Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Udara musim semi di Paris terasa begitu sejuk dan bersih, sangat kontras dengan hiruk-pikuk dan ketegangan ruang sidang ataupun koridor rumah sakit yang selama ini menguras energi Adila. Di atas balkon sebuah Penthouse Suite mewah di Hotel Plaza Athénée, Adila berdiri sembari menghirup dalam-dalam aroma kopi latte hangat di tangannya. Pandangannya lurus menatap kemegahan Menara Eiffel yang menjulang indah di antara langit biru bersih kota Paris.
Liburan ini adalah hadiah kejutan dari Papi Hadi dan Mami Ratna. Begitu tahu Adila mendapatkan masa cuti resmi dari rumah sakit setelah menyelesaikan ujian OSCE dan CBT nasional, Papi Hadi langsung memerintahkan sekretaris pribadinya untuk menyiapkan jet pribadi keluarga. Tidak perlu menunggu waktu lama, seluruh anggota Keluarga Wijaya langsung terbang ke Prancis demi merayakan kembalinya sang putri mahkota ke pelukan hangat mereka. Ini adalah *me time* pertama mereka setelah sepuluh tahun terpisah oleh dinding ego yang tebal.
"Dila! Ayo cepat ganti bajumu, Sayang. Kereta kuda pribadi yang disewa Papi untuk keliling jembatan Pont de Bir-Hakeim sudah siap di bawah," panggil Siska dari dalam kamar, suaranya terdengar begitu ceria.
Adila menoleh dan tersenyum lebar. Ia melangkah masuk ke dalam kamar luas yang didominasi warna putih gading dan emas tersebut. Di atas ranjang, Siska sudah menyiapkan sebuah terusan gaun rajut premium berwarna krem dari rumah mode ternama, dipadukan dengan mantel panjang berbahan cashmere lembut serta syal sutra yang senada.
Malam sebelumnya, Mami Ratna bahkan membawa Adila langsung ke butik privat di kawasan Avenue Montaigne yang sengaja ditutup untuk umum selama dua jam penuh, hanya agar Adila bisa berbelanja sepuasnya tanpa gangguan. Semua barang-barang bermerek yang dulu sempat Adila lupakan selama sepuluh tahun menjadi istri Revan, kini kembali memenuhi lemari pakaian pribadinya.
Siang itu, mereka sekeluarga menikmati makan siang privat di sebuah restoran legendaris yang memiliki pemandangan langsung ke arah Sungai Seine. Papi Hadi nampak begitu santai tanpa setelan jas korporatnya, hanya mengenakan mantel kasual berkelas, sementara Mami Ratna terus-menerus menyuapi Adila dengan kue macaron rasa lavender kesukaannya.
Ardi yang duduk di samping Papi Hadi sesekali tertawa mendengar cerita-cerita konyol dari masa kuliah Adila yang disampaikan oleh Siska. Di tempat ini, di antara tawa tulus kedua orang tua dan kakak-kakaknya, Adila merasa jiwanya yang sempat layu kini mekar kembali dengan begitu indahnya.
Di sela-sela momen hangat itu, Siska menyenggol lengan Adila. "Dila, coba lihat ponselmu. Kamu dari kemarin belum mengunggah foto apa pun di media sosial, kan? Ayo, bagikan momen kita. Dunia harus tahu kalau adik bungsuku yang jenius ini sudah pulang ke rumah."
Adila sempat ragu sejenak. Selama sepuluh tahun menikah dengan Revan, akun media sosialnya sangat sepi. Ia jarang sekali mengunggah foto karena Revan selalu meminta Adila untuk menjaga privasi yang belakangan baru Adila sadari bahwa itu adalah cara Revan agar hubungan gelapnya dengan Meisya tidak mudah terendus publik.
