Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memburu Pria Asing
Hawa dingin malam di luar lobi rumah sakit terasa seperti tusukan jarum yang menembus kulit ari Aluna. Jam digital besar di atas loket pendaftaran menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit pagi. Koridor luar yang menghubungkan ruang tunggu dengan taman rumah sakit tampak sepi dan temaram, hanya diterangi oleh beberapa lampu merkuri yang memancarkan cahaya kekuningan.
Aluna berjalan dengan langkah yang diseret. Matanya yang sembap dan merah bergerak liar, menyapu setiap sudut area luar rumah sakit.
Logikanya sudah lumpuh total. Kepalanya dipenuhi oleh wajah ayahnya yang bersimbah darah dan ancaman mengerikan dari Doni yang siap menjualnya kepada lintah darat.
Janji yang sudah ia ucapkan di dalam ambulans tadi kini menjadi satu-satunya bahan bakar yang menggerakkan tubuh lelahnya. Ia harus menemukan seorang pria. Malam ini juga. Seorang suami yang bisa menjadi tameng legalitas untuk menyelamatkan sisa hidupnya.
"Siapa saja ... Tuhan, tolong kirimkan siapa saja yang bisa membantuku," bisik Aluna dengan bibir yang gemetar menahan tangis yang siap pecah kembali.
Ia melewati beberapa pria yang sedang duduk di bangku panjang koridor. Ada seorang pria paruh baya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memegang dahi, kemungkinan besar sedang berduka karena anggota keluarganya di dalam.
Aluna menggelengkan kepala; pria itu jelas tidak bisa diganggu dengan kegilaannya. Di sudut lain, tampak segerombolan pemuda dengan pakaian urakan yang sedang merokok. Aluna bergidik ngeri; alih-alih menjadi pelindung, pria-pria seperti itu justru terlihat seperti kawanan Doni yang harus ia hindari.
Langkah kaki Aluna terus membawanya menuju area taman terbuka di dekat paviliun kelas utama yang lebih sepi. Di sana, di bawah pohon palem yang rindang, terdapat sebuah bangku taman besi yang posisinya agak tersembunyi dari jalur utama lalu lalang perawat.
Mata Aluna tiba-tiba tertuju pada sesosok tubuh yang sedang duduk menyendiri di bangku tersebut. Pria itu tampak sedang menunduk, menatap lantai paving dengan kedua tangan yang saling bertautan di depan lututnya. Dari jarak beberapa meter, Aluna bisa melihat penampilannya yang sangat sederhana, bahkan cenderung kasual dan santai untuk ukuran udara malam yang sedingin ini. Pria itu hanya mengenakan kaus polos berwarna hitam lengan pendek, celana jins gelap yang sedikit pudar di bagian lutut, dan sepasang sepatu kanvas yang tampak sudah sering dipakai.
Gaya berpakaian pria itu membuat Aluna berasumsi dalam hati bahwa dia mungkin salah satu pekerja serabutan, atau mungkin sopir taksi yang sedang beristirahat menunggu penumpangnya yang sedang berobat. Tidak ada kesan mewah, tidak ada kesan mengintimidasi. Potongan rambutnya rapi namun tampak agak acak-acakan karena sering diusap dengan tangan.
Aluna menarik napas sedalam-dalamnya hingga dadanya yang sesak terasa sakit. Ini adalah kesempatannya. Pria itu tampak tenang, tidak sedang emosional, dan yang paling penting, dia sendirian. Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari dasar keputusasaannya, Aluna melangkah mendekati bangku taman tersebut. Suara ketukan sepatu kerjanya yang haknya sudah agak aus terdengar berirama di atas paving blok.
Begitu jarak mereka hanya tersisa dua langkah, pria itu tampaknya menyadari kehadiran seseorang. Pria itu mendongakkan kepalanya perlahan, menatap langsung ke arah Aluna.
Deg.
Jantung Aluna berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena keterkejutan yang tidak ia duga. Di bawah temaram lampu taman, wajah pria itu terlihat sangat jelas. Dia memiliki rahang yang tegas, hidung yang mancung sempurna, dan sepasang mata elang yang sangat tajam namun menyimpan keteduhan yang misterius. Pria itu memiliki wajah yang sangat tampan, tipe wajah yang seharusnya menjadi model di papan reklame pusat kota, bukan duduk terdampar di bangku rumah sakit umum dengan kaus polos murah pada jam dua pagi.
Pria itu menatap Aluna dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan alis yang sedikit bertaut. Pandangannya terpaku pada pakaian kerja Aluna yang kusut, noda darah kering yang menempel di lengan bajunya, serta wajah Aluna yang sembap oleh air mata yang belum sepenuhnya mengering.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pria itu dengan suara berat yang terdengar sangat bariton dan tenang. Tidak ada nada ketakutan atau curiga, hanya sebuah pertanyaan datar yang sopan.
Aluna mendadak merasa lidahnya kelu. Seluruh kalimat penyerahan yang sudah ia susun di dalam kepalanya menguap begitu saja saat bertatapan dengan mata tajam pria asing itu. Namun, bayangan pintu IGD yang tertutup rapat dan kalimat ancaman Doni kembali menyengat kesadarannya. Waktunya tidak banyak.
