Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapis Surabaya Dari Galang
Vina menatap Candra yang sedang tidur memeluk guling. Cewek itu datang ke rumah Vina hanya untuk menumpang tidur ternyata. Vina memijit pelipisnya, tiba- tiba rasa pusing itu kembali menyerangnya. Akhirnya Vina menuju kamar Faris untuk tidur di sana. Sementara beberapa menit kemudian setelah Vina meninggalkan kamarnya, Candra terbangun.
“Hoam,” Candra menguap lebar, matanya menatap sekitar.
“Gue dimana ya?” gumam Candra.
Candra pun beranjak darisana dan berjalan keluar kamar itu. Cewek itu mengangguk, ia baru ingat jika sekarang berada di rumah Vina.
“Bunda masak apa?” tanya Candra yang melihat Bunda sedang mengiris bawang di dapur.
“Oh? Candra? Baru bangun ya?”
“Iya, Bun. Mau Candra bantu?” tawar Candra.
“Boleh, kamu iris sayurannya ya?”
Candra mengangguk segera mengambil pisau dan talenan. Ternyata Bunda hendak memasak sayur sop. Candra tau saat melihat bahan yang ada di depannya.
“Sekali- kali ajarin Vina masak, Can. Bunda khawatir kalau dia sudah menikah, mau dikasih makan apa suaminya nanti,” ucap Bunda disela pekerjaannya.
“Candra ngeri, Bun mau ajarin Vina masak. Cara pegang pisaunya kayak psikopat.”
Setelah mengucapkan hal itu, Candra mendapat tabokan maut dari Bunda.
Candra tersenyum puas melihat masakannya bersama dengan Bunda tertata rapi di meja makan. Pasti banyak yang tidak menyangka, jika dibalik sikap petakilan Candra, ternyata cewek itu pandai memasak. Memang Tuhan maha adil.
“Pinter ya lo, makanan udah mateng baru bangun. Bukannya bantuin masak tadi,” sindir Candra melihat Vina yang duduk tenang di meja makan.
“Gue lagi sakit, Can,” jawab Vina dengan wajah dimelaskan.
“Hilih sikit. Makan tuh, sayur kol… eh sayur sop pake daging ayam.”
Akhirnya dua anak itu pun menikmati makan siangnya bersama di meja makan. Mereka berdua sengaja tidak menunggu dua anak Pak Cahyo yang lain.
“Lho? Kalian nggak nunggu abang sama adek?” tanya Bunda meletakkan sepiring tempe goreng.
“Mana sempat? Keburu laper,” jawab Vina dan setelahnya mendapat jitakan dari Candra.
“Candra tadi udah bilang sama Vina, Bun. Eh Vina- nya yang ngajak Candra makan sekarang.”
“Fitnah lo, Syamsul.”
“Assalamualaikum, epribadeh,” teriak seseorang dari luar.
“Tuh udah pulang, Bun.”
“Faris, ganti baju terus makan siang!” perintah Bunda dan kembali ke dapur.
Kini di meja makan ada Vina, Candra, dan Faris. Sepertinya Eky akan pulang sore karena ada pemadatan materi, cowok itu juga sedang try out. Selesai makan siang, Vina meminum obatnya. Tiga anak itu duduk di sofa ruang keluarga dan menonton film di bus yang saat itu belum sempat di tonton sampai habis. Candra ternyata yang minta film itu ke Lia.
“Can, bagi tau gue kapan setannya muncul,” pinta Vina.
“Ogah, gue nggak mau spoiler ya.”
Sementara Faris hanya diam menikmati tontonan itu dengan nyemil kuaci milik Oren. Entah kemana perginya Oren, Faris seakan lupa.
“Huwaaa!” teriak Vina membuat Faris hampir saja tersedak.
“Ish, Kak Vina nggak usah teriak lebay gitu dong,” kesal Faris.
Sementara Candra masih duduk anteng menonton film itu dengan khidmat. Sesekali mulutnya mengunyah keripik kentang.
Hampir dua jam mereka menonton film itu, Candra pun pamit hendak pulang. Ternyata sepupu Candra sudah ada di depan rumah Vina. Namun langkah Candra terhenti melihat sebuah mobil berhenti di depannya. Cewek itu membulatkan matanya melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
“Omo! Kak Galang? Mau jenguk Vina ya?” tanya Candra heboh, membuat sepupunya mengernyit heran.
