Perjodohan yang sudah berlangsung selama 8 tahun, akhirnya kini berakhir dengan sebuah pernikahan. Ya, Jamie Shaga Richardo akhirnya resmi telah menikahi Sheana Zaen Xavier, putri dari Levi dan Lucia. Namun, dibalik pernikahan itu siapa sangka Jamie menyembunyikan sebuah rahasia besar dari semua orang.
Bahkan tidak hanya rahasia itu yang harus Shea hadapi dalam kehidupan pernikahannya? Akan tetapi, pihak lain yang sudah lama mengincar keluarga Richardo dan banyaknya rahasia dalam keluarga itu akan menjadi jalan terjal bagi pernikahan Shea dan Jamie?
Apakah Shea akan mampu bertahan dengan pernikahannya? Lalu rahasia apakah yang Jamie dan keluarga Richardo sembunyikan? Sheana Zaen Xavier yang akan mengungkap semuanya satu persatu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Hampir Saja
Shea memilih diam tak menanggapi perkataan Jamie yang menurutnya terlihat sangat berbeda dengan Jamie yang dia kenal. Caranya menatap, bicara bahkan gerakan tubuhnya sangat jauh berbeda dengan Jamie, suaminya. Hingga Shea teringat dengan pembicaraan yang Jamie lakukan dengan Hugo tentang kepribadian lainnya.
Di dalam hatinya Shea kembali bertanya-tanya, “James? Apakah dia kepribadian lain yang Jamie maksud saat berbicara di telepon dengan Hugo sebelumnya.”
Tampak Rega tersenyum puas saat melihat kepribadian lain Jamie mulai mengambil alih. Sejak awal Rega memang telah mengetahui kepribadian ganda yang Jamie miliki setelah kecelakaan yang dialaminya dua tahun yang lalu. Bahkan dokter yang menangani Jamie hingga saat ini adalah dokter yang bekerja dibawah kekuasaannya. Sehingga bisa dikatakan bahwa Rega telah memegang semua kelemahan Jamie selama ini.
“Kita lihat bagaimana kepribadiannya yang lain memperlakukan Shea? Aku harap kali ini sesuai ekspektasi ku,” gumam Rega yang masih memperhatikan dari dalam mobil mewahnya.
...****************...
Sementara itu, Tristan yang tidak terima Shea dijadikan target langsung memutuskan untuk mengejar pelaku yang melemparkan botol kaca itu dengan menggunakan sepeda motor milik seorang kurir yang tengah mengirimkan barang.
“Bajingan sialan, kalian urus sisanya aku akan menangkap bajingan itu apapun yang terjadi,” ujar Tristan tepat sebelum dia menarik gas sepeda motornya untuk mengejar orang tersebut.
“Waah, … Apakah dia sedang menggila?” tanya Noah yang cukup menatap kagum akan tindakan yang Tristan ambil.
“Sepertinya begitu, tapi yang pasti dia akan mendapatkan bajingan itu setidaknya dalam keadaan masih hidup. Meski sudah pasti keadaannya tidak baik-baik saja,” jawab Aaron yang masih memilih untuk mengawasi dari kejauhan, melihat Rega yang masih berada di sana. Berbeda dengan Hugo, Lysa dan para pengawalnya yang tengah berlari menghampiri keduanya.
“Ada yang aneh dengan sikap Jamie,” ujar Zef yang lebih memperhatikan Jamie dan Shea dari posisinya.
“Apakah sudah terjadi sesuatu yang belum kita ketahui? Haruskah kita juga menghampiri mereka?”
Aaron ternyata juga menyadarinya, sehingga dia meminta arahan kepada Zef yang secara tidak langsung menjadi pemimpin mereka dalam misi tersebut. Sedangkan Noah masih fokus dengan layar komputernya, entah apa yang sedang dia cari Zef dan Aaron tidak begitu memperdulikannya. Sebab mereka percaya bahwa Noah juga tengah melakukan yang terbaik untuk Shea dalam misi yang tengah mereka jalankan itu.
“Jangan dulu, ingat dengan tugas kita untuk melindungi dan mengawasi Shea secara diam-diam sampai ada perintah selanjutnya.” Melihat situasinya masih cukup baik, Zef tentu harus berpegang pada misi utamanya.
...----------------...
Namun, beralih pada Jamie dan Shea kembali sepertinya situasi yang terjadi di sana tidak sesuai apa yang Zef pikirkan. Dimana kepribadian Jamie yang bernama James itu, terlihat tidak menyukai keberadaan Shea apalagi sikap diamnya yang terus menatap tajam padanya.
“Jika kau James, maka dimana Jamie?” tanya Shea mengikuti situasi yang sedang dia hadapi, meski sempat terkejut tapi dia bisa dengan cepat untuk tetap tenang.
James tampak tersenyum sinis mendengar pertanyaan yang Shea lontarkan, lalu berkata, “Kau ingin tahu dimana dia sekarang?”
