Jangan lupa follow IG baru author
"@queenzah.aquine"
Hai teman-teman
Ini novel pertamaku.
Menceritakan, Syifa seorang gadis yang sangat gengsi dan selalu acuh tak acuh bila bertemu orang asing. Dan, Luthfi, seorang pria dengan temperamennya yang cuek serta dingin kepada siapapun yang asing baginya
100% karya ini milik, Queen Izzah.
Apabila ada Nama tokoh dan Tempat yang sama, Queen Izzah mohon maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Izzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik orang lain
Luthfi terus menemani, Syifa yang terlelap dalam tidurnya. Sementara diluar kamar, Fahri terus memikirkan sesuatu
"Luthfi ngga boleh ngerasain seperti kebodohan gue dulu. Gue harus bantu, Luthfi" guman, Fahri
**
*Epilog*
Luthfi dan Fahri sedang berbincang di meja makan. Sementara, Syifa sibuk di dapur membersihkan tempat kotor yang ia pakai tadi
"Perasaan loh sebenarnya gimana?" tanya, Fahri saat ia berdua dengan, Luthfi
Luthfi melirik, Syifa sekilas yang tengah sibuk di dapur. "Gue ngga tau pasti" ucapnya
"Luthfi. Jangan ngeremehin perasaan loh. Dan gue pernah ada di posisi loh sekarang ini, jadi gue tau banget. Gimana kebodohan gue dulu yang terlalu cuek dengan perasaan gue sendiri" ujar, Fahri yang menasehati, Luthfi
"Loh pernah ada di posisi gue?" kening, Luthfi mengkerut
Fahri mengangguk. "Gue pernah ngerasain itu. Kebodohan yang bikin gue sampai sekarang ngga bisa mengenal cinta lagi" paparnya dengan merasa bersalah
" Sama cewek yang tadi malam loh telpon?" tanya, Luthfi dengan hati-hati
Fahri mengangguk lemas. "Gue terlalu menganggap dia cuma milik gue tanpa status apa-apa. Sedangkan cewek, selalu butuh kepastian. Gue terlalu cuek dengan perasaan gue ke dia. Karna gue menganggap, dia ngga akan berpaling dari gue, karna gue tau, dia suka sama gue. Sampai akhirnya dia lelah, dan dia mutusin buat nerima teman sekelas gue juga yang suka sama dia. Dari situ, gue mulai merasa aneh, gue ngga rela dia dekat-dekat sama cowok lain. Gue ngga suka dia ketawa karna cowok lain. Dan gue paling ngga suka, dia jadi milik orang lain. Hanya karna kebodohan gue, dia lepas dari genggaman gue. Gue terlalu menganggap biasa tentang perasaan gue. Dan mulai dari situ, gue sampai sekarang ngga pernah mengenal cinta lagi" tutur, Fahri dengan penyesalannya yang begitu dalam
"Termasuk ke dia?" tanya, Luthfi
"Kalau itu gue ngga tau pasti. Gue berusaha keras membuang seluruh perasaan gue ke dia selama ini. Mungkin masih tersisa sedikit. Karna jika kita pernah mencintai seseorang, itu tidak akan pernah hilang meski hanya setitik" ujar, Fahri
Luthfi diam sejenak. Berusaha mencerna dengan baik setiap ucapan, Fahri
"Jangan membuat kesalahan yang sama kek gue dulu. Loh bakal nyesel", Fahri menepuk pelan pundak, Luthfi. Luthfi hanya mengiyakan
"Oh ia. Syifa paling suka dari cowok ketika apa?" tanya, Fahri
Kening, Luthfi berkerut "Mungkin saat kepalanya diusap" sahut, Luthfi
"Kalau begitu, sering- sering loh ngusap kepala dia" ucap, Fahri yang disambut tatapan heran, Luthfi
Saat hendak menjawab, Syifa menghampiri mereka setelah membersihkan semua peralatan ke wastafel dan menggantung celemek miliknya. Luthfi dan Fahri berdiri ketika, Syifa datang. Fahri melihat kearah, Luthfi. Luthfi pun mengangguk lalu mengangkat tangannya mengusap kepala, Syifa dengan lembut, meski gadis itu kini tengah terkejut dan menoleh kearah, Fahri yang dibalas senyum olehnya
