Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010
Mimpi tentang Dirimu
Setelah gala Hotel Mulia, nama Kiara Tanuwijaya benar-benar berubah rasanya di mulut orang-orang.
Ci Lucy menerima lima panggilan bahkan sebelum mobil mereka meninggalkan area hotel. Rumah produksi yang dulu hanya menitipkan salam tiba-tiba meminta jadwal meeting. Seorang casting director yang pernah menolak Kiara tanpa membaca profilnya mengirim pesan panjang tentang proyek baru. Bahkan wartawan yang biasanya mengejar skandal kini menulis kalimat lebih hati-hati.
Santi duduk di kursi depan sambil membaca komentar di ponselnya, matanya berbinar.
"Kak, ini gila. Ada yang bilang kamu calon aktris paling kuat tahun ini. Ada juga yang bilang jangan macam-macam sama kamu karena Purnawan Group berdiri di belakangmu."
Kiara menyandarkan kepala ke jok mobil.
"Itu justru masalah."
Ci Lucy menoleh dari sampingnya. "Masalah enak."
"Ci."
"Aku tahu, aku tahu. Kamu tidak mau dianggap naik karena pria." Ci Lucy mengangkat kedua tangan. "Tapi dunia ini memang tidak adil. Selama ini mereka menginjakmu karena kamu tidak punya pelindung. Sekarang kamu punya, mereka takut. Kita tinggal pastikan kemampuanmu tetap bicara."
Kiara tidak menjawab.
Di ponselnya, pesan Rayhan masuk.
Koko Rayhan: Pulang, minum obat, tidur.
Kiara menatap layar itu beberapa detik.
Ia seharusnya kesal karena diperintah seperti anak kecil. Tapi setelah malam yang terlalu panjang, kalimat itu justru terasa seperti selimut hangat.
Ia mengetik balasan.
Kiara: Kamu membuat semua orang salah paham.
Balasan Rayhan datang cepat.
Koko Rayhan: Bagus.
Kiara hampir tersedak.
Kiara: Itu bukan pujian.
Koko Rayhan: Aku tidak ingin mereka paham setengah-setengah.
Kiara memegang ponsel lebih erat. "Dasar gila."
Santi menoleh cepat. "Kak bilang apa?"
"Tidak apa-apa."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak terlempar ke dunia novel, Kiara tertidur tanpa menunggu suara pertengkaran dari lantai bawah berhenti.
Mungkin karena tubuhnya lelah.
Mungkin karena dokter menyuruhnya istirahat.
Atau mungkin karena kalimat Rayhan masih tinggal di kepalanya.
Jangan sentuh Kiara Tanuwijaya.
Dalam mimpi, ia mendengar suara pintu dikunci.
Klik.
Kiara membuka mata di sebuah kamar yang tidak ia kenal. Tirainya tebal, menutup cahaya dari luar. Udara berbau hujan, kayu cendana, dan sesuatu yang dingin seperti logam. Lampu meja menyala redup, menerangi ranjang besar dengan seprai gelap.
Pergelangan tangannya terasa berat.
Ia menunduk.
Bukan perban.
Sebuah rantai tipis melingkar di pergelangan tangannya, tidak melukai kulit, tapi cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa mencapai pintu. Ujung rantai itu terhubung ke kaki ranjang dengan kunci kecil berwarna hitam.
Napas Kiara tercekat.
"Jangan takut."
Suara itu datang dari sudut kamar.
Kiara menoleh.
Rayhan berdiri di sana, tapi bukan Rayhan yang ia kenal di gala. Pria itu lebih muda. Wajahnya masih memiliki garis tajam yang sama, tetapi matanya jauh lebih gelap, seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur dan tidak berniat memaafkan dunia.
Kemeja putihnya kusut. Di punggung tangannya ada luka lama. Rambutnya sedikit berantakan. Ia tampak seperti pangeran yang tumbuh di rumah penuh pecahan kaca.
"Rayhan?"
Nama itu keluar dengan suara gemetar.
Rayhan muda menatapnya seolah nama itu menyakitkan.
"Kamu mau pergi lagi."
Kiara menarik rantai di tangannya. Bunyi logam kecil membuat dadanya makin sesak.
"Lepaskan ini."
"Kalau kulepaskan, kamu akan hilang."
"Aku tidak mengenalmu."
Wajah Rayhan muda berubah.
Luka di matanya begitu nyata sampai Kiara hampir lupa bahwa ia sedang dirantai.
"Kamu selalu bilang begitu setelah kembali," ucapnya. "Kamu selalu lupa. Tapi aku ingat semuanya."
