NovelToon NovelToon
SISTEM WINGER

SISTEM WINGER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Pemain Terhebat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.

#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak Tunduk

Hujan gerimis membasahi rumput Stadion GOR Haji Agus Salim yang sudah tidak lagi hijau sempurna, melainkan cokelat berlumpur di beberapa titik. Sore itu, sekitar dua ribu penonton duduk di tribun setengah kosong, sebagian besar berteduh di bawah atap seng yang berkarat, menyaksikan laga persahabatan antara Minang United melawan PS Rantau Prapat.

Alex Pratama berdiri di sisi kanan lapangan, napasnya memburu, kaus bernomor punggung 17 basah oleh keringat dan air hujan yang bercampur jadi satu. Ototnya yang kurus tampak jelas di balik kaus yang kebesaran—tubuh seorang pemain junior berusia 19 tahun yang belum sepenuhnya matang, jauh berbeda dari postur atletis para senior di sekelilingnya.

"Bola! Bola, Alex!"

Umpan datar dari gelandang tengah meluncur ke arahnya. Alex menerima bola dengan sentuhan pertama yang kaku, lalu mendongak. Di depannya berdiri Bambang Wijaya, bek tengah senior Minang United yang sudah 12 tahun malang melintang di kompetisi lokal. Tubuh Bambang seperti tembok—tinggi, kekar, dan matanya menatap Alex dengan tatapan meremehkan yang sudah familiar.

"Anak kemarin sore mau lewatin saya?" gumam Bambang, cukup keras untuk didengar Alex. "Balik aja ke bangku cadangan, Dek."

Alex mencoba trik sederhana—sedikit gocekan ke kiri—tapi kaki Bambang lebih cepat mengunci bola. Sebuah tekel keras, sedikit terlambat, membuat Alex terjungkal ke rumput becek. Wasit tidak meniup peluit. Tak ada pelanggaran yang dicatat.

Tawa mengejek terdengar dari beberapa pemain PS Rantau Prapat. Dari bangku cadangan timnya sendiri, Alex bisa mendengar pelatih kepala, Pak Yusuf, berteriak frustrasi.

"Alex! Kalau nggak bisa lewatin satu bek aja, mending duduk aja di bangku!"

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari tekel Bambang barusan.

Alex bangkit perlahan, lumpur menempel di seragam putihnya yang kini nyaris berwarna cokelat. Dia menatap ke arah bangku cadangan Minang United—klub kasta ketiga yang byarpet finansialnya sudah jadi rahasia umum. Gaji pemain sering telat, bus tim sering mogok di jalan, dan sponsor utama mereka hanyalah toko onderdil motor milik paman ketua klub.

Ini adalah pertandingan ke-8 musim ini, dan Alex baru mencetak nol gol, nol asis. Sebagai seorang winger yang direkrut karena "punya bakat" menurut scout amatir yang menemukannya bermain di lapangan tanah kampung, Alex tahu dirinya sedang berada di ambang dilepas kontraknya sendiri.

*Aku nggak boleh nyerah di sini,* batin Alex, mengepalkan tangan yang gemetar—entah karena dingin, lelah, atau amarah yang tertahan. *Bukan setelah semua yang aku korbankan.*

Dia memikirkan ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci di kompleks perumahan, memikirkan adiknya yang masih SMP dan butuh biaya sekolah, memikirkan ayahnya yang meninggalkan mereka bertahun-tahun lalu tanpa kabar. Sepak bola adalah satu-satunya jalan keluar yang Alex punya, dan sekarang jalan itu terasa seperti buntu.

Peluit babak pertama berbunyi. Skor masih 0-0, tapi rasanya seperti Minang United sudah kalah telak dari segi mental.

Di ruang ganti, Alex duduk sendirian di sudut, membiarkan air keran mengalir di kepalanya sambil menunduk. Suara riuh rekan setimnya yang mengeluh soal cuaca dan kondisi lapangan terdengar samar, seolah dari dunia lain.

"Kalau begini terus, aku bakal didepak dari tim," gumamnya lirih. "Terus gimana Ibu, gimana Rina..."

Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi.

Sebuah kilatan cahaya biru pucat, nyaris tak kasat mata, berkelebat di sudut pandangnya. Alex mengerjapkan mata, mengira itu hanya efek kelelahan. Tapi kilatan itu tidak hilang. Justru, sebuah jendela transparan—seperti layar kaca yang melayang di udara, hanya bisa dilihat olehnya seorang—perlahan terbentuk tepat di hadapannya.

```

[SISTEM WINGER TERDETEKSI]

[Kondisi Aktivasi Terpenuhi: Tekad Bertahan Hidup >85%]

[Menginisialisasi Antarmuka...]

```

Alex tersentak mundur, punggungnya membentur loker besi hingga menimbulkan bunyi berdentang. Beberapa rekan setimnya menoleh sekilas, tapi tak ada yang benar-benar peduli—mereka pikir Alex hanya kelelahan.

"A-apa ini...?" bisik Alex, suaranya nyaris tak terdengar.

Layar itu berkedip sekali lagi, lalu memunculkan deretan teks baru yang perlahan menyusun diri di depan matanya, seolah ditulis oleh tangan tak kasat mata.

```

SELAMAT DATANG, HOST: ALEX PRATAMA

STATUS PEMAIN SAAT INI:

Kecepatan: 42/99

Kekuatan Fisik: 31/99

Teknik Dasar: 55/99

Akurasi Umpan: 38/99

Stamina: 40/99

Mental: 20/99 (KRITIS - Kepercayaan Diri Rendah)

PERINGATAN: Atribut Mental berada di ambang batas.

Jika terus menurun, Sistem berisiko mengalami MALFUNGSI PARSIAL.

MISI PERTAMA TERSEDIA:

[Menolak Tunduk]

Deskripsi: Selesaikan babak kedua tanpa kehilangan penguasaan bola melawan Bambang Wijaya minimal 1 kali dalam duel langsung.

Hadiah: 3 Poin Atribut Bebas + Membuka "Step-over Dasar"

Kegagalan: Tidak ada penalti, namun Sistem akan menurunkan level kepercayaan terhadap Host.

Terima misi? [YA] [TIDAK]

```

Jantung Alex berdegup kencang. Ini gila. Benar-benar gila. Tapi entah kenapa, di tengah keputusasaan yang menggerogotinya sejak tadi, ada percikan kecil harapan yang tiba-tiba menyala.

Dia tidak tahu apakah ini halusinasi akibat tekanan, mimpi aneh, atau sesuatu yang sungguhan. Tapi satu hal yang dia tahu pasti: dia tidak punya apa-apa untuk dihilangkan dengan mencoba.

"Ya," gumamnya pelan, nyaris tak percaya pada dirinya sendiri karena berbicara pada layar yang melayang di udara. "Aku terima."

```

MISI DITERIMA.

Semoga beruntung, Host. Babak kedua akan segera dimulai.

```

Layar itu memudar, meninggalkan Alex sendirian di ruang ganti yang kini mendadak terasa sunyi. Di luar, peluit panjang tanda dimulainya babak kedua terdengar bergema, memanggilnya kembali ke lapangan becek tempat Bambang Wijaya menunggu dengan seringai meremehkan yang sama.

Alex bangkit berdiri. Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya—bukan lagi rasa takut atau minder, melainkan tekad yang baru saja lahir.

*Kali ini,* batinnya sambil melangkah keluar ruang ganti, *aku nggak akan tunduk lagi.*

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Otw
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
the misterius author 🐐: jangan lupa bintang 5 nya bg biar semangat up nya bg 🙏
total 3 replies
Protocetus
Novel yang menarik from Zero to Hero
Protocetus
Semangat2
the misterius author 🐐: makasih bg bintang 5 nya
total 1 replies
Protocetus
Wuih jadi keinget Manhwa namanya Build Up. Si MC berusaha menghancurkan tembok penghalang dirinya.
Protocetus
Divisi berapa ini min?
the misterius author 🐐: devisi 3 kak
total 1 replies
the misterius author 🐐
bantu support nya kak bg kalau mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!