NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Mida terdiam. Ia memandang rumah kecil yang selama ini menjadi tempat berteduh bersama Harapan. Meninggalkan rumah itu, walau hanya sementara, terasa begitu berat. Namun ia juga sadar bahwa keselamatannya kini terancam.

Dewi menggenggam tangannya. "Untuk sementara tinggal di rumah Kakak saja. Nanti kalau keadaan sudah aman, kamu bisa kembali."

Mata Mida mulai berkaca-kaca. "Aku takut merepotkan."

Dewi langsung memeluknya. "Jangan bicara begitu. Kamu adikku. Rumah Kakak juga rumahmu."

Tangis Mida kembali pecah. "Terima kasih, Kak..."

"Mulai malam ini kamu tidak sendiri."

Dengan bantuan beberapa warga, Mida mengemasi pakaian dan barang-barang penting seperlunya. Sebelum meninggalkan gubuk itu, ia menoleh ke dalam rumah. Di sanalah begitu banyak kenangan bersama Harapan tersimpan. Air matanya kembali mengalir. "Harapan... maafkan ibu. Ibu harus pergi untuk sementara. Ibu berjanji akan kembali."

Dewi merangkul bahu Mida. "Ayo, Mi."

Mida mengangguk pelan. Malam itu, mereka meninggalkan gubuk sederhana tersebut menuju rumah Dewi. Meski hatinya terasa berat, Mida tahu bahwa untuk sementara waktu, tinggal bersama kakaknya adalah pilihan terbaik demi keselamatannya, agar ia tetap dapat melanjutkan perjuangan mencari keadilan bagi Harapan.

***

Pagi itu, rumah Dewi terasa lebih ramai dari biasanya. Sejak Mida memutuskan tinggal sementara di sana demi keselamatannya, beberapa tetangga silih berganti datang menjenguk. Ada yang membawa makanan, ada yang sekadar ingin menguatkan hati Mida. Mida duduk di ruang tamu dengan secangkir teh yang sudah mulai dingin. Wajahnya masih terlihat letih. Hampir setiap malam ia terbangun karena mimpi tentang Harapan.

Dewi keluar dari kamar sambil membawa telepon genggamnya. "Mi..."

Mida mengangkat wajah. "Ada apa, Kak?"

"Kamu harus lihat ini."bDewi menyerahkan telepon genggamnya.

Di layar terlihat foto Mida yang sedang menangis sambil memeluk foto Harapan setelah menerima hasil autopsi. Foto itu diunggah oleh salah seorang wartawan yang meliput kasus tersebut. Di bawahnya terdapat ribuan komentar.

"Tidak boleh ada lagi ibu yang kehilangan anak tanpa keadilan."

"Usut tuntas kasus Harapan!"

"Lindungi Bu Mida. Jangan biarkan beliau berjuang sendirian."

"Kalau benar ada intimidasi, aparat harus segera bertindak."

Mata Mida berkaca-kaca. "Kenapa... banyak sekali yang peduli?"

Dewi tersenyum tipis. "Karena orang-orang melihat ketulusanmu, Mi."

Tak lama kemudian, Fandi datang membawa beberapa berkas. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Fandi duduk setelah dipersilakan. "Bu Mida, perkembangan kasus ini cukup besar."

Mida memandangnya penuh tanya.

"Semalam hingga pagi ini, pemberitaan tentang Ibu dan Harapan menyebar luas. Banyak media mengangkat cerita perjuangan Ibu."

"Lalu?"

"Netizen mulai mendesak agar kasus ini segera diusut tuntas. Mereka meminta penyelidikan dilakukan secara serius dan transparan."

Mida terdiam. Ia tidak pernah membayangkan kisahnya akan diketahui begitu banyak orang. "Apa itu bisa membantu?"

Fandi mengangguk. "Perhatian publik sering membuat sebuah perkara mendapat pengawasan lebih besar. Tapi yang terpenting tetap bukti dan proses hukum. Dukungan masyarakat bukan pengganti penyelidikan, namun bisa menjadi pengingat agar kasus ini tidak diabaikan."

Dewi menghela napas lega. "Alhamdulillah."

Di berbagai media sosial, tagar tentang Harapan terus bermunculan. Banyak orang membagikan foto Mida sambil menuliskan doa dan harapan agar kebenaran segera terungkap. Sejumlah tokoh masyarakat juga mulai angkat bicara. Mereka meminta aparat bekerja secara profesional dan memberikan perlindungan kepada saksi maupun keluarga korban.

