Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 - Panggung
Pulpen Kelvin berhenti di atas kertas.
Untuk beberapa detik, kelas XI-IPA 4 benar-benar sunyi. Bahkan Fajar, yang biasanya bisa berkomentar tentang apa saja, hanya membuka mulut tanpa suara.
Bagas yang pertama sadar. Dia menepuk meja dengan kedua tangan. "Tunggu. Nona Guru bisa nari?"
Keiko menurunkan tangan pelan. "Sedikit."
Dimas memejamkan mata. "Kalau dia bilang sedikit, artinya kita harus percaya diri kelas ini terselamatkan."
Nadia mengangguk dari dekat jendela. "Setuju."
Putri langsung membawa kertas pendaftaran ke meja Keiko. "Serius, ya? Jangan cuma kasihan lihat kami panik."
"Serius."
Anisa terlihat hampir melompat. "Keiko, kamu mau tari apa? Tradisional? Modern? Berdua? Grup? Butuh properti? Kostum?"
Pertanyaan itu datang terlalu cepat. Keiko belum sempat menjawab satu pun ketika Kelvin akhirnya bergerak. Dia meletakkan pulpen, menatap Keiko dari samping.
"Kamu yakin?"
Suara Kelvin tidak keras, tetapi berbeda dari ribut teman-teman lain. Di sana ada hal yang tidak bisa dijelaskan kepada kelas. Ada botol air hangat, wajah pucat, obat yang selalu disembunyikan, dan kebiasaan Keiko menjawab `aku bisa` untuk hal-hal yang sering kali sebenarnya menyakitkan.
Keiko menatapnya sebentar. "Aku yakin."
Kelvin tidak langsung percaya. Tapi dia juga tidak mematahkan pilihan Keiko di depan orang banyak. Dia hanya menarik kertas pendaftaran dari Putri, melihat bagian durasi penampilan, lalu berkata, "Maksimal tiga menit. Jangan lebih."
Bagas menunjuknya. "Lu sekarang manajer artis?"
"Manajer orang yang gampang lupa minum."
Keiko menunduk, pura-pura membaca formulir agar senyumnya tidak terlalu jelas.
Sejak hari itu, hidup Keiko bertambah satu jadwal rahasia kecil.
Setiap Selasa dan Kamis sore, setelah les tambahan atau alasan rapat kelas selesai, dia pergi ke studio Kak Sari. Bu Tuti biasanya mengantar sampai depan ruko, membawa termos air hangat dan biskuit tawar. Kak Sari sudah menunggu dengan speaker kecil, selendang ungu, dan wajah seolah siap memarahi seluruh dunia kalau Keiko batuk terlalu keras.
"Tidak ada gerakan lompat," kata Kak Sari pada latihan pertama.
"Dulu aku bisa."
"Dulu kamu juga bisa makan seblak level tiga tanpa drama lambung."
Keiko tidak bisa membantah.
Kak Sari memilih musik instrumental pendek, campuran piano pelan dan petikan kecapi yang lembut. Bukan lagu sedih, tetapi punya ruang kosong di antara nadanya, ruang yang bisa diisi napas. Gerakannya dibuat tidak terlalu besar. Banyak permainan tangan, putaran pelan, langkah kecil, dan selendang yang bergerak seperti kabut tipis.
Namun tubuh Keiko tetap bukan tubuh lama.
Pada latihan ketiga, setelah satu putaran terlalu cepat, pandangannya sempat menghitam di tepi. Kak Sari langsung mematikan musik. Bu Tuti, yang sedang duduk di sofa sambil merapikan kotak obat, sudah berdiri bahkan sebelum Keiko benar-benar berhenti.
"Duduk, Nduk."
"Aku masih bisa."
"Duduk."
Kali ini suara Bu Tuti tidak bisa ditawar.
Keiko duduk di lantai kayu, kedua tangan menekan perut. Selendang ungu jatuh di pangkuannya. Dari cermin studio, dia melihat dirinya sendiri dengan pipi pucat dan keringat di pelipis.
Kak Sari jongkok di depannya. "Kei-kei, kalau ini cuma buat membuktikan sesuatu ke orang lain, stop sekarang."
"Bukan."
