"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
singgungan
Sebelum langkah kakinya benar-benar berbalik meninggalkan koridor rumah sakit, Aratala mendadak menghentikan gerakannya. Ingatannya kembali pada amplop yang sudah ia siapkan.
Dengan gerakan sigap, tangan Aratala merogoh ke dalam tas jinjingnya. Jemarinya dengan cepat mencari sebuah amplop hitam berukuran cukup tebal yang ia simpan di bagian dalam tas.
Tanpa ragu, Aratala menarik amplop tersebut keluar dan langsung meraih tangan Bi Nisa, lalu menyelipkan amplop tebal itu.
Bi Nisa sontak terkejut, merasakan ketebalan amplop di tangannya. Ia menatap amplop hitam polos itu dengan kening berkerut dalam, lalu mendongak menatap Aratala penuh tanya.
"Nak Tala... Ini apa? Kenapa pakai ngasih amplop lagi? Biaya operasinya kan tadi sudah lunas dibayar sama kamu dan nak elio ..." suara Bi Nisa terdengar ragu, merasa tidak enak menerima pemberian sebanyak itu.
Aratala tersenyum tulus, menangkupkan kedua tangan Bi Nisa di atas amplop tersebut agar tidak dikembalikan.
"Itu buat jaga-jaga, atau buat keperluan di panti. Anggap saja ini rezeki tambahan dari aku dan Mas Elio, jadi jangan ditolak ya, Bi," ucap Aratala lembut, memohon pengertian.
Di sampingnya, Elio hanya terdiam tenang sambil melipat tangan di dada. Pria itu mengamati bagaimana perhatian tulus Aratala, Alih-alih merasa terganggu karena uangnya dihamburkan, sudut bibir Elio justru terangkat membentuk senyuman tipis yang nyaris tak kasat mata—menemukan sisi lain dari sang istri kontrak yang ternyata memiliki hati sehangat itu.
Bi Nisa terperanjat melihat isi amplop tersebut. Sekilas intipan dari sudut amplop yang sedikit terbuka memperlihatkan lembaran uang tunai yang cukup banyak Wanita tua itu langsung menggeleng panik, berniat menarik tangannya untuk mengembalikan amplop itu.
"Eh, Nak Tala, tunggu! Ini terlalu banyak! Bibi nggak bisa terima—"
Belum sempat Bi Nisa menyelesaikan kalimatnya, Aratala sudah lebih dulu memotong.
"Pokoknya nggak boleh dikembalikan, Bi!" seru Aratala cepat dengan senyuman lebar yang manis.
Tanpa membuang waktu lagi sebelum Bi Nisa sempat protes lebih jauh, tangan mungil Aratala langsung terulur menyambar tangan besar Elio, menggenggamnya erat-erat, lalu menarik pria tinggi itu untuk segera melangkah pergi meninggalkan koridor rumah sakit.
"Babai, Bi! Tala janji bakal sering-sering berkunjung!" teriak Aratala riang seraya melambaikan satu tangannya ke belakang, sementara langkah kakinya kini sedikit berlari kecil menyeret Elio agar bergerak cepat menjauhi tempat itu.
Elio, yang tiba-tiba ditarik begitu saja oleh istrinya, tidak melakukan perlawanan sama sekali. Pria itu membiarkan jemari mungil Aratala menuntun langkahnya, sementara sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman geli melihat tingkah laku wanita itu yang mirip buronan tertangkap basah tengah kabur dari TKP.
Derap langkah sepatu mereka berpadu dengan suara tawa kecil Aratala yang terdengar lega, meninggalkan Bi Nisa yang berdiri terpaku di koridor rumah sakit sambil mendekap amplop tebal itu di dadanya dengan mata yang kembali berkaca-kaca penuh rasa syukur.
Saat mereka sampai di parkiran aratala Inging langsung masuk ke mobilnya tapi tangan nya langsung di tarik menjauh dan mendekati mobil Elio.
" pa saya bawa mobil " protes aratala
" biar supir saya nanti yang bawa.
🌴🌴🌴
Di dalam mobil sedan mewah yang kini telah meluncur membelah jalanan kota di bawah temaram lampu senja, suasana terasa jauh lebih tenang dibanding ketegangan di rumah sakit tadi.
