Menjadi anak patuh terhadap orang tua terkadang membuat dilema tersendiri bagi seorang anak. Ketika orang tua memberikan suatu pilihan yang tak dapat di pilih juga tak dapat menolak membuat seorang anak hanya bisa pasrah terhadap apapun yang menjadi pilihan orang tua.
Seperti Airin atau biasa di panggil Air yang harus rela menerima perjodohan dengan anak dari bos dari Ayah nya.
Bagaimana kelanjutannya?
Yuk ikuti terus ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur
Setelah bersitegang sebentar di depan ruang pemeriksaan dokter Mala akhirnya Alexa, Air, Dara dan Mami Kamelia masuk juga ke ruangan Dokter Mala. Dan benar saja Dokter Mala baru saja keluar dari ruang operasi bahkan Dokter Mala berjalan terburu-buru dan meminta maaf pada Mami Kamelia karena dirinya terlambat dan tidak sempat memberi kabar.
Pihak rumah sakit pun telah meminta maaf atas kelalaian yang terjadi. Dan sebagai sangsinya suster yang bertugas sebagai asisten Dokter Mala di rumahkan untuk sementara. Karena telah melakukan pemeriksaan tanpa seijin Dokter Mala.
Alexa pertama yang melakukan pemeriksaan. Ternyata bayinya berjenis kelamin laki-laki lagi dan dalam waktu sebulan kedepan akan segera launching. Kemudian Dara yang melakukan pemeriksaan selanjutnya karena Air ingin menjadi yang terakhir sesuai usia kehamilan.
Jenis kelamin bayi Dara belum bisa terlihat karena bayinya menyembunyikannya. Nampaknya masih malu-malu. Usia kehamilan Dara menginjak lima bulan. Kemudian Air terakhir. Air membaringkan tubuhnya dan membuka sedikit pakaiannya untuk mempermudah Dokter Mala memeriksa bagian perutnya.
"Alhamdulillah janinnya sehat Nona. Usianya sekarang masuk di 14 minggu." Jelas Dokter Mala.
"Alhamdulillah." Ucap semuanya bersamaan.
"Tapi, Dok kenapa perut Air masih rata ya?" Tanya Air polos.
"Tidak apa-apa Nona. Biasanya akan seperti itu. Nanti setelah beberapa minggu ke depan akan lebih terlihat lagi perutnya." Dokter Mala.
"Sabar sayang. Sekarang yang terpenting kamu sama bayinya sehat dulu." Mami Kamelia.
"Iya Ir, ntar juga kaya kita begini." Dara.
"Ish.. Iya Ra." Air.
Setelah berkonsultasi dan mendapatkan resep vitamin mereka pun berpamitan pada Dokter Maya setelah itu mereka keluar menuju farmasi. Baru saja Air akan mengetikkan pesan pada Alrik ternyata Alrik sudah berada di depan ruang praktek Dokter Mala. Alrik merentangkan kedua tangannya dan Air pun langsung menghambur kedalamnya.
"Astaga! Ampun deh bucin." Ledek Dara.
"Hahahahaha." Mami Kamelia dan Alexa pun tertawa mendengar cibiran Dara untuk Air.
Bukan hanya Dara saja. Bahkan para pasien yang menunggu giliran pemeriksaan pun merasa ikut larut dengan kebucinan pasangan tersebut.
"Sudah sana pulang lebih dulu. Biar Mami ambilkan vitaminnya." Perintah Mami pada Alrik dan Air.
"Terima kasih Mi. Al bawa istri Al dulu ya." Pamit Alrik.
"Ya udah sana." Alexa.
Mereka pun pulang lebih dulu. Sementara Dara, Alexa dan Mami Kamelia menuju ruang Farmasi.
"Bagaimana didengar sehat bukan?" Tanya Alrik.
"Alhamdulillah sehat Mas. Usianya 14 minggu." Lapor Air.
"Alhamdulillah. Sekarang mau langsung pulang atau ikut Mas ke kantor?" Tanya Alrik.
"Ikut Mas boleh?" Tanya Air manja.
"Tentu saja." Alrik.
Alrik pun melajukan mobilnya menuju perusahaannya. Air duduk dengan tenang di samping kemudi. Tangan kiri Alrik pun selalu menggenggam tangan kanan Air. Sesekali saja dia melepaskan tangan Air. Tak lama mobil Alrik pun sampai di halaman parkir perusahaannya bersamaan dengan Alrik dan Air memasuki lobi Papi Anggara terlihat keluar dari lift.
"Loh, sudah selesai?" Tanya Papi Anggara.
