Aku adalah gadis minang, tapi tak banyak yang ku ketahui tentang ranah minang dan adat istiadatnya. Aku di lahirkan di perantauan dan menghabiskan waktu berpindah pindah daerah pulau sumatra.
Aku adalah asisten pengacara, tentu sudah banyak kasus yang aku selesaikan bersama sang pengacara yang tak lain adalah teman ku saat kami kuliah di salah universitas swasta di Jakarta.
Saat ini usia ku sudah 27 tahun, keluarga besar semua khawatir aku menjadi perawan tua. Aku sih enjoy aja toh yang penting aku kerja dan jalan jalan ke daerah mana saja yang objek kasus yang harus di tangani oleh tim pengacara tempat aku kerja.
Sampai suatu ketika aku kaget mendengar keputusan paman dari adik sepupu ibu ku di Padang. Beliau menjodohkan ku dengan seorang duda yang memiliki usaha perniagaan yang cukup berkembang pesat dengan pundi pundi yang fantastis.
aku tak menerima perjodohan itu dan menolaknya, paman marah besar dan berkata dengan sangat kasar pada ayah ku, aku yg tak terima dengan keputusan paman berasumsi apa hak nya paman dengan sampai marah besar karena aku menolak keinginannya?????. Pasti ada maksud terselubung, ayah ku hanya diam saja beliau tidak mau komentar apapun. Tapi aku melihat air mata ayah mengalir perlahan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengajak nikah seorang pria yang baru aku kenal, pemuda itu seorang guru SMU di Serang Banten.
Apakah keputusan ku ini menikahi nya yang terbaik????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Caniago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 33 Curhat
Nada sedang bermain dengan Azzaam di kamar tamu, Yaya sibuk memasukkan pakaian nya ke dalam koper.
"Uni...apakah uni mencintai mas Ridho?", tanya Yaya.
"Entahlah...uni tak tau!",jawab Nada.
"Uni...apa belum bisa melupakan bang Rayhan ya?", tanya Yaya.
"Bagaimana uni bisa melupakannya, sampai sekarang pun bayangannya wajah masih ada dalam ingatan uni. Uni ingin melupakannya tapi tak bisa, terlalu banyak kenangan indah bersama, meski kami tak pernah mengungkapkan perasaan, tapi bang Farel selalu bilang bahwa sampai sekarang Rayhan masih menyimpan foto uni."
Tanpa terasa air mata Nada menetes di pipi, ada rasa sakit dan nyesak didada. Luka tapi tak berdarah, jujur hati ini masih terkadang merindu.
"Bukankah waktu itu uni mau di lamar oleh bang Ray?, duduk di samping Nada sambil menggendong Azzaam.
"Abang Rayhan memang mau melamar uni...uni menolaknya".
"Kenapa uni menolaknya?".
"Karena...bagaimana mungkin uni akan bahagia sementara teman uni mencintainya", ujar Nada.
"Apa karena kak Lisna?", tanya Yaya karena penasaran.
"Iya...Lisna mencintai bang Rayhan", menarik napas dalam dan melepasnya dengan pelan
"Tapi...apa uni tau...kepergian uni membawa perubahan pada bang Ray....".
"Apa maksud mu?".
"Uni, dengar ya. Bang Rayhan sangat memcintai uni, ia akan melamar uni pada waktu ultah uni yang ke 24, tapi pada hari itu uni bertemukan dengan kak Lisna di kampus, kak Lisna memperlihatkan foto bang Ray yang menggandeng mesra Lisna...benarkan uni?" cecar Yaya.
"Kamu tau dari mana?", tanya Nada penasaran.
"Kak Lisna yang menceritakannya, setelah ia mengetahui bahwa bang Ray memcintai uni, kak Lisna mendengar sendiri dari percakapan bang Ray dengan bang Farel di kantor mereka, karena merekakan satu kantor" Yaya memceritakan apa yang sebenar terjadi.
"Apa uni tau...sejak kepergian uni, bang Ray tiap hari club malam, minum dan mabuk, hampir 3 bulan seperti itu, akhirnya kak Lisna menyerah, dan mencari uni ke rumah, tapi sesuai permintaan uni kami tak memberitahukan keberadaan uni", memeluk Nada yang sudah terisak.
"Uni tak tau, uni tak tau apakah masih ada rasa cinta itu sekarang...entahlah", ujar Nada frustasi.
-
"Sampai sekarang bang Ray masih mencintai uni, tapi uni sudah menikah dan mengandung anak mas Ridho, uni?", Yaya memperhatikan mata Nada dan sangat terlihat binar cinta, cinta tuk Rayhan.
"Nada!!!", tiba tiba terdengar suara di pintu kamar.
"Mas...", Nada melihat tatapan dingin Ridho.