"Terus buat apa?"
Keiko memegang ujung selendang. Kainnya licin, mudah lepas kalau tidak digenggam pelan.
"Buat aku ingat kalau tubuh ini pernah bisa melakukan sesuatu yang indah."
Bu Tuti memalingkan wajah. Tangannya sibuk membuka tutup termos, padahal airnya belum perlu dituang.
Kak Sari menatap Keiko lama, lalu mengambil botol air dan menyodorkannya. "Kalau begitu, kita potong satu putaran. Indah nggak harus bikin kamu tumbang."
Keiko mengangguk.
Januari 2023 datang dengan hujan sore dan spanduk pentas seni yang menggantung di gerbang SMA Bina Bangsa. Lapangan basket disulap menjadi area penonton. Panggung berdiri di ujung lapangan, tidak terlalu besar, tetapi bagi Keiko yang berdiri di belakang tirai hitam, ukurannya seperti dunia lain.
Teman-teman sekelasnya lebih gugup daripada dirinya.
Anisa membawa peniti, sisir, tisu, dan tiga jenis lip balm seolah sedang membuka toko kecil. Putri memastikan nomor urutan tampil tidak tertukar. Fajar bolak-balik mengintip penonton, lalu melaporkan jumlah orang dengan ekspresi makin tegang.
"Banyak banget," bisiknya. "Kenapa manusia sekolah ini tidak punya kegiatan lain?"
Nadia berdiri di samping Keiko sambil melipat tangan. "Kalau pingsan, aku panggil UKS dulu, bukan teriak-teriak. Tenang."
Keiko menatapnya.
Nadia mengangkat bahu. "Itu bentuk dukungan."
Bagas muncul membawa dua botol air mineral dan satu bungkus permen jahe. "Dari Bang Kel."
Keiko menerima permen itu. "Kelvin di mana?"
"Tadi ada di belakang sound system." Bagas melirik ke arah panggung. "Katanya jangan ganggu."
Keiko menoleh mencari, tetapi area belakang panggung terlalu penuh. Ada panitia, kabel, kursi lipat, dan anak kelas lain yang bersiap dengan gitar. Kelvin tidak terlihat.
Untuk sesaat, dada Keiko terasa kosong.
Lalu dia menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Kelvin bukan orang yang berdiri di barisan depan sambil bersorak. Dia lebih mungkin berdiri di tempat yang membuatnya bisa pergi kapan saja, namun tetap melihat semuanya.
Nomor penampilan sebelum Keiko selesai dengan tepuk tangan keras. MC memanggil nama kelas XI-IPA 4.
"Penampilan tari kontemporer oleh Keiko Hartono."
Suara itu terdengar tidak seperti namanya sendiri.
Keiko melangkah naik ke panggung.
Lampu panggung langsung membuat penonton berubah menjadi bayangan. Dia tidak bisa melihat wajah satu per satu. Hanya warna seragam, kilatan layar ponsel, dan garis pagar lapangan. Di balik sound system sebelah kiri, dekat tiang penyangga lampu, ada sosok tinggi dengan kemeja hitam.
Kelvin.
Dia berdiri setengah tersembunyi, satu bahu bersandar ke tiang, ponsel barunya terangkat rendah seperti tidak ingin ada orang tahu dia merekam. Dari tempat itu, dia tidak mencolok. Tapi bagi Keiko, melihatnya di sana seperti menemukan satu lampu kecil di ruang yang terlalu luas.
Musik mulai.
Keiko menarik napas.
Langkah pertama kecil. Tumit menyentuh lantai panggung, selendang ungu menggantung di pergelangan tangannya. Lalu piano masuk, pelan, disusul petikan kecapi. Keiko mengangkat tangan. Selendang bergerak, membentuk lengkung lembut di udara.
Penonton yang tadi masih berbisik mulai diam.
Keiko tidak menari seperti orang yang ingin memamerkan tenaga. Dia menari seperti seseorang yang sedang bicara dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat. Tangannya membuka, menutup, menahan, lalu melepas. Tubuhnya berputar setengah lingkaran, tidak cepat, tetapi cukup membuat selendang ungu mengikuti seperti jejak awan.
