Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
Bab 35
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk perlahan lewat celah tirai jendela, menyinari sisa kehangatan yang masih tertinggal di tempat tidur. Elena terbangun lebih dulu, merasakan tubuhnya yang masih terasa segar meski semalam mereka tertidur agak larut. Di sampingnya, Leonid masih terlelap, napasnya teratur dan tenang, namun tangan kekarnya tak pernah melepaskan genggaman pada pinggang Elena, seolah bahkan di dalam mimpi pun ia tak ingin memberi ruang bagi apa pun untuk memisahkan mereka.
Elena menatap wajah suaminya lama sekali. Dulu pria ini dikenal sebagai sosok yang ditakuti, dingin, dan tak pernah memberi ruang bagi kelembutan. Namun kini, di hadapannya adalah pria yang rela membuka seluruh hatinya, yang berusaha menjadi ayah dan suami terbaik meski harus belajar dari nol. Hatinya terasa penuh, penuh rasa syukur karena takdir mempertemukan mereka di jalan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Perlahan ia melepaskan pelukan itu dengan sangat hati-hati, melangkah turun dari tempat tidur agar tidak membangunkannya. Saat ia sedang merapikan tempat tidur, ia mendengar suara gerakan pelan di belakangnya. Leonid sudah terbangun, menatapnya dengan pandangan yang masih sedikit berat namun penuh perhatian.
"Kau bangun terlalu pagi," bisiknya pelan sambil duduk di tepi tempat tidur. "Tubuhmu butuh istirahat lebih banyak."
Elena tersenyum lembut menghampirinya, lalu merapikan kerah kemeja yang baru saja ia kenakan. "Aku sudah cukup istirahat. Hari ini kau ada rapat penting kan? Jangan sampai terlambat."
Leonid mengangguk pelan, lalu menarik tangan Elena agar duduk di sampingnya. "Iya, rapat dengan mitra bisnis dari luar kota. Tapi aku berjanji akan pulang lebih awal dari biasanya. Dan selama aku pergi, kau harus istirahat yang cukup. Jangan lakukan pekerjaan rumah yang berat. Suruh pelayan saja jika ada yang perlu diurus."
"Aku janji," jawab Elena lembut sambil menatap manik mata suaminya. "Kau juga hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah."
Mereka pun bersiap bersama. Leonid mengenakan setelan jas hitam rapi yang membuatnya kembali tampak berwibawa dan mengintimidasi seperti biasanya, namun sorot matanya saat menatap Elena tetap lembut dan penuh kasih sayang. Saat mereka melangkah keluar kamar menuju ruang makan, aroma masakan yang lezat sudah tercium sejak dari lorong. Kepala pelayan berdiri menunggu di ujung tangga dengan sikap hormat namun ramah.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa pelan namun jelas. "Semua sudah siap. Makanan sudah tersaji di meja makan, dan Tuan Alvaro sudah selesai dimandikan serta berpakaian rapi oleh saya."
Leonid mengangguk singkat namun ramah, sebuah perubahan sikap yang tak pernah terjadi saat Elena pertama kali datang ke rumah ini. "Bagus. Terima kasih atas bantuannya."
Saat mereka memasuki ruang makan, Alvaro sudah duduk rapi di kursi kecilnya, mengenakan pakaian sekolah yang bersih dan wangi, rambutnya tersisir rapi. Begitu melihat kedua orang tuanya masuk, wajah anak itu langsung berseri-seri dan ia melambaikan tangan riang.
"Papa! Mama!" serunya riang ingin melompat turun, namun segera diingatkan pelayan untuk tetap duduk sopan.
Elena segera menghampiri putranya, mencium keningnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang. "Wah, Alvaro sudah wangi sekali dan berpakaian rapi. Terima kasih ya sudah menurut."
Alvaro tersenyum lebar menatap ayahnya yang kini berdiri di samping mereka. "Tadi Bibi kepala pelayan yang mandikan Alvaro. Alvaro tidak rewel, janji."
