Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Momen Sepulang Siaran
Mobil Lexus hitam yang dikendarai sopir pribadi Reno membelah jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan. Di kursi belakang, keheningan yang nyaman tercipta di antara Reno dan Aura. Kelelahan usai siaran perdana perlahan terbayar oleh rasa hangat yang mengalir dari jemari Reno yang tak pernah lepas menggenggam tangan Aura.
Reno menoleh, memperhatikan wajah sang istri yang tampak sedikit lelah namun memancarkan binar kebahagiaan.
"Capek ya, sayang?" tanya Reno lembut. Handphone-nya yang terus berdering menawarkan urusan bisnis rumah sakit dan gurita usahanya sengaja ia simpan di dalam saku jas. Saat ini, fokus utamanya murni hanya untuk wanita di sampingnya.
Aura menyandarkan kepalanya di bahu tegap Reno, menikmati kehangatan aroma parfum maskulin sang suami yang amat menenangkan.
"Sedikit, Mas... tapi aku bahagia banget hari ini. Terima kasih ya, Mas sudah meluangkan waktu buat menemani dan membela aku di studio tadi," bisik Aura tulus.
Reno tersenyum menawan. Tangannya terangkat, mengusap bahu Aura yang terbalut blazer dengan lembut. "Mas akan selalu ada untuk melindungi dan mendukungmu. Mas bangga sekali melihat performamu hari ini. Istri Mas benar-benar luar biasa di depan kamera."
Pipi Aura merona hangat di balik kerudungnya. Pujian sederhana namun tulus dari suaminya selalu berhasil membuat jantungnya berdebar manis.
Tak lama kemudian, mobil mewah itu memasuki penthouse mereka. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah yang hangat dan tenang, Aura langsung menyiapkan secangkir teh hangat untuk Reno, melepaskan blazer resminya, dan menggantinya dengan pakaian rumah yang lebih santai.
Di ruang keluarga, Reno yang sudah melepas jasnya kini duduk santai di sofa. Pria itu menyambut cangkir teh yang disodorkan Aura, lalu menarik pelan tangan istrinya agar duduk tepat di sampingnya.
"Gimana perasaanmu setelah kembali ke studio berita?" tanya Reno seraya menyesap teh hangatnya pelan.
Aura menatap suaminya dengan binar mata yang jernih. "Rasanya seperti menemukan kembali bagian dari diri aku yang sempat hilang, Mas. Dulu aku sempat berpikir tidak akan pernah bisa berdiri di panggung itu lagi setelah semua fitnah itu... Tapi sekarang, bersama Mas Reno, aku merasa punya tempat yang aman untuk berkarya."
Reno meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu berbalik menghadap Aura sepenuhnya. Pria tegap itu menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Aura Zhafira.
"Masa lalu itu sudah selesai, sayang. Mulai sekarang, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menjatuhkanmu lagi. Mas yang akan jadi benteng terdepan untuk menjaga senyum dan impianmu," janji Reno dengan suara baritonnya yang mantap dan sarat akan komitmen.
Mata Aura berbinar haru. Ia maju mendekat dan memeluk erat tubuh kekasih halalnya itu. Reno membalas pelukan sang istri dengan protektif, mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Aura yang terbalut kerudung instan rumahan.
Malam pun semakin larut, melingkupi kediaman mereka dengan atmosfer yang kian sunyi, damai, dan intim. Setelah menyelesaikan makan malam sederhana yang penuh dengan obrolan ringan dan tawa kecil, mereka berdua memutuskan untuk berpindah ke dalam kamar utama. Kamar berukuran luas itu terasa begitu hangat, berkat pendar lampu tidur berwarna kekuningan yang temaram, menciptakan siluet romantis di setiap sudut ruangan dan menyembunyikan bisingnya dunia luar.
Aura baru saja selesai membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun tidur satin panjang berwarna marun, senada dengan warna kulitnya yang bersih dan cerah. Rambut panjangnya yang hitam, tebal, dan legam sengaja dibiarkan terurai bebas tanpa hijab, menyebarkan aroma harum sampo melati yang segar dan sangat menenangkan. Keindahan alami Aura yang kini hanya diperuntukkan bagi suaminya itu seketika menghentikan aktivitas Reno.