Di barisan belakang, Bagas yang semula sudah siap berteriak tiba-tiba lupa caranya ribut. Dimas berdiri di sampingnya, tatapannya tenang tetapi sangat fokus. Putri menutup mulut dengan dua tangan. Anisa berkaca-kaca tanpa sadar. Nadia, yang biasanya datar, menurunkan ponselnya dan menonton langsung.
Kelvin tidak bergerak.
Dari tempat tersembunyi itu, dia melihat sisi Keiko yang belum pernah dia tahu. Bukan Keiko yang menandai soal dengan pulpen merah. Bukan Keiko yang tersenyum sambil menahan sakit. Bukan Keiko yang selalu berkata `iya` agar orang lain tidak khawatir.
Di atas panggung, Keiko seperti cahaya yang memilih bentuknya sendiri.
Ada satu bagian ketika musik berhenti setengah ketukan. Keiko berlutut, selendang jatuh mengelilinginya seperti kelopak bunga. Kepalanya menunduk. Seluruh lapangan ikut menahan napas.
Lalu petikan terakhir masuk.
Keiko berdiri pelan, mengangkat selendang ke atas, dan membiarkannya turun melewati bahu seperti hujan ungu yang sangat tipis.
Musik selesai.
Sunyi bertahan satu detik.
Setelah itu tepuk tangan meledak.
Fajar berteriak paling keras. Bagas menyusul dengan suara yang hampir pecah. Anisa dan Putri melompat di tempat. Dari kursi guru, Pak Arif ikut bertepuk tangan, wajahnya lembut dengan rasa bangga yang tidak perlu banyak kata.
Keiko membungkuk.
Ketika dia mengangkat kepala, pandangannya sempat berkunang. Dia tetap tersenyum sampai tirai samping menutup sebagian tubuhnya. Baru setelah turun dari panggung, lututnya melemah.
Seseorang menangkap sikunya.
Bukan Bu Tuti. Bukan Kak Sari.
Kelvin berdiri di tangga kecil samping panggung, satu tangan menahan lengan Keiko, tangan lain menyodorkan botol air yang tutupnya sudah dibuka.
"Minum."
Keiko berkedip. "Kamu nonton?"
"Nggak. Gue berdiri di sebelah sound system buat menghitung kabel."
Keiko hampir tertawa, tetapi napasnya belum stabil. Dia menerima botol itu dan minum sedikit. Airnya tidak dingin. Entah bagaimana, Kelvin selalu mengingat hal yang bahkan panitia tidak pikirkan.
"Bagus," katanya.
Satu kata. Sangat Kelvin.
Namun telinga Keiko terasa panas.
"Cuma bagus?"
Kelvin menatapnya. Di belakang mereka, suara teman-teman sekelas mulai mendekat, ribut memanggil namanya. Tapi ruang kecil di samping panggung itu seperti terpisah beberapa detik dari dunia luar.
"Kalau gue bilang lebih dari itu, kamu nanti besar kepala."
"Aku tidak mudah besar kepala."
"Tadi satu lapangan tepuk tangan. Risiko tetap ada."
Keiko menunduk, menggenggam botol air. Ujung selendang masih melilit pergelangan tangannya. "Terima kasih sudah menonton."
Kelvin mengangkat ponsel bekasnya. Di layar, video rekamannya agak buram, cahaya panggung pecah di beberapa bagian. Tapi tubuh Keiko terlihat jelas ketika selendang ungu itu bergerak.
"Kameranya jelek," kata Kelvin.
Keiko menatap video itu.
"Tapi aku simpan," lanjutnya.
Keributan Bagas akhirnya sampai.
"Kei! Gila, lu tadi kayak tokoh utama drama!"
Putri menyusul sambil membawa tisu. Anisa memegang kedua tangan Keiko, matanya masih basah. Nadia berdiri di belakang mereka, berkata pendek, "Keren."
Keiko dikelilingi suara teman-teman, tepuk tangan yang belum benar-benar selesai, dan tangan Kelvin yang masih berjaga dekat sikunya kalau-kalau lututnya kembali lemas.
Di tengah semua itu, Keiko tiba-tiba merasa panggung tadi tidak sia-sia.
Untuk tiga menit, semua orang melihatnya hidup.