Leonid mengusap kepala putranya dengan lembut, tatapan tajamnya melebur seketika saat melihat wajah polos itu. "Anak Papa memang pintar. Papa berangkat kerja dulu ya. Belajar yang rajin di sekolah, dan dengarkan perkataan Mama."
"Iya, Pa! Papa hati-hati ya!" jawab Alvaro mantap.
Mereka pun duduk bersarapan bersama. Meja makan sudah penuh dengan hidangan hangat yang disiapkan dengan teliti oleh para pelayan. Suasana terasa hangat dan hidup, tak lagi dingin dan kaku seperti dulu. Leonid sesekali bertanya pada Alvaro tentang persiapan sekolahnya, sesekali melirik Elena dengan tatapan perhatian, memastikan istrinya makan dengan lahap dan merasa nyaman. Elena pun sesekali menyuapi putranya atau sekadar mengobrol santai, menikmati momen sederhana yang begitu berharga ini.
Setelah selesai makan, Leonid berpamitan dengan mencium kening Elena dan Alvaro bergantian. "Aku berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik."
"Papa juga hati-hati," bisik Elena lembut.
Melihat mobil Leonid perlahan meninggalkan halaman rumah, hati Elena terasa tenang namun penuh harapan. Ia kembali masuk ke dalam rumah, memastikan Alvaro sudah siap berangkat sekolah, lalu menyerahkannya pada sopir yang sudah menunggu. Setelah kepergian putranya, rumah kembali sunyi, namun kesunyian ini terasa berbeda bukan lagi kesepian yang menakutkan, melainkan ketenangan yang damai.
Elena berjalan perlahan menyusuri ruangan, merenungi perjalanan hidupnya yang begitu luar biasa. Dari seorang pekerja keras yang hidup sederhana di apartemen kecil, kini ia menjadi nyonya rumah yang besar, memiliki suami yang menyayanginya, dan anak yang begitu tulus mencintainya. Dan kini ada harapan baru yang tumbuh di hati mereka berdua, harapan untuk melengkapi keluarga kecil ini.
Ia duduk sejenak di beranda belakang, memandangi taman yang hijau dan asri. Kepala pelayan menghampirinya dengan segelas minuman hangat, lalu berdiri hormat di sampingnya.
"Nyonya, jika ada yang diperlukan atau Nyonya ingin beristirahat, silakan beritahu saya," ucapnya sopan. "Tuan pesan agar Nyonya tidak kelelahan."
Elena tersenyum lembut. "Terima kasih. Aku hanya ingin duduk sebentar di sini saja. Kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan, biarkan aku yang mengerjakannya pelan-pelan saja."
"Baik, Nyonya. Namun Tuan sangat berpesan agar Nyonya banyak beristirahat," tegas kepala pelayan itu dengan nada tetap sopan namun penuh perhatian.
Elena mengangguk pelan, menyadari betapa besarnya perhatian yang diberikan Leonid padanya. Ia pun memutuskan untuk menuruti permintaan suaminya, beristirahat sejenak di kamar sambil sesekali merapikan barang-barang kecil yang ada, menunggu waktu menjemput Alvaro pulang sekolah dan menanti kepulangan Leonid dengan hati yang penuh kasih sayang.
Sepanjang hari itu, Elena mencoba menikmati setiap detik keheningan yang ada. Ia merawat diri dengan baik, menjaga pikirannya tetap tenang dan penuh rasa syukur. Ia tahu bahwa apa pun hasil dari penantian mereka nanti, semuanya adalah kehendak terbaik dari Tuhan. Dan selama ia memiliki Leonid dan Alvaro di sisinya, ia yakin tak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul, tak ada rintangan yang tak bisa dilewati bersama.
Saat matahari mulai condong ke barat, ia bersiap pergi menjemput Alvaro ditemani pengawal. Dan saat melihat putranya berlari riang menyambutnya, hatinya kembali penuh bahagia. Nanti malam, saat Leonid pulang, mereka akan kembali berkumpul, menceritakan hal-hal kecil yang terjadi hari ini, dan kembali berdoa bersama agar harapan kecil mereka segera terwujud.
BERSAMBUNG...