Tiba-tiba ada yang mengaku sebagai ayah kandungku!
Dia masih muda, dan kaya raya. apa dia benar ayah kandungku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oyi_jy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi hari di kantor, Hari ini Arthur sengaja berangkat pagi karena banyak yang harus dia urus. Arthur berniat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan Erik dan bawahannya.
Di ruangan Arthur, Alan dan Dhika sudah sibuk dengan laptop masing-masing, Indra sedang menelpon pengacara dan kepolisian. Rencana mereka adalah menyebar luaskan bukti-bukti dan informasi yang mereka dapatkan selama ini.
"Kalian sudah siap?" Tanya Indra.
"Iya, sangat siap om" jawab Alan, Dhika mengangguk.
"Kita mulai sekarang kak?" Tanya Indra.
"Hm.. lakukan" jawab Arthur.
Indra menelpon seseorang
📱*Siarkan* perintah Indra.
Alan meretas semua televisi yang ada di perusahaan, agar semua televisi yang ada di perusahaan hanya fokus pada 1 stasiun televisi.
Dhika, meretas cctv semua perusahaan untuk memantau pergerakan orang-orang, terutama Ceo Erik.
Arthur dan Indra meminta siaran tersebut.
Kini semua televisi sudah fokus hanya pada 1 channel televisi.
Di luar ruangan Arthur, tepatnya semua orang perusahaan melihat ke arah televisi yang tiba-tiba berganti dengan sendirinya dan menampilkan video pengakuan dari Dhika, setelah video pengakuan Dhika, bukit-bukit bahwa Ceo Erik menyuap karyawan, pengakuannya yang ingin merebut posisi Arthur lewat Ardi, video mesum nya bersama Rita dan identitas orang-orang yang membantu Erik selama ini mereka tampilkan.
Tentu saja semua orang terkejut melihat semua itu, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, karena Ceo Erik terkenal ramah dan baik.
Di ruangan keamanan, orang-orang yang mengkhianati Arthur, sudah tidak tahu harus bagaimana, mereka ketakutan dan saling menyalahkan satu sama lain.
Sementara itu di ruangan Erik, dia sedang bersama Rita. Melihat semua rencananya sudah ketahuan, dia hanya terduduk lemas, Rita pun demikian.
Mereka yang awalnya sangat percaya diri bahwa Arthur gampang di bodohi seperti kakaknya Ardi, kini mereka justru jatuh ke dalam kebodohan mereka sendiri.
-------
Di ruangan Arthur, Erik, Rita dan beberapa bawahan Erik sudah di ada di ruangan Arthur, Mereka semua menundukkan kepalanya.
Arthur menatap tajam semua orang yang ada di depannya.
Ceo Erik menatap Arthur
"Kenapa?! Ada yang mau di katakan?!" Tanya Arthur.
"Darimana kau dapat semua itu?" Tanya Erik
"Huh... kau tidak melihat orang yang di sana" tunjuk Arthur, pada Alan, Indra dan Dhika.
"Dan, dia" Arthur membalikkan laptopnya, agar menghadap ke Erik.
"Mereka yang membantuku, mendapatkan semua bukti ini" Arthur menunjuk map coklat yang ada di mejanya.
Erik menatap laptop Arthur, dia melihat Arfi di sana.
"Arfi, kenapa dia...??" Batin Erik
"Kau hanya memiliki beberapa orang di belakangmu kenapa bisa??! dan kau pekerjakan anak kecil ??!!." Ucap Erik
"Hei... ternyata kau belum tahu ya... yang kau sebut anak kecil itu adalah Anakku, dan dia bukan anak kecil biasa, dia lebih pintar darimu Erik!!" ucap Arthur
"Haaaahhh... sudahlah.. bawa dia, aku muak melihat wajahnya" ucap Arthur
"Baik tuan" jawab Indra.
2 orang polisi masuk ke ruangan Arthur, dan membawa Erik.
"Bawa wanita itu dan manager itu juga, aku tidak mau melihatnya!!!!" Ucap Arthur
Indra mengangguk, dan 4 orang polisi wanita masuk ke ruangan, membawa Rita dan manager wanita.
"Arthur maafkan saya.. saya akan menjadi istri dari Ardi, kau akan menjadi adik iparku, seharusnya kau tidak begini!!" Teriak Rita.
"Ck.... aku tidak sudi punya kakak ipar sepertimu" ucap Arthur.
"Apaaaaaa!!!!.... tidak, tolong maafkan aku!!! Arthur!!!...." teriak Rita.
"Berisik...!!!!!!" Teriak Indra.
Arthur berdiri dan mendekat ke 4 orang yang bertugas di keamanan, Arthur berdiri tepat di depan mereka.
"Saya benar-benar kecewa, padahal saya sangat percaya pada kalian, tapi kalian malah mengkhianati saya. Bersikaplah kooperatif nanti, jika ingin hukuman kalian di ringankan, pergilah" ucap Arthur.
