Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Rencana pembalasan dendam Bara terus berjalan di balik layar, rapi dan tak terendus siapapun. Sebagai bagian dari strateginya untuk mengikis pertahanan psikologis Andrea, Bara memutuskan untuk melonggarkan sedikit pengawasannya di kampus. Ia sengaja membiarkan Angel kembali mendapatkan kebebasan untuk mengerjai gadis polos itu. Bara ingin Andrea merasa terpojok oleh dunia luar, sehingga pada akhirnya, satu-satunya tempat perlindungan yang gadis itu miliki hanyalah dirinya.
Siang itu, hujan gerimis mengguyur area luar fakultas seni. Angel, yang memang menaruh cemburu terpendam sejak melihat kedekatan Andrea dengan Bara, memanfaatkan situasi. Bersama beberapa temannya, Angel menjebak Andrea di koridor belakang dekat taman fakultas. Dengan sengaja, mereka menyenggol tubuh Andrea hingga gadis itu tersungkur ke atas tanah yang becek. Tak cukup sampai di sana, ember berisi air bekas cucian kuas cat yang keruh dan kotor disiramkan tepat ke atas kepala dan pakaian Andrea.
"Ups, sorry. Sengaja," cetus Angel sambil tertawa renyah sebelum melenggang pergi bersama kelompoknya, meninggalkan Andrea yang gemetar sendirian.
Andrea duduk bersimpuh di lantai selasar yang basah. Pakaian kemeja putihnya kini berubah warna menjadi abu-abu kecokelatan yang kotor dan berbau zat kimia cat. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena dinginnya air hujan, melainkan karena rasa hina yang mendalam. Di tengah keputusasaannya, air matanya luruh bercampur dengan sisa air cat di wajahnya. Dalam isak tangisnya yang tertahan, hanya satu nama yang secara naluriah keluar dari bibirnya yang bergetar.
"Kak Bara ... Kak Bara .... " lirih Andrea, meratap pelan sambil memeluk lututnya sendiri.
Ia tidak tahu bahwa dari balik pilar gedung seberang, sepasang mata gelap sedang mengintipnya. Bara berdiri di sana, mengamati pemandangan itu dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Awalnya, sudut bibirnya terangkat, menikmati bagaimana bidak permainannya hancur persis seperti skenarionya. Namun, ketika gelombang suara tangis Andrea yang menyebut namanya dengan penuh harap itu sampai ke telinganya, setitik gelenyar aneh yang asing mendadak menyengat dada Bara.
Jantungnya berdesir tajam. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba bergejolak di dalam hatinya, menggeser ego dingin yang selama ini ia agungkan. "Jadi dia benar-benar terus memanggilku?" batin Bara.
Tanpa sadar, kaki Bara melangkah maju. Dinding es yang ia bangun seolah retak tipis oleh rintihan gadis itu. Ia berjalan mendekat, bayangan tubuh tegapnya langsung menaungi tubuh Andrea yang sedang menunduk.
Andrea mendongak pelan, dan melalui pandangannya yang kabur oleh air mata, ia melihat sosok Bara yang berdiri tegak dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak Bara .... "
Bara tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sikapnya tegas dan gerakannya cepat. Ia melepas jaket yang dikenakannya, menyampirkannya ke bahu kotor Andrea, lalu menarik lengan gadis itu agar berdiri. Tanpa mempedulikan noda cat yang kini mengotori jok kulit mobil sport hitamnya, Bara menuntun Andrea masuk ke dalam kursi penumpang dan langsung melesat meninggalkan area kampus.
Sepanjang jalan, keheningan menyelimuti mereka. Namun, alih-alih mengemudikan mobilnya pulang ke rumah, Bara justru membelokkan kendaraannya menuju salah satu mal kelas atas di pusat kota.
Begitu tiba di parkiran VIP, Bara menoleh ke arah Andrea. "Tunggu di sini," ucapnya dingin.
Bara turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam mal, dan langsung menuju ke salah satu butik pakaian wanita bermerek. Tanpa berpikir panjang, ia menunjuk beberapa setel pakaian. Mulai dari kaus kasual, celana jeans baru, hingga gaun rajut yang tampak hangat dan nyaman. Ia membayar semuanya tanpa melihat label harga, lalu kembali ke mobil dan menyerahkan kantong belanjaan itu ke pangkuan Andrea.
"Ganti pakaianmu di toilet pengunjung di sebelah sana. Aku tidak suka melihatmu kotor seperti itu," perintah Bara dengan nada suara yang sekilas terdengar ketus, padahal itu hanyalah caranya untuk menutupi rasa peduli asing yang mulai tumbuh di hatinya.
Andrea mengangguk patuh. Setelah beberapa menit, ia kembali dengan penampilan yang jauh lebih segar. Ia mengenakan kaus putih bersih dan celana panjang baru pilihan Bara yang ternyata pas di tubuh proporsionalnya.
Melihat Andrea sudah bersih, Bara tidak langsung mengajaknya pulang. Entah dorongan apa yang merasuki kepalanya hari itu, Bara justru membawa Andrea berjalan-jalan mengitari koridor mal. Pria itu berjalan di depan dengan langkah tegap, sementara Andrea mengekor di sampingnya dengan perasaan campur aduk.
Bara membawanya masuk ke beberapa toko barang mewah. Setiap kali mata Andrea berbinar melihat sesuatu seperti tas kecil, buku referensi seni impor, atau bahkan satu set alat lukis profesional yang mahal, Bara langsung menyodorkan kartu kreditnya kepada kasir sebelum Andrea sempat menolak.
"Kak, ini terlalu banyak ... aku tidak enak," lirih Andrea saat melihat Bara membawa tiga kantong belanjaan besar berisi barang-barang kesukaannya.
"Diam dan bawa saja. Jangan banyak protes," sahut Bara tajam, namun tangannya dengan protektif menggandeng pergelangan tangan Andrea saat melewati kerumunan orang di mal, membuat jantung Andrea kembali bertalu-talu karena perlakuan manis yang terselubung ketegasan itu. Andrea kian merasa bahwa di balik ketegasan yang ditanamkan Bara, ada sisi pelindung yang sangat ia butuhkan. Ia benar-benar telah jatuh dalam jerat manipulasi rasa aman ini.
Namun, kesenangan semu itu harus berakhir ketika mobil sport Bara memasuki halaman rumah megah Adikara saat hari sudah menggelap. Begitu melangkah melewati pintu utama sambil membawa deretan kantong belanjaan mewah, atmosfer dingin langsung menyergap mereka.
Di ruang tamu yang luas, Selina dan Pak Danu sudah berdiri menunggu dengan wajah yang mengeras.