SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 – Kapal Pioneer
Ruang rapat kembali hening.
Kapten Idris berdiri sambil memandang layar yang telah gelap.
Victor Hale telah memutus sambungan.
Namun tawarannya masih terngiang di benak semua orang.
Reza memecah keheningan.
"Jangan datang."
Idris menoleh.
"Alasanmu?"
"Dia bisa saja menjebak kita."
Lyra menggeleng pelan.
"Kalau memang ingin menjebak..."
"...dia sudah punya banyak kesempatan."
Reza menghela napas.
"Aku tetap tidak suka."
Kapten Idris berjalan menuju jendela besar Pos Observasi.
Dari sana, armada yang hilang terlihat jelas.
Dua puluh tiga kapal mengelilingi Pos Observasi dengan jarak yang sama.
Tidak satu pun mengaktifkan senjata.
Tidak ada manuver yang mengancam.
Mereka hanya diam.
Seolah sedang menunggu keputusan.
Sofia berdiri di samping Idris.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menemuinya."
Reza langsung berdiri.
"Aku ikut."
Kael mengangguk.
"Aku juga."
Lyra menatap Idris.
"Empat orang."
Idris tersenyum tipis.
"Seperti saat kita masuk ke kapal hitam."
Sementara itu, di ESS Horizon...
Darius mulai menyiapkan pesawat ulang-alik kecil.
"Kita tidak bisa membawa Horizon mendekat."
Owen mengangguk.
"Jaraknya terlalu sempit."
Niko memeriksa sensor.
"Tidak ada perubahan pada armada."
"Mereka tetap diam."
Mira memasukkan beberapa perlengkapan medis ke dalam kotak darurat.
"Semoga ini tidak diperlukan."
Beberapa menit kemudian...
Pesawat ulang-alik meninggalkan Pos Observasi.
Di dalamnya hanya ada empat orang.
Kapten Idris.
Kael.
Lyra.
Reza.
Keempatnya duduk diam.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Yang terdengar hanya suara mesin pesawat.
Saat mereka semakin dekat...
Kapal Pioneer tampak jauh lebih besar.
Cat putih di badan kapal mulai memudar.
Namun lambang PPM masih terlihat jelas.
Kael memperhatikan badan kapal.
"Tidak ada bekas tembakan."
"Tidak ada kerusakan."
"Seolah kapal ini memang tidak pernah mengalami kecelakaan."
Lyra menambahkan,
"Padahal selama ini kita mengira Pioneer hancur."
Pesawat ulang-alik berhenti sekitar lima puluh meter dari hanggar Pioneer.
Victor Hale sudah menunggu.
Ia mengenakan seragam yang sama seperti di arsip.
Seragam itu tampak bersih.
Tidak kusut.
Tidak rusak.
Seolah baru dipakai pagi tadi.
Victor memberi hormat.
"Selamat datang."
Kapten Idris membalas hormatnya.
"Aku datang untuk mendengar penjelasanmu."
Victor mengangguk.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Pintu hanggar Pioneer terbuka perlahan.
Tidak terdengar suara logam berderit.
Semua sistem masih bekerja dengan sempurna.
Reza berbisik kepada Kael.
"Aneh."
"Kenapa?"
"Kapal setua ini..."
"...harusnya sudah rusak."
Kael hanya mengangguk.
Ia juga memikirkan hal yang sama.
Mereka memasuki hanggar.
Beberapa kendaraan kecil masih tersusun rapi.
Kotak-kotak logistik masih berada di tempatnya.
Tidak ada tanda kepanikan.
Tidak ada tanda pertempuran.
Semuanya terlihat seperti kapal yang baru selesai melakukan pemeriksaan rutin.
Lyra menyentuh salah satu kotak.
Lapisan debu hampir tidak ada.
"Victor."
"Ya."
"Siapa yang merawat kapal ini?"
Victor menjawab singkat.
"Kami."
"Kalian?"
"Selama kami menunggu."
Mereka berjalan menuju ruang kendali Pioneer.
Di sepanjang lorong...
beberapa awak kapal terlihat berdiri.
Mereka mengenakan seragam ekspedisi.
Sebagian pria.
Sebagian wanita.
Semuanya memberi hormat saat Kapten Idris lewat.
Namun tidak satu pun berbicara.
Kael memperhatikan mereka.
"Ada yang aneh."
"Apa?"
"Mereka bahkan tidak berkedip."
Reza ikut menoleh.
Benar.
Tatapan mereka lurus ke depan.
Tidak bergerak sedikit pun.
Seperti patung.
Victor berhenti di depan sebuah pintu.
"Inilah ruang kendali."
Pintu terbuka.
Ruangan itu masih sama seperti desain kapal-kapal lama PPM.
Panel analog.
Layar hologram generasi pertama.
Kursi kapten.
Tidak ada teknologi asing.
Tidak ada sesuatu yang mencolok.
Victor mengambil sebuah kotak logam kecil dari bawah panel utama.
Kotak itu memiliki lambang yang sama dengan lencana Direktur.
Ia menyerahkannya kepada Kapten Idris.
"Bukalah."
Idris membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada dua benda.
Sebuah lencana milik Direktur Elias Voss.
Dan sebuah kunci kristal transparan sepanjang telapak tangan.
Begitu Idris menyentuh kunci kristal itu...
AURA tiba-tiba berbicara melalui alat komunikasi.
"Kapten."
"Ada apa?"
"Kapal hitam baru saja merespons."
"Merespons apa?"
AURA menjawab dengan nada datar.
"'Kunci Navigator telah ditemukan.'"
Victor menatap kunci kristal di tangan Idris.
Lalu berkata pelan,
"Mulai saat ini..."
"...jalan menuju Galaksi Asterion benar-benar telah terbuka."