Kiara mundur sampai punggungnya menyentuh kepala ranjang.
"Ini mimpi."
Rayhan muda mendekat.
Langkahnya pelan, tapi setiap langkah membuat ruang terasa semakin sempit. Kiara seharusnya berteriak. Seharusnya marah. Seharusnya hanya takut.
Tetapi tubuh dalam mimpi itu bereaksi aneh.
Jantungnya berdebar keras. Wajahnya panas. Ada rasa sedih yang bukan miliknya naik ke tenggorokan, seolah ia pernah melihat pria ini hancur di tempat lain.
"Aku menunggumu," bisik Rayhan muda.
Kiara menggenggam rantai, suaranya pecah. "Dengan cara mengunciku?"
Rayhan berhenti di sisi ranjang.
Matanya turun ke rantai itu. Untuk sesaat, ekspresinya seperti anak kecil yang tertangkap menyembunyikan sesuatu yang buruk.
"Aku tidak tahu cara lain."
Kalimat itu lebih menakutkan daripada ancaman.
Kiara menatapnya, napasnya pendek. "Rayhan, ini salah."
Pria muda itu memejamkan mata.
Saat membukanya lagi, matanya basah.
"Kalau salah pun, jangan pergi."
Suara itu membuat dada Kiara sakit.
Di luar kamar, hujan turun lebih keras. Suara air menghantam kaca, bercampur dengan napas mereka yang tidak teratur. Rayhan muda mengangkat tangan seolah ingin menyentuh wajah Kiara, tapi berhenti di udara. Ia tidak jadi menyentuhnya.
Justru karena itu, Kiara merasa lebih sulit bernapas.
"Aku bisa menjadi baik," katanya pelan. "Aku bisa belajar. Aku bisa membunuh semua bagian burukku. Tapi jangan hilang lagi."
Kiara ingin bertanya lagi.
Hilang ke mana?
Lagi kapan?
Namun tiba-tiba kamar itu bergetar. Tirai bergerak tanpa angin. Wajah Rayhan muda memucat, panik seperti seseorang yang melihat akhir dunia datang untuk kedua kalinya.
"Tidak," katanya. "Jangan sekarang."
Rantai di tangan Kiara berubah ringan, seperti asap.
"Rayhan..."
Ia mengulurkan tangan tanpa sadar.
Rayhan muda menangkap jarinya.
Sentuhan itu dingin.
Putus asa.
Lalu semuanya pecah.
Kiara terbangun dengan napas tersengal.
Kamar tidurnya gelap. Diffuser di meja masih menyala, bukan aroma kayu cendana. Tidak ada rantai. Tidak ada hujan. Pergelangan tangannya hanya dibalut perban elastis.
Tetapi jantungnya berdebar begitu keras sampai ia harus duduk dan menekan dada.
Mimpi itu terlalu nyata.
Terlalu memalukan.
Terlalu menakutkan.
Dan yang paling membuatnya kacau, ketika mengingat mata Rayhan muda yang basah, Kiara tidak hanya merasa takut.
Ia merasa kasihan.
"Aku pasti gila," bisiknya.
Di sisi lain Jakarta, Rayhan duduk di tepi ranjang Mansion Purnawan dengan napas berat.
Kamar tidurnya gelap. Di luar jendela, lampu PIK memantul di kaca seperti garis-garis dingin. Ia menatap telapak tangannya, seolah masih merasakan jari Kiara yang menghilang dari genggamannya.
Sudah lama ia tidak bermimpi sejelas itu.
Biasanya yang datang hanya potongan. Pintu terkunci. Tangis tertahan. Bayangan Kiara yang perlahan memudar. Tapi malam ini, ia mendengar suaranya lagi. Ia mendengar Kiara berkata bahwa itu salah.
Rayhan menutup mata.
"Aku tahu," gumamnya.
Adi yang berjaga di ruang luar mengetuk pintu pelan. "Bos?"
"Tidak apa-apa."
Tentu itu bohong.
Di meja samping ranjang, ponselnya menyala. Nama Kiara belum muncul, tapi Rayhan tahu. Jika mimpi itu sampai padanya, Kiara pasti terbangun ketakutan.
Ia mengambil ponsel dengan jari yang masih dingin.
Ponsel di meja menyala.
Pukul tiga lewat tujuh belas menit.
Pesan baru masuk dari Rayhan.
Koko Rayhan: Kamu bermimpi tentangku?
Kiara membeku.
Sebelum ia sempat mengetik apa pun, pesan kedua muncul.
Koko Rayhan: Maaf. Di mimpi itu, aku membuatmu takut lagi.