Impian Malika menikah dengan Airlangga kandas ketika mendapati dirinya tidur bersama Pradipta, laki-laki asing yang tidak dikenalnya sama sekali. Gara-gara kejadian itu Malika hamil dan akhirnya menikah dengan Pradipta.
Sebagai seorang muslimah yang taat, Malika selalu patuh kepada suaminya.
Namun, apakah dia akan tetap menjadi istri yang taat dan patuh ketika mendapati Pradipta masih menjalin asmara dengan Selina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Bab 33
Suasana pagi hari yang biasanya menyenangkan bagi Malika mendadak berubah dengan kedatangan Bu Mayang. Biasanya ibu mertuanya itu tidak akan datang tanpa Puput. Saat ini gadis itu kuliah di luar kota dan pulang dua minggu sekali atau sebulan sekali jika sedang sibuk.
"Ibu datang ke sini sama siapa?" tanya Malika setelah mencium tangannya.
"Apa kamu tidak lihat ibu datang sendirian," jawab Bu Mayang dengan ketus.
Wanita paruh baya itu masuk tanpa disuruh. Dia berjalan ke arah ruang makan karena terdengar suara Pradipta sedang berbicara.
"Loh, Ibu! Ke sini sama siapa?" tanya Pradipta karena tahu sang adik masih punya jadwal kuliah, belum waktunya libur.
"Ibu datang ke sini karena mau minta uang. Beberapa tetangga mengundang ibu ke acara pernikahan anak-anaknya. Sebulan ini Ibu sudah menerima enam undangan. Jadi, uang bulanan yang diberikan sama kamu tidak akan cukup," jawab Bu Mayang setelah duduk di kursi meja makan.
Bu Mayang melirik ke arah Misha yang sedang anteng makan di seberangnya. Bocah itu kadang menyuapkan makanan kepada Pradipta.
"Emang Ibu perlu berapa?" tanya Pradipta sambil melirik ke arah Bu Mayang.
"Untuk isi amplop masing-masing satu juta," jawab Bu Mayang. "Lalu, ibu juga perlu baju untuk pergi ke gedung pesta. Ibu akan beli yang biasa saja tidak perlu mahal-mahal. Paling yang satu bajunya sekitar dua jutaan."
Malika dan Pradipta saling melirik. Bukan uang sedikit yang di minta oleh Bu Mayang. Bagi pasangan suami-istri itu tidak masalah dengan uang untuk amplop, tetapi untuk beli baju sebanyak itu sangat disayangkan saja kalau cuma untuk sekali pakai.
"Aku bulan depan akan pergi tugas ke luar negeri, Bu. Jadi, tidak akan bisa kasih uang banyak-banyak sama Ibu. Paling bisa memberi sepuluh juta," ucap Pradipta. Sekarang dia sering menekan kebiasaan boros ibunya. Dia akan memberi jika hal itu benar-benar perlu.
"Apa? Sepuluh juta! Mana cukup?" Bu Mayang merajuk.
"Itu uang bisa buat enam isi amplop dan beli dua baju baru. Kalau mau dapat banyak beli saja yang murah," ujar Pradipta memberikan ide.
"Apa kamu tidak bisa kasih lebih lagi?" tanya wanita paruh baya itu dengan ekspresi memelas.
"Tidak bisa, Bu. Itu juga sudah diambil dari bekal aku untuk pergi ke Hongkong. Aku juga harus menghemat," jawab laki-laki itu berusaha santai.
Raut wajah Bu Mayang langsung berubah. Senyum manis tercipta dari bibirnya yang dipoles lipstik merah. Wanita paruh baya itu bertanya, "Kapan kamu akan pergi ke Hongkong?"
"Bulan depan, Bu," jawab Pradipta.
"Berapa lama?"
"Dua mingguan."
"Jangan lupa belikan ibu oleh-oleh, ya!"
Pradipta hanya mengangguk. Dia tidak tahu apakah punya waktu untuk berbelanja atau tidak.
"Ya, sudah kalau begitu tidak apa-apa cuma diberi sepuluh juta. Nanti ibu beli baju yang agak murah sedikit dan bisa dipadu-padankan dengan baju yang lainnya," kata Bu Mayang. Setelah itu dia pun pergi dengan perasaan bahagia.
"Jika Mas tidak punya uang, aku bisa kasih buat bekal," ucap Malika.
"Tidak perlu. Kamu juga aku kasih uang bulanan pas-pasan," balas Pradipta.
Malika menggunakan uang Pradipta untuk keperluan Misha dan makan mereka. Dia selalu memerhatikan asupan gizi untuk keluarganya. Wanita itu tidak pernah menuntut banyak kepada suaminya karena tahu harus membiayai kuliah Puput dan kebutuhan hidup bulanan Bu Mayang.
Pradipta sendiri bersyukur punya istri yang tidak banyak minta. Karena Malika menggunakan uangnya sendiri untuk keperluannya seperti membeli baju dan skincare atau jalan-jalan bersama Misha.
***
Malika pergi berbelanja bersama Mbok Karti. Malika menggendong Misha dan Mbok Karti mendorong troli. Wanita itu tahu makanan apa yang disukai dan tidak disukai oleh ada penghuni rumah, termasuk Mbok Karti. Karena wanita paruh baya itu juga sering diminta untuk sarapan dan makan siang bersama.
Misha sangat senang jika diajak pergi jalan-jalan ke luar. Apalagi jika melihat banyak mainan, pasti akan teriak bahagia. Karena termasuk bayi yang aktif, Malika tidak pernah melepaskan anaknya dari gendongan. Takut mengacak-acak barang yang di pajang di etalase.
"Non, buah alpukat dan tomat sudah habis," ucap Mbok Karti.
"Hah? Padahal baru seminggu kemarin aku beli banyak untuk jatah dua minggu," ujar Malika terkejut.
"Sepertinya kalau malam hari tuan suka buat jus bukan kopi," balas Mbok Karti.
"O, ya, sudah kita beli saja lagi," ucap Malika.
Kedua wanita itu memilih tomat segar. Pradipta sangat suka sekali jus tomat dan makan nasi goreng harus dikasih banyak irisan tomatnya.
"Hai, Malika!"
Suara yang tidak asing menyapa Malika. Istri Pradipta itu pun menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok yang kini berdiri dengan hadapannya.
***
karna dia satu satunya pria yg menyentuhmu
lagian suami mu tidak bersalah
💪💪 update thorrr 😍😍
Di novel nya mama Reni
Ayok Malika bangkit cari orang yng menyebabkan Misha nggak ada , jangan2 Selina dan ibu mertua mu pelaku nya , atau Syifa sdh beraksi 😠😠😠
Duh koq bisa mereka keracunan