Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 pergi
Biel melangkah dengan menunduk di belakang pengacara Harry.
Harry membawa Biel keluar rumah itu melalui pintu samping.
Sepanjang langkahnya, Biel menyusuri ruangan yang ia lalui dengan matanya. kenangan demi kenangannya di rumah ini bersama sang mama dulu.
" ayo nona,
lebih cepat.....nanti keburu siang, jarak yang akan kita tempuh lumayan sangat jauh " ucap Harry kepada Biel.
Biel mengangguk,
Bocah itu mempercepat langkahnya mengikuti langkah pengacara Harry keluar pintu samping dan langsung menuju ke arah mobil yang sudah siap di depan pagar rumah yang terbuka lebar.
Di belakang sana,
Beberapa pasang mata pelayan mengikuti langkah kaki kecil Biel.
Mata mereka berkaca kaca,
Ketika telah berada tak jauh dari mobil yang akan membawanya pergi.
Biel menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
Di sana di teras bawah ia melihat sosok Shahnaz berdiri tegak menatapnya dengan sorot mata tajam.
Tatapan mata Biel beralih ke atas, tepatnya ke arah balkon di atas sana.
Sosok tuan Ricard juga nampak berdiri tegak di sana.
Biel sontak memutar tubuhnya dan menatap sosok itu,
harapan muncul di hatinya, untuk yang terakhir kalinya ia berharap laki laki itu akan menghentikannya dan melarangnya pergi.
Tapi hati Biel seperti hancur seketika ketika ia melihat sosok Ricard yang memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamar setelah beberapa saat mereka saling menatap.
Air mata Biel seketika luruh kembali,
Sebagai anak kecil, sungguh ia merasa sangat hancur saat ini.
" Ayo nona " ajak Harry dan membukakan pintu untuk kecil itu.
Biel pun menurut, ia masuk ke dalam mobil dengan mengusap air matanya yang luruh dengan deras.
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah besar keluarga Lee.
Di dalam mobil, Biel menatap rumah itu hingga kepalanya tertoleh kebelakang demi bisa melihat rumah besar itu
Di balik kemudi, Harry menatap trenyuh Biel dari kaca spion di hadapannya.
Biel menunduk kala ia tak lagi bisa melihat rumah besar itu.
Dan hari itu adalah hari terakhir ia berada dan juga melihat rumah itu,
Hingga lima belas tahun berlalu.....
Biel tak lagi pernah kembali dan bertemu dengan orang orang yang menghuni rumah itu.
Tak satupun dari penghuni rumah besar itu yang pernah datang padanya ke panti asuhan.
Biel benar benar di buang dan dianggap tak pernah ada.
Hingga keluarga baru ia dapatkan setelah tujuh tahun ia berada di panti asuhan.
Namun keluarga barunya juga tak lagi ia miliki sejak tiga tahun yang lalu.
Dan sejak itu, ia mulai akrab dengan kehidupan jalanan dan kehidupan malam. Hingga mengantarkannya menjadi seorang kurir narkoba....
Sebagai bartender di sebuah club malam saat malam hari juga sebagai pelayan di sebuah kafe saat siang dan sore hari.
Semua itu dia lakukan demi untuk bisa bertahan hidup dan demi untuk mengupayakan kesembuhan Cryssy.
Orang yang ia anggap sebagai satu satunya keluarganya saat ini.
flass off
Biel mengeratkan dekapannya pada dirinya sendiri ketika seseorang menyelimutkan jaket pada pundaknya.
" jaketmu itu terlalu tipis untuk melindungimu dari hawa dingin menjelang dini hari seperti Biel.... " ucap seseorang itu yang tidak lain adalah dokter Evan.
Usai berucap seperti itu, dokter muda itu melangkah memutari kursi itu dan kemudian duduk di sisi Biel.
Hening....
Kedua orang itu duduk bersisihan dan saling terdiam,
Hingga akhirnya terdengar dokter Evan berucap tegas namun pelan.
" Biel....." panggilnya, Biel hanya diam tak menjawab
" menikahlah denganku Biel.....aku berjanji akan memberikan kehidupan yang layak bagimu.
Kau berhak untuk hidup bahagia dan menjalani takdirmu sebagai seorang wanita " ucap dokter Evan sambil menolah menatap sosok di sisinya itu.
Mendengar ucapan dokter Evan, Biel tersenyum tipis.