Mereka keluar dari ruangan Arthur dengan menundukkan kepalanya.
Arthur mendekat ke sofa, dan menjatuhkan dirinya ke sofa .
"Haaaahhh.... " Arthur menghela nafas.
"Ayah tidak apa-apa?" Tanya Alan
"Ayah tidak apa-apa Alan" jawab Arthur.
"Setelah ini, banyak yang harus kita kerjakan, mencari sekretaris baru dan orang-orang yang mengatur keamanan perusahaan yang dapat kita percaya" ucap Arthur
"Aku akan mengurusnya kak" sahut Indra.
"Baiklah, terima kasih. Jika butuh sesuatu bilang padaku" jawab Arthur.
--------
Sementara itu di Negara X, di Apartemen mewah milik Ardi. Ardi sedang menunggu kabar dari Erik atau Rita.
"Huh.. apa yang mereka lakukan, kenapa akhir-akhir ini jarang membalas pesanku!!" Kesal Ardi.
Triing... Triiingg.... bunyi notifikasi ponsel Ardi.
Ardi membuka ponselnya, dan membaca notifikasi tersebut.
"Apa ini... CEO perusahaan Nalendra grup menjalin hubungan dengan sekretaris baru Presdir Arthur"
"CEO perusahaan Nalendra grup, ingin menjadi Presdir di Nalendra grup"
"Apa maksud dari semua ini!!" Ucap Ardi .
Ardi membuka Artikel tersebut dan membaca secara keseluruhan, di akhir artikel itu ada video yang memperlihatkan Erik dan Rita.
"Apa ini..!!! Berani-beraninya kalian!!!" Teriak Ardi, melempar ponselnya sampai terjatuh ke lantai.
"Sialan kau Erik.!!! Jadi selama ini kau baik dan selalu membantuku karena ingin mendapatkan perusahaan.. cih.. brengsek!!!" Kesal Ardi
"Dan kau Rita, berani sekali kau mempermainkan ku!!!" Kesal Ardi lagi.
Triiingg... Triiing... triing..... bunyi ponsel Ardi.
Ardi mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang menelepon.
"Nomor tidak di kenal?.. aku kira Rita atau Erik" ucap Ardi.
Ardi mengangkat panggilan itu
📱*Hallo, siapa ini?" Tanya Ardi
📱*Hallo kak, bagaimana kabarmu?" Ucap Arthur
📱*Kak?.. siapa yang kau panggil kak?* Tanya Ardi
📱*Huh... buka panggilan video mu kak* ucap Arthur
Ardi mengernyitkan dahinya, dan membuka panggilan video.
📱*Arthur.!!!* Ucap Ardi
📱*Yo.... rupanya kakak masih mengingatku* ucap Arthur
📱*Dari mana kau mendapatkan nomor ponselku?!* Tanya Ardi
📱*Dari mana lagi, ya CEO Erik.. ah maksudku Mantan CEO* ucap Arthur, tersenyum.
📱*Cih.... sudahlah.. tidak usah panjang lebar, apa maumu?* Tanya Ardi
📱*Melihat reaksimu, sepertinya kau sudah melihat berita hari ini kak. Yaa... aku hanya memastikan kalau kakak baik-baik saja setelah di bohongi orang kepercayaanmu* ucap Arthur.
Ardi mengeram kesal.
📱*Ini sudah 11 tahun, apa kau ingin seperti itu terus kak? Kau tidak ingin berubah jadi lebih baik?*📱
📱*Jadi lebih baik katamu?!.. jika aku berubah menjadi orang yang baik, apa kau akan memberikan perusahaan untukku?" Jawab Ardi.
📱*Tentu saja, aku akan memikirkannya dan berunding bersama ayah dan kak Arfi* jawab Arthur
📱*Arfi.??? Maksudmu?* Tanya Ardi
📱*Ahh..benar juga kau belum mengetahuinya. Kak Arfi sudah pulang, dia tinggal bersama Ayah dan Istrinya sekarang. Kak Arfi juga membantuku di perusahaan* ucap Arthur.
Terlihat raut wajah Ardi, terlihat muram.
📱*Sepertinya kau lelah kak, istirahat lah. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu* ucap Arthur lagi, dan panggilan video terputus.
Ardi menjatuhkan ponselnya, menundukkan kepalanya.
"Apa aku sudah kalah?" Gumam Ardi
"Apa aku benar-benar sudah kalah?" Gumam ardi lagi
"Kau sudah kembali rupanya, Arfi" gumam Ardi
"Inikah balasannya, atas perbuatan ku di masa lalu" gumam Ardi.
"Aku yang membuat perusahaan ayah hampir bangkrut, melimpahkan semua kesalahan pada Arfi, dan membuat Arfi di usir dari rumah, Haaaahhh..... banyak sekali kesalahanku padanya" gumam Ardi.