"Sudah Pi. Tapi Mami sama Kakak juga Dara masih di sana." Lapor Air.
"Baiklah. Papi tinggal dulu ya." Papi Anggara.
"Oke Pi." Air.
Alrik pun membawa Air kedalam ruangannya. Air duduk dengan tenang di sofa sambil membaca majalah bisnis yang terdapat di sana. Sementara Alrik kembali melanjutkan pekerjaannya setelah meminta ijin Air. Mereka pun fokus masing-masing. Alrik ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karena tidak ingin membuat istri kesayangannya menunggu terlalu lama.
Selang berapa menit Alrik melihat dari ujung matanya jika Air telah meringkuk di atas sofa dengan mata yang terpejam. Entah sejak kapan Air tertidur Alrik tak menyadarinya. Niat hati ingin memindahkan Air kedalam ruang pribadinya namun Alrik sedikit khawatir jika Air terbangun nanti Air akan mencarinya.
Tok... Tok...
Bunyi ketukan di pintu membuyarkan fikiran Alrik.
"Masuk." Perintah Alrik.
Kemudian Masuklah Gilang asisten pribadi Alrik. Alrik menyimpan jari telunjuknya di depan mulutnya ketika Gilang muncul di balik pintu. Gilang pun menutup mulutnya kembali saat melihat Air yang tengah tidur di atas sofa.
"Kenapa ga di pindah Bos?" Tanya Gilang berbisik.
"Saya khawatir saat dia bangun mencari saya." Alrik.
"Hm.. Baiklah. Saya perlu tanda tangannya Bos. Ini laporan keuangan tadi. Saya sudah cek lagi dan sudah tepat." Gilang.
"Bagus." Alrik.
"Ini berkas yang tadi saya sudah cek. Dan untuk yang baru saja tadi saya sudah kirim ke email kamu. Saya akan pulang setelah istri saya bangun." Alrik.
"Siap Bos." Gilang.
Gilang pun pergi meninggalkan ruangan Alrik dan kembali ke ruangannya. Setelah Gilang pergi Alrik membereskan pekerjaannya kemudian mendekati sang istri yang tengah tertidur. Mengusap pipi lembut Air namun tak terusik sedikitpun.
Alrik mengambil benda pipih di dalam sakunya. Kemudian menghubungi supirnya untuk menyiapkan mobilnya karena dirinya akan pulang bersama Air. Namun Alrik memintanya untuk mengemukakan mobilnya karena Ait tertidur.
"Sayang,,," Panggil Alrik lembut.
Dan tetap tanpa reaksi dari Air. Alrik pun. berinisiatif untuk menggendongnya. Namun, sebelumnya Alrik meminta sari sekretaris nya untuk membawakan tas kerjanya dan juga tas Air ke lobi bersamanya. Sari pun menurutinya dan berjalan lebih dulu dari Alrik. Sari memencet tombol lift khusus petinggi dan mempersilahkan Alrik untuk masuk terlebih dahulu kemudian di susul dirinya.
Sampai di lobi mobil Alrik sudah menunggu dengan pintu penumpang yang sudah di buka oleh supir. Sari pun menyimpan tas Alrik dan Air di kursi penumpang samping supir. Tak lupa Alrik berterima kasih pada Sari dan memintanya kembali ke atas. Sari pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Wah, enak bener ya Sar istri Bos." Lina si resepsionis berkomentar.
"Maksudnya?" Tanya Sari.
"Itu tadi tidur beneran apa pura-pura tidur biar di gendong Bos?" Lina.
"Mana saya tau." Sari.
"Ceh, ga mungkin kamu ga tau Sar. Bukannya kamu tadi turun bersama mereka." Lina.
"Benar saya turun bersama mereka tapi saya tidak kepo seperti kamu." Sari.
"Saya ngga kepo ya. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri barusan Sari." Lina.
"Ya kalo udah liat ngapain kamu tanya saya. Huh... Buang-buang waktu saya saja." Ucap Sari kembali melanjutkan langkahnya menuju lift yang baru saja dia gunakan untuk turun.
Lina mendengus kesal. Pasalnya dirinya selalu mencari perhatian dari Alrik semenjak Anggara CEO di perusahaan tempatnya bekerja memperkenalkan Alrik sebagai penggantinya. Lina selalu berusaha menarik perhatian Alrik walaupun nyatanya nihil tak sedikit pun Alrik meliriknya. Dan tiba-tiba saja Lina mendengar kabar jika Alrik ternyata sudah memiliki istri bahkan di akui sendiri oleh Lina jika Air begitu cantik dan imut membuat siapa saja pria pasti menyukainya.
🌼🌼🌼