" bicara apa kau ini dokter....?! jangan bercanda...." jawab Biel dengan tetap menatap lurus ke depan.
" aku tidak bercanda Biel....aku serius " jawab dokter Evan dengan tegas.
Biel menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Senyum tipis yang tersungging di bibirnya lenyap entah kemana.
" jangan janjikan apapun padaku dokter Evan,
apa itu hidup bahagia dan menjalani takdir menjadi seorang wanita ?!
itu semua tidak penting bagiku....
Janjikan saja kesembuhan Cryssy padaku.....
itu sudah lebih dari cukup bagiku....."
ucap Biel dengan tatapan yang tak beralih sedikitpun dari kegelapan di depan sana.
Nada bicaranya terdengar dingin dan datar.
Dokter Evan ganti menghela nafas.
" kondisi Cryssy sangat fatal Biel,
kami sudah melakukan berbagai cara untuk penyembuhannya.
Tapi hasilnya seperti yang kau lihat saat ini.
Aku sangat yakin....kemanapun kau akan membawanya pergi mencari pengobatan hasilnya akan tetap sama.
Hanya keajaiban yang bisa membuat dia kembali kepada kita " jawab dokter Evan jujur.
Kondisi Cryssy memang sangat sulit, jika menurut medis.
Dengan kondisi seperti itu tidak mungkin laki laki itu bisa bertahan hingga tiga tahun seperti ini.
Entah apa yang membuat laki laki itu tetap bertahan meski dalam kondisi koma seperti itu.
Biel hanya terdiam,
Kenangan demi kenangan bersama keluarga barunya termasuk Cryssy berputar nyata di pelupuk matanya.
Hatinya terasa sesak dan perih.
Sungguh ia menyalahkan dirinya akan hal buruk yang membuat keluarga barunya itu akhirnya hancur.
( nyonya Shahnaz ....
Aku tahu.....kau kan di balik semua hal buruk yang terjadi padaku ini ?!
Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku ?!
Semoga Tuhan menyelamatkanmu....)
Desis Biel di dalam hati dengan jemari tangan yang terkepal erat.
Ia tahu....
Siapa dalang di balik rencana pembunuhan padanya dan kehancuran hidupnya sejak awal hingga saat ini.
Yang ia tidak tahu......
Apa alasan wanita itu ingin membunuhnya.
( Shahnaz Lee.... ) desis Biel lagi masih di dalam hati.
Biel melepas jaket yang menutupi pundaknya dan memberikannya lagi kepada dokter Evan.
" terimakasih dokter .... aku titip Cryssy " ucap Biel sebelum ia bangkit dari duduknya.
Dokter Evan menatapnya dalam, seolah ingin mencari kebenaran di wajah kelam seorang Gabriela Calista.
" kau akan kemana ?! Tidakkah lebih baik kau beristirahat dulu ?!
kau sungguh terlihat sangat lelah " ucap dokter itu.
" terimakasih dokter...tapi aku harus segera kembali,
aku harus bekerja " jawab Biel
Dokter Evan turut bangkit dari duduknya, dan mencekal lengan Biel.
" aku mohon....menikahlah denganku, aku janji aku tidak akan membatasi ruang gerakmu.
dan aku hanya akan mencintaimu..... " ucapnya lagi.
Mata keduanya bertemu, permintaan dokter Evan untuk yang kesekian kalinya itu cukup membuat hati Biel berdesir.
Dokter Evan sangat tampan,
Dan selalu baik kepadanya sejak awal mereka bertemu.
Tapi....
Cukup lama keduanya saling menatap hingga Biel melepaskan tangan dokter tampan itu dari lengannya.
" maaf dokter......" desis pelan gadis itu, tak lama ia mulai melangkah untuk pergi dari tempat itu.
" Biel....!! " panggil dokter Evan.
Biel menghentikan langkahnya, namun ia tak menoleh ke arah dokter Evan.
" apakah kau sungguh menganggap Cryssy hanya sebagai kakakmu ?!
tidak lebih.....?! " tanya dokter Evan dari tempatnya berdiri.
Sementara Biel,
Juga dari tempatnya berdiri saat ini ia hanya diam sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya kembali tanpa menjawab pertanyaan dokter Evan.
Evan menghela nafas,
Netranya terus mengikuti pergerakan Biel yang terus menjauh dan akhirnya tak lagi tejangkau oleh pandangannya.