Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
“Ini nggak salah apartemennya di sini, kalau orang kampus lihat gimana?” tanya Emily cemas.
“Nggak gimana-gimana. Emangnya apa salahnya? Kita sudah nikah, nggak ada yang salah kan hidup bareng orang yang kumpul-kebo aja banyak. Masa kita yang sudah nikah dibilang aneh?” jawab Rey santai.
“Tapi kan nggak ada yang tahu kalau kita udah nikah,” timpal Emily.
“Lo mau semua orang tahu?” goda Rey.
“Ya nggak lahh, gue udh punya pacar, yh,” jawab Emily.
“Pacar lo bangga-banggain… Lo juga harus punya batasan kalau lo juga punya suami yang harus lo hormati,” ucap Rey serius tapi ada nada menyindir.
“Sok puitis banget loh, kayak nggak punya pacar aja,” balas Emily sinis.
“Punya pacar?” Rey mengangkat alis.
“Tuh kan, berarti tingkah lu nggak beda jauh kayak gue,” timpal Emily.
“Pacar halal…” ucap Rey datar.
“Jihh… itu yang kemarin siapa? Gaya-gaya pacar halal itu yang lo halalin?” goda Emily sambil menertawakan.
“Yang gue halalin yang ada di depan mata gue,” jawab Rey santai.
“Jihh… cepat deh ahh, gue gerah, mau mandi di mana? Kamar gue,” ucap Emily kesal.
“Noh, kamar-nya di sanah,” jawab Rey sambil menunjuk.
Emily langsung membuka pintu kamar itu, tapi betapa terkejutnya dia melihat kamar itu memiliki dua pintu. Ternyata kamar itu direnov, di mana dua kamar dijadikan satu.
“Lohh Rey, ini ko kaya gini kamar-nya disatuin…?” tanya Emily tak percaya.
“Yahh emng dibuatnya begitu. Gue kan cuma nempatin ajah, selebihnya yang atur bunda sama ayah,” jawab Rey datar.
“Lah kalau gini gue tidur di mana?” Emily mulai kesal.
“Lo buta apa gimana? Lu nggak lihat tempat tidur ukuran 200x200 itu? Haaah, terpampang gede, mau Lo guling guling juga masih muat badan kerempeng lo,” jawab Rey santai.
“Si anjir… itu kan ranjang lo. Ranjang gue mana??” tanya Emily panik.
Rey mengangkat bahu, “Masih ada sofa, kamar-nya cuma satu. Ranjang-nya satu, jadi yh kalau mau di ranjang ayo, kalau nggak yah tinggal milih, mau di sofa, di ruang tamu, atau di dapur, terserah…”
“Reyyy sialan, lo nggak ngotak, yh? Mana tanggung jawab loh, hah, belum ada sehari nikah. Gue udah suruh tidur di dapur,” ucap Emily kesal sambil menepuk dada.
“Gue nggak nyuruh, cuma memberi pilihan…” jawab Rey santai.
“Pokoknya gue yang tidur ranjang, lo yang di sofa,” tegas Emily.
“Enak ajah…” goda Rey sambil tersenyum nakal.
“Reyyy ngalah lahhh,” ucap Emily frustrasi.
“Enak ajh, ini apart gue,” jawab Rey santai.
“Kan gue istri lo, Rey…” Emily menekankan.
“Lahh kalo lo merasa istri gue harusnya tidur bareng, nggak masalah…” goda Rey sambil menaikkan alis.
“Si anjirr… loo… udh ahh, gue mau mandii…,” ucap Emily panik sambil menutup pintu kamar.
“Mau mandi bareng?” goda Rey nakal dari belakang pintu.
“Reyy anjjj!” teriak Emily panik.
“Hhhaahahah,” Rey tertawa lepas.
Setelah selesai mandi, Emily kembali mengganti pakaian dengan pakaian tidur. Dia membiarkan Rey masuk ke dalam kamar mandi. Saat itu barulah Emily mengaktifkan handphone-nya yang sejak tadi ia matikan, dan betapa terkejutnya ketika mendapat beberapa notifikasi tentang balapan malam ini antara Winner King dan Sport Queen, di mana yang turun malam ini adalah Ziva dan Gilang.
“Aduh gimana gue ini… kalau gue nggak dateng gimana? Di balapan keduanya kan nanti gue yang ngalahin Marcel. Babak pertama kan Ziva dulu sama Gilang… tapi masalahnya, gimana gue keluarnya…” gerutunya pelan.
