Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Pacar yang Datang Terlambat
Hendra mengejar sampai koridor.
Sari baru berjalan beberapa meter dari ruang observasi ketika suara langkah cepat terdengar di belakang. Raka memanggil pelan, "Pa, sudah," tetapi Hendra tidak mendengar. Atau tidak mau mendengar.
"Sar."
Sari berhenti karena koridor depan IGD ramai. Bukan karena ia ingin menjawab.
Arman ikut berhenti di sampingnya.
Hendra menatap mereka berdua. Matanya turun ke jarak antara bahu Sari dan lengan Arman. Mereka tidak bersentuhan, tetapi bagi Hendra jarak itu sudah terlalu dekat.
"Kamu belum jawab," katanya.
Sari lelah. "Jawab apa lagi?"
"Dia siapa?"
Arman menoleh kepada Sari. Ada pertanyaan singkat di matanya. Ia tidak akan mengambil peran tanpa izin.
Sari melihat Hendra, melihat Raka yang berdiri bingung di belakang, melihat beberapa keluarga pasien yang mulai memperhatikan. Ia sudah terlalu lama dipaksa menjelaskan statusnya kepada orang yang dulu mengkhianatinya.
"Bantu saya sekali," katanya pelan kepada Arman.
Arman mengerti.
Ia berdiri sedikit lebih dekat, masih tidak menyentuh.
"Saya pacarnya," katanya.
Koridor seperti berhenti sebentar.
Raka membuka mulut. "Ma?"
Hendra tertawa sekali, pendek dan tidak percaya. "Pacar?"
Sari menjaga wajah tetap tenang, meski telinganya panas.
Arman tidak tersenyum. "Iya."
"Sejak kapan?"
"Setelah dia bebas."
Hendra melangkah maju. "Bebas? Dia mantan istri saya."
"Mantan," ulang Arman. "Berarti bukan milik Bapak."
Kalimat itu tidak keras, tetapi beberapa orang di koridor menoleh lebih jelas.
Hendra merendahkan suara, mungkin karena mulai sadar tempat. "Kamu tahu usianya?"
Sari menegang.
Itu senjata lama. Usia. Anak dewasa. Riwayat cerai. Semua hal yang dulu dipakai Hendra untuk membuatnya percaya bahwa tidak ada laki-laki lain yang akan melihatnya.
Arman menatap Hendra seperti baru mendengar pertanyaan paling tidak penting hari itu.
"Tahu."
"Dia punya tiga anak."
"Tahu."
"Dia baru cerai."
"Saya juga tahu."
"Lalu?"
Arman diam sebentar. "Lalu apa?"
Hendra kehilangan kata.
Arman melanjutkan, "Umur Sari bukan kekurangan. Anak-anaknya bukan noda. Masa lalunya bukan barang rusak. Kalau Bapak baru mengingat nilainya setelah kehilangan, itu masalah Bapak."
Sari menatap lantai koridor. Ia tidak ingin menangis. Tidak di depan Hendra. Tidak di depan Raka. Tidak di depan staf rumah sakit. Tapi kalimat itu masuk ke tempat yang selama ini dibiarkan kering.
Raka menunduk. Mungkin ia juga baru mendengar ibunya dibela bukan sebagai ibu, bukan sebagai mantan istri, tetapi sebagai perempuan.
Hendra mengepalkan tangan. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami."
"Saya tahu cukup. Sari menelepon karena tidak nyaman dan Bapak tidak memberi jalan."
"Aku tidak menyakitinya."
Sari mengangkat kepala. "Kamu selalu mengira menyakiti harus meninggalkan bekas di kulit."
Hendra terdiam.
Ibu Sri dipindahkan sebentar untuk pemeriksaan tambahan. Tempat tidurnya didorong melewati koridor. Begitu melihat Sari berdiri dengan Arman, ia menangis lagi.
"Sari, kamu tega. Ibu sakit, kamu malah pamer laki-laki."
Sari mendekat sedikit, tetapi menjaga jarak. "Saya tidak pamer. Saya pergi."
"Kalau kamu pergi, siapa yang urus keluarga ini?"
"Keluarga ini punya Hendra, Raka, Bayu, dan Ratna."
Nama Ratna membuat Hendra kaku.
Ibu Sri menutup mata. "Ratna tidak biasa mengurus."
"Saya juga tidak lahir untuk mengurus semua orang."