Dengan senyuman tipis, Adila membuka aplikasi Instagram pribadinya. Ia memilih beberapa foto terbaik dari perjalanan liburan mereka. Foto pertama adalah potret dirinya bersama Papi Hadi dan Mami Ratna yang sedang memeluknya dengan latar belakang Menara Eiffel di malam hari. Foto kedua adalah momen saat dirinya, Siska, dan Ardi sedang tertawa bersama di dalam kabin jet pribadi keluarga mereka yang mewah. Adila menuliskan takarir singkat namun sangat mendalam:
"Setelah sepuluh tahun tersesat di jalan yang salah, terima kasih karena selalu menyediakan jalan untukku pulang. Terpujilah waktu yang mengembalikan kehangatan yang sempat hilang. Terima kasih, Papi, Mami, Kak Ardi, Kak Siska. Pelukan kalian adalah rumah terbaikku."
Adila menekan tombol bagikan, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja untuk melanjutkan obrolan hangat bersama keluarganya, tanpa menyadari bahwa unggahannya tersebut akan memicu badai kejutan di tanah air.
Di Jakarta, ribuan kilometer dari Paris, layar ponsel milik puluhan mahasiswa kedokteran dan dokter muda seangkatan Adila mendadak dipenuhi oleh notifikasi.
Di sebuah kafe dekat rumah sakit pendidikan, Maya dan Sari yang sedang menikmati waktu santai pasca-ujian mendadak tersedak bersamaan saat melihat layar ponsel mereka. Mata mereka terbelalak menatap deretan foto yang baru saja diunggah oleh Adila.
"Sari... coba tampar aku sekarang. Aku tidak salah lihat, kan?!" teriak Maya dengan suara heboh, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh. "Ini Adila, kan?! Adila Arrena sahabat kita yang selama koas selalu bawa kotak bekal sederhana?!"
Sari merebut ponsel Maya dengan tangan gemetar, membaca takarir dan melihat tag nama yang berada di dalam foto tersebut. "Ya Tuhan, Maya! Itu akun resmi Tuan Hadi Wijaya dan Nyonya Ratna Wijaya! Pemilik Wijaya Group yang punya setengah dari saham rumah sakit pusat kita! Jadi selama ini... Adila itu anak konglomerat?!"
Kejutan yang sama melanda seluruh grup obrolan angkatan koas Adila. Teman-teman kampus yang baru mengenal Adila saat masuk kuliah kedokteran dan tidak tahu asal-usul masa lalunya benar-benar dibuat syok setengah mati. Selama ini, mereka hanya mengenal Adila sebagai sosok dokter muda yang sangat pintar, sederhana, berwajah anggun ala Korea, namun selalu terlihat hemat dan hidup mandiri tanpa kemewahan. Mereka mengira Adila berasal dari keluarga biasa yang sedang berjuang keras demi biaya kuliah.
"Gila! Ternyata Dokter Muda Adila yang kemarin melibas nilai A di stase Obgyn itu adalah pewaris tunggal Wijaya Group?!" tulis salah satu teman seangkatannya di grup angkatan.
"Pantas saja auranya mahal sekali! Kita yang selama ini mengasihani dia karena masalah perceraiannya dengan Revan ternyata salah besar! Adila itu seorang putri yang sedang menyamar!" timpal yang lain.
Namun, bagi teman-teman sekolah Adila sejak masa SMA yang sudah mengetahui silsilah asli keluarganya, kemunculan foto-foto tersebut justru disambut dengan gelombang respon positif dan rasa syukur yang luar biasa. Mereka sangat tahu bagaimana sepuluh tahun lalu Adila nekat memutus hubungan dengan keluarganya demi egonya mempertahankan Revan.
Salah seorang sahabat SMA Adila langsung meninggalkan komentar di unggahan tersebut: "Akhirnya, Sang Putri Mahkota sudah sadar dan pulang ke istananya! Kami semua ikut bahagia, Dila! Selamat tinggal pada masa lalu yang tidak selevel denganmu!"
Komentar-komentar bernada dukungan, ucapan selamat datang kembali, serta pujian dari kalangan sosialita atas kembalinya Adila ke lingkaran elit langsung membanjiri kolom komentarnya dalam hitungan menit. Nama Adila mendadak menjadi perbincangan hangat di kalangan berkelas Jakarta.