Pesan masuk dari Ziva, Nara, Caca, Dion, bahkan Alex sudah berkali-kali menghubunginya. Apalagi hari ini malam Minggu, harusnya mereka nongkrong atau sekadar dinner bareng. Emily melirik pintu kamar mandi yang terbuka.
“Reyy…” panggil Emily.
“Hmmm…” sahut Rey dari dalam kamar mandi.
“Gue pinjem motor lo dong. Motor lo pasti ada di sini kan?” ucap Emily hati-hati.
Rey keluar sambil mengangkat alis. “Buat apa? Ini udah jam setengah dua belas, Ily.”
“Lo kayak nggak ngerti ajh… apa lo nggak update? Malam ini geng gue sama geng WK turun lagi,” jawab Emily cepat.
“Bukannya lo udah janji nggak balapan liar lagi sama papa Evan?” timpal Rey menatap tajam.
“Mmm… tapi bukan gue kok yang turun. Gue cuma perlu hadir aja, Rey. Malam ini Ziva sama Gilang yang turun,” jelas Emily.
“Gue anter,” ucap Rey tegas.
“Ihhh, nggak! Gimana kalau ada orang yang tau…” jawab Emily panik.
“Bodo amat. Kalau gitu berarti lo nggak usah keluar,” ucap Rey ketus.
“Reyyy, ihhh nyebelin lo. Udah gue minta jemput Nara ajah, lah,” gerutu Emily.
Rey langsung menatap dingin. “Sekali lo keluar malam ini tanpa izin gue…gue perawanin.”
“Reeeeyyyyy, ihhh! Gue harus hadir, Rey. Gue nggak balapan kok, acaranya cuma 30 menit lagi…” jawab Emily panik.
“Ya gue anterin,” ucap Rey datar.
“Yaudah… sampe pertigaan ajah. Dari situ gue minta jemput Nara,” pinta Emily akhirnya.
“Hmmm… yasudah,” jawab Rey singkat.
Akhirnya atas kesepakatan, mereka berangkat bersama. Tapi di pertigaan, Emily turun dan benar-benar dijemput oleh Nara. Emang emily mengatakan pada Nara kalau iya keluar diam diam dari rumah nya,,
Yang tidak Emily tahu, Rey sejak tadi sama sekali tidak berangkat ke sirkuit. Dia justru menunggu di sekitaran jalan itu,
memastikan apakah benar Emily dijemput.
Saat sampai di sirkuit, Emily langsung disambut oleh teman-temannya.
“Akhirnya lo datang juga, Ily…” ucap Ziva sambil merangkulnya.
“Lo kok lama sih?” timpal Caca.
“Kalian kayak nggak tau ajh. Emily kan harus cari cara dulu buat keluar,” ucap Dion nyelutuk.
“Nahh, bener itu,” jawab Emily setuju sambil tersenyum tipis.
“Beb, kamu kemana aja?” ucap Alex yang langsung menghampiri dan mencoba memeluk Emily.
Namun, entah kenapa, Emily tiba-tiba menepis pelukan itu.
“Beb, kok gitu?” Alex memandang bingung.
“Gitu gimana?” sahut Emily cepat.
“Kok nggak mau dipeluk?” tanya Alex lagi dengan nada kecewa.
“Gpp… nggak enak ajh,” jawab Emily canggung.
Tapi di dalam hati, Emily sendiri bingung. Kenapa rasanya mendadak nggak nyaman kalau disentuh Alex? Seperti Ada sesuatu yang menahan di hati nya…
Dan ternyata, dari seberang sana, Rey sedang memperhatikan mereka terus tanpa berkedip. Tatapannya tajam, penuh misteri. Emily bisa merasakan sorotan itu menusuk ke arahnya.
“Kenapa gue jadi gini ya… apa ini yang dinamain ikatan batin suami-istri?” batin Emily, menelan ludah..
“Kenapa dari tadi nggak aktif, beb?” tanya Alex sambil nyari alasan buat deket lagi.
“gue di rumah sodara, karna bokap gue ke luar negeri,” jawab Emily santai.
“Waaah enak dong… lama kan di LN-nya? Gue bisa ke rumah lo, donk,” ucap Alex senyum-senyum.
“Pala lo peyang, mau ngapain ke rumah gue? Lo mau ditoyor Bang Altan?” sahut Emily sinis.
“Hheee… kenapa gue bisa lupa ya, lo punya abang Presma yang nyebelin itu.” Alex nyengir.
“Enak ajh! Itu tetap abang kesayangan gue, ya.” balas Emily ketus sambil
melotot.