NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Raka membeli cincin itu tiga hari sebelum foto Sabrina tersebar.

Maya tidak tahu.

Cincin itu sepasang, sederhana, dengan bagian dalam yang akan diukir nama mereka. Raka memilihnya sendiri di ruang privat sebuah butik perhiasan. Bima berdiri di belakang, menyaksikan CEO yang biasanya memutuskan akuisisi ratusan miliar dalam sepuluh menit justru menghabiskan hampir satu jam memilih lebar cincin.

"Pak, model ini sudah bagus," kata Bima hati-hati.

"Terlalu mencolok."

"Yang ini?"

"Terlalu muda."

"Yang ini?"

Raka diam lama.

Cincin itu tipis, elegan, tidak penuh berlian, hanya satu garis halus seperti cahaya. Cocok untuk tangan Maya yang selalu merasa perhiasan mahal terlalu berat.

"Ini."

Bima menghela napas lega.

"Ukiran, Pak?"

Raka menjawab setelah berpikir, "Raka dan Maya. Jangan inisial."

"Baik."

"Buat jelas."

Bima menunduk. Ia sangat ingin bertanya apakah jelas untuk Bu Maya atau untuk seluruh laki-laki seperti Yudha dan Hendra, tapi ia masih ingin hidup tenang.

Masalahnya, cincin itu belum selesai diukir ketika Sabrina menyebarkan fotonya memakai cincin palsu.

Raka baru tahu keesokan paginya, setelah Maya bersikap terlalu tenang.

Terlalu tenang selalu lebih buruk daripada marah.

Maya sarapan tanpa protes, menghabiskan buah, minum vitamin, lalu berkata ingin istirahat. Ia tidak bertanya soal jadwal Raka. Tidak melihatnya terlalu lama. Tidak memanggilnya saat merasa mual.

Raka membiarkannya sampai pukul sepuluh.

Lalu ia masuk kamar.

Maya duduk di dekat jendela, membaca buku yang halamannya tidak berpindah sejak tadi.

"Kita bicara."

Maya menutup buku. "Tentang apa?"

"Foto Sabrina."

Maya tersenyum kecil. "Oh. Saya tidak apa-apa."

"Kamu sangat apa-apa."

"Mas Raka sibuk. Tidak perlu menjelaskan gosip."

"Aku tidak sibuk untuk istriku."

Maya menatapnya. Kalimat itu hampir menggoyahkan pertahanannya, tapi ia menahan diri.

"Cincin itu bukan dari aku," kata Raka.

"Saya tidak bertanya."

"Tapi kamu memikirkannya."

"Mas Raka tidak bisa terus menebak pikiran saya."

"Kalau kamu diam seperti ini, aku harus menebak."

Maya menarik napas.

"Baik. Saya memikirkannya. Saya tahu itu mungkin bukan dari Mas. Saya tahu Sabrina sengaja membuat orang salah paham. Saya tahu ini bukan waktu yang tepat untuk terluka karena cincin. Tapi saya tetap terluka."

Raka mendekat.

Maya menunduk.

"Saya melihat jari saya kosong. Lalu saya merasa... mungkin pernikahan kita memang lebih banyak dokumen daripada tanda."

Raka diam.

Ia seharusnya menjawab cepat, tapi kali ini ia menyesal karena menunda.

"Aku membeli cincin."

Maya mengangkat wajah.

"Apa?"

"Tiga hari lalu. Sedang diukir."

Maya menatapnya, tidak tahu harus percaya atau tidak.

Raka mengambil ponsel, membuka pesan dari butik perhiasan, lalu menyerahkannya. Ada foto cincin, konfirmasi ukiran, dan tanggal pengambilan.

Maya membaca tulisan itu.

`Ukiran: Raka dan Maya.`

Matanya panas.

"Kenapa tidak bilang?"

"Aku ingin memberikannya setelah semua urusan Hendra lebih jelas."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin kamu mengira cincin itu hanya untuk membungkam gosip."

Maya menggigit bibir.

Raka berkata lebih pelan, "Tapi karena aku menunggu, Sabrina mengisi kekosongan itu."

Maya menatap ponsel di tangannya.

"Saya bodoh."

"Tidak."

"Saya percaya foto tanpa bertanya."

"Kamu lelah."

"Tetap saja."

Raka mengambil ponsel kembali, lalu berjongkok di depan kursi Maya.

"Maya, kalau kamu terluka, tanya aku. Jangan menghukum dirimu sendiri dengan diam."

Maya tersenyum pahit.

"Saya terbiasa diam karena bertanya sering membuat saya terlihat menuntut."

"Tuntut aku."

Ia menatap Raka, terkejut.

"Apa?"

"Kalau kamu merasa perlu jawaban, tuntut aku menjawab. Kalau kamu merasa perlu diyakinkan, tuntut aku meyakinkan. Aku mungkin tidak langsung pandai, tapi aku bisa belajar."