Elio duduk di kursi pengemudi—sementara manik matanya sesekali melirik ke arah kursi penumpang di sampingnya. Aratala tampak sedang mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal akibat berlari kecil tadi, sambil membuang muka ke luar jendela.
Mengingat kembali seluruh rentetan kejadian hari ini—mulai dari laporan mata-mata, kepanikannya yang luar biasa meninggalkan ruang kerja, sandiwara di depan Bi Nisa, cubitan maut di pinggangnya, hingga cara Aratala menyeretnya kabur layaknya pencuri—sudut bibir Elio perlahan terangkat membentuk senyuman tipis.
Tiba-tiba, sebuah kekehan pelan lolos dari bibir pria itu. Suara bariton yang rendah namun penuh kegeliahan itu kontras memenuhi keheningan di dalam kabin mobil.
"Dari suami..." gumam Elio pelan, mengulang frasa yang sengaja ia ledekkan sebelumnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, merasa geli sendiri pada dirinya sendiri. Siapa sangka, seorang Elio—pria dingin, kaku, dan paling benci membuang waktu untuk urusan tidak penting—bisa-bisanya rela bersandiwara manis, membiarkan pinggangnya dicubit, dan terseret-seret kabur hanya demi menyelamatkan rahasia seorang gadis nekat yang kini resmi menjadi istrinya.
Mendengar kekehan dan gumaman itu, Aratala kontras menoleh dengan mata membelalak galak. Wajahnya merona merah, antara kesal karena dijadikan bahan lelucon dan salah tingkah.
"Apa?!" sentak Aratala sewot, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat sok tegas. "Nggak usah senyam-senyum gitu! Mau protes gara-gara tadi pinggangnya aku cubit? Syukurin!"
Elio melirik sekilas, senyuman di wajahnya semakin melebar, menampilkan pesona berbahaya yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar.
"Tidak protes," jawab Elio dengan nada tenang yang sengaja dibuat santai, suaranya terdengar begitu membuai di telinga. "Hanya merasa... lucu saja. Ternyata istri kontrak saya ini punya banyak sisi yang mengejutkan. Mulai dari lihai memutarbalikkan fakta, punya hati malaikat, sampai punya tangan yang lumayan bertuah dalam hal mencubit."
"Itu namanya peringatan buat suami yang suka cari ribut!" balas Aratala cepat, membuang muka lagi ke arah jendela, meski semburat merah di pipinya kian menjadi-jadi.
Elio kembali terkekeh pelan. Alih-alih marah atau tersinggung, rasa hangat yang asing justru diam-diam menjalar di dadanya, membuat perjalanan pulang sore itu terasa jauh lebih hidup dari hari-hari biasa yang sunyi.
Mobil sedan mewah itu akhirnya memasuki halaman rumah megah milik Elio. Begitu mesin dimatikan, Aratala buru-buru membuka pintu mobil dan melompat turun, seolah ingin segera kabur sejauh mungkin dari jarak pandang sang suami kontrak.
Namun, langkah kakinya langsung terhenti saat mendengar pintu di sisi pengemudi menutup dengan bunyi gedebuk yang tegas. Elio sudah berdiri tegak di samping mobil, melangkah dengan tenang menyusul Aratala yang kini mendadak kelihatan panik.
"Mau lari ke mana lagi, istriku?" panggil Elio dengan nada rendah yang sarat akan godaan, sengaja menekankan kata terakhirnya.
Aratala berbalik dengan wajah cemberut, berkacak pinggang menatap pria yang kini sudah berdiri sangat dekat di hadapannya. "Siapa yang mau lari?"
Elio terkekeh pelan. Tanpa memedulikan protes Aratala, tangan panjang pria itu terulur meraih pergelangan tangan istrinya dengan lembut, namun dengan satu sentakan aratala melepaskan cengkraman tangan elio.
Sentakan itu cukup kuat. Begitu mereka melewati ambang pintu utama, Aratala langsung menarik pergelangan tangannya dengan kasar, menghempaskan genggaman Elio hingga terlepas.
Elio mengerjap sejenak, sedikit terpana atas penolakan mendadak yang ditunjukkan oleh istrinya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja ditepis, lalu mengalihkan pandangan ke arah Aratala.
Gadis itu berdiri, Sorot matanya yang semula menyembunyikan rasa salah tingkah kini berubah tajam, dipenuhi kilatan amarah dan ketegasan yang selama ini ia gunakan sebagai benteng pertahanan.
