Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lampion-lampion mulai menyala terang di sepanjang jalan Kota Sungai Giok. Suasana yang siang tadi riuh oleh para pedagang kini berubah menjadi lebih hangat. Aroma daging panggang dan mi panas merebak memenuhi udara malam.
"Senior..." Arga menatap warung-warung makan di kanan-kiri jalan. "Sudah berapa lama Senior tidak makan?"
Guru Tian tertawa terkekeh dari dalam liontin. "Sepuluh ribu tahun."
Langkah Arga mendadak terhenti. "...Serius?"
"Setelah menjadi roh, aku tidak lagi membutuhkan makanan fana."
Nara ikut terkekeh. "Kalau begitu, malam ini biar aku dan Arga saja yang makan."
Guru Tian mendengus berpura-pura kesal. "Dasar murid-murid tidak tahu diri."
Mereka memilih sebuah penginapan sederhana namun bersih bernama Rumah Istirahat Daun Giok. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mereka turun kembali menyusuri jalanan kota.
Nara membeli dua mangkuk mi panas dan menyodorkan salah satunya kepada Arga. "Ini."
"Aku bisa beli sendiri," potong Arga.
"Aku yang mengajakmu makan, jadi biarkan aku yang bayar."
Arga akhirnya menerima mangkuk itu. "Terima kasih."
Masing-masing duduk di atas bangku kayu panjang yang menghadap ke jalanan utama. Orang-orang berlalu-lalang di hadapan mereka—mulai dari pedagang, kultivator pengembara, hingga anak-anak yang berlarian riang membawa lampion. Sudah lama Arga tidak merasakan suasana yang begitu tenang dan hangat.
Nara diam-diam melirik wajah Arga di sampingnya. Pemuda itu menikmati makanannya dengan tenang. Sesekali ia melemparkan senyum ramah kepada anak kecil yang berlari terlalu dekat hingga hampir menabrak meja mereka. Bahkan ketika seorang pengemis tua lewat, Arga tanpa ragu membagi sebagian roti kering milik mereka.
Nara memperhatikan setiap gerak-gerik itu dalam diam. Ia teringat akan ucapan ayahnya bertahun-tahun lalu:
"Jika ingin mengenal sifat asli seseorang, jangan lihat bagaimana ia memperlakukan orang kuat. Lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang lemah yang tak bisa membalas kebaikannya."
Arga... ternyata memang tidak pernah berubah. Ia menolong orang bukan demi pujian ataupun imbalan. Memikirkan hal itu, sudut bibir Nara terangkat tanpa sadar.
"Ada apa?" tanya Arga saat mendapati Nara menatapnya.
Nara buru-buru menggeleng. "Tidak. Cuma... kau memang aneh."
Arga mengernyit bingung. "Aneh?"
"Di dunia yang keras seperti ini... masih saja ada orang yang mau berbagi makanan dengan orang asing."
Arga tersenyum kecil. "Saat aku lapar, aku tahu persis betapa menyiksanya rasanya. Dan ketika aku pernah ditolong, aku pun tahu betapa berharganya itu. Jadi... tak ada salahnya kan bergantian menolong?"
Jawaban itu terkesan sederhana, namun mampu membuat hati Nara bergetar pelan. Ia lekas menundukkan kepala agar Arga tidak menyadari rona merah dan senyum kecil di wajahnya.
"Dasar bodoh..." batin Nara. "Kenapa justru orang seperti ini yang harus kutemui?"
Malam semakin larut. Mereka melangkah santai menuju penginapan. Namun di depan sebuah jembatan batu, Nara tiba-tiba menghentikan fisiknya.
"Arga."
"Ya?" Arga menoleh.
"Kalau nanti... kita sudah sampai di Kota Bintang..."
"Terus?"
"Kalau ternyata kita masuk ke sekte yang berbeda... apa kita masih bisa bertemu?"
Arga terdiam sesaat, lalu sunggingan senyum hangat terkembang di bibirnya seperti biasa. "Tentu saja. Kita kan teman. Kita pasti bisa bertemu lagi."
Teman.
Hanya sebuah kata sederhana. Namun bagi Nara, kata itu terasa jauh lebih berat daripada anak panah yang biasa ia lepaskan dari busurnya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis. "Iya... teman."
Mereka kembali berjalan berdampingan di bawah pendar cahaya lampion. Arga sama sekali tidak menyadari bahwa gadis di sampingnya sedang berusaha keras menyembunyikan perasaan yang perlahan tumbuh di relung hati.
Di dalam liontin, Guru Tian perlahan membuka matanya. Ia melirik Nara, lalu menatap Arga, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Anak bodoh..." bisiknya pelan. "Kau bisa membaca gerakan pedang musuh dengan sempurna... tapi sama sekali tak bisa membaca hati seorang gadis."
Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika jalan-jalan utama telah dipadati para pedagang yang mulai membentangkan lapak.
Arga dan Nara turun dari lantai dua penginapan. Pemilik penginapan, seorang wanita paruh baya, menyapa mereka dengan tersenyum ramah. "Kalian berangkat pagi sekali."
"Kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju Kota Bintang," jawab Arga sopan.
Wanita itu mengangguk paham. "Kalau begitu, semoga perjalanan kalian lancar dan aman."
"Terima kasih."
Mereka meninggalkan penginapan dan berjalan santai tanpa arah yang pasti. Guru Tian sebelumnya sempat menyuruh mereka untuk menikmati suasana kota terlebih dahulu.