"Apa benar kamu mencintai Rayhan?", tanya Ridho sambil bersedekap tangan di dada.
"Mas, sejak kapan kamu pulang sholat jum'at?" bertanya pada Ridho.
"Mas pulang dari tadi, jawab pertanyaan saya Nada", sedikit berteriak deengan nada suara seperti bentakan.
Ridho masuk ke kamar Yaya dan menarik lengan Nada, mencengkeram erat dan menariknya keluar dan berjalan ke kamar mereka.
Ridho melepaskan cengkaramannya, dan mendorong Nada dengan kasar hingga Nada jatuh ke atas kasur.
"Apakah kami mencintai Rayhan?, duduk di
dekat Nada dan menatap tajam istrinya.
"Jawab Nada", dengan suara tinggi dan bentakan.
"Ti...ttidak mas...", jawab Nada dengan gemetar, pandangan mata Ridho menakutkan.
"Tidak...apa saya percaya dengan perkataan mu", mekemparkan baju koko ke lantai dengan penuh emosi seperti melampiaskan kemarahannya yang sudah klimaks.
Nada diam saja, tak menjawab karena ia sendiri juga bingung, yang ada di pikirannya sekarang bagaimana harus keluar dari kamar karena sebentar lagi Yaya akan berangkat ke Yogyakarta.
"Mas, Yaya akan berangkat, aku harus menemuinya sekarang", sambil berdiri dan hendak berjalan membuka pintu kamar, tapi seketika terhenti karena panggilan Ridho.
"Temui adek mu, ingat urusan kita belum selesai", menggandeng mesra istrinya keluar kamar, seolah olah tidak terjadi apa apa.
\=\=\=\=\=
"Mas, uni, Yaya berangkat ya, titip Azzaam, maaf Yaya merepotkan uni dan mas Ridho", mencium pipi gempil Azzaam.
"Selesaikan kuliahmu cepat, jangan main main lagi, biar cepat kelar dan kembali lagi, bagaimanapun Azzaam butuh ibunya", nasehat Ridho pada adek iparnya.
"Iya mas, maaf telah merepotkan mas dan uni", imbuh Yaya.
"Ngak kok Ya, uni malah senang jadi ngak sepi nich rumah", ujar Nada.
"Udah semuanya kan Ya", tanya Ridho sambil mengangkat koper ke bagasi taksi.
"Udah mas", jawab Yaya.
Yaya melambaikan tangannya pada anaknya Azzaam, ada rasa sedih yang teramat dalam meniinggalkan anak dan kakak perempuannya. Rasa khawatir yang teramat besar akan sesuatu yang akan terjadi, ketakutan yang luar biasa karena melihat kemarahan dan tatapan dingin Ridho.
"Masuk!", perintah Ridho.
Ridho menggendong Azzaam dan membawanya ke kamar dan membaringkannya di kasur. Ridho mencium kening, pipi Azzaam dengan gemas.
"Nada...kamu tidur di kamar tamu bersama Azzaam, keluar sekarang dari kamar ini!", titah Ridho.
Tanpa menjawab Nada berjalan menghampiri Azzaam dan segera menggendongnya, berjalan keluar kamar.
\=\=\=\=\=
Setelah Nada keluar kamar, Ridho menuju kamar mandi, ia ingin mengguyur seluruh badannya dengan air dingin tuk meredakan amarahnya.
"Apakah aku salah menikahinya...aku mencintainya, sangat mencintainya, tapi ternyata tak ada cinta di matanya, selama 5 bulan pernikahan aku tak pernah melihat tatapan penuh cinta, tapi hari ini aku melihat cinta di matanya, tapi bukan untuk ku, hanya mendengar dan menyebutkan nama Rayhan, binar cinta itu muncul di mata indahnya, tak adakah cinta sedikit di hatinya yang terpancar di binar matanya kala aku memandangnya, aku marah, benci, kesal, tapi melihat raut wajahnya yang ketakutan aku tak tega, saat aku membentaknya matanya langsung beribaj sendu, mana mungkin aku tega, Yaa Allah apa yang harus ku lakuukan?", batinnya dalam hati.
Hampir 1 jam lamanya Ridho di kamar mandi tuk meredam rasa amarahnya. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Nada dan anak dalam kandungan Nada, apalagi ada Azzaam yang harus ia asuh, dengan kasih sayang.
Ridho keluar dari kamar setelah berpakaian dan berjalan ke kamar sebelah, tempat Nada dan Azzaam mengungsi.
"Nad...sayang", membuka pintu kamar dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, tetapi tidak ada.
Ridho panik dan segera berlari ke arah pintu kamar mandi, tak ada. Ridho segera keluar kamar dan mencari ke seluruh penjuru rumah, tetap tak menemukan istri dan ponakannya.
"Yaa Allah...".