Kembali ke Paris, malam harinya, Adila baru membuka ponselnya kembali saat sedang bersantai di kamar tidurnya yang mewah. Ia tertegun melihat ribuan tanda suka dan ratusan komentar yang memenuhi unggahannya. Senyuman tipis terukir di bibirnya saat membaca pesan-pesan dukungan dari Maya, Sari, dan teman-teman sejawatnya yang nampak sangat terkejut namun ikut berbahagia untuknya.
Saat sedang asyik membalas pesan dari kedua sahabatnya, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang sangat familier. Jantung Adila berdegup sedikit lebih cepat saat melihat nama yang tertera di layar Dr. Adrian Dewantara.
Adila menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo, Selamat malam waktu Paris, Dokter Adrian."
Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas pendek yang sangat khas dari sang dokter konsulen. "Malam, Adila. Jadi... itu alasan kenapa kamu tidak bisa dihubungi untuk revisi draf riset internasional kita sejak kemarin?" suara Adrian terdengar sedatar biasanya, namun ada sedikit nada sindiran yang halus di sana.
Adila terkekeh kecil, merasa sangat maklum dengan sifat kaku pembimbingnya itu. "Maaf, Dokter. Papi dan Mami langsung membawa saya ke Paris begitu ujian selesai. Mereka ingin saya beristirahat total sebelum pengumuman nasional keluar."
Hening sejenak di seberang telepon, sebelum Adrian kembali berbicara dengan nada suara yang sedikit lebih rendah. "Aku sudah melihat unggahanmu di media sosial. Seluruh dokter spesialis di departemen Obgyn hari ini heboh membicarakan asisten riset pribadiku yang ternyata adalah putri bungsu dari pemilik saham terbesar rumah sakit ini."
"Dokter Adrian tidak marah, kan karena saya menyembunyikan identitas saya?" tanya Adila, sedikit cemas.
"Kenapa aku harus marah?" sahut Adrian dingin, namun ada sepercik kehangatan tersembunyi dari kata-katanya. "Bagiku, kamu adalah Adila, dokter muda berbakat yang sanggup menyelesaikan tindakan section caesarea di bawah tekananku. Status keluargamu tidak mengubah fakta bahwa kamu memiliki tangan bedah yang jenius. Tapi... aku harus mengakui, pilihan liburanmu di Paris cukup bagus untuk membersihkan sisa-sisa polusi emosional dari mantan suamimu itu."
Adila tersenyum sangat lebar, matanya berbinar menatap pemandangan kota Paris dari balik jendela kamarnya. "Terima kasih, Dokter Adrian. Perhatian dan bimbingan Dokter selama ini adalah salah satu alasan saya bisa berdiri sekuat ini sekarang."
"Selesaikan liburan mewahmu itu, Adila. Pulanglah ke Jakarta dengan kondisi mental yang seratus persen pulih," ucap Adrian dengan nada finalnya yang berwibawa. "Sebab begitu surat keputusan kelulusan nasional dari panitia pusat keluar tiga minggu lagi, aku tidak akan memberikanmu waktu santai sedikit pun. Kamu harus bersiap untuk hari Sumpah Doktermu, dan setelah itu, riset besar kita menantimu."
"Baik, Dokter. Saya mengerti," jawab Adila mantap.
Setelah panggilan telepon ditutup, Adila meletakkan ponselnya dengan perasaan yang teramat lega dan damai. Di kota mode ini, di bawah perlindungan penuh kemegahan keluarganya yang kembali utuh, dan dengan dukungan karir medis dari sekutu sehebat dr. Adrian, Adila menyadari bahwa ia telah benar-benar melangkah keluar dari kegelapan masa lalunya. Pengkhianatan Revan kini tak lebih dari sekadar kerikil kecil yang telah ia tendang jauh-jauh dari jalurnya menuju puncak dunia.