"Jangan suka pegang-pegang!" sergah Aratala ketus, suaranya menggema di ruang depan yang luas. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menatap Elio dengan dagu terangkat. "Ingat batasan kita, Pak Elio! Status kita cuma sebatas kontrak di atas kertas. Nggak usah akting berlebihan seolah-olah kita ini suami istri beneran di rumah ini!"
🌴🌴🌴
Suasana di ruang tamu megah itu mendadak mendingin. Aura santai dan hangat yang sempat tercipta di dalam mobil seketika menguap, digantikan oleh ketegangan yang pekat.
Elio tidak langsung merespons. Pria itu menurunkan tangannya perlahan, menegakkan postur tubuh tingginya yang menjulang. Sorot mata pria itu yang tadinya menyiratkan kejenakaan dan kehangatan perlahan kembali meredup, berubah menjadi dingin dan datar—topeng absolut seorang Elio yang biasa ia tunjukkan pada dunia.
di balik wajah tenangnya, ada sedikit rasa nyeri tak kasat mata yang menusuk dadanya. Sebuah kenyataan pahit yang sengaja diingatkan kembali oleh Aratala: bahwa semua kedekatan, sandiwara manis di rumah sakit, hingga debaran-debaran asing itu hanyalah sebuah ilusi yang dibatasi oleh lembaran hitam di atas putih.
Elio menatap Aratala lekat-lekat, tanpa secercah senyuman pun di bibirnya.
"Benar," suara bariton Elio terdengar rendah, dingin, dan menusuk, mengonfirmasi batasan yang baru saja digariskan oleh sang istri. "Saya hampir lupa. Anda hanya seseorang yang saya beli untuk mengisi posisi itu, Aratala."
Sentuhan rasa dingin dari kalimat sindiran itu mendadak buyar, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan saat Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Tatapan mata pria itu berubah lekat, menyiratkan kejujuran telanjang yang justru terdengar jauh lebih berbahaya daripada bentakan apa pun.
"Tapi sikapmu yg begitu manis di rumah sakit buat aku lumayan terpana," bisik Elio dengan suara rendah yang mengalun berat di hadapan Aratala, "apalagi saat tadi kamu genggam tangan saya dan mengklaim saya sebagai suami..."
Mendengar pengakuan blak-blakan itu, jantung Aratala bergemuruh hebat. Namun, sebelum ia sempat menyusun pertahanan atau membalas kata-kata tersebut, Elio kembali melanjutkan kalimatnya, melontarkan ancaman verbal yang sukses menyulut api kemarahan di dada gadis itu.
"...Lalu soal uang yg aku kasih ke kamu, kalau Bi Nisa tahu uang itu uang hasil saya membeli keperawananmu, kira-kira reaksinya bakal gimana?" ucap Elio sengaja, memperlambat setiap suku kata sambil memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya perlahan hingga deru napas hangat pria itu menerpa permukaan kulit Aratala.
Deg!
Darah Aratala mendadak mendidih seketika. Kalimat itu bukan sekadar lelucon; itu adalah penghinaan telak yang menginjak-injak harga dirinya, sengaja dilemparkan untuk merendahkannya.
Plak!
Suara tamparan yang begitu nyaring menggema di seluruh sudut ruang tamu yang megah itu. Satu tamparan mendarat mulus di pipi kiri Elio, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit wajah pria berahang tegas tersebut.
Kepala Elio sedikit terhempas ke samping akibat hantaman tangan mungil Aratala. Pria itu terdiam membeku dalam posisi menunduk, merasakan sengatan panas dan perih di pipinya, namun ia sama sekali tidak berniat mengusapnya.
Di hadapannya, Aratala berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah yang meluap-luap. Air mata kemarahan nyaris menggenang di pelupuk matanya, namun ia tahan mati-matian agar tidak terlihat lemah. Genggaman tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Jangan pernah rendahkan aku dengan kata-kata murahan seperti itu, Tuan Elio " desis Aratala tajam, suaranya bergetar hebat menahan emosi yang membakar. "Anda boleh punya uang untuk membeli segalanya, tapi harga diriku tidak akan pernah bisa kamu bayar dengan harga berapapun!"
🌴🌴🌴