Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Api di Lembah Qingsan
Derap ribuan sepatu kuda memecah keheningan pegunungan perbatasan selatan. Langit subuh di atas Desa Qingshan memerah membara. Gumpalan asap hitam tebal membubung tinggi menutupi puncaknya tebing granit. Bau belerang, mesiu terbakar, dan amis darah kental menyengat hidung dari jarak setengah mil.
Ma Huang memacu kuda jantan hitamnya tanpa henti. Jubah birunya yang terkoyak berkibar keras diterpa angin kencang. Di belakangnya, Tie Shan dan Feng Ni memimpin seribu penunggang kuda zirah berat Pasukan Serigala Hitam yang bergerak bagaikan gelombang pasang kehitaman.
Benteng kayu pelindung Desa Qingshan telah roboh menjadi arang yang membara. Pasak-pasak tembaga pelindung parit luar hancur berkeping-keping akibat ledakan mesiu hitam Sekte Cakar Iblis. Ratusan jasad warga sipil dan prajurit pengawal Keluarga Ma tergeletak kaku di atas tanah berlumpur yang menghitam.
Tiga ratus murid Sekte Cakar Iblis berpakaian serba hitam mengepung bagian panggung altar utama. Di tangan mereka, teracung cakar besi bertanduk tiga yang memancarkan pendar hijau beracun.
Master Han berdiri kaku di atas tangga altar dengan baju zirah yang terkoyak. Tombak Perunggu Tujuh Bintang di tangannya berlumuran darah kental. Di sampingnya, Pertapa Gu Mo berlutut dengan napas memburu, sarung tangan besi meteoritnya retak melingkar akibat menahan gempuran peledak mesiu.
Sesosok pria berjanggut abu-abu dengan jubah hitam berukir cakar emas berdiri membelakangi kobaran api altar. Tetua Agung Sekte Cakar Iblis, Mo Yun, mengusap bercak darah di ujung cakar besinya.
"Menyerahlah, Han Tua," suara Mo Yun bergema parau dan dingin. "Keluarga Ma sudah punah lima belas tahun lalu. Hari ini sisa-sisa anjing pengikut kalian akan menyusul ke neraka!"
Mo Yun mengangkat cakar besi kanannya tinggi-tinggi. Tiga puluh murid elit Sekte Cakar Iblis melompat maju, mengayunkan cakar beracun mereka mengincar leher Master Han yang kelelahan.
Brak! Bummm!
Kuda jantan hitam Ma Huang menerobos dinding barikade arang yang terbakar. Kuda itu melompat setinggi dua tombak di udara, mendarat menghantam dua murid Sekte Cakar Iblis hingga tulang dada mereka remuk berantakan.
Ma Huang melompat turun dari pelana sebelum kudanya menyentuh tanah. Pedang Tulang Hitam di tangan kirinya terayun melingkar dalam satu putaran penuh yang memotong udara dingin.
Srettt!
Bilah pedang hitam beracun memotong leher empat murid Sekte Cakar Iblis sekaligus dalam sekedip mata. Darah segar menyembur basah, menyiram batu granit altar yang terbakar.
Seluruh lapangan benteng mendadak menjadi senyap. Murid-murid Sekte Cakar Iblis melangkah mundur ketakutan menatap sepasang mata merah Ma Huang yang berkilat dingin di balik kepulan asap hitam.
Master Han menahan napasnya. Tangannya yang memegang tombak gemetar kencang. "Tuan... Tuan Muda..."
Ma Huang tidak menoleh. Ia melangkah tiga depa berdiri di hadapan Master Han dan Pertapa Gu Mo, membelakangi mereka untuk menahan seluruh tekanan udara beracun dari pasukan musuh.
"Beristirahatlah, Master Han," kata Ma Huang dengan nada suara mendatar. "Kekuatan utama Kota Yunjiang telah tumpas. Tuan Kota Jian sudah mati."
Mo Yun menyipitkan matanya tajam. Wajah tuanya berkerut murka menatap sosok pemuda yang berdiri kaku di hadapannya. "Kau... kau adalah putra Ma Ren!"