Perawat yang mendorong ranjang tampak ingin cepat pergi, tetapi Ibu Sri menahan dengan tangisnya.
Sari menurunkan suara. "Bu, saya doakan Ibu pulih. Tapi saya tidak kembali."
Ibu Sri menatapnya seperti baru mendengar hukuman.
Ranjang didorong pergi. Hendra berdiri di tengah koridor, wajahnya antara marah dan kosong.
"Sar, aku benar-benar menyesal," katanya.
"Gunakan penyesalan itu untuk memperbaiki hidupmu. Jangan pakai untuk menarikku kembali."
Arman membuka jalan. "Kita pergi?"
Sari mengangguk.
Mereka berjalan menuju lobi. Raka mengikuti beberapa langkah, lalu berhenti.
"Ma."
Sari menoleh.
Raka tampak kecil untuk seorang laki-laki dewasa. "Aku... aku jaga Nenek."
"Bagus."
Ia ingin berkata lebih banyak, mungkin meminta maaf, mungkin bertanya soal Arman, mungkin meminta uang. Tapi ia tidak melakukannya. Untuk hari itu, cukup.
Di lobi, Sari baru bisa bernapas lebih longgar. Arman berhenti dekat mesin minuman.
"Maaf," kata Sari.
"Untuk apa?"
"Membawa Bapak ke sandiwara keluarga saya."
"Saya datang karena Ibu meminta."
"Dan soal pacar tadi..."
"Saya mengikuti arahan."
Sari menatapnya. Wajah Arman tenang, tetapi ada senyum kecil yang berusaha disembunyikan.
"Jangan terlalu menikmati."
"Saya berusaha profesional."
"Pak Arman."
"Baik. Sedikit menikmati."
Sari ingin marah, tetapi tawa kecil keluar lebih dulu. Setelah semua tekanan di ruang observasi, tawa itu terasa seperti membuka kancing yang terlalu ketat.
Arman melihat tangannya. "Boleh?"
Sari tahu maksudnya. Ia menatap tangan sendiri. Di rumah sakit tadi, tangan itu dingin. Sekarang masih sedikit gemetar.
Ia mengangguk.
Arman menggenggam tangannya sebentar. Hangat, tegas, tidak memaksa.
Dari koridor, Hendra muncul dan melihat mereka.
Sari tahu.
Arman juga tahu.
Namun kali ini Sari tidak buru-buru melepas. Bukan untuk menyakiti Hendra. Bukan untuk membuktikan apa pun.
Ia hanya ingin tahu bagaimana rasanya tidak sendirian saat berjalan pergi.
Di pintu lobi, Arman melepaskan tangannya lebih dulu.
"Maaf," katanya. "Tadi masih bagian dari sandiwara. Di luar itu, Ibu yang menentukan batas."
Sari menatap tangan yang baru dilepas. Ada rasa kosong kecil, lalu rasa hormat yang lebih besar.
"Terima kasih."
"Saya antar pulang?"
Kebiasaan lama hampir membuat Sari menolak. Ia hampir berkata bisa sendiri, tidak perlu repot, nanti orang bicara. Tapi hari itu sudah terlalu panjang.
"Ya," katanya. "Tolong antar saya pulang."
Di mobil, mereka tidak langsung bicara. Jalanan Jakarta Selatan bergerak pelan di balik kaca. Lampu apotek, warung soto, dan antrean ojek online lewat satu per satu.
Ponsel Sari bergetar.
Hendra: Jadi benar kamu sudah lupa semuanya?
Sari membaca pesan itu, lalu mematikan layar tanpa membalas.
Arman tidak bertanya. Ia hanya menyalakan lampu kecil di mobil agar Sari bisa memasukkan ponsel ke tas dengan tenang.
Bantuan sekecil itu membuat Sari diam lebih lama daripada yang ia rencanakan.
Di rumah sakit, Hendra berdiri di balik kaca lobi, melihat mobil Arman pergi. Untuk pertama kalinya, ia melihat Sari dijemput laki-laki lain bukan sebagai perempuan yang kabur, melainkan sebagai perempuan yang diperlakukan dengan hormat.
Dan rasa kehilangan yang datang terlambat itu tidak punya tempat untuk pulang.
Arman mengantar Sari sampai depan kontrakan. Ia tidak langsung turun sebelum Sari memberi tanda. Kebiasaan kecil itu membuat Sari sadar lagi betapa lama ia hidup dengan orang yang menganggap pintu, tubuh, dan waktunya selalu boleh dimasuki.
