Rania adalah seorang gadis kelas 3 SMA, berusia 17 tahun. Ia di utus oleh abangnya meminjam uang untuk keselamatan ibu mereka yang saat itu sakit parah, kepada pria pemimpin di perusahaan tempat dirinya bekerja. Pria yang di katakannya baik itu ternyata memiliki sifat asli yang sombong dan kejam. Namum, di balik semua itu ada alasannya mengapa ia seperti itu.
Rania harus menikahi pria itu untuk melunasi hutangnya, bukan karena pria itu mencintainya. Tapi Bagas menjadikan pernikahannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Rania rela berkorban demi keselamatan ibunya. Bahkan ia rela meninggalkan sekolahnya yang sudah ia pertahankan mati-matian sebelumnya, agar tidak pernah putus sekolah.
Ig: windyrahmawati26
Follow ya guys.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsilla?
Rania keluar dari kamar dengan wajah yang masih bingung akibat kejadian pagi hari ini. Ia terus mencoba mencerna apa yang terjadi. Tapi, sebanyak apapun ia mencoba untuk berfikir, dia tetap tidak mendapat jawaban apa pun. Kenapa laki-laki itu tiba-tiba saja mendadak berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya.
Apa ini cuma tipu dayanya untuk memberi penderitaan selanjutnya, dengan cara menerbangkan dan menjatuhkan dengan cara sekaligus. Agar rasa sakit yang aku derita di rasakan berjuta-juta kali lipat. Ah, sialan! Sebenarnya apa isi di dalam otaknya itu!
Ia berjalan menuruni anak tangga dan menuju ruang makan. Tiga penghuni rumah itu sudah menunggunya.
Mati aku telah membuat tuan rumah ini tidak segera melaksanakan sarapan gara-gara aku!
Rania segera menarik kursi duduknya di samping Bagas. Kakak iparnya selalu saja memberi sorot mata kebencian, apalagi kali ini ia harus menunda sarapannya gara-gara gadis kampungan anggapannya itu.
"Maaf" ucap Rania dengan wajah tertunduk.
Tidak ada yang menjawab perminta maafan dari Rania termasuk Bagas. Padahal baru saja ia memperlakukan Rania layaknya manusia. Kali ini ia sudah memberi tatapan dinginnya lagi.
Tanpa basa-basi lagi, mereka semua memulai sarapan pagi ini. Rania mengoleskan cokelat di selembar roti tawar untuk Bagas. Kemudian mengoleskan cokelat ke selembar roti tawar lagi untuknya.
Sudah tahu kan, Rania pasti akan menjadi orang terakhir yang tersisa di meja makan setelah mereka bertiga menyelesaikan sarapan. Tiga orang itu mengambil selembar tisu secara bergantian untuk mengelap bibir dari sisa makanan. Di mulai dari Bagas dan di akhiri oleh Arsilla.
Sepertinya aku harus belajar ilmu jurus mempercepat makan. Kenapa sih, mereka tidak pernah menikmati makanan secara perlahan ketika menyantap. Selalu saja cepat. Ya ya, aku tahu kalian sibuk. Pasti menurut kalian waktu adalah uang. Tapi sayangnya uang kalian tidak akan pernah bisa membeli waktu.
Rania berdiri dari dan beranjak untuk mengejar langkah Bagas yang sudah mau pergi. Sampai di depan rumah, Bagas sudah masuk ke dalam mobil, semntara sekretaris Frans masih berdiri di sana sedang menerima telpon.
Rania mempercepat langkahnya menuju mobil. Sekretaris Frans baru saja selesai menelpon dengan seseorang dan memasukan ponselnya ke dalam saku jas hitam.
"Selamat pagi, sekretaris Frans" sapa Rania
"Pagi, nona"
"Apa kau terburu-buru?"
"Tidak usah banyak tanya, nona. Jika ada hal penting yang akan kau tanyakan atau di sampaikan, katakanlah!"
Kau sama galaknya seperti tuan Bagas. Mentang-mentang kau orang yang selalu ada di dekatnya, sehingga membuat virus kejam itu menular dalam dirimu.
"Em, saya boleh meminta nomor kontakmu, sekretaris Frans?"
Sekretaris Frans terdiam, ia hanya menatap Rania dengan kecurigaan.
"Tenang saja sekretaris Frans, saya hanya meminta nomer kontakmu, bukan nomer pakaian dalam mu!"
"Jaga bicaramu, nona!"
Rania menahan tawanya.
Haha, orang kaku sepertimu harus di beri banyak asupan candaan, hey sekretaris Frans.
"Maaf, sekretaris Frans. Saya hanya bercanda. Jangan menanggapinya terlalu serius!"
"Frans!" teriak Bagas dari dalam mobil, agar sekretaris Frans segera menaikki mobilnya.
"Iya, tuan. Sebentar!" jawab sekretaris Frans meminta waktu untuk meladeni nona ini.