"Namaku Ma Huang," balas Ma Huang kaku. Ujung Pedang Tulang Hitam ditunjukannya lurus ke dada Mo Yun. "Dan kau adalah orang terakhir yang bertanggung jawab atas pembantaian lima belas tahun lalu."
Mo Yun tertawa keras secara histeris. Tawa parau itu menggetarkan udara beracun di sekitar benteng. "Bocah ingusan! Kau pikir hanya karena berhasil membunuh anjing-anjing Yunjiang kau sanggup menantang Sekte Cakar Iblis?"
Mo Yun menjejakkan kaki kirinya kencang ke atas batu granit. Tubuhnya meluncur mendatar bagaikan kilat hitam. Dua cakar besi di tangannya diayunkan menyilang dari atas, mengincar kepala dan dada Ma Huang secara bersamaan.
Tebasan cakar besi itu membawa gelombang angin hijau pekat dari racun Mayat Hitam. Bau busuk bangkai merebak cepat membakar rumput di sekeliling panggung batu.
Ma Huang tidak melompat mundur. Ia menyalurkan lingkaran energi Inti Bencana Hitam-Keemasan lurus ke dalam Dantiannya. Pedang Tulang Hitam diangkatnya melintang dengan satu tangan untuk menahan gempuran ganda Mo Yun.
Cring! Tranggg!
Benturan keras dua senjata beracun memercikkan gelombang api kebiruan yang membakar udara malam. Daya dorong tenaga dalam Mo Yun membuat lantai granit di bawah kaki Ma Huang retak terbelah.
Ma Huang menggeser tumpuan kakinya setengah jengkal ke kiri. Ia memutar pergelangan tangan kirinya kencang-kencang, menggeser lintasan cakar besi Mo Yun ke arah luar.
Sisi tumpul Pedang Tulang Hitam dihantamkannya kencang ke arah rusuk kanan Mo Yun.
Mo Yun terperanjat. Ia memutar badannya sembilan puluh derajat di udara, menarik cakar kiri untuk menangkis hantaman pedang Ma Huang.
Brak!
Getaran tenaga dalam keemasan membuat Mo Yun terlempar lima langkah ke belakang. Pijakan kakinya terseret kaku di atas tanah berlumpur yang terbakar.
Mo Yun menatap cakar besi kirinya dengan mata membelalak lebar. Lapisan racun Mayat Hitam di permukaan cakarnya mendidih melepuh, terkikis cepat oleh racun korosif Ular Hijau milik Ma Huang.
"Racun apa ini?" desis Mo Yun dengan napas berat. "Bagaimana mungkin ada racun yang sanggup merusak baja Cakar Iblis milikku?"
Ma Huang melangkah maju menekan tanpa memberikan jeda. Pedang Tulang Hitam di tangannya meluncur deras melancarkan tiga sabetan mendatar yang membendung seluruh sudut pelarian Mo Yun.
Mo Yun menggeretakkan giginya kencang. Ia mengayunkan kedua cakarnya secara brutal, menangkis setiap tebasan Ma Huang dengan benturan keras yang memercikkan api.
Ting! Trang! Krak!
Setiap kali kedua senjata mereka beradu, racun dingin Inti Bencana merembes menembus celah-celah zirah besi Mo Yun. Pembuluh darah di kedua lengan Tetua Agung itu membiru kaku, membekukan aliran tenaga dalam di persendian sikunya.
Mo Yun meresapi rasa dingin membakar yang merambat cepat menuju dadanya. Amarah liar membakar pikirannya. Tangannya yang bebas merogoh kantong jubahnya, menarik keluar dua bola peledak mesiu hitam mini berujung batu api.
"Mati kau bersama seluruh tempat ini!" raung Mo Yun.
Mo Yun melempar dua bola peledak itu kencang-kencang ke arah dada Ma Huang dari jarak satu depa.
Ma Huang menyalurkan hawa dingin pekat dari Jalur Darah Pemakan Bencana lurus ke telapak tangan kanannya. Ia tidak menghindar, melainkan menyambar kedua bola peledak mesiu itu secara langsung di udara sebelum sumbu batu apinya sempat membakar mesiu di dalam.