"Terima kasih," kata Sari.
"Kunci pagar dulu. Saya tunggu sampai lampu dalam menyala."
"Pak Arman, saya sudah lima puluh dua."
"Saya tahu."
"Saya bisa masuk rumah sendiri."
"Saya juga tahu."
Sari menatapnya lewat jendela mobil. "Bapak keras kepala."
"Mungkin tertular."
Sari tidak berhasil menahan senyum. Ia turun, membuka pagar, lalu masuk ke kontrakan. Saat lampu menyala, mobil Arman masih di depan. Baru setelah ia mengunci pintu, mobil itu pergi.
Malamnya, Sari tidak langsung tidur. Ia membuka pesan Hendra, screenshot, lalu mengirim ke Pak Surya dengan catatan singkat: Hendra mulai menghubungi soal hubungan lama setelah ditolak di rumah sakit.
Pak Surya membalas:
Simpan semua. Kalau ada kedatangan tanpa izin, catat saksi.
Seolah pesan itu memanggil kejadian, Hendra datang ke kontrakan dua malam kemudian.
Ia tidak mabuk. Justru itu membuatnya lebih melelahkan. Ia berdiri di depan pagar membawa kantong plastik berisi buah pir dan roti, seperti suami yang pulang dari kantor.
"Sar, aku cuma mau bicara baik-baik."
Sari tidak membuka pagar. "Bicara lewat pesan."
"Jangan begini. Aku tahu aku salah soal rumah sakit. Aku emosi."
"Kamu selalu punya nama lain untuk salahmu."
Hendra menggenggam pagar. "Aku lihat dia mengantar kamu. Kamu yakin dia serius? Lelaki seperti itu punya dunia sendiri."
"Duniaku bukan urusanmu."
"Aku khawatir kamu dimanfaatkan."
Sari hampir tertawa. "Kamu mengkhawatirkan aku setelah tiga puluh tahun memanfaatkanku?"
Wajah Hendra berubah. "Sar, jangan kejam."
"Pulang."
Ia tidak pulang. Ia justru menahan pagar ketika Sari hendak menutup tirai.
Gerakan itu kecil, tetapi cukup membuat tubuh Sari mengingat rumah lama. Malam-malam ketika Hendra berdiri di pintu, meminta dilayani, meminta uang, meminta ia diam.
Sari mengambil ponsel dan menelepon Arman.
"Pak Arman, maaf. Hendra ada di depan kontrakan lagi."
Suara Arman langsung jernih. "Kunci pintu. Saya ke sana."
Hendra mendengar nama itu dan melepas pagar seketika.
"Kamu panggil dia lagi?"
"Kamu datang lagi."
Hendra menatapnya dengan marah yang tertahan. "Kamu benar-benar berubah."
"Akhirnya."
Ia menutup pintu.
Di dalam kontrakan kecil itu, Sari berdiri beberapa detik sambil mendengar Hendra masih mondar-mandir di luar. Untuk pertama kalinya, kontrakannya terasa terlalu mudah difoto, terlalu mudah didatangi, terlalu dekat dengan jalan.
Ketika Arman tiba, Hendra sudah pergi. Namun di pagar ada bekas kantong plastik yang ditinggalkan begitu saja. Di dalamnya, buah pir mulai memar.
Arman melihat kantong itu, lalu melihat Sari.
"Bu Sari," katanya pelan, "Lintang juga terus menanyakan Ibu. Rumah saya di Kebayoran punya kamar tamu. Kalau Ibu bersedia tinggal beberapa hari, alasannya bukan hanya keamanan Ibu. Anak itu juga merasa lebih tenang saat Ibu ada."
Sari ingin langsung menolak.
Namun ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk dengan foto pagar kontrakannya.
Perempuan tua tidak tahu malu. Baru cerai sudah bawa laki-laki.
Sari menatap foto itu lama.
Lalu ia menatap Arman. "Tawaran kamar tamu itu masih berlaku?"
"Selalu."
Sari mengunci layar ponselnya.
"Besok saya datang. Beberapa hari saja."
Arman mengangguk. Ia tidak terlihat menang. Justru wajahnya lebih serius.
Di dalam rumah kecilnya, Sari mulai mengerti bahwa pindah sementara bukan tanda kalah.
Kadang, menjaga diri juga bagian dari melawan.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??