Reno yang saat itu sudah berganti pakaian dengan kaos katun santai, sedang bersandar di kepala ranjang king size mereka. Pandangan matanya langsung mengunci sosok Aura begitu wanita itu melangkah mendekat. Sorot matanya yang biasanya tegas, dingin, dan berwibawa di dunia bisnis, kini berubah sepenuhnya menjadi begitu lembut, dalam, dan dipenuhi oleh binar kekaguman yang tidak disembunyikan sama sekali.
"Sini, sayang," panggil Reno dengan suara rendah yang terdengar begitu seksi dan penuh kerinduan di telinga Aura. Pria itu menepuk sisi ranjang kosong di sebelahnya.
Aura tersenyum tipis, merasakan debaran yang mendadak menggila di dalam dadanya. Langkah kakinya terasa ringan namun pasti saat mendekati ranjang tempat tidur mereka. Begitu Aura duduk di tepi kasur, Reno tidak membuang waktu lagi. Sepasang lengan kekar pria itu langsung melingkar mesra di pinggang ramping Aura, menarik tubuh sang istri dengan lembut namun pasti hingga bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya yang hangat.
"Mas..." Aura berbisik lirih, tangannya refleks bertumpu pada dada Reno, merasakan detak jantung suaminya yang berdegup dengan irama yang sama cepatnya dengan miliknya sendiri.
"Biarkan seperti ini sebentar," gumam Reno, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aura yang hangat.
Pria itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Aura yang selalu menjadi candu paling menenangkan baginya setelah seharian berurusan dengan penatnya pekerjaan. Sentuhan napas hangat Reno yang menerpa kulit lehernya membuat Aura merinding halus, merasakan gelombang kenyamanan yang luar biasa. Jemari kokoh Reno perlahan merayap naik, menyisir rambut panjang Aura yang halus dengan gerakan yang sangat lembut, protektif, dan penuh kasih sayang.
"Rambutmu selalu wangi, Aura. Mas suka sekali," bisik Reno lagi, suaranya kini terdengar sedikit serak dan dalam, menandakan luapan emosi yang tertahan di dalam hatinya.
Reno kemudian menegakkan tubuhnya sedikit, membuat jarak yang sangat tipis agar ia bisa menatap langsung ke dalam manik mata jernih istrinya. Di bawah temaramnya lampu kamar, wajah Aura terlihat begitu cantik, anggun, dan polos. Ada gurat malu-malu yang membuat Reno merasa semakin gemas dan tidak ingin melepaskannya.
Dengan ibu jarinya, Reno mengusap lembut pipi Aura yang mulai merona kemerahan akibat kedekatan mereka yang begitu intens. "Terima kasih karena sudah selalu percaya pada Mas. Terima kasih karena sudah menjadi wanita yang begitu kuat menghadapi semua badai. Kamu tidak tahu seberapa besar arti kehadiranmu di hidup Mas saat ini, Aura."
Aura menatap balik mata suaminya. Di dalam manik mata gelap itu, ia tidak melihat apa-apa selain ketulusan, kesetiaan, dan cinta yang begitu besar. Rasa tidak aman atau ketakutan akan masa lalu yang sempat menghantuinya akibat fitnah kejam di dunia penyiaran, seketika menguap tanpa bekas. Di dalam pelukan Reno, ia merasa utuh dan benar-benar berharga.
"Aku yang harus berterima kasih, Mas," sahut Aura dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi yang membuncah di dadanya. Tangannya bergerak naik, menyentuh rahang tegas Reno, merasakan sedikit tekstur kasar dari janggut tipis yang tercukur rapi. "Mas Reno yang menghidupkan kembali impian aku. Kalau bukan karena Mas yang menggenggam tangan aku saat semua orang membelakangi aku, aku mungkin gak akan sebahagia ini sekarang."
Mendengar penuturan jujur dari bibir sang istri, hati Reno berdesir hebat. Perasaan Posesif dan rasa ingin melindungi wanita ini bergolak semakin kuat di dalam dadanya. Ia mendekatkan wajahnya, memangkas sisa jarak yang memisahkan mereka hingga Aura bisa merasakan kehangatan napas Reno yang memburu perlahan.
Reno menatap bibir Aura yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap matanya, seolah meminta izin untuk melangkah lebih jauh ke dalam momen intim mereka malam ini. Aura tidak menarik diri sama sekali; wanita itu justru memejamkan matanya perlahan, sebuah tanda kepatuhan, kepercayaan, dan penyerahan diri yang utuh kepada sang suami tercinta.