Maya tidak sanggup menahan air matanya.

"Mas Raka belajar banyak sejak menikah."

"Kamu juga banyak memberi materi."

Ia tertawa sambil menangis.

Raka mengusap air matanya.

Pintu diketuk. Bima masuk dengan wajah sangat hati-hati.

"Maaf, Pak. Cincin sudah selesai lebih cepat. Kurir butik baru tiba."

Maya langsung menatap Raka.

Raka berdiri.

"Bawa ke sini."

"Sekarang?" tanya Maya panik.

"Ya."

"Saya belum siap."

"Untuk memakai cincin?"

"Untuk tidak menangis lagi."

"Tidak apa-apa. Aku sudah membawa saputangan."

Bima keluar dan kembali membawa kotak beludru.

Raka mengambilnya, lalu membuka di depan Maya. Sepasang cincin itu lebih indah daripada foto. Sederhana, hangat, tidak berteriak mahal, tapi setiap garisnya terasa dipilih dengan hati-hati.

Raka mengambil cincin yang lebih kecil.

"Boleh?"

Maya mengulurkan tangan dengan gemetar.

Raka memasangkan cincin itu di jari manisnya.

Ukurannya pas.

Maya melihat ukiran di bagian dalam sebelum cincin masuk sepenuhnya. Namanya ada di sana. Bukan inisial. Bukan tanda samar. Namanya.

Raka menyerahkan cincin satunya.

"Kamu."

Maya menatapnya.

"Saya?"

"Aku tidak bisa memasang sendiri?"

"Bisa."

"Tapi aku ingin kamu yang pasang."

Maya mengambil cincin itu. Tangannya bergetar lebih parah daripada saat tes DNA. Ia memasangkan cincin ke jari Raka. Jari pria itu panjang, hangat, kuat. Ketika cincin itu melingkar sempurna, Maya merasa sesuatu di hatinya ikut terikat.

Bima sudah mundur tanpa suara.

Raka menggenggam tangan Maya, menyandingkan cincin mereka.

"Sekarang ada tanda."

Maya menatap tangan mereka.

"Mas Raka."

"Hmm."

"Sabrina akan marah."

"Bagus."

Bu Ratna menatap Sabrina dengan curiga, tetapi keserakahannya lebih cepat bicara daripada nalarnya.

"Kalau Maya pergi, Dimas bisa kembali padaku?"

"Dimas akan merasa tidak punya siapa-siapa selain Ibu," jawab Sabrina. "Dan kalau bayi itu tidak lahir di bawah nama Wijaya, Raka akan kehilangan alasan mempertahankannya."

"Saya tidak mau ada darah," kata Bu Ratna, suaranya mengecil.

Sabrina mencondongkan tubuh. "Tidak perlu darah kalau orangnya cukup takut."

Bu Ratna menelan ludah.

Ia tahu batas moralnya sudah bergeser sejak menerima uang pertama dari Sabrina. Tetapi ia membayangkan Dimas pulang, makan di meja rumah, memanggilnya ibu tanpa membela Maya lagi.

Bayangan itu membuatnya mengangguk.

Sabrina tersenyum, lalu mengirim pesan pada seseorang.

`Besok. Pakai nama Dimas. Pastikan Maya datang sendiri.`

Maya tertawa.

Namun kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama.

Siang hari, akun resmi Wijaya Group merilis foto tangan Raka dan Maya dengan cincin mereka, disertai pernyataan hukum mengenai pernikahan yang sah berdasarkan dokumen resmi. Publik langsung ramai. Banyak yang mendukung, banyak pula yang menuduh itu pencitraan.

Sabrina melihat foto itu di ponselnya.

Ia menatap cincin palsu di jarinya, lalu melepasnya dan melempar ke lantai.

Bu Ratna yang duduk di depannya tampak cemas.

"Rencana kita gagal?"

Sabrina tersenyum dingin.

"Belum."

Ia membuka foto lama Hendra yang sudah dikirim orang suruhannya.

"Kalau cincin membuat Maya merasa aman, kita buat dia merasa pernikahannya tidak punya tanah untuk berdiri."

"Bagaimana?"

Sabrina menatap Bu Ratna.

"Kita bawa dia ke tempat di mana Raka tidak bisa langsung melindungi. Buat dia percaya Dimas dalam bahaya. Kali ini tidak perlu hanya mempermalukan."

Bu Ratna menegang.

"Maksudmu?"

"Maya harus hilang sebelum hasil DNA keluar."

Bu Ratna tidak langsung menjawab.

Sabrina berkata pelan, "Kalau dia tetap ada, bukan hanya saya yang kehilangan. Keluarga Ibu juga tidak akan pernah bisa mengalahkan dia lagi."

Kebencian Bu Ratna mengalahkan rasa takutnya.

"Aku bisa memancingnya."

Sabrina tersenyum.

"Bagus."

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!