Menjadi istri pengganti istri pertama, begitulah yang Deandra alami. Ketika dirinya terpaksa harus menikah dengan Majikan di rumahnya ini, hanya karena dia membutuhkan sosok seorang istri pengganti di saat istri pertamanya masih dalam keadaan koma.
"Jadi istri pengganti untukku, selama istri pertamaku belum sadar"
Sebuah kalimat yang membuat Deandra sangat terkejut. Namun sebuah pilihan yang akhirnya dia ambil. Entah bagaimana pernikahan ini berlanjut, mungkin akan tetap bersama dengan saling mencintai? Atau bahkan saling melepaskan dengan rasa sakit?
Saksikan kisahnya di PENGGANTI ISTRI PERTAMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran Dengan Kehidupan Deandra
Kicauan burung yang sudah terdengar, bertengger di dahan pohon dengan menyambut pagi dengan suara-suara merdunya. Sinar matahari yang sudah mulai mengintip di celah dedaunan di taman. Embun di jendela sudah menguap. Pagi hari yang cerah untuk menyambut pagi yang indah.
Sepasang manusia masih bergelung di bawah selimut tebal, padahal alarm sudah menyala dari setengah jam yang lalu. Tapi karena kelelahan dengan aktifitas semalam membuat keduanya masih nyaman dalam pelukan masing-masing.
Gumaman-gumaman kecil terdengar saat Deandra yang mulai membuka mata dalam pelukan suaminya. Matanya yang masih terasa perih, karena semalam entah pukul berapa dia baru terlelap. Namun hari sudah memaksanya untuk bangun.
Tangannya keluar dari selimut tebal itu, menggeliat pelan untuk mengusir kantuk yang masih menempel, belum lagi tubuhnya yang terasa begitu remuk. Dia menguap yang langsung di tutup oleh tangannya.
"Sayang, sudah pagi ayo bangun"
Deandra mengelus pipi suaminya yang masih terlelap dengan tangan dan kakinya memeluk tubuhnya.Seperti biasa, menganggap Deandra ini adalah sebuah guling hidup. Deandra menoel-noel hidung mancung suaminya dan mencubitnya hingga suaminya kesulitan bernapas. Deandra terkekeh sendiri dengan apa yang dia lakukan itu.
"Kau mau membunuhku ya!" gertak Afkha yang baru saja membuka mata.
Deandra hanya tersenyum, dia mengelus pipi suaminya itu dengan lembut. "Mana mungkin aku membunuh kamu, kalau nanti aku hamil dan kamu mati. Aku jadi janda, siapa dong yang bakal nikahin aku lagi pas lagi hamil anak kamu"
"Jangan sembarangan berbicara! Siapa juga yang akan menjadakanmu" tegas Afkha, dia berbalik dan menatap langit-langit kamar.
"Aku hanya akan membuat kau tetap di sisiku dan tidak akan pernah membiarkan kau pergi"
Deandra tersenyum dengan ucapan suaminya itu. Dia beringsut pelan, menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan tangan memeluk tubuhnya.
"Sayang, kamu sekarang bekerja?" tanya Deandra.
Afkha terkekeh pelan dengan ucapan istrinya itu, dia mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Memangnya kenapa? Kau ingin merayakan malam tahun baru denganku?"
Deandra langsung bangun terduduk di samping suaminya. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa busana itu. "Merayakan malam tahun baru 'kan nanti malam saja. Kalau kamu kerja dulu juga bisa. Tapi, aku mau pergi boleh?"
Lirikan tajam Afkha langsung membuat senyuman manis Deandra redup seketika. Dia sudah berjanji akan merayakan tahun baru kali ini bersama dengan temannya, meski siang hari mereka merayakannya. Tapi memang kedua temannya yang sibuk itu hanya bisa di siang hari. Lagian jika malam hari, tentu Deandra tidak akan mendapat izin suaminya. Sekarang saja belum pasti akan mendapatkan izin.
Afkha bangun dan duduk menyadar dengan dadanya yang polos termpampang jelas, membuat Deandra salah fokus saja. Apalagi ketika melihat perutnya yang seperti roti sobek itu.
Duh, dia tidak tahu apa ya kalau aku ini selalu tidak bisa fokus kalau melihat perutnya itu. Selalu menggoda tahu gak. Ah.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Afkha dengan ketus.
