Naina Simont, putri seorang Bangsawan bergelar Baron terpilih untuk menikahi Pangeran Kedua Xero Yamen.
Menikahi cinta pertamanya tak melulu membuat Naina menjadi bahagia, faktanya Pangeran kedua telah mempunyai wanita pujaan hatinya yang kini telah berstatus permaisuri, alias istri Kakaknya.
Bahkan saat Naina akhirnya mengandung dan mempunyai anak dengannya, sikap dingin Pangeran Xero tak meleleh. Pun saat Naina keguguran, suaminya lebih memilih menemani Calista, istri mendiang kakaknya yang tengah cidera.
Rumah tangganya diuji dan saatnya Naina harus memilih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Tuttttttt...." Bunyi terompet menggema. Tanda Kapal akan menepi.
Tak terasa sudah sebulan lamanya Sanya ada di atas laut. Terombang ambing oleh ombak ganas, laut biru dan dalam. Mengarungi langit biru yang cerah, berawan, mendung sampai terkena badai. Berada di tengah laut dengan tidak ada angin sehingga kapal tidak bisa bergerak. Makan makanan laut sampai dia muak.
Sanya melamun.
"Kita akan sampai di pelabuhan Amnec Yang Mulia" Pelabuhan yang terletak di semenanjung tersebut sangat ramai. Banyak aktifitas warganya. Banyak juga kapal saudagar kaya yang hendak berjualan disini. Mereka memang lebih maju secara peradaban. Bukannya Yamen terbelakang dan tertinggal, tapi karena letaknya yang jauh membuat pedagang kesulitan kesana. Resiko perjalanan yang bisa menyita nyawa tak akan sebanding dengan keuntungan jika mereka hanya pedagang kecil.
Sanya harus menunggu meskipun kapal sudah bersandar. Para prajurit didahulukan, ini menjadi kenyataan pahit pagi rombongan kerajaan Yamen.
Arak arakan kemenangan itu disaksikan oleh rombongan Kerajaan yang telah kalah.
Count Numerik begitu kesal, mereka bisa saja membuat parade kemenangan, tapi mengabaikan sang Putri adalah hal lain. Dia menyayangkan nasib malang Tuan Putri pertama.
"Tidak apa apa Count" Sanya memberikan penjelasan kepada Count.
"Wajar mereka merayakannya dan menyambut pahlawan perang."
"Di Yamen pun kita akan melakukannya."
"Maaf Tuan Putri." Count merasa malu, jika anak seusia anaknya tersebut bisa berlapang dada, menerima kekalahan dan menghormati kenapa dia sebagai orang tua tidak bisa.
Delegasi itu berangkat di belakang arak arakan pawai perayaan kemenangan. Sanya tak lebih dianggap sebagai upeti demi menjaga kestabilan negara.
Kekaisaran Hiya sangat megah dan mewah. Meski Yamen kerajaan yang makmur dan damai, segalanya tampak berbeda, seperti gaya bangun berbeda, gaya berpakaian dan banyak hal lainnya. Lewat jendela tembus pandang Sanya bisa melihat kalau negara ini berkembang pesat dengan pelabuhan dan banyaknya pendatang. Wajah orang di pinggir jalan tampak beragam menandakan banyaknya pendatang dari berbagai negara .
Mereka semua dengan bangga menertawakan utusan dari Yamen, negara kecil yang kalah. Penasaran dengan sang putri yang akan di jual disini.
Sanya merasa bahwa ini adalah titik terendah dalam hidupnya. Tapi dia tetap harus berjuang. Untuk Ayah dan Ibunya, untuk adik-adiknya . Dan untuk rakyat Yamen.
Sekarang eranya Sanya untuk berperang disini sendirian.
Dia cepat belajar, jadi dia hanya harus bertahan.
Kepada siapa nanti dia akan di nikahkan. Sanya bisa mengatur kastil karena dari dulu dia banyak belajar pengelolaan tata negara, politik dia juga tahu, cara bernegosiasi.
Sanya akan mengamati seperti dia sedang membaca buku. Menguliti hal yang bisa dia tiru, dia akan rajin berkirim surat dengan Chester, sang adik. Kekaisaran Hiya setidaknya tidak akan sebengis suku bar bar. Disini paling hanya permainan intrik dan permunafikan dimana setiap orang punya topeng nya masing-masing.
Bunga bertebaran untuk menyambut prajurit yang pulang.
"Mari anggap ini sebagai tanda kalian menyambutku."
Sanya bukan putri yang naif. Di Didik sebagai calon penerus membuatnya tenang. Panik hanya akan membuatnya salah melangkah. Buru-buru hanya menyebabkan kecacatan. Sanya tidak mau itu terjadi.
Dia memejamkan matanya. Tetapi saat memejamkan matanya indra pendengarannya malah berfungsi dengan sangat baik.
"Negara kecil seperti kandang ayam itu pasti mudah dikalahkan."
"Mereka orang lemah yang hanya tau kecantikan."
"Katanya bahkan pria disana cantik hohoho..."
"Kekaisaran Hiya tak terkalahkan."
Sanya membuka matanya.
"Bajiangan sialan kalian!" Dia ingin mengumpat. Mungkin saja kepribadian seseorang bisa cepat berubah.
Etiket sopan santun selalu diajarkan bagi para bangsawan. Tapi hanya sebulan berada di kapal mendengar banyak prajurit berkata kasar dan suka mengumpat membuat Sanya ingin mencobanya. Dan terbukti hal itu membuat hatinya lumayan lega.
"Kalian hanya diberkati karena negara kalian besar dan kami kalah prajurit. Coba saja berduel denganku, aku pasti akan mematahkan kakimu!" Dia terus menggerutu sepanjang jalan.