Di sisi lain, beberapa organisasi bantuan hukum menyatakan siap mengawal proses hukum jika diperlukan. Sore harinya, beberapa wartawan kembali mendatangi rumah Dewi. Mereka meminta izin mewawancarai Mida. Dengan didampingi Fandi, Mida berdiri di depan rumah. Sorot kamera langsung mengarah kepadanya.

"Bu Mida," tanya seorang wartawan, "apa yang ingin Ibu sampaikan kepada masyarakat yang saat ini memberikan dukungan?"

Mida menarik napas panjang. "Saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang mendoakan anak saya." Air matanya mulai menggenang. "Saya hanyalah seorang ibu yang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada anak saya." Suaranya bergetar. "Saya tidak ingin ada kebencian kepada siapa pun. Saya hanya berharap proses hukum berjalan dengan jujur, adil, dan berdasarkan bukti."

Fandi yang berdiri di sampingnya mengangguk pelan. Ia bangga melihat Mida tetap tenang meskipun sedang menjadi sorotan.

Wawancara itu kembali menyebar luas. Semakin banyak masyarakat yang menyampaikan simpati dan mengajak publik mengawal jalannya penyelidikan.

Malam harinya, Mida kembali membuka ponselnya. Ia membaca satu per satu pesan yang masuk. Ada doa dari seorang ibu yang juga pernah kehilangan anak. Ada mahasiswa yang menawarkan bantuan menyebarkan informasi. Ada pula orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya, tetapi menuliskan kalimat sederhana.

"Bu Mida, jangan menyerah."

"Kami ikut mengawal perjuangan Ibu."

"Semoga Allah memberikan kekuatan dan keadilan."

Tanpa sadar, air mata Mida kembali jatuh. Ia menengadahkan kedua tangannya. "Ya Allah... Terima kasih karena Engkau menghadirkan begitu banyak orang baik. Jika ini adalah jalan yang Engkau bukakan agar kebenaran terungkap, maka kuatkanlah langkah hamba."

Di sampingnya, Dewi memeluk Mida dengan erat.

Sementara Fandi memandangi layar ponselnya yang terus dipenuhi pemberitaan tentang kasus Harapan. Ia tahu, perhatian masyarakat dapat membantu menjaga agar kasus ini tetap menjadi sorotan. Namun ia juga sadar bahwa tantangan sesungguhnya masih ada di depan. Perjuangan belum selesai. Di balik ramainya dukungan publik, masih ada pihak-pihak yang tidak menginginkan kebenaran terungkap. Dan mereka mungkin sedang menyiapkan langkah berikutnya.

***

Sejak kisah Mida menjadi perbincangan di media sosial, telepon genggamnya hampir tak pernah berhenti berdering. Sebagian besar adalah pesan dukungan dari masyarakat yang tidak dikenalnya. Karena Mida tidak terbiasa menggunakan media sosial, Dewi membantu membaca satu per satu pesan yang masuk.

"Mi, ini ada lagi yang ingin menghubungi kamu," kata Dewi sambil melihat layar ponselnya.

"Siapa, Kak?"

"Seorang YouTuber."

Mida mengernyitkan dahi. "YouTuber?"

"Iya. Katanya dia ingin membantu mengangkat kasus Harapan agar semakin banyak orang yang mengetahui."

Tak lama kemudian, panggilan video masuk. Dewi mengangkatnya. Di layar tampak seorang kreator konten yang dikenal sering membahas isu sosial dan hukum. "Assalamu'alaikum, Bu Mida."

"Wa'alaikumussalam."

"Saya turut berduka atas kepergian Harapan."

"Terima kasih."

"Saya menghubungi Ibu bukan untuk mencari sensasi. Saya ingin membantu agar perjuangan Ibu mendapatkan perhatian masyarakat. Kalau Ibu berkenan, saya ingin menceritakan kasus ini kepada para penonton saya."

Mida menoleh kepada Fandi yang saat itu sedang berada di rumah Dewi untuk membahas perkembangan penyelidikan. Fandi menganggukkan kepala pelan. "Tidak apa-apa, Bu. Selama informasi yang disampaikan sesuai fakta dan tidak mengganggu proses hukum."

Mida kembali menatap layar. "Kalau memang itu bisa membantu agar anak saya mendapatkan keadilan, saya mengizinkan."

"Terima kasih, Bu. Saya akan menyampaikan kasus ini secara bertanggung jawab."

Panggilan berakhir. Belum sampai lima menit, telepon kembali berbunyi. Kali ini, kreator lain menghubungi. Lalu disusul kreator berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!