menjadi sukses dan kaya raya tidak menjamin kebahagiaanmu dan membuat orang yang kau cintai akan tetap di sampingmu. itulah yang di alami oleh Aldebaran, menjadi seorang CEO sukses dan kaya tidak mampu membuat istrinya tetap bersamanya, namu sebaliknya istrinya memilih berselingkuh dengan sahabat dan rekan bisnisnya. yang membuat kehidupan Aldebaran terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni Luh putu Sri rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tiba-tiba, Aldebaran merasa sesak di dadanya, rahangnya mengatup rapat, genggamannya pada roda kemudi mobil mengencang hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Ketika ia mendengar Lilia sedang memikirkan orang yang gadis itu sukai.
Rasa marah dan cemburu yang mencekik perlahan merayap dalam hati Aldebaran, ia tahu tak seharusnya ia merasakan hal semacam ini terhadap putrinya. Namun, ia tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya, ia ingin menepikan mobilnya, tapi, Aldebaran tahu itu tidak mungkin, jika sampai ia melakukannya... Lilia akan curiga dengan sikapnya dan mungkin akan memperburuk situasi atau membuatnya kehilangan citra sebagai ayah yang baik dan bertanggung jawab akan benar-benar hilang dari mata Lilia tentang dirinya.
"Jadi... Kau menyukai seseorang?" tanya Aldebaran, kata-kata itu keluar dari mulut Aldebaran—lebih mirip pertanyaan interogasi daripada pertanyaan yang di lontaran seorang ayah pada putrinya. Mata pria itu tiba-tiba berubah menjadi gelap penuh amarah yang tertahan, pandangannya terkunci sepenuhnya pada jalan di depannya tanpa memperhatikan reaksi Lilia.
Sementara itu, Lilia menunduk dan tak memperhatikan gelombang emosi yang melanda Aldebaran, yang hampir membuat hati pria itu terbakar karena cemburu.
"Kalau Papa boleh tahu siapa orang yang kau sukai, Sayang? Apa dia teman sekolahmu?" Tanya Aldebaran lagi, kali ini ia berusaha menjaga agar nada bicaranya terdengar lebih halus supaya Lilia tak curiga dengan kedalaman perasaanya terhadap gadis 16 tahun ini yang selama ini ia segel rapat di dalam hatinya.
Lilia masih terdiam, ia mencoba mencari kata-kata yang tepat, bibir mungil dan lembut gadis itu terbuka sedikit sebelum gadis itu bicara. "Ya... Dia lebih dewasa dari Lilia." ucap gadis itu pelan dan malu-malu.
Aldebaran melirik gadis itu dari sudut matanya, ia meliat bagaimana cara gadis itu malu-malu dan bagaimana wajahnya memerah karena perasaan yang ia simpan untuk seorang laki-laki yang Aldebaran tahu itu pasti bukan dirinya. "SIAL!!" geramnya rendah, dengan penuh amarah. "Aku benar-benar sangat marah." hatinya menjerit karena terasa sakit dan bukan hanya itu, perasaan cemburu yang mencekik mulai menjalar di setiap inci tubuhnya.
Aldebaran masih mencoba menekan amarah yang mulai memuncak dalam hatinya, genggamannya semakin erat pada kemudi mobil hingga berderit, ekspresi wajahnya menjadi kaku nyaris tak manusiawi. Dalam hati Aldebaran berniat mencari tahu siapa bocah laki-laki yang mungkin membuat putrinya sampai tergila-gila seperti ini.
"Jadi... Laki-laki itu, kakak kelasmu?" Tanya Aldebaran, masih memaksakan sikapnya agar tak terkesan ia sedang cemburu, suaranya di buat lembut, namun ada getaran halus kecemburuan dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya yang tak Lilia sadari.
"Em... I-iya, bisa di bilang seperti itu, dia sangat berarti bagi Lilia, Papa, dan dia juga dewasa." ucap gadis itu, pengakuan yang polos dan malu-malu.
Seketika darah Aldebaran mendidih, setelah mendengar pengakuan Lilia yang polos, "aku akan mencari tahu, bocah mana yang bisa membuatmu sampai begitu berharap seperti itu, Lilia." Janji Aldebaran dalam hati, kata-kata itu lebih seperti sumpah yang akan ia lakukan demi membuat Lilia tetap berada di sisinya.
Aldebaran, tahu mungkin tak seharusnya ia cemburu, namun ia tak bisa berbohong dengan perasaannya. Pandangannya tetep fokus pada jalan di depannya, tapi kepalanya sudah memikirkan berbagai kemungkinan dan skenario yang mungkin terjadi. Ia tak bisa membayangkan saat Lilia—putrinya di rebut olah orang lain yang ia sebut sebagai pacar.
Sekali lagi Aldebaran, melirik gadis itu dari ekor matanya, memperhatikan gerakan halus jari-jari ramping dan lembut itu meremas rok sekolahnya, dan bagaimana wajahnya yang muda dan malu-malu itu memerah, namun bukan karena dirinya melainkan oleh orang lain yang lebih muda darinya.