"Jika tidak ada hal yang lebih penting, lebih baik kau kembali ke dalam rumah, nona!"
"Eh, tunggu, sekretaris Frans!" Rania menarik lengan sekretaris Frans yang bersiap membuka pintu mobil.
"Saya tadi sudah bilang pada anda, saya minta nomer kontaknya. Hanya untuk menanyakan tuan Bagas jika ada hal yang berkepentingan. Itu saja!"
"Baiklah!"
Rania merogoh ponsel yang ada di saku celana depan, kemudian di berikan kepada sekretaris Frans.
Sekretaris Frans langsung menerimanya dan menuliskan nomer kontaknya.
"Sudah saya save di kontak anda, nona" sekretaris Frans menyerahkan ponsel Rania kembali.
"Ok, terima kasih sekretaris Frans" ucap Rania sembari mengambil ponsel dari tangan sekretaris Frans.
Sekretaris Frans segera memasuki mobil, pak sopir dan tuannya sudah menunggu terlalu lama.
"Hati-hati!" Rania melambaikan tangan ketika mobil sudah melaju dan keluar dari gerbang utama.
*****
Rania berjalan memasuki rumah kembali. Sepertinya hari ini ia tidak akan keluar rumah, ia ingin berdiam diri di kamar untuk memikirkan hal kejadian pagi tadi, sampai ia benar-benar mendapat jawabannya.
Seketika Rania memberhentikan langkahnya ketika sampai di ruang tamu. Ia jadi kepikiran dengan Arsilla, kakak iparnya.
Aku jadi penasaran. Apa yang di lakukan kakak ipar sewaktu di rumah ya, sepertinya dia selalu berdiam diri di rumah.
Rania memutuskan untuk pergi ke dapur, berbincang-bincang dengan para pelayan sepertinya seru juga. Ia mendapati bi Asih yang sedang duduk di pojokan.
Sepertinya dia sedang beristirahat. Kebetulan sekali!
Rania segera menghampiri bi Asih. Lagi-lagi bi Asih di buat terkejut oleh kedatangan nona rumah ke dapur. Bi Asih langsung berdiri dari duduknya. Dan sekilas membungkukkan tubuhnya sebagai tanda rasa hormat.
"Selamat pagi, bi Asih" sapa Rania pada bi Asih, "Selamat pagi, semuanya" sapa Rania kepada para pelayan yang ada di sana.
"Selamat pagi juga, nona" jawab mereka, ada yang sampai menghentikan aktivitasnya terlebih dahulu ketika mendapat sapaan hangat dari nona rumah.
"Duduk kembali, bi Asih!" kemudian Rania menarik kursi yang tidak jauh dari sana. Mensejajarkan duduknya dengan bi Asih.
"Bi Asih"
"Iya, nona"
"Apa saya boleh tanya sesuatu?"
"Dengan senang hati saya pasti akan menjawab pertanyaan apapun dari nona, jika saya mengetahui jawabannya" jawab bi Asih bersedia.
"Hm, baiklah" Rania mengangguk-anggukan kepalanya.
Para pelayan di sini memang selalu menuruti apa perintah dari tuan rumah, dan akan melakukan apa saja demi tuan rumahnya. Tapi, jika aku menanyakan hal yang masih berkaitan dengan tuan rumahnya. Apa pertanyaan itu akan di jawab dengan sejujurnya? Ah, aku tidak punya pilihan lain selain menanyakan pada pelayan di sini.
"Bi Asih, apa kau tahu sesuatu tentang kakak ipar?"
Bi Asih terlihat tegang dan gelagapan setelah mendengar pertanyaan Rania. Entah kenapa, ekspresi wajahnya berubah drastis setelah mendengar barusan.
Sebenarnya ada sesuatu apa yang di sembunyikan bi Asih tentang kakak ipar, Arsilla.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Hallo readers TUAN TAJIR. Jadi gimana, kalian penasaran juga tidak dengan Arsilla? Tentang Arsilla? Sang kakak ipar Rania. Baca terus kelanjutannya. Semoga tidak bosan dan selalu suka ya dengan cerita ini.
Jangan lupa ajak teman, sahabat, saudara, tetangga, gebetan, pacar, mantan, selingkuhan, musuh sekalipun untuk membaca cerita ini. Ajak semua orang di sekitar kalian, hehe.
Like, vote, komen. Dan tambahkan juga ke favorit.
Klik nama saya di bawah cover, dan ikuti😊
Terima kasih🤗
Duo absurd and somplak
yang visual cowoknya hampir mirip Eza Gionino artis indo ya. 🤭😂
jangan biarkan pelakor merusaknya. Kak Wind ntar hempaskan pelakornya ya.
ngakak aku
Ginjalku bergetar thor, saat Arshilla menggebrak meja itu. kaget cuuyy.. 😱🤣🤣🤣🤣🤣