Klek!
Hawa racun dingin membekukan seketika seluruh permukaan batu api dan bubuk mesiu di dalam bola besi tersebut. Dua bola peledak itu berubah menjadi gumpalan es kehitaman yang tidak berbahaya di dalam cengkeraman Ma Huang.
Mo Yun membeku kaku. Wajah tuanya pucat pasi tanpa tersisa warna kehidupan sedikit pun. "Kau... kau membekukan mesiu hitam..."
Ma Huang merekatkan cengkeraman tangannya, meremukkan dua bola peledak es itu hingga hancur menjadi debu hitam di atas tanah basah.
"Teknik murahanmu tidak berlaku di hadapanku," kata Ma Huang dingin.
Ma Huang melesat maju bagaikan bayangan hitam yang membelah tirai asap. Pedang Tulang Hitam diayunkannya dalam satu sabetan lurus dari bawah ke atas.
Mo Yun mengangkat kedua cakar besinya melintang untuk menahan tebasan Ma Huang.
Brak! Krak!
Dua cakar besi tebal milik Tetua Agung Sekte Cakar Iblis patah terbelah dua. Bilah Pedang Tulang Hitam melanjutkan lintasannya tanpa hambatan, menebas kedua pergelangan tangan Mo Yun hingga putus secara bersih.
Darah segar menyembur deras membasahi batu granit altar. Mo Yun meraung histeris seraya memegang pangkal kedua tangannya yang buntung. Tubuhnya roboh berlutut di atas tanah berlumpur yang basah.
Ma Huang berdiri kaku di hadapannya. Ujung Pedang Tulang Hitam yang meneteskan darah kental ditunjukkannya tepat di depan leher Mo Yun.
"Siapa pimpinan tertinggi yang memberi perintah dari Provinsi Lingnan?" tanya Ma Huang kaku.
Mo Yun mendongak dengan napas tersedat-sedat oleh gumpalan darah di tenggorokannya. Sepasang matanya yang liar menatap Ma Huang dengan raut keputusasaan.
"Ketua... Ketua Sekte Cakar Iblis... Master Yan Leng..." bisik Mo Yun parau. "Kau tidak akan pernah sanggup menembus Provinsi Lingnan... Istana Naga Merah... sudah menguasai seluruh perbatasan selatan..."
Ma Huang menggerakkan Pedang Tulang Hitam melintang dalam satu tebasan cepat tanpa ragu.
Srettt!
Bilah pedang hitam memotong leher Mo Yun secara sempurna. Kepala Tetua Agung Sekte Cakar Iblis itu menggelinding jatuh ke atas tanah arang yang membara, menghentikan deru napasnya seketika.
Di sekeliling benteng Desa Qingshan, seribu penunggang kuda Pasukan Serigala Hitam yang dipimpin Tie Shan merangsek masuk membantai sisa-sisa murid Sekte Cakar Iblis yang mencoba melarikan diri ke dalam hutan.
Dentangan senjata besi dan jeritan pasrah musuh perlahan surut ditelan gemuruh api benteng yang mulai padam diterpa hujan gerimis subuh.
Tie Shan melangkah mendekati panggung altar dengan kampak kembar yang lumuran darah kental. Ia berlutut dengan satu kaki di hadapan Ma Huang. "Musuh di Desa Qingshan telah dibantai habis, Tuan Muda!"
Feng Ni menyarungkan busur bajanya, menghampiri Master Han dan Pertapa Gu Mo untuk mengobati luka-luka bakar di tubuh kedua tetua tersebut.
Ma Huang mengusap darah Mo Yun dari bilah Pedang Tulang Hitam menggunakan kain jubahnya yang terkoyak. Ia menyarungkan pedang hitamnya kencang-kencang.
Tatapannya menembus gulungan asap subuh, menatap jauh ke arah pegunungan perbatasan utara yang membentang menuju Provinsi Lingnan.
Ancaman di Kota Yunjiang dan perbatasan selatan telah tumpas total. Namun, jalan pembalasan dendam Ma Huang baru saja membuka pintunya menuju wilayah yang jauh lebih besar dan berbahaya.