“Iya, gue denger dia sakit ya?”
Candra mengangguk, “Masuk aja, Kak. Gue mau balik.”
“Oke, hati- hati di jalan ya?” pesan Galang dengan senyum manis.
Setelah melihat kepergian Candra, Galang pun berjalan menuju pintu rumah Vina dan mengetuknya. Tidak membutuhkan waktu lama hingga pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Vina dengan baju rumahan. Ekspresinya terlihat terkejut melihat kedatangan Galang.
“Lho Kak Galang? Masuk, Kak.”
Galang tersenyum dan mengangguk, cowok itu mengikuti langkah Vina dan duduk di sofa ruang tamu.
“Mau minum apa, Kak?”
“Nggak perlu, Vin. Gue Cuma sebentar doang. Oh ya, nih buat lo,” jelas Galang dan memberikan bungkusan yang berisi kue.
“Makasih, Kak. Lo harusnya nggak perlu repot- repot.”
“Nggaklah. Kalo lo udah sembuh, gue mau ajak lo ke suatu tempat.”
Vina mengernyit, “Kemana?”
"Tunggu lo sembuh dulu, oke?” tanya Galang dengan senyum pasta giginya.
Setelah kepulangan Galang, kini Vina duduk manis di depan televisi. Bersama dengan Faris yang masih ngemil, entah sekaret apa perut bocah itu. Kepala Vina juga sudah tidak pusing, demamnya pun sudah turun. Itu semua berkat obat dari Dokter Parwujin yang kemarin tetap sabar memeriksa Vina.
“Kak Galang tadi bawa apa, Kak?” tanya Faris tanpa menoleh, bocah itu masih fokus pada layar kaca yang sedang menayangkan sinetron kesukaannya.
“Bang Eky belum pulang ya?” tanya Bunda yang muncul tiba- tiba dari dapur.
“Belum, Bund. Masih pemadatan kayaknya,” jawab Vina.
“Bawa jas hujan nggak si abang? Udah mendung ini.”
“Bawa kayaknya, Bund. Bunda khawatir banget Bang Eky kehujanan.”
“Bunda khawatir karena kalo Bang Eky kena hujan, jadi makin buluk,” celetuk Faris.
PLAK!
Suara itu diselingi dengan teriakan histeris Faris, sementara Vina hanya meringis seperti ikut merasa sakit.
“Uang jajan kamu, Bunda diskon,” ucap Bunda dan masuk ke kamar.
“Mampus lo,” ledek Vina.
“Ih, Bunda. Jangan potong uang jajan Faris! Besok Faris mau beli layang- layang.”
Faris mengejar Bunda untuk membujuk agar tidak memotong uang jajannya. Sementara Vina hanya menggelengkan kepala merasa heran dengan tingkah absurd saudaranya itu. Vina segera meraih remot TV itu dan menganti channel yang tadi menayangkan adegan tampar- tamparan.
Petang tiba, hujan mengguyur bumi. Cuaca seperti ini enak untuk rebahan dan makan atau minum yang hangat- hangat. Namun Vina dilarang Bunda untuk membuat indimie kuah rasa sambal goreng, karena ia sedang sakit. Akhirnya Vina hanya rebahan di sofa ruang keluarga dengan mata masih fokus pada layar kaca didepannya.
“Kenapa isinya sinetron semua sih?” dumel Vina kesal.
“Daripada makan mie instan, makan ini aja,” ucap Bunda meletakkan piring berisi kue.
“Assalamualaikum, abang tamvan pulang."
Bunda dan Vina serempak menoleh, dilihatnya Eky masuk rumah dengan sedikit basah. Vina mengernyit melihat penampilan kucel abangnya dengan mulut mengunyah kue itu.
“Kok baru pulang? Abang hujan- hujanan ya?” tanya Bunda.
“Tadi motor Eky bannya bocor, terus nggak bawa jas hujan. Untung ada Dafa, kita berbagi jas hujan,” jelas Eky.
Lalu tidak lama muncullah Dafa dengan tangannya sibuk mengibaskan rambut yang lembab akibat air hujan. Bunda menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat bagi dua anak itu.
“Ada kue nih?” tanya Eky melihat Vina sibuk mengunyah kue itu.
“Iya, lapis Surabaya dari Kak Galang,” jawab Vina menatap datar Dafa yang juga sedang menatapnya.
...🐈🐈🐈...
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