Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.
Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.
Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.
Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanti Hadirnya Cinta Kecil
Minggu pagi yang cerah membawa aroma harum dari dapur. Al sedang sibuk menyiapkan pancake, sementara Cika duduk di meja makan dengan satu tangan mengelus perutnya yang mulai membuncit. Usia kandungannya telah memasuki bulan ketiga, dan setiap pagi kini terasa seperti keajaiban baru.
“Waktu cepat banget, ya,” gumam Cika sambil menatap kalender yang penuh coretan jadwal kontrol ke dokter, kelas prenatal, dan pengingat minum vitamin.
Al membalik pancake sambil tersenyum. “Tapi kita juga berubah cepat. Lihat kamu sekarang, calon ibu paling rajin dan terorganisir yang pernah aku kenal.”
Cika tertawa kecil. “Aku belajar dari kamu, Mas. Kalau kamu bisa jadi suami panutan, aku juga harus siap jadi ibu yang tangguh.”
---
Siang itu, mereka pergi berbelanja keperluan bayi untuk pertama kalinya. Meski masih awal, Cika ingin mulai mencicil—dari baju bayi netral, selimut lembut, hingga buku dongeng dengan gambar berwarna cerah. Mereka berhenti cukup lama di lorong botol susu, berdebat kecil tentang merek yang terbaik.
“Yang ini desainnya lucu, tapi yang ini katanya lebih ergonomis,” ujar Al sambil membandingkan dua kotak.
“Beli dua-duanya aja,” jawab Cika cepat. “Biar bayi kita bisa pilih sendiri nanti, hehehe.”
Di lorong popok, mereka juga berdebat manja soal motif dan ukuran. Bahkan saat memilih sarung bantal menyusui, mereka bisa menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit hanya untuk memastikan bahan yang paling nyaman.
Belanjaan mereka hari itu tidak banyak, tapi cukup untuk membuat keduanya tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
---
Di rumah, kamar bayi perlahan mulai terbentuk. Cika menempel stiker bintang di dinding, Al memasang lampu malam berbentuk awan. Tiap benda yang mereka tata selalu diiringi cerita, harapan, dan tawa kecil. Cika juga mulai belajar merajut, berharap bisa membuat selimut kecil untuk bayinya sendiri.
Suatu malam, Cika duduk di kursi goyang di sudut kamar bayi. Ia memegang jurnal kecil dan mulai menulis:
“Untuk kamu, anakku. Hari ini Mama dan Papa belanja botol susu dan bantal kecil untukmu. Kami belum tahu kamu akan perempuan atau laki-laki. Tapi kami tahu satu hal: kami sudah jatuh cinta sejak sekarang.”
Di halaman lain, ia menulis tentang kekhawatirannya, ketakutannya, dan keinginannya untuk jadi ibu yang baik. Jurnal itu menjadi tempat curhat paling jujur, tempat ia menulis saat malam datang dan rasa ragu menyapa.
---
Di tengah kebahagiaan itu, tentu ada rasa cemas yang sesekali datang. Cika pernah terbangun dari tidur karena mimpi buruk tentang kehilangan. Al menenangkan dengan pelukan dan kata-kata lembut.
“Kita sudah lebih kuat sekarang,” bisiknya. “Dan apapun yang terjadi, kita hadapi berdua.”
Mereka mulai punya ritual malam—mendengarkan musik klasik bersama sambil Cika berbaring dan Al mengelus perutnya, membisikkan kata-kata lembut.
---
Mereka juga mulai lebih terbuka ke keluarga. Ibu Al rutin mengirimkan masakan sehat, bahkan sesekali menelepon hanya untuk mendengar kabar cucunya yang masih sebesar kacang.
“Ayahmu nggak sabar bikin ayunan kayu sendiri,” kata ibu Al dalam salah satu panggilan video. “Sudah ada desainnya dari dulu.”
Cika dan Al tertawa bersama. Dukungan itu membuat semuanya terasa lebih nyata, lebih ringan.
---
Minggu sore, mereka menghabiskan waktu di taman sambil membawa buku dan buah potong. Cika menyandarkan kepala di bahu Al, sementara tangannya menggenggam erat tangan suaminya.
“Aku takut... kalau nanti aku nggak bisa jadi ibu yang baik,” bisik Cika.
“Kita belajar bareng. Sama seperti kita belajar jadi suami istri,” jawab Al lembut. “Dan kamu nggak harus jadi sempurna. Cukup jadi ibu yang penuh cinta. Itu lebih dari cukup.”
Cika mengangguk. Air matanya jatuh pelan—bukan karena sedih, tapi karena bahagia yang terlalu besar untuk ditahan.
---
Di dalam perutnya, cinta kecil itu sedang tumbuh. Dan di luar, dua hati sedang menyiapkan dunia yang paling aman untuk menyambutnya. Dunia yang dibangun dari ketulusan, dari keputusan-keputusan kecil yang saling menguatkan, dan dari kesediaan untuk menjadi tempat pulang bagi jiwa baru yang akan lahir di antara mereka.
Karena menanti bukan hanya soal menghitung hari. Tapi tentang mempersiapkan hati, ruang, dan cinta—dengan penuh kesabaran dan harapan.