Shea hanya diam dengan tatapan yang terus tertuju Jamie, hingga James kembali berkata, “Tentu saja dia sedang tertidur sekarang. Haaah … Belakangan ini aku terus terjebak, karena Jamie terus bersikap tenang. Menyebalkan sekali, bukan?”
“Aaah … Ngomong-ngomong siapa kau?” tanya James dengan sikap arogannya.
“Tuan muda! Nyonya muda, apakah kalian baik-baik saja?” Kedatangan Hugo bersama dengan Lysa dan para pengawal seketika mengalihkan perhatian James dan Shea.
“Astaga, Sayangku Lysa juga ada di sini rupanya,” ujar James yang berniat memeluk Lysa, tapi Shea lebih dulu menarik kerah baju bagian belakang yang Jamie kenakan saat itu.
Apa yang Shea lakukan tentu mengundang kemarahan James. Ingat, yang saat ingin menguasai tubuhnya Jamie adalah kepribadian gandanya, bukan Jamie sehingga Shea di depannya seolah bukan siapa-siapa dan bahkan hanya dianggap orang asing.
“Yakh, beraninya kau—”
“Diamlah! Dan jangan menyentuh wanita lain seenaknya dengan menggunakan tubuh suamiku. Apa kau mengerti?” potong Shea dengan tatapan tajamnya yang tak ingin di bantah.
“Siapa kau? Berani sekali kau mengaturku … Tunggu, ‘Suamiku’ katamu? Jamie, si bajingan pengecut itu menjadi suamimu?” James tertawa meremehkan.
“Kita lihat, bagaimana ekspresi Jamie saat tahu bahwa istrinya mati ditangannya sendiri.”
James langsung mencengkeram leher Shea dengan kuat secara tiba-tiba disaat Shea sedang lenga. Tapi detik berikutnya, Shea langsung menendang tulang kering James dan memukul lehernya hingga pingsan.
Duagh....
Bughh....
“Aish, mengejutkan aku saja!” ujar Shea sembari menghela napas lega, “Lysa, pesan penginapan untuk malam ini dan pastikan tidak ada orang lain di dalam penginapannya. Dan Hugo bawa Jamie bersamamu,” sambungnya.
“Ba-baik, Nyonya muda!” sahut Hugo dan Lysa yang langsung melakukan tugasnya masing-masing.
Sontak kejadian itu tidak luput dari pandangan Rega, Zef, Aaron dan Noah yang masih memperhatikan dari posisi masing-masing. Melihat Shea yang bisa mengendalikan James dengan mudah, tentu membuat Rega merasa kecewa untuk kesekian kalinya dan memilih untuk kembali.
“Kita kembali saja,” perintah Rega pada anak buahnya.
“Baik, Tuan!” sahut Jake yang langsung menyalakan dan melajukan mobilnya.
“Sepertinya aku salah menilainya sejak awal. Siapa sangka dia wanita yang jauh lebih menarik dari yang aku bayangkan,” gumam Rega dengan seringai penuh arti yang terus tersungging di bibirnya.
“Apa yang akan anda lakukan selanjutnya, Tuan?” tanya Jake penasaran dengan rencana Tuannya.
Rega tidak berniat untuk menjawabnya, dia hanya menunjukkan senyuman penuh arti yang terlihat mengerikan. Tentu saja, apa yang dia rencanakan selanjutnya akan cukup menarik baginya dan berbahaya bagi Jamie dan Shea. Tapi sesuai yang dia bicarakan dengan Cesar sebelumnya, dia tidak akan bergerak untuk sementara waktu.
Begitu melihat Rega dan anak buahnya sudah pergi, Zef langsung mengajak Aaron dan Noah untuk menghampiri dan memastikan keadaan Shea yang tadi hampir di cekik oleh Jamie sendiri. Persetan dengan misi, jika Shea terluka sedikit saja maka mereka yang akan menerima hukuman terberatnya.
“Shea! Kau baik-baik saja?”
“Coba aku lihat mana yang luka?”
“Dimana bajingan itu, Hah? Biar aku membunuhnya?”
“Berani sekali dia mau menyakitimu di depan mata kami!”
“Memang cari mati sepertinya dia!”
Zef, Aaron dan Noah terus mencecar Shea dengan berbagai pertanyaan tidak lupa membolak-balikan tubuh Shea seperti gorengan untuk memastikan bahwa memang tidak ada luka sedikitpun di tubuh cucu kesayangan sang mafia itu.
“Sudah cukup! Aku baik-baik saja,” teriak Shea menghentikan aksi gila kedua paman angkatnya itu dan juga Noah.
“Ngomong-ngomong kenapa kalian bertiga bisa ada di sini? Dan sejak kapan kalian berada di Negara ini?” Sepertinya gantian Shea yang mencecar ketiganya.
Bersambung ….
nah lo rasain Rega penderitaanmu,,, apalagi kau akan jadikan kambing hitam oleh saudara tirimu
Semangat terus Thor .