"Kau sangat konyol Ardi, kau tahu kesalahan mu... dan keluargamu mengetahui semuanya, tapi tetap saja kau menginginkan perusahaan itu tadi. Arthur pasti menertawakan kebodohan ku" gumam Ardi lagi.
--------
Masih di kantor, Arthur yang baru saja selesai menelpon Ardi, menyandarkan kepalanya di kursi.
"Apa Ardi tidak marah kak?" Tanya Indra
"Tidak, lebih tepatnya dia sangat menyedihkan. Masih sempat-sempatnya meminta perusahaan setelah semua ini, kalau saja dia benar-benar berubah, aku akan memikirkannya memberikan posisi ini padanya" jawab Arthur
"Begitu ya" sahut Indra.
"Alan di mana?" Tanya Arthur, melihat Alan tidak ada di ruangannya.
"Tadi keluar sama Dhika, katanya mau beres-beres ruang keamanan" jawab Indra.
"Apa!!.. kenapa kau membiarkan anakku beres-beres, panggil dia dan biarkan orang lain yang membereskannya" ucap Arthur.
"Hei... kak, itu kan ruangan yang tidak sembarangan orang bisa masuk, kenapa sekarang kau jadi pelupa kak??, Padahal umurmu masih belum tua-tua amat" ucap Indra, kesal.
"Sialan kau ndra.!!! Panggil Alan dan kau yang beres-beres ruangan itu, sekarang!!" Ucap Arthur
"Apa!!!.. kenapa aku yang beres-beres, kan masih banyak orang di perusahaan ini" jawab Indra
"Huh... kau tadi bilang kalo ruangan itu tidak bisa di masuki sembarang orang kan, aku menyuruhmu karena kau orang kepercayaan ku. Sepertinya kau yang pelupa ndra!!" ucap Arthur.
"Haaaahhh.... oke.. oke... siap bos, aku pergi ke sana nih, beres-beres kan? Oke.. siap laksanakan" jawab Indra, dan keluar dari ruangan Arthur.
Tak lama, Alan masuk ke dalam ruangan Arthur.
"Ada apa ayah? Kenapa panggil Alan" tanya Alan
"Oh, kau sudah kembali. Duduklah, ada yang ayah mau omongin." Jawab Arthur
Alan duduk di sofa depan Arthur.
"Ngmongin tentang apa yah?" Tanya Alan.
"Ayah mau tanya, bagaimana pendapatmu tentang Dhika?" Tanya Arthur.
"Kak Dhika?. Kenapa memangnya?" Tanya Alan
"Ayah mau memberikan hadiah untuknya, tapi sebelum memberinya hadiah ayah ingin tahu seperti apa Dhika di matamu" Jawab Arthur
"Hmm.. begitu ya... kak Dhika itu orangnya pendiam, soal pekerjaan dia sangat cepat, ayah sudah tahu itu kan. Lalu dia dapat di percaya tentunya, itu pendapat Alan" ucap Alan.
"Hmm...kalo begitu, apa ayah naikan jabatannya saja sebagai hadiah?" Tanya Arthur.
"Itu terserah ayah, karena ayah bos nya" jawab Alan.
"Haaaahhh.. ya baiklah, ayah akan memikirkannya lagi" ucap Arthur.
"Ayah, apa Alan juga bisa memberikan hadiah buat kak Dhika?" Tanya Alan.
"Hm... tentu saja, apa yang ingin Alan berikan?" Tanya Arthur
"melunasi semua hutang-hutangnya" jawab Alan
"Hutang??" Tanya Arthur
"Iya, Alan pernah menyelidiki secara keseluruhan tentang kak Dhika, keluarganya memiliki hutang di bank, Alan ingin melunasinya sebagai hadiah" jawab Alan
"Tapi.. tunggu nak, setahu ayah gaji perbulan di perusahaan cukup besar, kenapa dia sampai punya hutang?" Tanya Arthur.
"Ada suatu kejadian, keluarga kak Dhika tertipu dengan rekan bisnisnya, yang mengakibatkan kerugian besar bagi kak Dhika, dan setelah kejadian itu ibunya sakit-sakitan, itulah kenapa kak Dhika terpaksa berhutang untuk mengobati penyakit ibunya" jawab Alan.
"Begitu ya... kasihan sekali dia.. baiklah, ayah setuju denganmu. Nanti bicarakan sama Indra, dia pasti akan mengurusnya" ucap Arthur.
"Baik ayah, terima kasih banyak" ucap Alan
"Sama-sama nak" jawab Arthur
"Kenapa ayah tidak bertanya berapa yang harus di lunasi. Seingat ku ada ratusan juta atau lebih ya??. aku lupa" batin Alan.
"Ayah, kapan kita pulang?" Tanya Alan
"Sebentar lagi, ada apa?" Tanya Arthur
"Sepertinya, Alana sudah merindukanku sekarang" jawab Alan.
"Hahaha... ada-ada saja kamu, ya sudah kita pulang sekarang saja" ucap Arthur.
Bersambung...