***/
Ponsel milik, Fahri bergetar di saku celananya. Ia kemudian merogoh ponsel tersebut lalu melihat satu pesan dari, Vigo
'Bagaimana, Luthfi dan Syifa?' - Vigo
'Mereka istirahat. Tolong ajak, Risa sama Viona jalan keliling dulu yah' - Fahri
'Siap. Tapi loh utang cerita ke gue' - Vigo
'Tenang aja. Loh nginap di rumah gue entar malam' - Fahri
'Loh aja sama, Luthfi yang nginap di rumah gue' - Vigo
'Ok' - Fahri
Fahri pun menyimpan kembali ponselnya di saku celananya, lalu membaringkan tubuhnya di sofa panjang tersebut. Ia sebenarnya juga begitu lelah dan butuh tidur
Luthfi mengerjakan matanya mendengar suara deringan ponsel milik, Syifa yang mengusik tidurnya. Dengan pelan, Luthfi meraih ponsel tersebut lalu menekan tombol hijau agar deringan ponsel tersebut tidak membuat, Syifa terbangun
"Halo?" ucap, Luthfi dengan suara khas orang yang baru bangun tidur
"Kok yang angkat suara cowok? Ini benar nomor, Syifa bukan sih?" tanya seseorang diseberang telpon yang berbicara dengan temannya
"Ada apa?" tanya, Luthfi
"Maaf salah sambung" orang tersebut langsung menutup teleponnya
"Hmm. Aneh" gumannya
Saat, Luthfi hendak menaruh kembali ponsel, Syifa. Satu notifikasi masuk dari instagram, Syifa. Luthfi pun menekan notifikasi tersebut, hingga muncul satu chat dari akun 'Reza.Ariansyah'. Mata, Luthfi langsung memicing, ia kemudian melihat semua isi percakapan antara, Syifa dan Reza. Memang tidak ada yang aneh namun, Luthfi tetap tidak menyukai isi percakapan tersebut. Bahkan notifikasi pesan yang baru masuk berisi kata 'Hari ini jangan lupa istirahat penuh yah. Besok kita akan presentasi tugas. Jaga kesehatan'. Begitulah isi pesan tersebut
"Kenapa?" suara, Syifa mengangetkan, Luthfi yang masih menggenggam ponsel, Syifa
Luthfi menaruh kembali ponsel tersebut lalu mengusap kepala, Syifa. "Tadi ada yang nelpon, tapi salah sambung. Udah, tidur lagi aja yah" perintah, Luthfi dengan lembut
Syifa hanya mengangguk pelan. Namun matanya cepat menangkap sedang dimana ia sekarang berada. Ia kemudian langsung bangun dan duduk dengan penuh tanda tanya di kepalanya
"Tunggu. Kok? Gue bisa ada disini? Tadi bukannya gue di sofa? Trus loh? Kok loh bisa ada di kamar gue?" seru, Syifa sedikit panik
"Terus, Risa sama Viona kemana?", Syifa mengedarkan pandangannya mencari, Risa dan Viona
"Tenang dulu yah", Luthfi kembali mengusap kepala, Syifa agar ia bisa tenang. "Tadi loh ketiduran di sofa. Jadi gue ngangkat loh masuk kesini. Gue ngga bisa pergi karna loh megang tangan gue terus. Dan, Risa sama Viona, mereka lagi jalan-jalan sama, Vigo" ujar, Luthfi menenangkan, Syifa
"Terus, Fahri?" tanya, Syifa yang heran karna tidak mendengar nama, Fahri
"Dia di depan" sahut, Fahri
"Dia ngga pergi?" tanya, Syifa kembali
Luthfi mengangguk. "Dia ngejagain kita. Dia di depan kalau kita butuh sesuatu" tukas, Luthfi
Syifa hanya mangguk-mangguk walau tidak terlalu mengerti. "Kok, Risa sama Viona jalan-jalan ngga ngajak gue" ketus, Syifa
"Kan loh lagi tidur. Itu juga mereka diajak keluar biar ngga ribut gangguin loh tidur" papar, Luthfi
"Oh gitu. Ya udah, ayo ke depan. Kasian kan, Fahri sendirian" ajak, Syifa yang diangguki oleh, Luthfi.
Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar menuju ruang tamu tempat, Fahri berada. Di sofa panjang tersebut, Fahri sedang mengistirahatkan tubuhnya dengan begitu lelap hingga ia tidak menyadari kedatangan, Luthfi dan Syifa
Luthfi duduk disalah satu sofa kosong lalu diikuti, Syifa. "Dia pasti capek. Biarin dia tidur" ucap, Luthfi
"Capek? Emang, Fahri darimana?" tanya, Syifa dengan polos
Luthfi lagi-lagi mengusap kepala, Syifa pelan. Syifa meskipun wajahnya bersemu, ia tidak bisa menolak, karna ia sangat menyukai usapan tersebut
"Semalam, loh juga ketiduran di belakang. Ngga ingat?", Luthfi mencoba mengingatkan, Syifa. Syifa hanya menggeleng pelan menatap, Luthfi
"Semalam loh ketiduran. Gue bingung mau bangunin loh atau ngga. Terus, Fahri tiba-tiba datang, dan nyuruh gue buat ngangkat loh ke kamar" ujar, Luthfi
Syifa langsung menutup mulutnya dengan begitu terkejut. "Serius? Jadi loh benar ngegendong gue semalam?" tanyanya dengan tidak percaya
Luthfi mengangguk. "Kenapa?" tanyanya
"Gue berat yah? Tadi juga loh gendong gue lagi. Maaf" ucap, Syifa dengan rasa bersalah
" Ngga apa-apa" sahut, Luthfi
"Tangan loh pasti pegal. Sini biar gue pijat", Syifa hendak meraih tangan, Luthfi
"Ngga usah. Gue ngga apa-apa" tolak, Luthfi dengan pelan
Saat, Syifa hendak membuka mulutnya ingin bersuara. Gesekan pintu terdengar bersamaan dengan suara langkah kaki serta suara, Risa dan Viona yang lagi-lagi sedang berdebat
"Bagus yah kalian. Jalan-jalan ngga ngajak gue", Syifa sudah berdiri saat, Risa, Viona dan Vigo sudah memasuki rumah
"Ya loh kan tidur. Masa gue bangunin loh cuma buat belanja bahan masakan doang" protes, Risa yang masih berdiri diambang pintu menenteng beberapa kantung platik berisi bahan makanan
"Tadi, Luthfi bilang kalian jalan-jalan" tukas, Syifa yang mendekat kearah, Risa lalu mengambil beberapa kantung plasti di tangan, Risa. Ia membantunya membawa ke lamari pendingin
Fahri terbangun mendengar suara bising yang tercipta dari ketiga gadis tersebut. Saat semuanya sudah selesai, Viona berpamitan pulang yang diantar oleh, Vigo. Luthfi dan Fahri pun berpamitan pulang
"Jangan lupa. Loh berdua nginap di rumah gue ntar malam", Vigo mengingatkan, Luthfi dan Fahri
"Tenang aja. Gue ngga lupa" sahut, Fahri
"Kabarin gue kalau loh udah mau jalan, Ri" timpal, Luthfi kepada, Fahri. Fahri pun hanya mengiakan.
Luthfi berjalan medekat kearah, Syifa. Ingin sekali ia mengusap kepala wanita itu, namun ia tidak ingin ini menjadi kesalahpahaman oleh yang lainnya
"Gue pulang yah. Kalian berdua jaga diri baik-baik", Syifa dan Risa hanya mengangguk
Saat mobil milik mereka satu persatu sudah menghilang. Risa dan Syifa pun kembali masuk ke dalam rumah. Syifa membersihkan semua lantai diruang tamu dan tengah. Sedang, Risa membersihkan kamar
***/
Saat malam hari telah tiba. Fahri dan Luthfi sudah berada dirumah, Vigo. Sesuai janji mereka berdua, bahwa mereka akan menginap dirumah, Vigo. Dan, Fahri yang punya utang cerita kepada, Vigo
"Kayaknya gue ketinggalan banyak. padahal gue ngga pernah lepas dari kalian berdua kecuali tadi pass ngajak, Vio sama Risa jalan-jalan" ujar, Vigo yang sudah sangat penasaran
"Loh tau gue dulu gimana sama, Dini kan?" pertanyaan, Fahri sukses membuat, Vigo mengernyit dengan bingung namun tetap mengangguk
"Gue tau banget tentang loh sama, Dini. Tapi yang bikin gue bingung. Apa hubungannya sama, Luthfi?" tanya, Vigo balik
"Loh tau? Saat ini, Luthfi berada di posisi kayak gue dulu sama, Dini" sahut, Fahri dengan tegas
"Serius?", Vigo menatap, Fahri tidak percaya. Tatapannya kemudian beralih ke, Luthfi. "Luthfi? Benar yang dibilang, Fahri?", Vigo tampak sedikit panik
Luthfi mengangkat kedua bahunya. "Gue ngga tau pasti" ucapnya
"Gila sih kalau saat ini loh benar-benar berada di posisi, Fahri dulu. Itu parah banget sumpah" tutur, Vigo yang tidak ingin mempercayai semua ini
"Kenapa? Fahri cuma patah hati biasa kan?" tanya, Luthfi melihat kecemasan di wajah, Vigo
"Loh ngga tau aja, Fi. Tingkah gila apa yang sering, Fahri lakuin dulu. Saat itu, gue bahkan berdoa. Semoga ngga ada lagi teman gue yang ngalamin seperti yang pernah, Fahri alami. Gue ngga tega sumpah. Dan, Fahri butuh waktu lama buat nyembuhin luka dia yang sedalam itu" papar, Vigo mengingat tingkah kegilaan, Fahri dulu
"Tapi gue udah nasehatin, Luthfi biar dia ngga terlalu cuek sama perasaan dia walau sekecil apapun itu" cetus, Fahri
"Tapi. gue pengen tau cerita awalnya. Kenapa loh bisa tau semuanya tentang, Luthfi" tanya, Vigo kepada, Fahri
Susah banget soalnya nemu novel yang bagus gitu buat di baca.
Terakhir aku baca yang judulnya "(Siapa) Aku Tanpamu)", bagus banget ceritanya tapi yang baca dikit, kasian otornya.
Dan jangan lupa, searchnya pakek tanda kurung