Mata Aldebaran menyipit tajam penuh perhitungan, "Aku tidak akan membiarkan laki-laki manapun mengusik kepolosanmu, Lilia... Itu hanya milikku... Dan hanya aku... Aku akan menghancurkan mu demi pria lain! Dan sebelum itu terjadi... Aku akan melakukan segala dayaku untuk melindungi bunga berharga milikku." sumpah Aldebaran pada dirinya sendiri.
Mobil sedan mewah itu terus melaju di jalanan kota yang sibuk pagi ini, mobil mewah itu berhenti di depan gerbang sekolah bergengsi di pusat kota dengan presisi. Aldebaran melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil mewahnya. Stelan jas hitam mahal dan tubuhnya yang tinggi mendominasi ruang di sekitarnya, penampilannya yang mengagumkan dan sempurna tanpa celah mencuri perhatian beberapa siswi yang juga kebetulan lewat.
"Waah... Itu ayahnya siapa, ya?"
"Tinggi sekali..."
"Coba lihat! Om itu keren seperti aktris gak sih?"
"Gila sih! Papanya Lilia keren."
Samar ia mendengar beberapa siswi membicarakannya sebelum Aldebaran berjalan memutari mobil mewahnya dan membukakan pintu mobil untuk Lilia, gerakannya pelan dan terukur saat tangan Aldebaran perlahan bergerak dan membuka pintu mobil untuk Lilia. "Hati-hati, Sayang." ucapnya lembut namun tegas tatapan matanya tajam dan penampilan yang perfeksionis menunjukan wibawa dan kepemimpinan yang kuat.
Aldebaran mengulurkan tangannya pada Lilia untuk membantu gadis itu keluar dari mobil, dengan gugup Lilia meletakan tangannya di tangan Aldebaran yang besar sebelum gadis itu keluar dari mobil. Aldebaran bisa merasakan tulang-tulang halus itu di permukaan telapak tangannya, begitu lembut dan begitu hidup di bawah sentuhan tangannya yang besar dan kapalan.
Gerakan gadis itu lembut saat keluar dari dalam mobil, Aldebaran bisa melihat bagaimana seragam sekolah gadis itu membalut tubuh mungilnya yang masih berkembang dan rok lipit seragam sekolahnya sedikit terangkat dan memperlihatkan sedikit lebih banyak pahanya yang halus dan ramping di depan mata Aldebaran yang lapar.
Tiba-tiba, ia merasakan tenggorokannya kering hingga membuatnya menelan ludah dengan susah payah. "Sial! Kendalikan dirimu, Aldebaran." hatinya menjerit dengan kebutuhan, mencoba mengendalikan reaksi tubuhnya dengan keras, Aldebaran merasakan punggungnya basah karena keringat dingin dari reaksi tubuhnya yang menjerit dengan kebutuhan mendasar dan primitif.
"Jaga dirimu, Lilia. Sore nanti Papa akan menjemputmu." kata Aldebaran lembut, namun terselip janji halus dalam setiap kata yang ia ucapkan sebelum melepaskan genggaman tangannya dari tangan mungil gadis itu.
"Iya... Papa, nanti Lilia akan telepon." jawab Lilia halus, wajah gadis itu masih memerah seperti buah apel masak, kepalanya yang tertunduk malu-malu membuat Lilia gadis itu terlihat semakin manis, hingga membuat perut Aldebaran mual karena membutuhkan.
Tiba-tiba, Aldebaran membungkuk dan mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Lilia yang kecil. "Jaga baik-baik dirimu selama Papa tidak bersamamu." bisik Aldebaran, kata-kata itu mengandung janji dan peringatan terselubung dan gelap, memberi klaim halus pada gadis itu bahwa ia adalah miliknya. gadis itu bisa merasakan nafas hangat Aldebaran di telinganya yang kecil dan halus seperti kelopak mawar yang memberikan sensasi bulu kuduk meremang saat napas hangat pria itu menyentuh telinganya.
Lilia hanya mengangguk gugup, sebelum akhirnya ia berjalan menuju gerbang sekolah, melihat Lilia sudah memasuki halaman sekolah Aldebaran masuk kedalam mobil, ia tak langsung pergi, ia masih memperhatikan Lilia dari kursi pengemudi, melihat bagaimana rok lipitnya bergoyang lembut saat gadis itu berjalan dan seragam sekolah yang membalut tubuh mungilnya dengan sempurna.
Namun tak di sangka, di tengah pemandangan itu, seorang anak laki-laki tinggi dengan beberapa tindikan di telinga dan seragam yang cukup berantakan berlari ke halaman sekolah dan tanpa basa-basi melingkarkan lengannya di bahu Lilia tampak sangat akrab. Sontak pemandangan itu membuat Aldebaran yang masih berada di dalam mobil kaget bukan kepalang, dengan mudahnya anak laki-laki itu menyentuh putrinya.
"Jangan-jangan anak itu..."
Bersambung....