NovelToon NovelToon
Ketika Istriku Berbeda

Ketika Istriku Berbeda

Status: tamat
Genre:Tamat / Cintapertama / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:854.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Muhammad Yunus

"Mas kamu sudah pulang?" tanya itu sudah menjadi hal wajib ketika lelaki itu pulang dari mengajar.

Senyum wanita itu tak tersambut. Lelaki yang disambutnya dengan senyum manis justru pergi melewatinya begitu saja.

"Mas, tadi..."

Ucapan wanita itu terhenti mendapati tatapan mata tajam suaminya.

"Demi Allah aku lelah dengan semua ini. Bisakah barang sejenak kamu dan Ilyas pulang kerumah Abah."

Dinar tertegun mendengar ucapan suaminya.

Bukankah selama ini pernikahan mereka baik-baik saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak pindah.

Hassan gegas menarik tangannya. Bukan apa dia tak ingin kebablasan.

"Eh, sakit." keluh Dinar yang membuat Hassan kaget

Apanya sakit?

"Dadaku kena kuku mu! Aku kan nggak pake bra!"

"Ha?"

Dinar mencabik kesal, menatap Hassan dengan garang.

"Sini, kamu juga harus rasain apa yang aku rasain." tiba-tiba Dinar menerjang Irham hingga terlentang di kasur. Dinar tak segan naik di tubuhnya.

Entah karena kaget atau syok. Hassan hanya diam sampai pada saat Dinar mencubit dadanya dia baru mengaduh.

Bukan merasa canggung. Perempuan yang duduk di atas tubuhnya malah tertawa.

"Hahaha, sakit kan?" tanyanya dengan tawa lepas seakan kesakitan Hassan adalah hal yang lucu.

"Di-dinar..." panggil Hassan sambil berusaha menurunkan Dinar dari atas perutnya. Demi apapun Hassan sangat tak nyaman dengan kedekatan ini.

Penyiksaan batin ini namanya.

"Ah payah." celetuk Dinar. Wajah kesal itu menggemaskan.

Hassan meringis.

"Aku tadi nggak sengaja, kalau sakit biar ku obati." tawar Hassan berusaha untuk tetap menjaga intonasi suaranya agar tak goyah.

"Ya udah " jawab Dinar acuh. "Nih, kan, merah!" adunya sendu. Bibirnya bergerak-gerak meniup dadanya yang terluka.

Rasa lelah yang Hassan rasakan hari ini langsung menguap digantikan dengan rasa kaget se kaget-kagetnya dengan tingkah istrinya.

Tepat di hadapannya perempuan 23 tahun itu sedang menunjukkan sesuatu yang menguji imannya.

"Dinar, kamu nggak boleh sembarang buka baju seperti itu." sentak Hassan membuang wajahnya. Laki-laki itu berusaha menormalkan debar jantungnya.

Sungguh.

Dinar yang ini berpotensi membuatnya terkena serangan jantung.

Dinar mendongak, bingung dengan ucapan Hassan. Kan tadi Hassan sendiri yang katanya mau mengobati luka yang lelaki itu ciptakan, gimana sih?

"Yang lupa ingatan aku, yang pikun kamu." cecar Dinar.

Apa lagi?

"Kan tadi kamu yang katanya mau obati."

"Dinar aku minta maaf, anggap aku salah bicara, " Hassan megap-megap."itu lukanya nggak harus di obati, hanya goresan kecil, besok InsyaAllah sudah sembuh." Hassan mencoba memberi pengertian. "Sekarang kita tidur dulu, besok kita harus pergi ke rumah yang sudah Abah siapkan, bukan?"

"Oe..aku boleh milih nggak sih?"

Oe?

"Panggil aku Abang, Mas, atau yang lebih sopan Dinar. Jangan, kamu, apalagi Oe." nasehat Hassan pada istrinya yang luar biasa menguras kesabaran.

Dinar bergumam.

"Oke, aku boleh milih nggak sih, Abang?" Dinar meralat ucapannya. Kini sudah ada sebutan Abang dibelakang kalimatnya.

"Apa?"

"Aku mau disini aja, sama Mama, Papa, Kamu. Kan aku begini karena kecelakaan, masak aku harus pergi untuk menghindar?" tanya Dinar yang mulai merebahkan tubuhnya di samping Hassan.