"Merayakan tahun baru sama teman aku, cuma sebentar saja kok. Sore juga sudah pulang. Boleh ya" ucap Deandra dengan memasang wajah paling menggemaskan pada suaminya itu.
Afkha memalingkan wajahnya, dia paling tidak bisa melihat wajah menggemaskan istrinya itu. Selalu saja membuatnya lemah sampai sekarang.
"Pergi dengan siapa saja?"
Deandra mencebikan bibirnya, dia sedikit kesal dengan suaminya yang selalu posesif seperti ini. Tidak bisa langsung mengizinkan Deandra pergi begitu saja, meski dia bilang bersama dengan teman. Dia ini apa trauma diselingkuhi ya. Gumamnya dalam hati.
"Beba dan Weny, kita temenan sejak kuliah. Jadi sekarang mereka ingin bertemu denganku, udah lama kita tidak mempunyai waktu bersama dengan mereka" jelas Deandra, dia menyadarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Aku antar, dan nanti pulang jam berapa? Biar aku jemput"
Deandra langsung terdiam, merasa jika dirinya tidak mempunyai lagi alasan untuk tidak memberi tahu kedua temannya jika dia sudah menikah. "Yaudah kalau memang kamu ingin mengantar jemput aku. Tadinya aku mau bawa motor sendiri saja"
"Jangan membuat aku khawatir Sayang! Aku tidak izinkan kamu bawa motor sendiri lagi mulai saat ini" tekan Afkha.
Deandra mendengus kesal, tentu saja dia tahu jika maksud suaminya ini memang karena dia mengkhawatirkan Deandra. Entah mungkin sekarang Deandra harus terbiasa dengan segala perhatian dari suaminya yang berbentuk keposesifan ini.
"Yaudah iya, sekarang aku harus mandi dulu. Tapi Sayang, aku berangkat akan agak siang. Soalnya harus cek keadaan Nyonya Sandra dulu" ucap Deandra, merasa mempunyai alasan agar dia bisa pergi sendiri.
"Tidak masalah, aku akan menunggu sampai kau siap. Lagian aku juga datang ke Kantor untuk menyelesaikan pengecekan akhir tahun dan bonus akhir tahun saja untuk para kayawan" ucap Afkha santai.
Deandra hanya menghela nafas pelan, dia tahu jika suaminya tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Jadinya dia tidak akan bisa membuat alasan apapun, karena tidak akan mempan untuk suaminya yang sudah mengambil keputusan untuk mengantarnya.
Deandra tidak banyak bicara lagi, dia turun dari atas tempat tidur dan langsung berlari ke ruang ganti dengan tubuhnya yang polos. Tentu saja dia yang sangat malu dengan keadaannya yang seperti ini.
Afkha hanya terkekeh melihat kelakuan istrinya itu. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan wajah yang begitu berbinar.
"Perasaan bahagia ini tidak bisa aku tutupi. Meski aku tidak tahu harus melakukan apa setelah ini"
Afkha bukan tidak memikirkan tentang hal ini, tentang Sandra yang sekarang begitu menjadi pemikirannya. Afkha tahu akan ada waktu dimana dirinya harus memilih. Dia tetap akan memberikan perawatan yang baik untuk Sandra, tentu saja karena ada hal yang harus dia tanyakan pada Sandra saat dia sudah sadar nanti.
Afkha menghembuskan nafas pelan, dia turun dari atas tempat tdiur. Berjalan menuju ruang ganti, menyambar piyama handuk yang berada di sofa ruangan itu. Duduk di sofa itu sambil menunggu istrinya selesai mandi.
"Aku jadi penasaran dengan kehidupan istriku itu"
Afkha yang jadi ingin tahu dengan kehidupan istrinya selama ini. Karena dia melihat bagaimana Deandra yang selalu ceria dalam hal apapun.Seolah dirinya tidak ada masalah, meski Afkha yakin jika hati dan pikirannya mempunyai masalah sendiri. Tentu tentang semua ini, Deandra juga pasti akan memikirkannya. Tidak mungkin rasanya jika Deandra tidak memikirkan tentang pernikahan ini yang entah akan seperti apa kedepannya.
"Sayang, kamu cepat mandi sana"
Afkha menoleh pada Deandra yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Duduk sini, aku keringkan rambut kamu"
Deandra hanya menurut saja, dia menghampiri suaminya dan duduk di atas pangkuannya, membiarkan Afkha mengambil handuk di tangannya dan mengeringkan rambutnya.
Bersambung