"Kalian tidak harus terus-menerus berlatih," ujar sang guru waktu itu. "Hati yang terlalu tegang justru akan menjadi penghalang dalam bertumbuhnya kultivasi."
Sambil menyusuri pasar pagi, tiba-tiba seorang pedagang buah tanpa sengaja menjatuhkan keranjangnya. Buah-buahan segar pun bergulingan ke segala arah. Orang-orang di sekitar hanya melirik sekilas lalu berlalu begitu saja, namun Arga langsung berjongkok.
"Mari saya bantu, Pak."
Nara ikut berjongkok di samping Arga tanpa perlu diminta. Dalam waktu singkat, semua buah kembali terkumpul rapi di dalam keranjang. Pedagang tua itu berkali-kali membungkuk mengucapkan terima kasih. "Kalian benar-benar orang baik..."
Arga hanya tersenyum hangat. "Ini hanya hal kecil, Pak."
Saat mereka kembali melangkah, Nara berjalan beberapa langkah di belakang Arga. Matanya memerhatikan punggung pemuda itu. Tidak ada kepura-puraan di sana. Tidak ada pula harapan akan pujian ataupun imbalan. Bahkan, Arga sudah melupakan kejadian tadi dan fokus menatap jalan di depannya.
Sedangkan dirinya... masih terus memikirkannya.
"Kenapa diam saja?" tanya Arga sambil menoleh ke belakang.
Nara tersadar dari lamunannya. "Tidak apa-apa."
"Kau terlihat seperti sedang banyak pikiran."
Nara tersenyum tipis. "Mungkin..."
Sebenarnya, ia sedang bertanya pada dirinya sendiri: "Jika suatu hari nanti Arga tumbuh menjadi seorang kultivator yang sangat hebat... apakah dia akan tetap menjadi pemuda yang sama seperti sekarang?"
Entah mengapa, Nara sangat yakin jawabannya adalah ya. Dan justru keyakinan itulah yang membuat perasaan di dalam dadanya semakin mengakar dalam.
Langkah mereka berhenti di atas sebuah jembatan batu tua yang membelah sungai jernih. Di bawah permukaan air, ikan-ikan kecil berenang bebas ke sana kemari.
Arga bersandar pada pagar jembatan sambil mengembuskan napas lega. "Indah juga ya."
"Iya," sahut Nara pelan sambil berdiri rapat di sampingnya.
Jarak mereka kini hanya sejengkal. Hembusan angin pagi membuat beberapa helai rambut Nara berkibar dan menyapu lembut lengan Arga. Namun pemuda itu sama sekali tidak menyadarinya—tatapannya masih terpaku lurus menatap aliran sungai.
Nara terkekeh kecil. "Kau benar-benar tidak peka."
"Hm?" Arga menoleh bingung.
"Tidak... bukan apa-apa."
Arga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Akhir-akhir ini kau sering sekali mengatakan hal-hal yang tidak kumengerti."
"Baguslah kalau begitu."
"Kenapa justru bagus?"
Nara meliriknya jahil. "Sebab kalau kau mengerti sekarang... mungkin perjalanan kita malah akan jadi canggung."
Arga semakin dibuat kebingungan. Melihat ekspresi polos dan polos itu, Nara tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawa yang terdengar begitu ringan dan tulus. Sudah sangat lama ia tidak merasa seketus dan setenang ini.
Di dalam liontin, Guru Tian memperhatikan interaksi kedua remaja itu. Wajah tuanya dihiasi senyum tipis yang penuh arti.
'Perasaan manusia memang aneh," batin sang guru. "Bisa tumbuh subur di tengah pelarian... dan tetap mekar indah meski tahu mungkin takkan pernah terbalaskan."
Namun, senyum Guru Tian perlahan memudar. Ia mendongakkan pandangan spiritualnya ke angkasa. Beberapa burung roh terbang melintas cepat, membawa gulungan-gulungan surat kecil di kaki mereka.
"Itu... surat pengumuman," bisik Guru Tian sambil menyipitkan mata.
Tak lama berselang, seruan keras gema seorang pengumun terdengar nyaring dari arah alun-alun kota:
"Pengumuman bagi seluruh kultivator muda! Ujian Tujuh Sekte akan resmi dimulai satu bulan lagi! Semua calon peserta diminta untuk segera berkumpul di Kota Bintang!"
Dalam sekejap, seluruh Kota Sungai Giok menjadi gempar. Para kultivator muda saling berpandangan—sebagian dari mereka bersorak bersemangat, sementara sebagian lagi mendadak tegang.
Arga meremas peta di tangannya. Matanya berbinar penuh tekad. "Waktunya semakin dekat..."
Nara menoleh ke arahnya, menyunggingkan senyuman terbaiknya. "Kalau begitu... mulai hari ini kita bukan cuma teman seperjalanan, Arga. Kita juga resmi menjadi rival di Ujian Tujuh Sekte!"
Arga tertawa lepas. "Boleh! Tapi jangan marah ya kalau nanti aku yang keluar sebagai pemenang."
Nara mengangkat dagunya penuh percaya diri. "Hm, belum tentu!"
Untuk pertama kalinya sejak takdir mempertemukan mereka, keduanya saling menatap dalam-dalam sambil tersenyum lebar. Tak ada lagi rasa canggung. Tak ada pula janji manis yang diucapkan.
Namun dari detik itu, langkah kaki mereka benar-benar mulai terayun seirama—menuju takdir baru yang akan mengubah hidup mereka selamanya.