"Di sini banyak orang, takutnya nanti ada salah satu diantara mereka akan berbicara yang membuatmu tertekan." tutur Hassan.

"Tapi masak iya, harus pergi?" tanya Dinar menatap Hassan yang tengah berpikir tentang keluhan Dinar.

"Kamu mau tetap disini?" Hassan balik tanya. Dan Dinar mengangguk yakin.

"Nanti Abang bicara sama Abah" putus Hassan.

Akhirnya malam itu, pengantin baru itu tidur dengan posisi saling memunggungi.

Suara Azan subuh membangunkan Hassan. Sebenarnya Hassan bisa dibilang tak benar-benar tidur nyenyak.

Hassan bangun untuk segera mandi dan menunaikan kewajibannya. Sebelum itu ia bangunkan Dinar terlebih dahulu.

"Dinar, bangunlah." Hassan coba mengguncang kecil bahu sang istri, tapi tak ada respon sama sekali.

Di usapnya lembut kepala yang tak tertutup hijab itu ke arah belakang, sambil terus memanggil nama sang istri, baru setelahnya mata yang terpejam itu mulai bergerak.

Hassan dibuat gemas dengan tingkah Dinar, rasanya ingin sekali mengecup bertubi-tubi pipi serta matanya yang memiliki bulu lentik itu, setidaknya hatinya sangat ingin hubungan antara mereka berjalan semestinya.

Tapi lagi-lagi hati kecilnya melarang. Hassan ingin berjuang mendapatkan cinta Dinar dengan perjuangan, bukan dengan cara main asal, meskipun bisa saja ia memaksa Dinar dengan dalih mereka sudah sah, wajar saja mencium dan menggaulinya tapi Hassan takut, kelak ia akan menanggung semua konsekuensi berat ketika Dinar bisa mengingat tentang masa lalunya.

*******

Hassan sudah siap pergi ke pondok, saat tiba-tiba Dinar memanggilnya.

Kiai Ahmad Sulaiman tidak keberatan dengan keinginan Dinar yang tetap tinggal. Untuk itu Hassan harus tetap membantu mengurus pondok pesantren.

"Abang!" teriak Dinar dari lantai dua.

Hassan yang sedang meraih sepatunya dari lemari sepatu menoleh. Dinar melambai, Hassan meletakkan kembali sepatu yang sudah ia ambil dan berjalan memenuhi panggilan istrinya.

"Ada apa? Dinar." tanyanya ketika Dinar tersenyum padanya.

"Aku ikut Abang ke pondok, boleh? Aku bosan di kamar terus."

"Tapi..."

"Nggak boleh ya?" belum selesai kalimat Hassan, Dinar sudah menyelanya.

Hassan menghembuskan nafasnya panjang. "Ya sudah, kamu ganti baju dan pake hijab, oke."

"Yes, siap, Pak Komandan." tanpa dikomando lagi Dinar masuk kembali ke dalam kamar, meninggalkan Hassan yang menatap punggung kecilnya sendu.

Semoga semua terkontrol dengan baik.

Sampai di pondok. Hassan di sapa oleh beberapa santri. Hassan membawa Dinar masuk ke ndalem.

"Assalamualaikum.. Gus."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh."

Semua yang di pondok tahu keadaan Dinar yang lupa ingatan, beberapa kali Kiai Ahmad Sulaiman mengadakan doa bersama untuk kesembuhan Dinar.

Sampai di ruangannya. Hassan mengambilkan kursi untuk istrinya.

"Duduk sini." Dinar berdiri dari kursi rodanya dan melangkah pelan ke kursi yang di siapkan Hassan, tentu dengan di bantu lelaki itu.

"Namamu Hassan kenapa jadi Agus?" tanya Dinar yang membuat Hassan mengerutkan keningnya.

"Tadi orang-orang memanggilmu Gus, Gus, Gus. Apa nama lengkap mu ada Agusnya?"

Hassan terkekeh kecil mendengar ucapan Dinar.

"Bukan begitu Dinar. Kamu salah paham."

Akhirnya mengalir lah cerita dari bibir Hassan tentang asal usul panggilan Gus itu.