Seketika itu juga, Reno mendaratkan bibirnya di atas bibir Aura dengan penuh kelembutan.
Sentuhan pertama itu terasa begitu manis, sebuah kecupan hangat yang sarat akan rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam dari seorang suami. Namun, perlahan tapi pasti, seiring dengan detak jantung yang kian berkejaran, kecupan itu berubah menjadi sebuah lumatan yang lebih dalam, hangat, dan menuntut. Reno memiringkan kepalanya sedikit, memperdalam pagutan mereka, menyalurkan seluruh rasa cinta, gairah, dan komitmen yang selama ini tertanam kuat di dalam jiwanya untuk selalu membahagiakan Aura.
Aura mendesah pelan di sela-sela ciuman mereka yang semakin intens. Tangannya yang semula berada di rahang Reno kini berpindah, melingkar erat di leher tegap suaminya, mencoba mencari pegangan karena rasa melayang yang tiba-tiba menguasai seluruh kesadarannya. Setiap sentuhan hangat Reno terasa seperti aliran listrik yang menghangatkan seluruh tubuhnya, membuatnya pasrah dalam dekapan sang suami.
Reno mempererat dekapannya pada pinggang Aura, membawa tubuh mungil itu semakin menempel erat tanpa jarak pada tubuh tegapnya. Tangan kanannya turun menelusuri punggung Aura yang terbalut kain satin tipis, memberikan usapan-usapan menenangkan namun membakar gairah romantis yang tersembunyi di antara mereka. Ciuman mereka mengalun begitu indah, berirama, dan penuh penjiwaan, seolah dunia di luar kamar mereka saat ini sudah tidak ada lagi yang penting. Hanya ada Reno dan Aura, menyatu dalam ikatan suci pernikahan yang kian menguat seiring berjalannya waktu.
Ketika pasokan udara mereka mulai menipis, Reno dengan enggan melepaskan pautan bibir mereka berdua. Namun, ia tidak menjauhkan wajahnya sedikit pun. Pria itu mengecup sudut bibir Aura yang basah, lalu turun memberikan kecupan-kecupan hangat di sepanjang rahang istrinya, hingga akhirnya berhenti di ceruk leher Aura yang sensitif.
"Ah... Mas..." Aura melenguh lirih saat Reno memberikan kecupan dalam dan isapan lembut di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang samar namun nyata di kulitnya yang halus. Jari-jari tangan Aura meremas kaos di bahu Reno dengan erat, berusaha menahan sensasi luar biasa yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat sentuhan intim tersebut.
Reno tersenyum tipis di sela ciumannya di leher Aura, merasa sangat bahagia karena berhasil membuat istrinya benar-benar tak berdaya dan merasa dicintai dalam dekapannya. Ia kembali menegakkan wajahnya untuk menatap Aura yang kini terengah kecil dengan mata yang sayu berair karena gairah romantis, memberikan pemandangan yang begitu cantik sekaligus indah di mata Reno.
"Aura Zhafira... istriku yang luar biasa," bisik Reno dengan suara yang begitu rendah, serak, dan sarat akan emosi yang mendalam. Ia mengecup kening Aura dengan lama dan penuh khidmat, seolah sedang merapalkan doa-doa terbaik untuk masa depan rumah tangga mereka. "Selamanya, kamu hanya milikku. Dan Mas tidak akan pernah membiarkan kebahagiaan ini lepas dari genggaman kita."
Aura mengangguk lemah namun pasti, menyandarkan wajahnya yang terasa panas dan memerah di dada bidang Reno, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang seperti sedang berlomba dengan miliknya. "Iya, Mas... Aku milikmu, sepenuhnya."
Reno menarik selimut tebal mereka, membungkus kedua tubuh yang saling mendekap erat itu dalam kehangatan yang sempurna. Di bawah sinar lampu kamar yang semakin meredup, malam itu menjadi saksi bisu bagaimana dua jiwa yang sempat terluka oleh kerasnya dunia, kini saling menyembuhkan, mengisi, dan menguatkan dalam sebuah dekapan cinta yang paling tulus dan intim. Kebahagiaan baru saja dimulai, dan mereka siap menghadapinya bersama, bergandengan tangan, menghadapi esok dengan senyuman tanpa ada lagi keraguan yang tersisa.