rey dan rey gara²status luana..
syahira alifa
benih-benih cinta mulai tumbuh
Sri Lestari
ceritanya bagus
iren thezer
ceritanya oke singkat tp good ending
Nur Hikmah
aduh bang Rey..kenapa menggantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!