Dan yang membuat Hassan gemas setengah mati setelah ia jelaskan panjang lebar tanggapan istrinya cuma 'O' saja.

Usai menyiapkan yang akan ia bawa ke kelas, Hassan menghampiri istrinya. "Aku mengajar dulu, kamu boleh jalan-jalan jika jenuh, tapi jangan jauh-jauh, aku sudah minta santri untuk menemanimu."

Tak lama terdengar salam dari dua santri putri yang Hassan maksud.

"Saya titip istri saya ya, tolong di antar kalau Ning Dinar ingin pergi keliling, kalau ada apa-apa hubungi saya ke sini." Hassan memberikan nomor yang bisa dihubungi.

"Baik Gus Hassan." serempak mereka menjawab.

"Terima kasih, saya pergi dulu." tak lupa, Hassan mengusap kepala Dinar lembut sebelum pergi.

Dinar di perlakukan seperti itu menunduk malu.

Setelah kepergian Hassan. Dinar di ajak ngobrol dengan kedua santri putri itu.

Sherly Dan Sauma, namanya.

"Kalau pengajar perempuan di sebelah mana?" tanya Dinar setelah mereka banyak bercerita.

"Di sebelah sana Ning, yang ada tulisannya kawasan Akhwat."

"Jadi saya dulu dibesarkan di lingkungan ini?"

"Iya, Ning Dinar adalah kaka kelas adik ana dua tingkatan. Ning. Tapi kami-kami tak seberuntung Ning Dinar yang pinter dan di sukai banyak Ihwan. Hari dimana Ning Dinar menikah, itu adalah hari patah hati hampir semua Ihwan pondok Al-Hasan." jelas Sauma membeberkan.

"Tapi kan, aku nikahnya baru kemarin malam." tanya Dinar.

"Yang pernikahan pertama maksud nya Ning. Eh.." Sauma tersadar dari ucapannya.

"Maaf-maaf Ning Dinar, ana -ana salah bicara." gugupnya kemudian.

Dinar langsung menoleh. "Jadi aku dan Hassan nikah yang kedua kalinya?" kepala Dinar sudah mulai tak nyaman.

"Bukan begitu Ning, tapi .."

"Dinar."

Suara Hassan membuat kedua santri itu berdiri khawatir.

1
Dewi Oktavia
laki tuh tak akan puas,jika sudah ketahuan ujung y maaf atau khilaf🤣😂 menjijikan.
Ratna Fika Ajah
Luar biasa
Wang Dong
Bukankah dinar dan hassan adalah saudara persusuan dimana dalam islam gak boleh nikah???
Farika Willesden
Luar biasa
Nurtina Arjuna
Lumayan
Yuni Ngsih
Tkooooor knapa Ending yg punya ceritra meninggsl ngga seruuuuuu Thor😭😭😭😭😭
Yuni Ngsih
Thooooor knp Dinar trs diuji dlm ceritra ini yg membuat ceritra tdk adil kapan Dinar bahagianya Thor....😡😡😡
Naufal hanifah
Luar biasa
Yuni Ngsih
Thooooooor ceritramu aneh masa orang yg ceritra meningga ngga seru Thor ulang ceritranya ....😡😡😡
Siti M Akil
nanti Ilham meninggal dinar nikah sama Hasan
Yuni Ngsih
Dasar laki" tak tahu diri kan tau gmn membimbing istri ,apalagi dinikahkan usia 19 th kawin punys anak ,emang enak ngurus anak tanpa ada yg membantu ....kynya blm pas Thor dipanggil Gus ....introfeksi Ilham berarti sbg suami menurut syariat islam blm berhasil ....bikin kesel yg baca Thor😠😠😠
Hastin71
Buruk
Dewi Kasinji
ya Allah , sad ending ya
Dewi Kasinji
irham kayaknya gak belajar dari pengalaman ya.
Dewi Kasinji
Luar biasa
Dewi Kasinji
ijin baca kak
3sna
tanggung jawab,atas dasar apa tanggung jawab itu ham?
Heryta Herman
muter",pusing
Heryta Herman
dasar irham laki" tdk pandai bersyukur...
Merli Gosal
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!