Aluna menjatuhkan dirinya di depan pria itu, berlutut langsung di atas paving blok yang dingin tanpa memedulikan harga dirinya lagi. Air matanya kembali luruh, membasahi pipinya yang pucat. Ia menatap pria itu dengan pandangan memohon yang paling dalam yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
"Tolong saya ... Saya mohon, tolong nikahi saya malam ini juga," ucap Aluna dengan suara yang bergetar hebat, nyaris seperti bisikan yang tercekik.
Pria itu tampak tersentak kecil. Alisnya semakin bertaut rapat, menandakan kebingungan yang amat sangat atas tindakan nekat wanita asing di hadapannya ini. Namun, ekspresi wajahnya dengan cepat kembali tenang, seolah-olah dia adalah pria yang sudah biasa menghadapi kejutan besar dalam hidupnya.
"Maaf?" Pria itu memperbaiki posisi duduknya, menatap Aluna lurus-lurus. "Nikah? Kita bahkan tidak saling kenal, Mbak. Dan ini jam dua pagi di taman rumah sakit. Apakah ini sejenis lelucon atau taruhan?"
"Bukan! Ini bukan lelucon! Saya bersumpah demi nyawa saya!" Aluna menggelengkan kepalanya dengan cepat, tangan yang gemetar meraih ujung celana jins pria itu, memohon dengan sangat. "Saya tahu ini kedengarannya gila, saya tahu saya terlihat seperti orang tidak waras. Tapi saya benar-benar terdesak. Ayah saya ... ayah saya sekarat di dalam IGD karena dipukuli. Dan saya ... saya dalam bahaya besar akan dijual oleh kakak tiri saya untuk membayar utang judinya kepada rentenir."
Pria itu terdiam, matanya menatap tajam ke arah noda darah di baju Aluna, mencoba mencerna kebenaran dari setiap patah kata yang keluar dari mulut wanita yang sedang menangis di bawah kakinya ini.
"Ayah saya meminta satu hal sebelum kesadarannya hilang ... Beliau meminta saya menikah malam ini juga dengan siapa pun, asalkan pria itu lajang dan baik-baik. Hanya dengan status sebagai istri sah, rentenir itu tidak akan bisa menyentuh atau membawa saya pergi secara hukum," Aluna menghirup oksigen dengan rakus karena napasnya yang sesak. "Saya mohon ... Saya tidak meminta uang Anda, saya tidak meminta Anda memberi saya kemewahan. Saya hanya butuh nama Anda di atas kertas akad nikah untuk menjadi perisai saya. Saya mohon ... tolong selamatkan hidup saya ..."
Pria asing itu tetap tidak bersuara selama beberapa saat. Keheningan di antara mereka terasa begitu mencekam bagi Aluna. Setiap detik yang berlalu tanpa jawaban laksana siksaan yang membakar jiwanya. Ia takut pria ini akan berdiri, mendorongnya menjauh, lalu menganggapnya sebagai wanita gila yang harus dilaporkan ke petugas keamanan.
Namun, di balik wajah diamnya, pria itu sebenarnya sedang mengalami pergolakan batin yang tidak diketahui Aluna. Pria tampan berkaos polos ini bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seseorang yang sedang melarikan diri sejenak dari kepenatan konflik internal keluarganya yang penuh dengan perebutan takhta bisnis. Ia sengaja datang ke rumah sakit umum ini dengan pakaian biasa hanya untuk menenangkan diri dan menghindari kejaran wartawan serta mata-mata keluarganya.
Melihat Aluna yang menangis dengan keputusasaan yang begitu nyata, ada sesuatu yang mengetuk sudut hati pria itu.
Pengalamannya di dunia bisnis yang kejam membuatnya tahu mana air mata palsu yang dibuat untuk menipu, dan mana air mata seorang manusia yang benar-benar berada di ujung jurang kematian moral. Rasa iba dan ketertarikan yang aneh terhadap ketangguhan serta kegilaan wanita di hadapannya ini mulai merayap di benaknya.
Pria itu menarik napas panjang, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit. Tangannya yang besar dan hangat bergerak memegang kedua bahu Aluna, memaksa wanita itu untuk berdiri dari posisi berlututnya.
"Bangunlah. Jangan berlutut di lantai yang kotor," ujar pria itu dengan nada yang tetap tenang namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Aluna berdiri dengan kaki yang lemas, menyeka air matanya dengan punggung tangan, menatap pria itu dengan tatapan penuh harap yang cemas. "Apakah ... apakah Anda mau membantu saya? Apakah Anda masih lajang?" tanya Aluna memastikan syarat utama dari ayahnya.
Pria itu menatap Aluna lekat-lekat, lalu seulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Ya, saya masih lajang. Dan saya belum menikah dengan siapa pun."
Pria itu berdiri dari bangkunya, menyejajarkan tinggi badannya yang tegap dan jauh lebih tinggi dari Aluna, membuat Aluna harus sedikit mendongak. "Jika apa yang kamu katakan tentang ayahmu itu benar, dan jika pernikahan ini memang bisa menyelamatkanmu ... maka saya akan melakukannya. Mari kita lakukan malam ini juga."
Mendengar jawaban itu, Aluna merasa seolah-olah ada seberkas cahaya surgawi yang menembus kegelapan malam jahanamnya. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dalam dadanya, membuat tangisnya kembali pecah, namun kali ini adalah tangis rasa syukur.
Ia telah menemukan pelindungnya, seorang pria asing misterius berpakaian sederhana yang tidak pernah ia duga akan mengubah seluruh garis takdir hidupnya ke depan.